Cara Bayern Munich Kalahkan Porto Dalam 35 Menit

Liga Champions: Bayern 6-1 Porto

Cara Bayern Munich Kalahkan Porto Dalam 35 Menit

- Sepakbola
Rabu, 22 Apr 2015 16:35 WIB
Cara Bayern Munich Kalahkan Porto Dalam 35 Menit
Getty Images/Boris Streubel
Jakarta -

Bayern Munich tampil luar biasa pada babak pertama di Stadion Allianz Arena, Munich, Jerman, pada Rabu (22/4) dinihari tadi. Padahal, untuk lolos ke babak semifinal, skor akhir 2-0 saja sudah cukup.

Namun ternyata, Bayern tak hanya meraih kemenangan 2-0 untuk unggul agregat gol tandang 3-3. Pada babak pertama itu, skuat asuhan Pep Guardiola tersebut menggilas Porto 5-0, sebelum kebobolan satu gol dan akhirnya menang 6-1. Dengan hasil itu, Bayern maju ke semifinal dengan kemenangan agregat 7-4.

Kekalahan ini pun tentu saja menjadi hal yang mengecewakan bagi Porto. Bahkan sang kapten, Jackson Martinez mengungkapkan jika kesalahan terlalu banyak dibuat ketika babak pertama, tak seperti babak kedua yang bermain lebih baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada babak kedua kami mampu bermain sedikit lebih tinggi di lapangan dan kami lebih menekan. Kami menciptakan beberapa peluang dan kami menciptakan sebuah gol," kata dia seperti dikutip laman UEFA.com.

"Kami sudah tahu ini akan selalu menjadi pertandingan yang sulit dan kami banyak sekali melakukan kesalahan pada babak pertama."

Kreativitas Lini Tengah Bayern

Seminggu yang lalu, Bayern seperti tampil gugup. Namun untuk pertandingan kali ini, Guardiola mendapat yang terbaik dari setiap penampilan pemain dalam kinerja yang benar-benar mencerminkan kualitas kesebelasan ini.

Meskipun bermain dengan formasi 4-3-3, Philipp Lahm dan Mario Goetze bermain seperti sayap di babak pertama untuk menghasilkan permainan yang seluas-luasnya, tapi juga sering mencerminkan pola permainan yang menyerupai 4-4-2.

Pola permainan yang terkadang berubah itu pun tampak mendorong gelandang Porto bermain ke tengah untuk mempersempit ruan ruang. Namun hal tersebut diantispasi Bayern dengan permainan yang lebih kreatif dari para pemainnya.
Β 
Pada pertandingan ini, Xabi Alonso menghasilkan kinerja yang energik untuk bergegas menekan lawan-lawannya dalam penguasaan bola dan memenangkan perebutan bola di daerah untuk tuan rumah yang menjanjikan. Penampilannya tersebut memungkinkan Thiago Alcantara untuk berkeliaran ke berbagai posisi, dan itu menjadi kemampuannya untuk berhubungan dengan Robert Lewandowski dan Thomas Mueller yang menyebabkan begitu banyak masalah untuk Porto pertahanan.



Bayern terus menyerang sepanjang babak pertama, dan Porto tidak bisa menemukan cara untuk keluar dari tekanan. Lini pertahanan yang begitu mengesankan saat tampil di Portugal kehilangan kualitasnya setelah Alex Sandro dan Danilo tak bisa meng-cover area jelajah para pemain depan Bayern.

Lini tengah Porto tidak bisa disalahkan atas peluang yang dibuat oleh para pemain depan Bayern. Hector Herrera bermain cukup baik di lini tengah. Ia sebenarnya menjadi penyebab mengapa Bayern dominan bermain di kedua sisi karenak perannya yang bermain lebih ke dalam.

Namun Herrera tidak dapat menjadi penghubung ke Jackson Martinez dan sayap ketika melakukan serangan. Hal itu juga yang menjadi penyebab mengapa aliran bola untuk Ricardo Quaresma begitu minim. Bahkan Quaresma terpaksa harus lebih banyak berjuang mencari bola ke belakang.



Skema bertahan Porto dengan seluruh pemain lapangannya

Sedangkan Casemiro, yang bisa dikatakan menjadi bintang pada leg pertama, harus tertarik keluar dari posisinya. Pekerjaannya yang mesti melindungi bek tengah justru membuka ruang bagi Thiago untuk mengantarkan bola-bola secara teratur pada lini depan.



Pada gambar di atas, Thiago (lingkaran merah) sangat leluasa bergerak di daerah pertahanan Porto. Hal itu pun menjadi kemudahan bagi Mario Goetze untuk melepaskan umpan kepada Thiago yang terus bergerak masuk ke wilayah pertahanan Porto.

Goetze sendiri, meskipun dalam posisi menguasai bola, ia sama sekali tidak mengalami gangguan yang signifikan dari kedua pemain Porto (Herrera dan Reyes) yang ada di depannya. Kedua pemain tersebut mencoba bermain zonal marking, menjaga area, namun gagal. Tak adanya perubahan membuat keslahan yang sama terus berulang pada babak pertama.

Memanfaatkan Kelemahan Duel Udara Porto

Leluasanya kedua sisi Porto mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Philipp Lahm (Kanan) serta Goetze dan Bernat (Kiri). Dari kedua sisi yang diisi oleh pemain tersebutlah tiga gol Bayern muncul.

Pada gol pertama, Lahm dibantu oleh Rafinha yang beroprasi di sisi kanan terlebih dahulu mengutak atik sisi kiri pertahanan Porto untuk kemudian Rafinha memindahkannya ke sisi kanan pertahanan Porto dengan bola panjang. Goetze yang menerima umpan dari Rafinha langsung membelokkan bola ke arah Bernat dengan satu sentuhannya.

Bernat tidak berlama-lama mengontrol bola. Dengan satu dorongan ke depan ia melepaskan umpan silang ke dalam kotak penalti Porto. Thiago yang sedari tadi sibuk menjelajah seluruh wilayah pertahanan Porto, muncul tiba-tiba dengan menyambar umpan silang tersebut dengan kepalanya.

Untuk gol kedua prosesnya tidaklah serumit gol pertama. Gol ini hanya berawal dari tendangan pojok yang diambil oleh Thiago. Pencetak gol pertama ini justru mengumpan pendek ke Lahm yang sudah ada di sebelahnya untuk kemudian diteruskan dengan umpan silang yang menuju area kotak penalti Porto. Badstuber yang memenangkan duel udara pun memberikan umpan dengan kepala yang kemudian dilanjutkan kembali oleh Jerome Boateng hingga merobek jala Fabiano, lagi-lagi lewat sundulan.

Melihat dengan mudahnya Bayern mencetak gol melalui kepala, menjadi sinyal jika pemain belakang Porto cukup lemah dalam duel udara. Bahkan celakanya lagi, kekalahan duel udara Porto terjadi di wilayah-wilayah yang rawan.



Tanda hijau adalah keunggulan Bayern Munich dalam duel udara

Porto kembali harus kebobolan melalui tandukan kepala Lewandowski. Tapi gol tersebut belum menandakan pertandingan akan berakhir cepat, sebab Porto cukup memasukan satu gol untuk menyamakan kedudukan, hingga agregat menjadi 4-4.

Tapi nyatanya itu tidak terjadi. Justru Mueller membuat pertandingan berakhir lebih cepat setelah mencetak gol keempat pada menit ke-35. Gol Mueller itupun cukup memperlihatkan lebarnya ruang yang menganga di daerah pertahanan Porto bisa dengan mudah dimanfaatkan para pemain Bayern. Tentu saja ini menjadi santapan untuk Mueller kembali menunjukan kelasnya sebagai penafsir ruang. Mueller dengan cerdik sedikit bergerak ke sisi tengah pertahanan Porto untuk menunggu umpan dari Thiago.

Saat menerima umpan, Mueller sebenarnya memiliki opsi lain yaitu memberikan operan ke sisi kanan, di mana Goetze memiliki celah kosong. Namun Mueller menunjukkan kepiawaiannya dalam melepaskan tendangan jarak jauh.



Kesimpulan

Porto bermain tak seperti pada leg pertama, ketika mengalahkan Bayern 3-1. Perubahan susunan di barisan belakang sedikit terlihat sangat mengganggu jalannya permainan. Perubahan itu tentu saja bukanlah tanpa sebab. Minimnya ketersediaan bek sayap menjadi kendala yang amat fatal setelah absennya Sandro pada leg kedua ini.

Bayern dengan mudah memanfaatkan dengan mudah pincangnya skuat Porto ini dengan permainan umpan-umpan silang. Seolah akan melepaskan tembakan dari satu sisi, namun kemudian bola dipindahkan ke sisi yang lain secara cepat dan tepat. Lahirlah tiga gol pertama Bayern.

Gol keempat yang diciptakan Mueller sendiri seolah menjadi pengunci hasil akhir. Saat keadaan 4-0, Porto otomatis harus mencetak dua gol. Sedangkan jangankan dua, mencetak satu gol pun sangat sulit bagi Porto, di mana baru berhasil setelah tertinggal 5-0.

====

*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads