Perubahan Skema Serangan Inter yang Mengoyak Gawang Roma di Ujung Pertandingan

Liga Italia: Inter 2-1 Roma

Perubahan Skema Serangan Inter yang Mengoyak Gawang Roma di Ujung Pertandingan

- Sepakbola
Minggu, 26 Apr 2015 15:18 WIB
Perubahan Skema Serangan Inter yang Mengoyak Gawang Roma di Ujung Pertandingan
Getty Images/Marco Luzzani
Jakarta -

Internazionale Milan berhasil memperpanjang nafasnya untuk meraih tiket Liga Europa musim depan. Saat menghadapi AS Roma di Giuseppe Meazza, skuat besutan Roberto Mancini ini berhasil menorehkan kemenangan dengan skor tipis 2-1.

Pertandingan sebenarnya berlangsung imbang. Masing-masing kesebelasan seolah telah mengetahui cara menghentikan serangan lawan. Inter masih mengandalkan serangan lewat sisi sebelah kiri, sementara Roma terus berupaya mencetak gol melalui sisi kanan.

Serangan kedua kesebelasan yang menonton membuat laga seolah akan berakhir imbang karena selalu bisa diantisipasi lawan. Namun Mancini melakukan perubahan skema menyerang pada 10 menit terakhir. Dari sanalah terlahir gol kemenangan bagi Inter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menutup Jalur Serangan dari Sisi Kanan

Dalam pratinjau yang kami buat sebelum pertandingan [Baca: Inter dan Roma Akan Saling Serang], kami menyebutkan bahwa AS Roma patut mewaspadai kombinasi Hernanes, Rodrigo Palacio, dan Mauro Icardi di sisi sebelah kiri. Saat menghadapi AC Milan, Inter berhasil menciptakan sejumlah peluang emas dari sini.

Hal ini tampaknya disadari betul oleh pelatih Roma, Rudi Garcia. Sejak babak pertama, ia menginstruksikan para pemainnya untuk menutup akses operan bagi Palacio-Hernanes-Icardi di sisi kanan pertahanan Roma.

Victor Ibarbo yang diplot sebagai penyerang sayap kanan, melakukan track back hingga area depan kotak penalti pertahanan sendiri ketika Roma mendapatkan serangan. Sementara itu, Radja Nainggolan yang bermain sebagai gelandang yang beroperasi di kanan, terus mengikuti pergerakan Palacio ataupun Marcelo Brozovic, gelandang kiri Inter.



Ketika bertahan, pemain Roma menumpuk di sisi kanan

Pada gambar di atas, terlihat Ibarbo menutup jalur operan dari Jesus, yang menguasai bola, pada Palacio ataupun Brozovic. Jikapun bola berhasil dioper pada Palacio atau Brozovic yang berada di sisi kiri, sudah ada Nainggolan dan Alessandro Florenzi yang siap menjaganya.

Lihat juga bagaimana jalur operan pada pemain lain seperti Gnoukouri dan Hernanes pun cukup menyulitkan Inter. Gnokouri mendapat penjagaan dari Francesco Totti sementara pergerakan Hernanes diikuti Miralem Pjanic.

Hernanes memang seringkali mendapat pengawalan dari Pjanic. Padahal jika menurut posisi, harusnya gelandang asal Brasil tersebut menghadapi Daniele De Rossi, yang sama-sama beroperasi di tengah. Namun Pjanic dipilih untuk menjaga Hernanes agar ketika bola berhasil dikirimkan ke dekat kotak penalti di sisi kiri (kanan pertahanan Roma), De Rossi akan meng-cover area tersebut.

Situasi seperti gambar di atas seringkali terlihat sepanjang pertandingan. Bola dari Yassane Gnoukouri atau dari Juan Jesus selalu diupayakan untuk didistribusikan ke sisi kiri. Dan skema bertahan yang diperagakan Roma ini membuat Inter tak bisa melancarkan skema serangan terbaiknya karena harus memindahkan bola ke sisi kanan atau mengoper kembali ke belakang untuk memancing keluar para pemain Roma.



Umpan sepertiga akhir Inter yang begitu dipaksakan ke sisi kiri

Meski selalu berhasil digagalkan lini pertahanan Roma, nyatanya memaksakan serangan lewat sisi kiri berhasil membuahkan hasil lewat gol Hernanes. Hernanes yang berada di tengah, melepaskan tembakan dari luar kotak penalti setelah mendapat operan dari Palacio yang berada di sisi kiri.

Namun gol tersebut seolah inisiatif dan upaya spekulatif dari seorang Hernanes. Karena pada kenyataannya, Inter yang melepaskan 11 tembakan pada laga ini, hanya tiga yang mengenai sasaran. Dengan lima di antaranya yang dilepaskan dari luar kotak penalti, hal ini menunjukkan bahwa Inter sangat kesulitan menembus tumpukan pemain Roma di sisi kiri.





Sapuan dan blocking Roma yang menunjukkan keberhasilan menahan serangan dari sisi kiri penyerangan Inter

Antisipasi Inter Menghadapi Umpan Silang Roma

Lini serang Roma memiliki kemampuan mumpuni dalam melewati pemain belakang lawan. Dan hal ini kembali dibuktikan saat menghadapi lini pertahanan Inter. Total 20 dribel berhasil dilakukan pemain Roma pada laga ini, Inter hanya sembilan.

Namun apalah arti dari banyaknya jumlah dribel berhasil jika setiap serangan Roma selalu bisa digagalkan para pemain Inter? Ya, dalam 90 menit, Roma sama halnya dengan Inter yang hanya mampu melepaskan tiga tembakan ke gawang dalam 11 kali percobaan.

Hal ini terjadi karena Inter dengan cerdik memutus serangan Roma yang begitu terpusat ke sisi kanan dan sisi kiri pertahanan Inter. Inter menyadari bahwa para pemain Roma akan sulit dihentikan ketika melakukan aksi individu seperti, Gervinho, Ibarbo, Pjanic, Florenzi, dan Jose Holebas.

Yang dilakukan Inter justru menumpuk para pemainnya di tengah. Hal ini dikarenakan aksi melewati lawan yang dilakukan para pemain Roma biasanya akan diakhiri dengan mengirim umpan silang ke kotak penalti, entah itu lewat umpan lambung maupun cutback.

Padatnya para pemain Inter di tengah, tak ada pemain Roma yang berdiri bebas tanpa pengawalan, membuat Roma tak bisa mengalirkan bola dari sisi sayap, terutama sisi kanan, ke kotak penalti. Akhirnya, setelah bola berhasil dikirim ke sayap, pemain Roma yang menerima bola tersebut mengakhiri serangan sendirian, entah itu dengan dribel ataupun melepaskan tendangan spekulasi. Jika pun mengirim bola ke kotak penalti, sudah dapat ditebak bahwa lini pertahanan Inter siap menyapunya.





Umpan sepertiga akhir (atas) Roma dan upaya tembakan Roma

Roma sendiri berhasil mencuri gol setelah bek Inter, Andrea Ranocchia, melakukan kesalahan salah oper. Mendapatkan tekanan dari Seydou Keita, yang masuk menggantikan Totti pada babak kedua, kapten Inter tersebut panik dan memberikan operan ke tengah.

Tak ada pemain Inter, Pjanic kemudian muncul untuk memotong bola. Dari sinilah tercipta ruang kosong yang bisa dimanfaatkan Roma. Pjanic kemudian memberikan operan pada Nainggolan yang berdiri bebas tak terkawal di sisi sebelah kanan.





Proses gol Nainggolan

Untungnya lini pertahanan Inter hanya satu kali melakukan kesalahan mendasar seperti ini. Sisanya, lini pertahanan Inter tetap mampu membendung setiap serangan yang dilancarkan Roma dari sisi kanan.

Upaya Terakhir yang Dilakukan Mancini

Sadar kesebelasannya membutuhkan kemenangan, Mancini memainkan pemain-pemain bertipikal menyerang pada 15 menit jelang babak kedua berakhir. Dimulai dari memasukkan Xherdan Shaqiri mengganti Freddy Guarin, hingga Gnoukouri yang digantikan Lukas Podolski.

Podolski yang masuk pada menit ke-85 membuat Inter mengubah formasinya dari 4-4-2 berlian menjadi 4-3-3, di mana lini depan dihuni oleh Palacio-Icardi-Podolski. Perubahan inilah yang berhasil membuat lini pertahanan Roma kelabakan pada menit-menit akhir.

Semenjak masuknya Podolski, tercatat tiga peluang emas diciptakan lini serang Inter. Ini terjadi karena sejak masuknya Podolski, sisi kanan Inter menjadi lebih membahayakan. Pada saat gol terjadi, Podolski yang menggiring bola dari sisi kanan ke tengah, mengirimkan umpan daerah pada Icardi yang berada di kotak penalti.



Proses gol Icardi, assist Podolski

Gol ini tentu saja merupakan buah dari pergantian pemain dan perubahan formasi. Jika yang menguasai bola di atas adalah Guarin, bukan Podolski, Guarin mungkin akan mengopernya pada Shaqiri yang berada di tengah.

Lini pertahanan Roma pun seolah kaget mendapati Podolski memberikan bola pada Icardi. Tak ada upaya dari Keita-De Rossi-Mbiwa untuk memotong bola tersebut padahal bola melalui ketiganya. Hal ini dikarenakan Roma tampaknya mengira bahwa bola akan digulirkan ke sisi sebelah kiri, skema serangan yang biasa diperagakan Inter.

Kesimpulan

Pertandingan ini sebenarnya berjalan berimbang. Kedua kesebelasan telah mengetahui dari mana lawan akan menyerang dan dengan tepat lini pertahanan mngantisipasinya. Ini terlihat dari jumlah tembakan ke gawang yang sama-sama 11 kali dan skor yang sempat bertahan 1-1 hingga menit ke-87, sebelum terciptanya gol Icardi.

Sementara Rudi Garcia sendiri nyaris tak mengubah skemanya sepanjang pertandingan, Mancini mengubah skema serangan pada menit-menit akhir pertandingan. Perubahan inilah yang menghadirkan gol kemenangan bagi Inter.

====

*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

(roz/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads