Manchester United berhasil mengalahkan tetangganya, Manchester City, dengan skor 4-2. Enam gol dalam derby ini menjadi bukti serunya laga tersebut.
The Citizens sempat unggul cepat melalui kaki Sergio Aguero pada menit 8. Namun Red Devils membalas lewat gol Ashley Young enam menit setelahnya. Kedudukan menjadi terbalik saat tandukan Marouane Fellaini pada menit 27 gagal dijangkau Joe Hart.
Pasca turun minum MU mampu menambah keunggulan berkat gol-gol Juan Mata dan Chris Smalling. City membalas beberapa saat sebelum peluit akhir berbunyi oleh gol kedua Aguero, namun tetap tak menyelamatkan mereka dari kekalahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengisolir Gelandang MU dan Peran James Milner
Manuel Pellegrini memilih menggunakan satu striker dengan formasi dasar 4-2-3-1. City sepertinya tak ingin lini tengahnya kalah duel dengan tuan rumah. Dan taktik itu berhasil, paling tidak sepanjang 15 menit pertama.
Salah satu yang menarik adalah peran James Milner yang diberi kebebasan penuh untuk berkreasi di lini tengah. Pemain Inggris ini terus bergerak baik ke kanan maupun ke kiri, memberi bantuan kepada Jesus Navas maupun David Silva di sayap. Lewat cara ini City mampu dominan dalam penguasaan bola di awal laga serta mencetak gol pembuka.
Milner memang tergolong pemain yang dapat bermain di banyak posisi, mulai dari penyerang atau bek sayap, gelandang tengah, hingga menjadi striker pernah dilakoninya. Pergerakannya ke sisi kiri membuat Silva punya ruang bebas untuk masuk ke sepertiga akhir dan mengirimkan assist ke Aguero.

[Area aksi James Millner. Sumber: Squawka]
Dengan Milner yang rajin bergerak ke kanan dan kiri, kapan pun Navas atau terutama Silva sedang menguasai bola. Posisi antara Milner dan Silva/Navas ini memungkinkan terbentuknya segi tiga pemain dengan tambahan Aguero atau fullback yang naik ke atas (Gael Clichy di kiri atau Pablo Zabaleta di kanan).
Dari situlah City berkali-kali bisa menembus kotak penalti MU. Ruang di antara bek tengah dan fullback (ruang antara Valencia/Blind sebagai fullback dengan Jones/Smalling) sering berhasil ditembus oleh City. Semua serangan City dalam 15 menit pertama nyaris memanfaatkan celah itu, termasuk dalam gol pertama Aguero.

[Kotak hitam adalah ruang di antara fullback dan bek tengah yang dieksploitasi City di awal laga]
Kunci dominasi City di awal tidak hanya melalui cara menyerang, tetapi juga bagaimana mereka bertahan. Pertarungan lini tengah yang ketat membuat kinerja gelandang MU sedikit terhambat. Di bawah asuhan Louis Van Gaal musim ini mereka memang terbiasa menggunakan taktik penguasaan bola lewat umpan-umpan pendek.
Lini tengah kemudian menjadi kunci keberhasilan skema tersebut. Baik Carrick maupun Herrera yang menjadi pusat permainan MU sempat terhambat. Penyebabnya adalah pressing yang dilakukan oleh para pemain City.
Dua poros ganda City, yakni Yaya Toure dan Fernandinho, bermain dengan area yang cukup tinggi. Memotong langsung jalur umpan antara lini belakang dan tengah MU. Bahkan akibat dari taktik ini Fellaini terpaksa sering turun untuk menjemput bola. Sehingga serangan tuan rumah menjadi terhambat karena hanya ada Wayne Rooney sendirian di lini depan saat bola memasuki sepertiga akhir dengan jarak yang renggang.
Permainan Cair dan Peran Carrick yang Menjadi Titik Balik 'Setan Merah'
Seperti yang sudah disebutkan di atas, dominasi City hanya berlangsung selama 15 menit awal saja. Penguasaan bola Vincent Kompany dkk unggul dengan capaian 55% pada fase tersebut, yang kemudian berbalik setelahnya. Penguasaan bola memang tak selalu berpengaruh, namun skor akhir menjadi bukti MU mampu membalikkan kedudukan.
Salah satu kuncinya adalah permainan cair para gelandang. Juan Mata dan Ander Herrera terus bergerak untuk membuka ruang, memperbanyak opsi umpan di lini tengah. Lewat cara ini MU menjadi tidak mudah kehilangan bola dan mendorong pertahanan City lebih dalam. Area di lini tengah menjadi lebih luas bagi gelandang MU sehingga tak kesulitan menciptakan peluang.
Meski bermain cair MU masih tergolong kokoh saat bertahan. Para pemain saling mengisi dengan konsisten ruang-ruang yang ditinggalkan tadi. Carrick kemudian menjadi jenderal di lapangan tengah. Pemain yang baru saja memperpanjang kontraknya ini menjalani dua tanggung jawab sekaligus, bertahan dan menyerang.
Carrick menjadi pelindung bagi barisan pertahanan MU. Secara posisi individu ia bertugas sendirian dalam menanggung beban tersebut. Namun secara sistem tugasnya menjadi tak terlalu berat karena gelandang di depannya menjadi pemutus serangan pertama City.
Sedangkan untuk urusan menyerang Carrick juga punya peran sentral. Bertugas sebagai pengampu serangan dengan menjadi penghubung antara lini belakang dan tengah timnya. Ia adalah salah satu pemain paling konsisten dalam laga kali ini. Gawang David De Gea bahkan harus bobol menjelang peluit akhir, tak lama setelah Carrick terpaksa keluar karena cedera.

[Grafis umpan Carrick. Sumber: Squawka]
Selepas pertandingan Van Gaal mengakui bahwa keluarnya Carrick berpengaruh banyak. Jatah pergantian pemain yang sudah habis membuat tidak ada lagi pemain yang bisa dimasukkan oleh sang manajer untuk menggantikan peran tersebut. Terpaksa bermain hanya dengan 10 orang dan parahnya tidak disadari oleh anak asuhnya di lapangan.
Blunder Taktik Pellegrini
Pellegrini melakukan pergantian pasca turun minum dengan mengganti Kompany dengan Mangala. Permainan buruk sang kapten yang menjadi penyebabnya. Pada sesi jumpa pers, Pellegrini sudah berbicara bahwa Kompany diragukan tampil karena tidak sepenuhnya fit.
Tidak hanya pergantian pemain, manajer asal Chile tersebut juga mengubah taktiknya di babak kedua. Ia memilih untuk bermain lebih terbuka dengan cara mendorong Toure dan Fernandinho lebih ke depan saat menyerang. Ini membuat tempo permainan City menjadi lebih cepat namun sering kehilangan bola.
Taktik yang penuh risiko karena tidak ada lagi perlindungan khusus kepada barisan belakang. Salah satu pemain yang mendapat keuntungan besar adalah Fellaini. Ia tidak lagi direpotkan oleh keberadaan Toure yang sebelumnya banyak mengawal dirinya. Karena fokus menyerang tersebut membuat keberadaan gelandang asal Belgia ini menjadi lebih bebas.
Fellaini dengan nyaman membuat pola segitiga dengan Young dan Blind di sisi kiri. Ketiganya banyak melakukan eksploitasi terhadap area ini. Wilayah yang dijaga oleh Zabaleta ini memang menjadi titik lemah tim tamu pada babak pertama. Dua gol sebelumnya tercipta berawal dari sini. Kondisi diperparah dengan gelandang bertahan City yang tidak lagi konsentrasi ke pertahanan, sehingga para pemain MU langsung berhadapan dengan bek City.

[Proses sebelum gol Juan Mata. Situasinya adalah dua bek tengah menjaga duaΒ lawan, 2 vs 2. Mata masukΒ sebagai orang ketiga menjadi 2 vs 3.]
Pergantian pemain yang dilakukan oleh Pellegrini juga tidak membantu banyak. Seolah hanya memberi penyegaran di lini tengah dengan memasukkan Samir Nasri dan Frank Lampard, menarik Milner dan Jesus Navas. Perubahan ini justru membuat lini tengah menjadi mati kutu akibat antisipasi baik dari Van Gaal.
Carrick yang sebelumnya berdiri sendirian di depan bek kini ditemani oleh Herrera dan membentuk poros ganda. Lini tengah menjadi lebih padat dan memudahkan dalam memotong umpan-umpan terobosan ke arah Aguero. Anehnya, Pellegrini justru seolah memaksa serangan lewat jalur tengah pasca masuknya Lampard dan keluarnya Millner tadi.
Kesimpulan
Kecerdikan taktik Van Gaal terbukti di laga ini, ia mampu membalas kekalahan pada putaran pertama lalu. Respons yang dilakukannya pada babak kedua mampu mengubah permainan secara total dan mengunci kemenangan menjadi milik MU.
Van Gaal juga punya keputusan tepat mencadangkan Angel di Maria. Pilihannya pada Ashley Young terbukti tepat, karena pemain ini mencetak satu gol plus dua assist.
Sementara bagi City, kekalahan ini jadi pukulan telak. Posisinya sebagai penantang juara di awal putaran kedua berubah menjadi pencari jatah ke Eropa. Posisi Pellegrini sebagai manajer bahkan bisa jadi terancam diputus akhir musim ini. Sorotan terbesar ada pada kebijakan pembelian pemain yang dilakukannya dan taktik monoton yang sudah mulai terbaca lawan.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(a2s/roz)











































