Peluang Bayern Munich untuk menuju ke partai puncak Liga Champions 2015 harus menipis setelah mereka harus kalah 0-3 pada pertandingan babak semi final leg pertama melawan Barcelona. Bayern harus menerima kekalahan yang cukup telak ini setelah dua gol Lionel Messi dan satu gol Neymar bersarang di gawang Manuel Neuer pada 15 menit terakhir pertandingan.
Pada pertandingan ini, Bayern memang datang ke Camp Nou dengan masalah cedera yang tengah melanda beberapa pemain pilar mereka. Terdapat empat pemain andalan Bayern Munich yang harus absen akibat masalah cedera. Di antaranya adalah Arjen Robben, Franck Ribery, David Alaba, dan Holger Badstuber. Ditambah lagi, penyerang andalan mereka, Robert Lewandowski harus bermain dengan pelindung muka akibat mengalami masalah dengan tulang pipinya.
Meski begitu, manajer Bayern Munich, Pep Guardiola, masih memiliki barisan skuat yang tidak bisa dianggap remeh. Di posisi gelandang mereka masih memiliki Xabi Alonso, Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger, dan Thiago Alcantara. Serta di depan ada Thomas Muller yang mendampingi Lewandowski untuk mendobrak pertahanan Barcelona.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Performa Barcelona dalam beberapa pertandingan terakhir pun sangat luar biasa. Trio striker mereka, Luis Suarez, Lionel Messi, dan Neymar tidak terbendung oleh lawan-lawannya. Bahkan Suarez baru saja mencetak hattrick pertamanya di Barcelona pekan lalu saat melawan Cordoba.
Man to man Marking
Pada 15 menit pertama, Bayern Munich menunjukkan permainan yang cukup mengejutkan dengan memperagakan pola pertahanan man to man marking kepada pemain Barcelona. 10 pemain Bayern Munich akan langsung mengejar semua pemain Barcelona saat penguasaan bola ada di Barcelona. Hal ini tidak terkecuali kepada pemain bertahan Barcelona yang berada jauh di area pertahanan.
Pep seolah-olah tidak peduli meski ia mengetahui bahwa pemain Barcelona akan bermain menyebar ke seluruh penjuru lapangan. Ia tetap menginstruksikan para pemainnya untuk menempel satu per satu pemain Barcelona di mana pun mereka berada. Formasi dasar 3-4-2-1 yang dimainkan Bayern Munich pada awal pertandingan diabaikan begitu saja karena posisi pemain Bayern akan bergantung pada keberadaan pemain Barcelona.

Pola pertahanan man to man marking Bayern Munich
Pola pertahanan ini memang sempat berhasil menggagalkan permainan ball possession Barcelona. Pasalnya, tidak ada pemain Barcelona, selain kiper, yang tidak mendapat pengawalan pemain Bayern. Hal ini tentu saja akan sangat berisiko jika Barca tetap ngotot untuk memainkan ball possession di area pertahanannya sendiri. Akhirnya Barca pun terpaksa bermain cepat dengan umpan-umpan yang langsung ditujukan ke depan.
Namun, tidak lama berselang, Barca mulai berhasil menemukan celah dari pola pertahanan yang diperagakan Bayern Munich ini. Celah yang pertama adalah yang melakukan man to man marking adalah 10 pemain Bayern Munich, bukan 11 pemain. Hal ini berarti terdapat satu pemain Barca yang tidak mendapatkan penjagaan dari pemain Bayern Munich. Tentu saja pemain itu adalah kiper Barcelona, Marc Andre Ter Stegen.
Melalui Ter Stegen inilah Barca menemukan celah untuk menahan bola. Ketika bola berada di kaki Ter Stegen, tidak akan ada satu pun pemain Bayern yang mendekat. Pasalnya, ketika ada satu yang maju, otomatis akan ada satu pemain Barca lainnya yang menjadi bebas. Hal ini tentu akan membuat pola permainan Bayern menjadi sangat berantakan.
Ter Stegen memang tetap tidak bisa melepaskan umpan pendek karena semua pemain Barca di dekatnya sudah dijaga pemain Bayern. Namun, keleluasaan menahan bola ini sangat cukup bagi Ter Stegen untuk mencari pemain Barcelona yang berada di posisi paling tepat untuk diberikan umpan. Dari sinilah kemudian Barcelona memulai serangannya.
Celah yang kedua adalah celah yang memang akan tercipta pada semua kesebelasan yang bermain man to man marking. Dengan tidak adanya posisi yang tetap pada setiap pemain makan pemain Barcelona bisa saja menarik kesana-kemari pemain bertahan yang menjaganya. Hal ini sangat rentan membuat koordinasi pertahanan menjadi sangat berantakan dan tercipta ruang terbuka di area pertahanan Bayern.
Awalnya kelemahan dari pola pertahanan man to man marking ini tidak terjadi. Namun kelemahan ini mulai muncul ketika Barca mulai berhasil menahan bola melalui Ter Stegen. Saat Ter Stegen menahan bola, pemain Barca memiliki cukup waktu untuk mencari posisi dan merencakan direct play dengan 2-3 operan ke gawang Bayern Munich. Dengan cara inilah kemudian tercipta peluang Luis Suarez yang mendapatkan kesempatan satu lawan satu dengan Neuer.
Permainan man to man marking inipun menjadi bumerang pertama bagi Pep Guardiola pada pertandingan ini. Pola pertahanan ini pun hanya digunakan pada 15 menit pertama pertandingan ini. Pep kemudian menginstruksikan para pemainnya untuk kembali ke pertahanan zonal marking.
4-4-2 Diamond Bayern dan Pressing Tinggi Barcelona
Setelah gagal memainkan pola pertahanan man to man marking, Pep kemudian mengubah pola permainan zonal marking dengan formasi 4-4-2 diamond. Barisan pertahanan menjadi 4 bek dengan Rafinha dan Bernat di kedua sisi. Muller didorong ke depan untuk berduet dengan Lewandowski. Sedangkan 4 gelandang Munich membentuk formasi diamond dan berdiri rapat di tengah.
Pola pertahanan ini cukup efektif bagi Bayern Munich saat bertahan maupun menyerang. Saat bertahan dengan pola zonal marking, mereka mereka menutup ruang di area tengah kepada pemain barcelona. 4 gelandang yang Munich yang menang jumlah dengan 3 gelandang Barcelona membuat mereka berhasil mengisolir pergerakan pemain Barcelona di tengah.
Saat menyerang, Alonso, Lahm, dan Alcantara akan berfungsi sebagai penyuplai bola ke depan. Sedangkan Schweini bergerak maju untuk membantu Muller dan Lewandowski. Dengan cara ini membuat aliran bola Bayern sangat lancar untuk melakukan serangan. Pola menyerang dan bertahan inilah yang kemudian membuat Bayern mulai bisa menguasai jalannya pertandingan.
Barcelona pun kemudian hanya bisa melakukan serangan melalui sisi sayap. Dengan menempatkan Messi dan Neymar di kedua sisi serangan yang selalu dibantu oleh kedua fullback, Barcelona mencoba mendobrak pertahanan Bayern Munich melalui area tersebut.
Saat bertahan, Barcelona tidak pernah melepaskan pressing tingginya hingga ke area pertahanan Bayern Munich. Hal ini mereka lakukan untuk mengganggu Bayern Munich saat membangun serangan secara perlahan. Cara ini memang sedikit banyak berhasil mengganggu aliran bola Bayern. Lihatlah chalkboard defensive action yang dilakukan Barcelona di sepanjang babak. Mereka berhasil melakukan 8 kali tekel di area pertahanan Bayern Munich. Hal ini terjadi akibat pressing tinggi yang dilakukan oleh Barcelona.

Defensive action Barcelona di sepanjang pertandingan. Sumber: fourfourtwo.com
Akibat hal ini, pertandingan sempat berjalan monoton karena kedua tim sama-sama kesulitan untuk menembus pertahanan lawan. Meski sesekali berhasil mendobrak dari sayap, serangan Barcelona selalu gagal karena Bayern sudah menumpuk banyak pemain di tengah. Sedangkan serangan Bayern pun tidak ada yang sampai ke kotak penalti Barcelona (penjelasan di sub judul selanjutnya).
Namun di penghujung babak kedua, dua kesalahan yang dilakukan pemain Bayern Munich berbuah gol bagi Barcelona. Pada gol pertama, hasil dari konsistensi pressing tinggi Barcelona akhirnya membuahkan hasil saat Alves berhasil merebut bola dari Bernat di area pertahanan Bayern Munich. Bola yang kemudian berhasil diteruskan ke Messi berhasil dikonversi menjadi gol melalui tendangan keras dari luar kotak penalti.
Sedangkan gol kedua terjadi akibat salah satu gelandang Munich terpancing untuk maju dan merebut bola ke depan. Hal ini kemudian membuat celah di tengah yang menyebabkan Barcelona mendapatkan jalur terbuka menuju jantung pertahanan Bayern. Hal inilah yang kemudian membuat Messi mampu dengan mudah mengelabui Boateng sebelum menaklukan Neuer untuk menciptakan gol kedua.

Proses terjadinya gol kedua Barcelona
Serangan Setengah-setengah Bayern
Jika kita melihat catatan statistik permainan, ada yang janggal dari catatan statistik Bayern Munich. Melihat pada jumlah operan yang dilepaskan pemain Bayern Munich, mereka melepaskan total 463 operan. Angka ini lebih banyak dari jumlah operan yang dilepaskan Barcelona yang hanya mencapai 368 operan. Selain itu, dari segi ball possession pun Bayern pun lebih menguasai dengan 54,7% berbanding 45,3%.
Pep bersama Bayern Munich memang berhasil menunjukan kepada Barcelona bagaimana menggabungkan permainan ball possession dengan direct play. Bayern benar-benar tahu kapan harus memainkan permainan ball possesion yang lama memainkan bola sebelum masuk ke pertahanan lawan, dan kapan memainkan sepakbola cepat yang langsung melepaskan umpan jauh ke jantung pertahanan lawan.
Dengan adanya gelandang-gelandang yang memiliki kemapuan mengalirkan bola yang sangat baik memang sangat mungkin Bayern mampu memperagakan permainan ini. Bagaimana tidak, keempat gelandang yang dimainkan Pep adalah gelandang yang memiliki kemampuan mengolah bola di atas rata-rata: Thiago Alcantara, Xabi Alonso, Bastian Schweinsteiger, dan Philipp Lahm. Ditambah lagi mereka memiliki duet penyerang yang memiliki kemampuan duel udara maupun dribbling yang sama baiknya, Thomas Muller dan Robert Lewandoski.
Hal ini kemudian membuat aliran bola Bayern ke area pertahanan Barcelona menjadi sangat lancar. Pertahanan Barca pun beberapa kali harus kewalahan untuk menutup aliran bola Bayern Munich ini.
Namun yang menjadi masalah adalah Bayern seolah-olah tidak benar-benar serius ingin menyerang ke pertahanan Barcelona setelah bola berhasil sampai di kaki penyerang mereka. Bantuan yang diberikan dari gelandang Bayern kepada kedua penyerang di depan terlihat sangat lambat bahkan cenderung tidak ada. Xabi Alonso dan Philipp Lahm yang berada di tengah seperti terlalu takut untuk keluar dari areanya dan maju menyerang.
Thiago pun seringkali sangat terlambat untuk maju menyerang. Begitu pula dengan kedua fullback bayern yang sangat terlambat untuk memberikan bantuan dari sisi sayap saat menyerang. Hanya Schweinsteiger yang memang berposisi paling dekat dengan kedua striker yang paling banyak memberikan bantuan.
Dalam beberapa kesempatan, terlihat bagaimana hanya ada 3 pemain Bayern Munich yang berada di area pertahanan Barcelona. Ketika para pemain bertahan Barcelona sudah berada di posisinya, tidak ada satu pun pemain Bayern yang datang untuk membantu. Tentu sulit bagi 3 pemain ini untuk melewati barisan pertahanan Barcelona yang sudah siap menghadang.

Lemahnya dukungan dari lini kedua saat Bayern Munich menyerang
Hal ini pun berakibat pada serangan Bayern yang tidak bisa menghasilkan apa-apa. Mereka hanya mampu mengalirkan bola hingga ke area pertahanan Barcelona namun kemudian berhasil direbut barisana pertahanan Barcelona. Lihatlah bagaimana tidak ada satu pun tembakan ke gawang Barcelona yang dilakukan Bayern Munich di sepanjang pertandingan.
Jika kita melihat pada chalkboard operan yang dilakukan Bayern pada babak pertama dan kedua pun terlihat jelas bagaimana serangan mereka hanya sampai ke area pertahanan tanpa ada yang berhasil masuk ke kotak penalti Barcelona.

Chalkboard operan Bayern Munich di sepanjang pertandingan
Kesimpulan
Pada laga ini, mau tidak mau Pep memang harus mengakui beberapa kesalahan taktikalnya yang menyebabkan Bayern harus kalah tiga gol dari Barcelona. Bahkan, jika bukan karena ketangguhan Neuer di depan gawang, mungkin Bayern sudah kemasukan lebih banyak gol lagi.
Pep sudah membuat strategi yang cukup aneh ketika memainkan pola bertahan man to man marking melawan kesebelasan seperti Barcelona yang bermain dengan sangat cair. Pep kemudian juga seperti setengah-setengah memerintahkan anak asuhnya untuk maju menyerang. Akibatnya, penyerang Bayern pun kesulitan untuk menembus pertahanan Barca karena tidak mendapat bantuan.
Hasil ini tentu membuat peluang Bayern menuju final lebih berat. Meski laga leg kedua akan digelar di kandang mereka, Allianz Arena, tampaknya agak mustahil bagi Bayern bisa melakukan seperti yang mereka tunjukkan saat menjalani leg kedua babak perempat final melawan FC Porto. Ya, kualitas Barcelona tentunya berada di atas FC Porto.
(din/fem)










































