Liga Inggris: City 0-0 MU

Kegagalan Taktik dari Dua Manajer Revolusioner

Dex Glenniza - Sepakbola
Jumat, 28 Apr 2017 15:25 WIB
Foto: Action Images via Reuters / Jason Cairnduff
Jakarta - Sungguh kecewa melihat derby Manchester antara Josep Guardiola dan Jose Mourinho harus berakhir imbang tanpa gol. Pertandingan Jumat (28/4/2017) dinihari WIB tadi memang minim aksi, terutama di depan gawang.

Kedua kesebelasan terlihat sama-sama kelelahan. Tapi Mourinho, manajer Manchester United, merasa lebih sial karena harus kehilangan banyak pemain utamanya, termasuk Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba. Hal ini yang membuat manajer asal Portugal tersebut memainkan sepakbola yang lebih defensif.

Kegagalan Taktik dari Dua Manajer RevolusionerGambar 1 – Susunan pemain Manchester City dan Manchester United

Akan tetapi, ia tidak sembarangan ingin bermain defensif. Melalui susunan sebelas pemain yang bisa dilihat seperti gambar 1 di atas, Mourinho menurunkan formasi 4-3-3 dengan seorang false nine. Marcus Rashford justru ditarik lebih melebar, sementara Henrikh Mkhitaryan yang memainkan "si nomor sembilan palsu" tersebut.

Secara taktikal, rencana Mourinho ini bisa dibilang jitu. Ia berencana untuk mengeksploitasi kedua full-back Manchester City, Gael Clichy dan Pablo Zabaleta, melalui kecepatan dari trisula pemain paling depan mereka, yaitu Rashford dan Anthony Martial di sayap, serta Mkhitaryan di tengah.

Jika Mourinho bisa dibilang sejenius itu untuk menerapkan false nine (yang mana adalah senjata Guardiola saat mengalahkan Mourinho di El Clasico di masa lalu), ternyata Pep juga tidak ingin kalah secara taktikal.

Respons Guardiola terhadap False Nine Mourinho

Pada awal pertandingan, Guardiola memainkan 1-4-2-3-1 dan sama seperti United, ia mengandalkan kecepatan di lini serangnya melalui Leroy Sane, Raheem Sterling, Kevin de Bruyne, dan Sergio Aguero.

Untuk menyikapi false nine Mourinho ini, ia menyetel para pemainnya untuk lebih agresif, terutama kepada dua bek tengahnya, Nicolas Otamendi dan Vincent Kompany.

Kegagalan Taktik dari Dua Manajer RevolusionerGambar 2 – Grafis tekel Manchester City – Sumber: Squawka

Dari gambar 2 di atas, City berusaha menutup pergerakan para pemain United lewat sayap maupun saat mereka mencoba membangunnya lewat tengah. Tidak mengherankan, false nine Mkhitaryan tidak berjalan maksimal, dan Mourinho akhirnya meninggalkan skema false nine-nya ini menjelang babak pertama berakhir.

Hal yang mendukung permainan agresif Guardiola ini juga membuat kita harus menyoroti kinerja wasit, Martin Atkinson, yang jarang meniup peluit untuk pelanggaran. Dari 40 tekel yang City lakukan, 10 di antaranya menghasilkan pelanggaran.

Agak lembeknya Atkinson juga membuat United melakukan hal yang sama, yaitu bermain agresif. Namun berbeda dengan City, "Setan Merah" tidak bisa mengontrol tekel mereka lebih baik daripada City (tekel sukses 40%). Mereka memang hanya melakukan delapan pelanggaran, tetapi mereka hanya bisa mencatatkan 27% tekel sukses.

Aliran Bola Terputus, United kemudian Bermain Defensif

United hanya berhasil mencatatkan 30% penguasaan bola. Angka tersebut tidak mengagetkan karena setelah false nine mereka gagal, mereka memang bermain lebih defensif. Namun satu hal yang menjadi sorotan adalah kesuksesan operan mereka yang hanya 70%.

Kegagalan Taktik dari Dua Manajer RevolusionerGambar 3 – Grafis operan Manchester City (kiri) dan Manchester United (kanan) – Sumber: Squawka

Dengan bermain agresif, Guardiola membuat aliran bola United mengalami kebuntuan. Ander Herrera hanya menyelesaikan 66% operannya, Marouane Fellaini dan Michael Carrick sama-sama hanya 76%. Bandingkan dengan para pemain City, angka akurasi operan terendah The Citizens dicatatkan oleh Sane dengan 81%.

Di sini Mourinho sadar jika ia merindukan Pogba. Ya, Pogba yang kita sering ledekin itu, si pemain termahal dunia yang "tidak pernah ngapa-ngapain". Pada kenyataanya, selama di Liga Primer, Pogba berhasil menyelesaikan rata-rata 85% operannya yang menghasilkan dua peluang per pertandingan, serta 65% di antaranya adalah operan ke arah depan.

Sadar jika ia tidak bisa membangun serangan, maka Mourinho kemudian menerapkan strategi yang lebih defensif (kamu mungkin membacanya: parkir bus) dengan maksud menyerang melalui counter attack.

Kegagalan Taktik dari Dua Manajer RevolusionerGambar 4 – Rata-rata posisi pemain Manchester City (kiri) dan Manchester United (kanan) – Sumber: WhoScored

Hasilnya, City leluasa menyerang dan seperti yang terlihat dari gambar 4 di atas, mereka memainkan 1-4-2-4 secara rata-rata posisi pemain. Sementara United ditekan dan hanya Mkhitaryan dan Rashford yang memiliki rata-rata posisi di depan garis tengah lapangan.

City Terlalu Banyak Buang Peluang

Menghadapi kesebelasan yang bermain defensif, City sebenarnya bermain buruk. Strategi defensif United tidak sesolid itu juga, buktinya mereka berhasil ditembus dengan tembakan sampai 19 kali, tapi hanya enam saja yang tepat mengarah ke gawang.

"Setan Merah" sendiri tidak berhasil menerapkan strategi defensif dan serangan baliknya. Hasilnya, United hanya berhasil mencatatkan tiga tembakan dengan hanya satu on target.

Di saat strategi defensif United tidak bisa menghasilkan serangan balik yang mematikan, City justru lebih banyak membuang peluang. Sembilan di antara 19 tembakan tersebut dilepaskan oleh Aguero.
Kegagalan Taktik dari Dua Manajer RevolusionerGambar 5 – Grafis tembakan Manchester City – Sumber: Squawka

United sendiri bukannya tanpa alasan untuk bermain defensif. Rencana false nine Mourinho gagal. Setelah kesulitan mengalirkan bola, Mourinho memutuskan untuk menyerang melalui serangan balik saja. Dan serangan balik membutuhkan para pemain untuk mengambil posisi yang lebih dalam (dalam artian bertahan). Sebenarnya United sendiri baru benar-benar memarkir bus saat mereka kehilangan Fellaini di menit ke-83.

***

Pada awal pertandingan, kita seperti disajikan perang taktikal yang menarik dengan Mourinho yang memainkan false nine. Namun tidak sampai setengah jam, strategi tersebut ditinggalkan karena City yang agresif.

Gagalnya United melakukan transformasi dari bertahan ke serangan balik, serta gagalnya City memanfaatkan satu saja dari 19 tembakan mereka, adalah dua hal yang berhak membuat kita kecewa.

Guardiola dan Mourinho adalah dua manajer revolusioner, tapi pertandingan dinihari tadi benar-benar menunjukkan kepada kita jika kebugaran pemain bisa membuat taktik menjadi tidak ada artinya.

Kegagalan Taktik dari Dua Manajer RevolusionerGambar 6 – Grafis permainan bertahan Manchester United – sumber: FourFourTwo Stats Zone

Jika kamu sudah selesai membaca analisis ini tapi masih bingung untuk berkomentar apa, kamu bisa coba menemukan gambar bus dari grafis pertahanan Manchester United di atas.

----



* Penulis biasa menulis soal sport science untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza



(krs/krs)