Rapuhnya Pertahanan MU Hadapi Serangan Balik The Toffees

Liga Inggris: Everton 3-0 Man Utd

Rapuhnya Pertahanan MU Hadapi Serangan Balik The Toffees

- Sepakbola
Senin, 27 Apr 2015 12:10 WIB
Rapuhnya Pertahanan MU Hadapi Serangan Balik The Toffees
Reuters / Carl Recine
Jakarta -

Dua tahun lalu Sir Alex Ferguson kalah di Goodison Park karena satu gol Marouane Fellaini. Tahun lalu David Moyes kalah 0-2, juga di Goodison Park. Semalam Louis van Gaal kalah tiga gol tanpa balas di stadion yang sama.

James McCarthy, John Stones, dan Kevin Mirallas masing-masing mencetak satu gol dan menjaga rekor tak terkalahkan Everton sepanjang tahun 2015.

Tanpa tambahan angka MU yang menempati peringkat terakhir zona Liga Champions tetap aman dari kejaran Liverpool dengan selisih tujuh angka. Namun mereka gagal menempati peringkat yang lebih baik karena gagal melampaui raihan angka Arsenal dan Manchester City.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Everton, sementara itu, naik ke peringkat 10. Mereka berada tepat tiga angka di belakang Stoke City dan memiliki jumlah poin yang sama dengan West Ham United: 44.

Susunan Pemain

Tanpa Michael Carrick, MU bermain dalam formasi 4-1-4-1. Daley Blind bermain di antara kuartet Antonio Valencia, Chris Smalling, Paddy McNair, serta Luke Shaw di lini pertahanan β€”dan empat gelandang lain: Juan Mata, Ander Herrera, Marouane Fellaini, dan Ashley Young. Kapten Wayne Rooney berposisi sebagai ujung tombak.

Blind, Mata, dan Herrera aktif bertukar posisi sehingga pertukaran umpan dari kaki ke kaki di lini tengah selalu berjalan dengan lancar. Pergerakan Mata yang lebih ke tengah membuat Valencia memiliki banyak ruang ketika menyerang. Pergerakan Fellaini membuat MU seperti bermain dengan dua orang penyerang.

Di kubu tuan rumah, Roberto Martinez memainkan pasukannya dalam formasi 4-2-3-1. Seamus Coleman, John Stones, Phil Jagielka, dan Leighton Baines mengawal pertahanan. Tepat di depan empat pemain tersebut, Gareth Barry dan James McCarthy memastikan aliran bola Everton berjalan lancar. Penyerang tunggal, Romelu Lukaku, mendapat sokongan dari kedua penyerang sayap, Aaron Lennon dan Leon Osman, serta gelandang serang Ross Barkley.

Para pemain Everton, tidak seperti MU, tak memiliki taktik khusus ketika menyerang. Siapapun yang berada dekat dengan bola saat lawan melakukan kesalahan, bertanggung jawab terhadap serangan balik cepat. Barkley, bagaimanapun, nyaris selalu terlibat dalam setiap serangan Everton.

Menjawab Pertanyaan β€œMengapa MU Kalah?”

Menguasai sebagian besar jalannya pertandingan dan lebih banyak menyerang memang tidak menjamin kemenangan. MU buktinya. Mereka punya 65,7% ball possession dan benar-benar menguasai pemainan. Mereka melepaskan 574 umpan, yang 85,89%-nya tepat sasaran. Everton hanya membuat 211 umpan tepat sasaran – tidak sampai setengah dari MU.



Dalam beberapa kasus, kesebelasan yang tampak tidak dominan memenangi pertandingan karena mereka mengalahkan lawan untuk urusan jumlah umpan di area sepertiga akhir. Semalam, Everton tidak begitu. Untuk urusan jumlah umpan di sepertiga akhir, MU juga lebih unggul sampai dua kali lipat: 212 berbanding 77. Dan untuk urusan akurasi, Everton lagi-lagi kalah; 54,54% berbanding 80,19%.

Lalu kenapa MU tetap kalah? Alasannya bukan Everton lebih agresif, karena sepanjang pertandingan The Toffees hanya melepaskan sembilan tendangan, sedangkan MU sampai 17.



Statistik yang berhubungan dengan tendangan-tendangan inilah yang menyimpan alasan di balik kekalahan MU: efektivitas. Everton bisa menang sampai tiga gol karena bermain lebih efektif.



Tujuh dari 9 tembakan Everton tepat mengarah ke arah gawang. Tiga di antaranya menjadi gol. Bandingkan dengan MU yang hanya mampu melepaskan 4 shot on target, dari 17 tembakan.

Kunci Everton: Pertahanan Tangguh dan Pemanfaatan Peluang

Everton tidak bermain menekan. Mereka sabar menghadapi permainan MU dengan menerapkan taktik bertahan zonal marking di daerah permainan sendiri. Statistik permainan secara jelas menunjukkan bagaimana Everton lebih banyak menunggu The Red Devils melakukan kesalahan di daerah permainan Everton.



Dari 14 intercept yang dilakukan, hanya tiga yang terjadi di daerah permainan MU. Begitu pula dengan tackle. Everton melakukan tackle sebanyak 32 kali dan hanya 8 yang terjadi di daerah permainan lawan.
Β 


Tangguhnya pertahanan Everton (yang juga ditandai dengan sepuluh block) membuat MU mau tidak mau harus menyerang dengan jumlah pemain yang banyak. Bukannya menjadi keuntungan untuk kesebelasan penyerang, pendekatan ini justru membuka peluang bagi tim yang bertahan. Banyaknya jumlah pemain MU yang masuk ke area pertahanan Everton membuat David De Gea tidak terlindungi. Inilah yang terjadi dalam proses gol pertama tuan rumah.

Memanfaatkan kesalahan lawan, Everton melancarkan sebuah serangan balik. Tak hanya itu, mereka menang jumlah dalam serangan ini. Barkley, Lukaku, Coleman, dan McCarthy melawan McNair, Blind, dan Juan Mata yang datang terlambat sehingga sebenarnya dapat dikatakan bahwa empat pemain Everton menyerang dua pemain MU.

Selain pertahanan tangguh dan serangan balik mematikan, Everton juga memiliki keunggulan lain: memanfaatkan peluang sekecil apapun. Everton mencetak gol kedua dan ketiga mereka dengan cara itu.

Gol kedua berasal dari sepak pojok Baines. Mendapatkan kawalan dari Valencia, John Stones yang berada di area dekat titik penalti menunggu lawannya lengah. Ketika perhatian Valencia teralihkan, Stones berlari ke arah tiang dekat. Tanpa kawalan, Stones menyundul bola ke tiang jauh dan terciptalah gol. Gol ketiga lebih oportunis lagi.

Para pemain MU menerapkan jebakan offside untuk Lukaku. Merasa berhasil, para pemain MU pun membiarkan bola kiriman Barkley tetap bergulir. Mereka tidak sadar bahwa di sisi kiri serangan Everton, Mirallas tidak berada dalam posisi offside dan bola mengarah kepadanya. Ketika para pemain MU menyadarinya, Mirallas sudah bergerak menggiring bola ke arah gawang. Bersama Lukaku ia menciptakan situasi dua lawan satu. Mirallas memilih untuk melepas tembakan ketimbang mengumpan. Pilihannya terbukti tepat karena Everton mendapatkan gol ketiga mereka.

Kesimpulan

MU tidak bisa begitu saja disebut bermain buruk. Mereka tampil menghibur dan menunjukkan permainan kelas satu. Sialnya, bukan itu yang dibutuhkan untuk memenangi pertandingan. Everton tahu benar, melawan MU mereka mampu menampilkan pertahanan yang rapat dan sulit ditembus. Dengan serangan balik cepat dan kemampuan memanfaatkan kesalahan lawan, Everton mengunci kemenangan dengan skor yang cukup mencolok.


====

* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

* Sumber grafis: FourFourTwo/Statszone

(a2s/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads