Namun upaya mencetak gol skuat asuhan Leonardo Jardim tersebut selalu berhasil dimentahkan barisan pertahanan Juventus. Meski cukup mendominasi pertandingan, disiplinnya para pemain bertahan Juve sangat membuat kesulitan lini serang Monaco mencapai area kotak penalti.
Juve sendiri tampaknya memang lebih ingin mengamankan agregat 1-0 pada laga ini. Skuat asuhan Massimilliano Allegri ini tak mau ambil resiko dengan meladeni permainan terbuka yang diperagakan Monaco. Juve lebih memilih bersabar menunggu Monaco melakukan kesalahan lalu melakukan serangan balik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pressing Monaco dalam Mematahkan Serangan Juventus
Monaco sangat bernafsu menciptakan gol secepat mungkin sejak pertandingan dimulai. Jardim sepertinya menginstruksikan para pemainnya untuk sesegara mungkin mendapatkan bola agar bisa lebih sering melancarkan serangan pada lini pertahanan Juventus.
Oleh karena itu, pressing hingga lini pertahanan lawan dilakukan oleh para pemain Monaco. Ketika bola berada di kaki pemain bertahan Juventus yang kali ini menggunakan skema tiga bek,salah satu pemain depan Monaco seperti Anthony Martial, Yannick Ferreira-Carrasco, dan Bernardo Silva langsung buru-buru mendekati pemain yang tengah menguasai bola.
Hal ini dibarengi dengan pemain Monaco lain yang langsung menjaga satu per satu pemain Juve yang tak menguasai bola. Tekel agresif pun dilakukan agar Monaco bisa secepat mungkin kembali menguasai bola dan melancarkan serangan.

Empat pemain Monaco menekan lini pertahanan Juve
Mendapat tekanan seperti ini membuat para pemain bertahan Juventus tak bisa leluasa mengalirkan bola ke tengah. Bahkan, kiper Juventus, Gianluigi Buffon, kerap harus membuang bola ke luar lapangan ketika ia kesulitan menemukan target operan yang disertai dengan pemain Monaco yang dengan cepat memberikan tekanan padanya.
Skema pressing yang dilakukan Monaco ini berhasil mengunci permainan Juventus. Di samping itu, skema ini pun membuat Monaco menjadi lebih sering menguasai bola, unggul penguasaan 57% berbanding 43%. Namun lini pertahanan Juventus yang juga sama kokohnya membuat Monaco kesulitan menciptakan peluang emas.
Cara Juve Mengantispasi Serangan Sayap Monaco
Pada leg pertama, lini pertahanan Juve cukup sering mendapatkan ancaman berbahaya dari lini serang Monaco. Monaco sendiri unggul jumlah tembakan ke gawang pada leg pertama, 16 berbanding 13. Serangan balik Monaco yang dilancarkan lewat Ferreira-Carrasco atau Martial dari sisi sayap, selalu diakhiri dengan gerakan cutting inside.
Kemampuan individu yang dimiliki para pemain penghuni lini depan Monaco berkali-kali berhasil mengecoh lini pertahanan Juventus. Namun kesigapan Buffon di bawah mistar gawang membuat lini serang Monaco harus gigit jari.
Allegri tentunya tak ingin hal seperti ini terulang pada pertemuan kedua. Karenanya, ia memutuskan untuk menggunakan formasi berbeda saat bertanding di Stade Louis II. Jika saat pertemuan pertama Juve menggunakan formasi dasar 4-4-2 berlian, kali ini Juve menggunakan formasi 3-5-2. Formasi ini memang diterapkan untuk mengantisipasi serangan sayap Monaco yang begitu membahayakan pada pertemuan pertama. Tentunya tak sekadar mengubah formasi, gaya bertahan Juve pun mengalami perubahan untuk menyempurnakan skema bertahannya.
Jika pada pertemuan pertama Juve melakukan pressing yang dilakukan sejak lini pertahanan lawan, kali ini Juve lebih bersabar menunggu lini serang Monaco memasuki area bertahan Juve. Kesebelasan berjuluk SI Nyonya Tua ini lebih memilih untuk covering area dengan menjaga satu lawan satu pemain Monaco daripada dengan segera coba merebut bola dari kaki lawan sejak dini.

Lini pertahanan Juve tak berupaya merebut bola, tapi menjaga 1vs1 target operan pemain Monaco
Pada gambar di atas terlihat semua pemain penyerang Monaco dijaga masing-masing oleh para pemain Jika diperhatikan lebih dalam, tiga pemain yang tak menjaga pemain lawan, Tevez-Pirlo-Bonucci, semuanya berada di tengah.
Ketiganya akan berperan ketika bola coba didistribusikan ke tengah di mana mereka akan melakukan aksi intersepsi. Inilah yang membuat Monaco tak bisa mengirim bola ke tengah, di mana pada babak kedua Dimitar Berbatov dimainkan dengan harapan menjadi pemantul.
Tiga gelandang Juve pun secara konsisten menjaga area depan kotak penalti Juve membuat Monaco harus terus mengalirkan bola ke sayap. Di sini lah gelandang-gelandang Juve tersebut baru melakukan pressing. Biasanya, Arturo Vidal di sisi kiri dan Claudio Marchisio yang akan menyergap pemain Monaco yang masuk dari kedua sayap lini pertahanan Juve.

Pergeseran Vidal ke kiri untuk membantu Evra
Strategi ini cukup berhasil meredam serangan Monaco. Marchisio melakukan tekel berhasil sebanyak tujuh kali dari sembilan percobaan. Sementara Vidal, melakukan tekel berhasil sebanyak enam kali dari delapan percobaan.
Melepaskan umpan silang kemudian menjadi salah satu cara Monaco dalam menciptakan peluang, selain tembakan jarak jauh yang biasanya dilepaskan Geoffrey Kondogbia. Namun strategi pressing Juve dengan Vidal dan Marchisio yang bergeser ke sayap membuat Monaco harus terburu-buru mengirimkan umpan silang ke kotak penalti.
Hasilnya umpan silang Monaco pun menjadi tak efektif. Dari 34 kali percobaan, hanya enam kali yang mengenai sasaran. Sementara Juve, sukses melakukan 34 sapuan dari serangan sayap yang terus dilancarkan para pemain Monaco.

Grafis umpan silang Monaco (kiri) dan sapuan lini pertahanan Juventus
Monaco sebenarnya bisa melakukan 10 tembakan ke gawang Juve. Namun skema bertahan Juve di atas membuat peluang yang diciptakan seringkali tak begitu membahayakan gawang Buffon. Dari 10, tujuh di antaranya berasal dari luar kotak penalti. Ditambah lagi hanya satu tembakan yang mengenai sasaran.
Kesimpulan
Juventus tampaknya memang menginginkan hasil imbang tanpa gol pada leg kedua ini. Lini pertahanan Monaco sebenarnya cukup grogi sehingga kerap melakukan kesalahan ketika sesekali lini serang Juve melakukan pressing di area pertahanan Monaco, ketika pemain bertahan Monaco coba membangun serangan.
Namun Juve lebih memilih untuk bersabar menunggu datangnya serangan Monaco dan bersabar menanti kesalahan yang dilakukan para pemain Monaco, lalu melancarkan serangan balik. Karenanya, Juve hanya melepaskan lima tembakan pada laga ini karena lebih memfokuskan pertahanan.
Mengamankan skor β1-0β menjadi pilihan karena sebenarnya Juve bermain dengan kondisi yang kurang sempurna. Hal ini dikatakan langsung oleh Allegri seperti dikutip dari Football Italia pasca pertandingan: "Saya memutuskan menggunakan sistem ini karena melihat kondisi pemain pada saat latihan. Tevez muntah-muntah selama dua hari, Vidal mengalami demam, dan Pirlo belum dalam kondisi terbaiknya setelah mengalami cedera panjang."
Perubahan formasi dari 4-3-1-2 ke 3-5-2 pada leg kedua menjadi kunci keberhasilan Allegri membuat skuatnya tak kebobolan. Dengan formasi 3-5-2, ia berhasil membentuk lini pertahanan yang solid dengan bantuan dari pergeseran Vidal dan Marchisio ke sayap ketika bertahan.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































