Chelsea semakin kokoh di puncak klasemen Liga Inggris setelah mengalahkan Manchester United dengan skor tipis 1-0. Gol tunggal di Stamford Bridge dicetak Eden Hazard pada menit 38.
Meski bermain di kandang lawan, “Setan Merah” sebenarnya bermain dominan. Meraih 70% penguasaan bola sepanjang pertandingan dan menciptakan setidaknya 15 peluang. Bandingkan dengan Chelsea yang hanya mampu membuat 7 tembakan ke gawang dan 30% penguasaan bola.
Kedua kesebelasan tidak dapat bermain dengan kekuatan penuh. Diego Costa absen panjang karena cedera, sedangkan penyerang lain, Loic Remy, mengalami cedera ringan. Mourinho terpaksa memainkan Didier Drogba dan mengubah skema terutama di sektor serangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Efek Peran Zouma Mengawal Fellaini
Mourinho secara khusus memasang Kurt Zouma yang berposisi asli sebagai bek ke gelandang bertahan. Tugasnya adalah mengawal khusus Fellaini yang menjadi pemain kunci MU. Pemain asal Belgia tersebut memang menjadi target utama umpan mereka sepertiga akhir.
Badan Fellaini yang menjulang dan kuat cocok untuk menjalani peran tersebut. Menjadi tembok pantul umpan-umpan dan melakukan duel udara perebutan bola. Tetapi dalam laga kali ini Zouma berhasil memenangi duelnya dengan Fellaini.
Zouma tak pernah jauh berdiri dari Fellaini, terus menempel sepanjang pertandingan. Karena pengawalan tersebut akhirnya membuat pergerakan di sepertiga akhir MU terhambat. Tetapi pengawalan khusus Zouma ini juga punya efek ke permainan Chelsea. Nemanja Matic harus sendirian mengawal gelandang MU lainnya yakni Herrera dan Rooney.

Gambar di atas adalah salah satu peluang yang dimiliki MU, ketika Zouma tidak mampu melindungi bek di belakangnya karena harus mengawal Fellaini sebelumnya. Menyebabkan Rooney yang masuk dari lini kedua bebas tanpa kawalan dan nyaris mencetak gol.
Namun kesempatan ini secara keseluruhan tidak mampu dimanfaatkan MU. Falcao yang menjadi penyerang tunggal gagal untuk membuka ruang bagi gelandang di belakangnya. Pergerakannya cenderung statis dan mudah ditebak oleh pemain bertahan Chelsea.
Hal ini berbeda ketika Rooney yang menjadi penyerang, ia cerdik dalam membongkar pertahanan lawan. Caranya adalah dengan mengatur tempo apakah akan menyerang dengan cepat atau lambat baik saat sedang menguasai bola atau tidak. Akibatnya dari 15 tembakan yang dilakukan MU, 8 di antaranya hanya mampu dilakukan di luar kotak penalti dan dari 4 tembakan berhasil diblok bek.
Menutup Jalur Umpan Lewat Pressing
Tapi Chelsea bisa mengeliminasi peran Fellaini dan tekanan MU tak semata karena peran Zouma. Mourinho dengan baik merancang sistem pertahanan dengan pressing yang tepat sehingga MU sangat sulit memasuki kotak penalti
Chelsea memilih untuk banyak menunggu ketimbang tampil menyerang terutama pada 45 menit pertama. Menunggu pemain MU untuk membuat kesalahan baru kemudian melakukan serangan balik cepat. Taktik tersebut diterapkan dengan cara melakukan pressing terhadap ruang di lini tengah.
Chelsea paham bahwa mengorbankan Zouma untuk fokus pada Fellaini membuat lini tengah mereka kalah jumlah pemain. Maka bertarung dengan menekan pemain MU yang sedang memegang bola bisa berakibat fatal. Yang mereka lakukan kemudian memotong jalur umpan ke lini tengah tim tamu.
Drogba dan Fabregas selalu siaga di depan saat bola pertama digulirkan di lini belakang MU. Hal ini berbeda dengan pemain lain yang memilih menunggu di belakang untuk bertahan. Strategi ini sebenarnya tidak terlalu berhasil membuat MU kesulitan mengembangkan permainan. Anak asuh Van Gaal masih bisa mendominasi lini tengah. Herrera masih cukup leluasa mengatur serangan dari belakang.
Akan tetapi, bagi orang dengan cara berpikir seperti Mourinho, hal itu tidak menjadi persoalan selama mereka bisa memanfaatkan peluang sekecil apa pun. Mou hanya menunggu kapan strategi macam itu bisa memaksa MU melakukan blunder, dan itu cukup sekali saja.
Itulah yang terjadi pada gol tunggal yang dilesakkan Eden Hazard.

Gambar di atas adalah awak mula gol Hazard. Smalling yang sedang menguasai bola di dekat kotak penalti sendiri, tidak punya opsi lain untuk memberikan umpan selain pada Falcao. Mengumpan pada Rooney ia sudah dihalangi Oscar. Sementara opsi melakukan umpan jauh juga tidak diambil karena skema bermain van Gaal memang bermain rapi, menyerang dari bawah, dengan umpan-umpan pendek.
Dengan sigap, Terry yang sedang ada di lapangan tengah memberikan tekanan pada Falcao. Tak jauh dari Falcao juga ada Matic. Begitu Falcao gagal menguasai bola, dengan cepat Fabregas mengambil bola dan memberikannya pada Oscar (yang sebelumnya menekan Smalling) dan dari situlah Oscar melahirkan asist kepada Hazard.
Ketiadaan Carrick berpengaruh banyak terhadap keberhasilan Mourinho menghentikan jalur umpan MU. Pada laga sebelumnya cara ini sebenarnya juga dilakukan Man City dengan menginstruksikan Millner banyak bermain di tengah mengawal Carrick. Taktik yang hanya bertahan tak lebih dari 15 menit.
Hal ini karena Carrick dengan cermat melakukan distribusi bola dengan kemampuan visinya dalam membaca permainan, menyebabkan Millner kepayahan terus menerus berlari. Sayangnya pemain yang punya karakter hampir sama, Daley Blind, juga tidak dapat bermain karena cedera.
Kejadian yang menyebabkan gol tadi sebenarnya juga bukan satu-satunya. Smalling seolah sengaja diincar oleh para penyerang Chelsea, memaksa ia untuk melakukan kesalahan. Terpotongnya jalur umpan tadi juga membuat baik Smalling dan McNair beberapa kali harus ikut naik membangun serangan.
Naiknya kedua bek tersebut dilakukan dengan umpan 1-2 ke Herrera sehingga menyebabkan lubang di lini belakang menjadi riskan menerima serangan cepat. Rooney juga harus sering turun untuk menjemput bola sehingga MU menjadi lambat melakukan serangan. Memberi kesempatan bagi lini pertahanan Chelsea merapikan barisannya.
Memborbardir Sayap dan Antisipasi Mourinho
Kondisi tertinggal tetapi sulit menciptakan peluang dan tampil tanpa banyak pemain kunci membuat Van Gaal tak punya pilihan banyak. Memasuki menit 70 manajer asal Belanda tersebut melakukan dua pergantian sekaligus, keduanya adalah pemain sayap. Menarik keluar Juan Mata dan Ashley Young serta memasukan Di Maria dan Adnan Januzaj.
Taktik yang sepertinya sudah terbaca oleh Mourinho karena tiga menit sebelumnya ia sudah melakukan antisipasi dengan mengganti Oscar dengan Ramires. Pasca masuknya Ramires tersebut permainan Chelsea menjadi sedikit berbeda. Kedua sayap tidak lagi mudah naik menyerang dan memilih untuk bermain hati-hati.

[Tekel Chelsea yang banyak dilakukan di area sayap. Sumber: Squawka]
MU kemudian terus menerus melakukan bombardir di area sayap. Sesuatu yang mudah dipatahkan oleh para pemain bertahan Chelsea. Karena fokus bertahan ini juga Kurt Zouma yang sedari awal mengawal Fellaini bebannya menjadi lebih ringan. Karena pergerakan Fellaini yang banyak melebar tak membuat Zouma ikut melebar yang dapat menimbulkan lubang terbuka di tengah.
Pergantian Pemain yang Gagal
Van Gaal memasukkan tiga pemain di babak kedua: Di Maria, Januzaj dan Blackett. Ketiganya pemain yang kemudian dioperasikan di sayap. Januzaj di kanan, di Maria di kiri, dan Blackett di sisi kiri pertahanan tepat di belakang Di Maria.
Tapi pergantian itu sangat tidak efektif. Praktis hanya Di Maria yang agak lumayan. Sementara Januzaj bermain sangat buruk. Pemain muda Belgia ini sama sekali tidak memberi kontribusi apa pun. Sangat mudah kehilangan bola. Dan tidak tahu kapan saat yang tepat mengumpan atau melepas bola.
Blackett juga sama. Bermain di posisi fullback kiri tepat di belakang di Maria, pemain muda ini sangat ragu-ragu naik ke depan. Ada sampai tiga momen ketika Di Maria menguasai bola di sisi kiri dan dihadang oleh Ivanovic, tapi Blackett tidak segera naik membuka ruang. Dua kali malahan Blackett berhenti di belakang Di Maria yang sedang dihadang lawan.
Berniat menyerang dari sayap, pergantian yang dilakukan Van Gaal justru melemahkan daya serang timnya. Januzaj dan Blackett jauh lebih buruk ketimbang Young dan Luke Shaw yang digantikannya.
Kesimpulan
Kehilangan banyak pemain kunci berpengaruh banyak terhadap permainan MU. Pemain yang turut andil dalam kemenangan meyakinkan melawan Liverpool dan Man City. Tapi Van Gaal sepertinya tak mau mengambil risiko dengan tidak mengubah formasi dan taktiknya.
Padahal jika boleh mengandai hasilnya bisa jadi berbeda meski tidak menjamin kemenangan. Salah satu contoh adalah taktik yang terbaca dalam keberhasilan Mourinho menaklukan Fellaini. Karena peran Fellaini memang vital dalam beberapa laga terakhir, menjadi target utama umpan di sepertiga akhir.
Kemenangan ini semakin menunjukan dominasi Chelsea di pentas Premier Leagua. Posisinya semakin mantap di puncak klasemen dengan jarak 10 poin dari peringkat kedua Arsenal. Jika mampu menujukan konsistensi, gelar juara untuk The Blues tinggal menunggu waktu saja.
====
* Mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootball Website: www.panditfootball.com.
(rin/a2s)










































