sepakbola
Liga Champions: Juventus 2-1 Real Madrid

Minimnya Kreativitas Lini Tengah Madrid yang Berhasil Dimanfaatkan Juve

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video
Liga Champions: Juventus 2-1 Real Madrid

Minimnya Kreativitas Lini Tengah Madrid yang Berhasil Dimanfaatkan Juve


- detikSepakbola

REUTERS/Giorgio Perottino
REUTERS/Giorgio Perottino
Jakarta -

Tak begitu diunggulkan, Juventus nyatanya berhasil mengalahkan Real Madrid di semifinal pertama Liga Champions dinihari tadi, di kandang sendiri, Juventus Arena.

Dalam laga berkesudahan 2-1 itu Juventus meraih gol-golnya melalui Alvaro Morata dan Carlos Tevez, sedangkan Madrid via Cristiano Ronaldo.

Bianconeri berhasil membuat lini tengah Madrid kelabakan. Mereka bisa memanfaatkan kosongnya lini vital El Real karena absennya Luca Modric dan Sami Khedira. Selain mudah ditembus pertahanannya, Madrid juga kesulitan melakukan serangan – ditambah Karim Benzema yang juga absen karena cedera.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kubu tuan rumah, masih belum fitnya Paul Pogba ternyata tidak menjadi masalah berarti. Stefano Sturaro yang menggantikan peran gelandang Prancis tersebut bermain dengan cukup apik.



Kendala di Lini Tengah Madrid

Carlo Ancelotti dibuat pusing dengan absennya Modric dan Khedira. Untuk menyiasati hal tersebut ia terpaksa mendorong Sergio Ramos ke depan sebagai gelandang bertahan. Faktor tersebut yang membuat Madrid akhirnya juga harus sedikit mengubah gaya bermainnya -- banyak menyisir sisi lapangan dengan mengandalkan umpan silang.

Sebenarnya hal di atas dapat disiasati dengan bermain menggunakan skema serangan balik cepat, persis seperti musim lalu saat berhasil menjuarai Liga Champions. Tetapi hal tersebut sulit dilakukan karena tidak adanya dua pemain penting dalam skema serangan balik. Angel di Maria sebagai “sprinter” di tengah sudah hijrah ke Manchester United, sedangkan Benzema sang “pemantul bola” masih terbelit cedera.

Akibatnya sulit bagi Madrid untuk melakukan penetrasi ke kotak penalti dari tengah, dan semua bola terpaksa dialirkan terlebih dahulu ke sayap. Taktik yang sepertinya mudah terbaca oleh lawan, persis saat Ronaldo dkk menghadapi Sevilla di laga sebelumnya. Kala itu mereka hanya bisa mengandalkan kemampuan individu penyerangnya di kotak penalti menggunakan umpan silang.

Satu-satunya gol Madrid yang dicetak Ronaldo juga berawal dari pergerakan di sayap. James Rodriguez mengirimkan assist berupa umpan silang pada pemain asal Portugal tersebut yang bebas tak terkawal.

Penempatan Ramos pada di tengah pada laga ini tak seektif kala ia ditempatkan sebagai gelandang saat melawan Atletico Madrid. Akurasi operannya hanya sekitar 80%. Posisinya yang terlalu mundur pun membuat Juve bisa menekan dari tengah. Gol Juve sendiri berawal dari berhasil diintersepnya operan yang hendak dilepaskan Ramos.

Pun begitu dengan Gareth Bale yang pada laga ini mendapatkan instruksi khusus untuk menjaga Andrea Pirlo. Bale mendapatkan peran untuk mengganggu Pirlo ketika hendak melepaskan operan. Namun ia gagal menjalankan peran tersebut di mana Pirlo dengan leluasa mendistribusikan bola ke sayap atau pada duet lini depan Juventus.

Tevez dan Morata Sebagai Pengatur Serangan Juventus

Jika harus memilih siapa pemain terbaik dalam laga kali ini, maka dua penyerang Juventus ini pantas berada di daftar teratas. Selain sebagai pencetak masing-masing gol Juventus, keduanya juga punya peran penting dalam permainan secara tim.

Taktik Massimiliano Allegri cenderung menahan pemain di belakang dan hanya menyisakan duet Morata - Tevez di lini depan saat diserang. Tetapi, meski hanya berdua, mereka mampu membuat pertahanan Madrid kerepotan saat serangan balik. Pergerakannya cenderung dinamis, menyesuaikan posisi lawan dan bola berada.

Akibatnya, dua gelandang Real Madrid, Ramos dan Kroos, tidak dapat leluasa untuk membantu serangan ke depan. Beberapa kali mereka harus tertahan di tengah untuk mencegah bola menuju dua penyerang Juve tersebut. Apalagi dua fullback El Real cukup aktif naik hingga sepertiga akhir membuat hanya sedikit pemain tersisa di lini belakang.

Baik Morata maupun Tevez tahu ke mana mereka harus bergerak saat salah satu sedang menguasai bola. Sehingga hanya dengan dua pemain saja, Juventus dapat menciptakan beberapa opsi serangan. Saat gol pertama, Tevez lebih memilih menunggu di depan kotak penalti ketimbang berdiam menunggu bola di dalam. Cara berbeda dilakukan oleh Morata yang dengan sabar memancing bek Real Madrid berdiri sedekat mungkin dengan gawang, sehingga meminimalisir kemungkinan offside.


[Skema gol pertama Juventus]

Sebelum terjadinya gol ini, terlihat sekali bagaimana Juve ingin menguasai jalannya pertandingan. Ketika Tevez memotong bola yang dilepaskan Ramos, Juve tak langsung melakukan serangan balik, melainkan kembali menggulirkan bola ke belakang.
Juve secara perlahan kemudian mengalirkan bola dengan operan-operan pendek. Ini dilakukan untuk memancing para pemain lawan yang memberikan tekanan hingga ke area bertahan milik Juve. Tercatat sebanyak 27 operan dilakukan para pemain Juve sebelum Tevez melepaskan tembakan yang menghasilkan bola liar.

Skema gol tersebut mencerminkan bahwa Juve tak ingin cepat kehilangan bola. Selain itu, skema ini pun memperlihatkan bahwa lini tengah Madrid tak memiliki struktur pertahanan yang bisa memotong jalur operan Juve. Juve justru dibuat leluasa mengalirkan bola dari kaki-kaki.

Sementara skema gol kedua Juventus juga tak kalah menarik. Sebelum wasit menghadiahi penalti untuk Juventus ada pergerakan berupa serangan balik cepat. Berawal dari sepak pojok Madrid yang gagal, padahal saat itu hampir seluruh pemain El Real berada di wilayah Juventus.

Tevez yang sedang menguasai bola berlari kencang dan berusaha melewati Carvajal. Sementara itu Morata yang berada di belakangnya mengikuti arah gerak Tevez. Namun bukannya melebar agar dapat menerima umpan, Morata justru berusaha mendekati Tevez berdampingan. Padahal di situ juga ada pemain Madrid lainnya. Gerakan ini membuat Carvajal tidak bisa mendekati bola yang berada di kaki Tevez, sehingga dengan leluasa bola tersebut nyaris tak tersentuh hingga kotak penalti.


[Skema saat Juventus mendapatkan penalti untuk gol kedua]

Sayap Real Madrid yang Tak Berdaya Menghadapi Skema Allegri

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Real Madrid banyak bermain di area sayap namun masih belum maksimal. Hal ini karena skema yang dipasang oleh Allegri membuat pertahanan sayap Juventus cukup kokoh menghadapi serangan lawan.

Ada dua formasi yang dipakai oleh Allegri pada laga kali ini, yakni 4-3-1-2 pada awal laga, yang berubah menjadi 3-5-2 selepas mencetak gol kedua. Keduanya punya gaya bermain yang hampir sama: mengandalkan penguasaan bola dengan umpan-umpan pendek. Juga, menumpuk banyak pemain di area sendiri dan tidak membiarkan kedua bek sayap mereka untuk aktif menyerang,

Hal ini membuat Madrid tidak punya banyak kesempatan untuk melakukan serangan balik cepat melalui sayap. Karena bagaimanapun Juventus jarang sekali kalah jumlah pemain ketika diserang. Bale dan Ronaldo juga kesulitan untuk menusuk ke dalam (cutting inside) karena keberadaan tiga gelandang Juve di depan bek.

Madrid sebenarnya juga berupaya untuk membongkar pertahanan tersebut dengan cara melakukan umpan diagonal, mengganti sisi serangan. Tetapi skema pertahanan yang dikomando oleh Pirlo tersebut tak goyah dan tetap dalam struktur yang kokoh.


[Umpan Real Madrid di sepertiga akhir, sulit menembus kotak penalti. Sumber: Statszone]

Kesimpulan

Meski berhasil memenangkan pertandingan, Juventus belum memperoleh hasil yang aman. Bahkan ini cenderung hasil yang merugikan karena hanya mampu menang tipis dan Real Madrid berhasil melesakkan gol tandang.

Taktik Allegri yang sukses mematikan lini tengah lawan seharusnya menghasilkan lebih. Apalagi kondisi Madrid sedang tidak dalam performa puncak mengingat absennya pemain kunci mereka.

Untuk leg kedua nanti di Santiago Bernabeu, Ancelotti harus membuat skema baru untuk menembus pertahanan Juventus. Jika memang terkendala ketersediaan pemain, mereka sebenarnya dapat memaksimalkan cara lain, yaitu keunggulan individu para pilarnya. Ancelotti dapat bermain dengan tempo lebih cepat dan berusaha memanfaatkan momen bola-bola mati.

====

* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.


(a2s/din)











Hide Ads