Andrea Barzagli Sebagai Kunci Kemenangan Juventus

Liga Italia: Juventus 2-0 Lazio

Andrea Barzagli Sebagai Kunci Kemenangan Juventus

- Sepakbola
Minggu, 19 Apr 2015 11:22 WIB
Andrea Barzagli Sebagai Kunci Kemenangan Juventus
Paolo Bruno/Getty Images
Jakarta -

Si Nyonya Tua makin kokoh di puncak klasemen. Menghadapi Lazio yang sedang dalam permainan terbaiknya, Juventus sukses mendapatkan kemenangan 2-0 dan memastikan mereka kini memiliki keunggulan 15 angka dari Lazio di peringkat kedua – satu angka yang secara matematis maupun psikologis sangat sulit untuk dikejar.

Sebenarnya Lazio sendiri sempat membuat Juventus sulit keluar dari tekanan pada awal-awal pertandingan. Namun Bianconeri justru mencetak dua gol pada babak pertama. Gol pertama lahir dari kaki Carlos Tevez pada menit ke-17, sedangkan gol kedua tercipta berkat aksi memukau Leonardo Bonucci pada menit ke-28.

Skor akhir sendiri tersebut sebenarnya tak mencerminkan jalannya pertandingan. Pada kenyataanya, Lazio justru unggul dalam penguasaan bola dan mendominasi pertandingan. Bahkan catatan tembakan pun memperlihatkan bahwa Juventus hanya mencetak delapan peluang sementara Lazio mencapai 17.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun semua itu merupakan bagian dari taktik Massimilliano Allegri untuk bisa menaklukkan Lazio. Meski bermain di kandang, ia menginstruksikan kesebelasannya untuk bermain hati-hati dan mengandalkan serangan balik sejak menit pertama.

Pressing Tinggi Lazio

Meski bermain di kandang Juventus, Lazio tetap memainkan permainan terbuka. Pelatih Lazio, Stefano Pioli, tak menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain sabar menunggu serangan di lini pertahanan. Justru sebaliknya, para pemain Lazio diinstruksikan untuk melakukan pressing sejak pemain bertahan Juve menguasai bola.

Pioli sadar bahwa Juventus merupakan kesebelasan yang membangun serangan dari belakang. Dimulai dari pemain belakang, yang kemudian didistribusikan ke pemain tengah, dan diakhiri dengan mengalirkan bola pada pemain depan atau pemain sayap. Aliran serangan Juve seperti ini biasanya dilakukan dengan operan-operan pendek. Karenanya ia menginstruksikan pemain Lazio untuk merusak irama permainan Juve tersebut. Para pemain depan Lazio, Miroslav Klose, Senad Lulic, Felipe Anderson, dan Stefano Mauri, langsung memberikan pressing pada pemain belakang Juve yang hendak membangun serangan, entah itu Andrea Barzagli, Giorgio Chiellini, ataupun Leonardo Bonucci.

Strategi ini berhasil membuat Juve sering dengan mudah kehilangan bola. Pada lima belas menit pertama, Juve sangat berkesusahan mencapai sepertiga akhir Lazio karena tekanan yang diberikan para pemain Lazio ini. Lini pertahanan Juventus pun kemudian melakukan umpan-umpan langsung dari belakang ke jantung pertahanan lawan.


Pemain belakang Juve yang kesulitan mendistribusikan bola ke pemain tengah


Namun perlahan tapi pasti para pemain belakang Juve bisa keluar dari tekanan. Meski terus mendapatkan pressing, akurasi operan para pemain belakang Juve tetap bisa dipertahankan di atas 80%. Musim ini, catatan akurasi operan tiga pemain belakang Juve ini memang nyaris mendekati 90%: Chiellini 87%, Bonucci 86,1%, dan Barzagli 89,1%.

Biasanya, Allegri memainkan formasi 4-4-2 berlian saat Juve menjalani partai kandang. Formasi 4-4-2 berlian sendiri merupakan formasi yang menjadi andalan Juve pada musim ini.

Namun Allegri sepertinya telah memprediksi bahwa Lazio akan menekan Juve sejak awal. Karena itu, ia tak berencana menggunakan dua bek tengah sebagai pengalir operan ke tengah dan depan, melain tiga bek tengah dan memilih formasi 3-5-2. Jika memasang dua bek tengah, Bonucci dan Chiellini akan menjadi pilihan utama Allegri. Namun, jika melihat statistik akurasi operan pemain bertahan Juve, Barzagli-lah yang memiliki tingkat akurasi operan lebih tinggi.

Hasilnya pun sesuai harapan. Ketika akurasi operan Chiellini hanya 86% dan Bonucci hanya 74%, Barzagli menorehkan akurasi operan sebesar 97%. Barzagli sendiri melepaskan 33 operan selama 90 menit ia berada di atas lapangan.

Barzagli pun kemudian ikut berkontribusi atas gol pertama Juventus. Adalah pemain berusia 33 tahun tersebut yang memberikan operan pada Arturo Vidal. Vidal lantas melakukan flick-on yang mengejutkan lini pertahanan Lazio yang memainkan garis pertahanan tinggi. Tevez yang menerima bola tersebut pada pintu sepertiga akhir, lantas menggiring bola hinga ke kotak penalti dan menaklukkan kiper Lazio, Federico Marchetti.





Proses sebelum terjadinya gol Tevez, bermula dari sundulan Barzagli

Kehadiran Barzagli pun membuat setiap pemain belakang Juve tak ragu untuk menggiring bola atau bergerak meminta bola hingga ke tengah lapangan. Pasalnya meski pemain belakang merangsek ke depan, masih akan ada dua peman lain yang menghuni area tengah kotak penalti, jika seandainya terjadi serangan balik.

Inilah yang membuat Bonucci berada di depan saat Juve membangun serangan pada menit ke-27. Ketika Andrea Pirlo berhasil memotong operan Biglia, Bonucci berada di area terdepan lini serang Juve bersama Tevez dan Alessandro Matri.

Pengambilan keputusan yang tepat oleh Bonucci, yaitu menggiring bola hingga kotak penalti dan tak langsung memberikan pada Matri atau Tevez. Kedua penyerang ini pun lalu bergerak membuka ruang dan berhasil memancing dua bek tengah Lazio, Mauricio dan Lorik Cana.





Proses terjadinya gol Bonucci

Sebelum Bonucci mencapai area depan kotak penalti, Tevez berada di tengah. Namun kemudian, penyerang asal Argentina tersebut beregerak ke kiri agar Mauricio mengikutinya. Sementara itu, Matri bergerak ke kanan luar agar menjauhkan Cana dari Bonucci. Pergerakan Tevez-Matri ini yang membuka celah antara Mauricio dan Cana di depan kotak penalti.

Garis Pertahanan Rendah Juventus yang Sulit Ditembus Lazio

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, meski bermain di kandang Juventus, Lazio nyatanya cukup mendominasi permainan sepanjang laga. Situs WhoScored mencatatkan bahwa Lazio unggul penguasaan bola 58% berbanding 42%.

Hal ini dikarenakan Juve sangat bermain sabar menunggu datangnya serangan Lazio. Jika Lazio memberikan pressing ketika pemain bertahan Juve menguasai bola, maka Juve menerapkan taktik sebaliknya. Seluruh pemain Si Nyonya Tua berada di area pertahanan sendiri dengan jarak antar pemain diciptakan serapat mungkin.

Masuknya Alvaro Morata pada babak kedua pun semakin menguatkan lini pertahanan Juventus, yang tengah unggul 2-0. Morata, seperti halnya Tevez, memang jadi penyerang yang sering membantu pertahanan ketika mendapatkan serangan.

Morata membuat Juve selalu berhasil mengepung pemain Lazio yang hendak masuk ke sepertiga akhir pertahanan Juve. Morata menjadi bagian pertahanan Juve yang memainkan garis pertahanan rendah dengan sembilan pemain lapangan ketika bertahan.





Skema bertahan Juve sebelum (atas) dan sesudah masuknya Morata

Pada grafis di atas, terjadi perubahan skema bertahan Juve ketika sebelum dan sesudah Morata masuk. Sebelum Morata masuk, pemain Juve yang membentuk skema bertahan hanya delapan pemain, tiga pemain belakang dan lima gelandang. Sementara ketika Morata masuk, Morata membuat lini pertahanan Juve dipenuhi oleh para pemain Juve (pada gambar di atas, sembilan pemain berada di area pertahanan).

Masih pada gambar di atas, hadirnya Morata membuat jalur operan pada Felipe Anderson tertutup. Pun begitu dengan jalur operan pada Klose, Lulic dan Dusan Basta. Satu-satunya operan yang bisa dilakukan Danilo Cataldi yang menguasai bola adalah pada Antonio Candreva, masuk pada babak kedua menggantikan Edson Braafheid.

Tiga gelandang Juve, Pirlo-Marchisio-Vidal, pada laga ini memang lebih bermain menjaga kedalaman lini tengah. Ketiganya secara konsisten melindungi area depan kotak penalti Juve. Bermain sabar dengan tak buru-buru melakukan pressing di lini pertahanan lawan berhasil membuat pertahanan Juve begitu kokoh sehingga Lazio hanya menggulirkan bola di tengah dan mengandalkan tembakan jarak jauh.

Umpan sepertiga akhir Lazio yang menumpuk di depan area kotak penalti

Kesimpulan

Kemenangan yang diraih Juve merupakan keberhasilan taktik yang diterapkan Allegri. Meski bermain di kandang, eks pelatih AC Milan tersebut lebih memilih formasi 3-5-2, dan memainkan Barzagli, yang identik dengan kuat dalam bertahan dan lemah menyerang.

Memasang Barzagli membuat aliran bola dari belakang ke tengah ataupun ke depan menjadi lebih terjamin. Barzagli sendiri bisa dibilang sangat berkontribusi pada dua gol Juve, karena gol kedua Juventus pun tercipta lewat serangan yang diawali sundulan Barzagli yang kemudian membuat Bonucci bergerak lebih bebas.

Sementara itu Lazio tak berdaya menghadapi kokohnya pertahanan Juventus. Perubahan-perubahan yang dilakukan Stefano Pioli, seperti memasukkan Candreva pada babak kedua, gagal membuahkan gol.

Dengan begitu, Lazio harus rela tertinggal 15 poin atas Juve dari tujuh partai sisa. Kekalahan ini pun membuat rekor kemenangan beruntun dalam delapan pertandingan terakhir Lazio harus terhenti. Dan yang lebih penting, kesebelasan berjuluk biancoceleste ini benar-benar harus bertarung dengan AS Roma untuk memperebutkan peringkat kedua hingga akhir musim nanti.



(rin/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads