Olympique de Marseille datang ke Stade Chaban-Delmas, kandang Football Club des Girondins de Bordeaux, sebagai penghuni peringkat keempat. Association Sportive de Monaco Football Club, yang sudah menjalani pertandingan pekan ke-32 di hari Jumat, menyalip Marseille di posisi ketiga berkat kemenangan tandang tiga gol tanpa balas melawan Stade Malherbe Caen. Menang, karenanya, menjadi harga mati bagi Marseille yang ingin menjadi juara Ligue 1 musim ini.
Namun menang di kandang Girondins de Bordeaux bukanlah perkara mudah. Bukan karena Bordeaux begitu tangguh β Bordeaux yang di awal musim sempat menguasai papan atas kini berada di peringkat keenam, berebut tempat Eropa dengan Association Sportive de Saint-Etienne Loire β namun karena Marseille memiliki catatan kurang menyenangkan di Stade Chaban-Delmas. Sudah tiga puluh delapan tahun berlalu sejak Marseille terakhir kali meraih kemenangan di sana (dalam pertandingan resmi di divisi tertinggi liga sepakbola Prancis).
Β
Semalam, sejarah kembali terulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Efektivitas menjadi kunci kemenangan Bordeaux. Bukan karena Marseille dua kali tidak mendapatkan penalti ketika Bordeaux seharusnya menerima hukuman (Nicolas Pallois menjatuhkan Romain Alessandrini β yang berada lebih dekat ke gawang Bordeaux ketimbang outfield player Bordeaux mana pun β dari belakang, dan lengan Cedric Yambere yang terangkat membendung sundulan Andre-Pierre Gignac), namun karena Bordeaux dapat mengubah satu-satunya tembakan tepat sasaran yang mereka miliki menjadi gol.
Susunan pemain
Willy Sagnol menurunkan para pemainnya dalam formasi 4-4-2 berlian. Diego Contento dan Mariano mengapit Nicolas Pallois dan Ludovic Sane yang berada tepat di hadapan penjaga gawang Cedric Carrasso.
Tepat di hadapan barisan belakang, Cedric Yambere menjadi penghubung antara para pemain belakang dan dua gelandang tengah (Abdou Traore dan Jaroslav Plasil), gelandang serang Wahbi Khazri, dan duet penyerang (Diego Rolan dan Isaac Kiese Thelin).
Marseille memulai pertandingan dengan formasi dan susunan pemain yang sama dengan pekan lalu, tanpa Mario Lemina dan Andre Ayew. Gianelli Imbula sudah menyelesaikan larangan bertanding yang diterimanya dan langsung kembali mengambil tempatnya sebagai penghubung utama, tepat di tengah lapangan permainan Marseille.
Β
Tempat Ayew, yang menerima kartu merah karena protes keras yang ia layangkan setelah pertandingan melawan Paris Saint-Germain berakhir, diisi Florian Thauvin. Sebagai gantinya, Romain Alessandrini bermain sebagai starter di posisi penyerang sayap kanan.
Saling Mengungguli di Area Lemah Lawan
Tanpa bola, baik Marseille maupun Bordeaux sama-sama bermain tinggi menekan di daerah permainan lawan. Begitu lawan menemukan cara untuk memasuki daerah permainan mereka, Bordeaux dan Marseille sama-sama bertahan sebagai sebuah unit dan menerapkan taktik zonal marking; terutama Bordeaux yang bermain begitu rapat dan sempit. Sangat sempit sehingga para pemain Bordeaux hanya memadati satu area tertentu; jika bola berada di sayap kiri serangan Marseille, para pemain Bordeaux menumpuk di sana.

Di satu sisi, taktik ini membuat Marseille kesulitan memindahkan bola dari satu kaki ke kaki yang lain dengan cepat. Di sisi lain, pendekatan Bordeaux membuat pemain-pemain di sayap yang berseberangan berada dalam kondisi tanpa kawalan.
Romain Alessandrini berkali-kali menerima umpan membelah lapangan karena ia seringkali berada dalam posisi bebas. Enam kali Alessandrini menerima umpan membelah lapangan dalam posisi bebas, dan tiga kali ia berhasil memanfaatkan situasi yang ada untuk menciptakan tiga peluang.

Sementara area sayap menjadi kelemahan Bordeaux, Marseille berkali-kali kalah di lini tengah. Dua dari tiga gelandang Marseille, Benjamin Mendy dan Brice Dja Djedje, lebih banyak beroperasi di area sayap sehingga Gianelli Imbula praktis menjadi satu-satunya gelandang di area tengah. Bordeaux memiliki keunggulan karena empat gelandang mereka bermain dalam formasi berlian sehingga terkonsentrasi di area tengah.

Sepanjang babak pertama, Bordeaux memenangi semua potongan mereka di area middle third. Di area yang sama pula Bordeaux aktif merebut bola dari penguasaan lawan. Sepuluh kali Bordeaux melakukan tackle di area middle third; jumlahnya sama dengan tackle di area sepertiga pertama; area yang memang sewajarnya dihiasi banyak usaha merebut bola.
Permainan Terbuka Marseille Mengakomodasi Efektivitas Bordeaux
Memasuki babak kedua, Marcelo Bielsa menarik keluar Benjamin Mendy yang sudah menerima kartu kuning dengan pemain yang lama absen karena cedera, Nicolas NβKoulou. Dengan pergantian ini pula Bielsa menerapkan perubahan formasi; dari 3-3-3-1 menjadi 4-2-3-1. Brice Dja Djedje mundur mengisi pos bek sayap kanan, sementara Jeremy Morel bermain lebih melebar sebagai bek sayap kiri. Di jantung pertahanan, NβKoulou berduet dengan Rod Fanni.
Alaixys Romao didorong naik, menemani Gianelli Imbula di lini tengah sehingga Imbula tidak lagi harus berjuang sendirian melawan para gelandang Bordeaux. Susunan lini depan tidak banyak berubah kecuali setelah Lucas Ocampos masuk menggantikan Florian Thauvin; Ocampos beroperasi di sayap kanan dan Alessandrini ditempatkan di sayap kiri.
Bordeaux sendiri tetap bermain dengan formasi yang sama, namun mereka menerapkan taktik bertahan yang berbeda. Para pemain Bordeaux tak lagi bermain tinggi menekan. Mereka lebih banyak menunggu di area permainan sendiri; terutama setelah mencetak gol.
Perubahan taktik pertahanan Bordeaux membuat Marseille lebih leluasa memainkan bola. Marseille memiliki kebebasan, namun mereka tidak memiliki kebebasan. Pertahanan Bordeaux di babak kedua lebih sulit ditembus ketimbang babak pertama. Gelandang serang Marseille, Dimitri Payet, nampak sangat kesulitan menciptakan peluang.

Payet, di babak pertama, tak pernah gagal menemui sasaran setiap kali melepas umpan. Ia bahkan berhasil menciptakan tiga peluang mencetak gol dan melepas satu tembakan melenceng. Di babak kedua, Payet lebih banyak melakukan kesalahan di sepertiga akhir. Ia juga hanya mampu menciptakan satu peluang mencetak gol, dan itupun berasal dari sepak pojok.

Romao yang bermain sebagai gelandang bertahan memberi Imbula kebebasan untuk membantu serangan. Namun keberadaan Imbula ternyata tidak banyak membantu. Grafis umpan sepertiga akhir Imbula menunjukkan persentase keberhasilan yang kecil. Hanya empat dari dua belas umpan Imbula yang menemui sasaran; itupun umpan horizontal. Imbula banyak menemui kegagalan dalam setiap umpan vertikal yang ia lepaskan; sama sekali berbeda dengan para pemain Bordeaux.

Dalam hal jumlah, Bordeaux memang lebih sedikit melepas umpan ketimbang Marseille sepanjang babak kedua, namun kesebelasan tuan rumah tahu umpan-umpan seperti apa yang dapat membawa mereka memenangi pertandingan. Sebanyak 61 dari 95 umpan tepat sasaran yang Bordeaux lepaskan di babak kedua adalah umpan ke, dari, atau di area sepertiga akhir. Permainan terbuka Marseille sedikit banyak membantu Bordeaux dalam hal ini, sebagaimana terlihat dalam proses terjadinya gol tunggal pertandingan ini.
Β
Mendapatkan penguasaan bola di area middle third, Wahbi Khazri mengumpan kepada Henri Saivet, dan Saivet langsung melepas umpan melebar kepada Mariano. Bek sayap berkebangsaan Brasil tersebut kemudian melepas umpan silang mendatar kepada gelandang bertahan Cedric Yambere, yang mendapatkan kebebasan membantu serangan dan mendapati diri berdiri bebas di dalam kotak penalti Marseille.
Kecuali Mariano yang menyentuh bola sebanyak dua kali, semua pemain yang terlibat dalam proses gol ini memiliki cukup banyak kebebasan sehingga hanya perlu menyentuh bola satu kali saja.
Kesimpulan
Sadar bahwa taktik man-to-man marking yang ia terapkan di pertandingan melawan Paris Saint-Germain tidak berjalan dengan baik, Bielsa memerintahkan para pemainnya bermain dengan taktik zonal marking. Bielsa yang keras kepala juga nampak mau mengalah kepada situasi dalam pertandingan ini. Hal tersebut ditandai dengan perubahan formasi dan taktik di babak kedua.
Kedua hal tersebut, pada akhirnya, tak mampu membawa Marseille meraih kemenangan yang sangat mereka butuhkan. Marseille ternyata masih kesulitan meraih hasil maksimal jika berhadapan dengan lawan yang bermain dengan pertahanan rapat. Pahitnya, Bordeaux mengantungi kemenangan penting dengan menggabungkan pertahanan yang rapat dan serangan mematikan gaya Marseille β membangun serangan cepat lewat umpan-umpan vertikal.
Marseille, untuk kali pertama sejak bulan Agustus, berada di luar tiga besar. Marseille kini menduduki peringkat keempat dengan raihan angka 57; satu angka di belakang AS Monaco dan hanya satu angka lebih baik dari AS Saint-Γtienne. Bordeaux, sementara itu, berada di peringkat keenam dengan 54 angka.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































