Film ini adalah sepucuk surat cinta yang sederhana tetapi indah terhadap sepakbola. Dengan cara bertutur yang realis, alami dan jauh dari berlebih-lebihan, film ini berhasil mengatakan betapa fanatisme terhadap sepakbola itu sesuatu yang universal, sanggup melintasi batasan usia, agama, negara, budaya dan adat istiadat.
Film Musafir (dalam versi untuk diedarkan di luar negeri berjudul The Traveler) menggambarkan usaha gigih, keras kepala, dan kadang konyol dari seorang bocah (berusia sekitar 10-12 tahun) yang ingin menonton pertandingan tim nasional Iran. Bocah bernama Qassam (diperankan oleh Hassan Darabi) bersusah payah dengan segala cara menerabas ratusan kilometer (nyaris 400 km) yang terbentang antara rumahnya di kota kecil Malayer menuju Stadion Amjadiehyang terletak di utara Teheran.
Menyaksikan perjalanan dan petualangan Qassam di film ini, penonton diajak merenungkan kembali arti petualangan bagi seorang anak. Memang tidak semua anak pernah dengan nekat 'kabur' dari rumah dan menempuh ratusan kilometer. Tapi semua anak pernah bertualang, pernah melakukan kenakalan dan kekonyolan, juga kenekatan yang jika dinilai di masa dewasa mungkin akan menerbitkan rasa geli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena harus menyisihkan waktu guna bernegosiasi dengan si penjual majalah itulah maka Qassem terlambat masuk kelas. Tapi lagi-lagi dia berhasil mengibuli gurunya dengan mengarang cerita bahwa dia sakit gigi dan baru saja mendatangi dokter.
Majalah yang baru saja dibelinya dengan mengibuli si penjual majalah itulah yang menjadi awal perjalanan dan petualangan Qassam. Dari majalah itu Qassem mengetahui bahwa tim nasional Iran akan bertanding dua hari lagi.
Dari sana kita akan disuguhkan permainan watak Qassem, kebohongan demi kebohongan dilakoninya demi melancarkan hasratnya menonton pertandingan tim nasional Iran di Teheran. Qassem ditampilkan sebagai pelanggar aturan nomor satu. Sosoknya yang pembangkang dan sering tidak naik kelas ini oleh Kiarostami diimbangi dengan menampilkan sosok Akbar (diperankan Masud Zandbegleh), teman sekelas Qassem dan teman satu tim sepakbola jalanan. Akbar juga memiliki hasrat untuk pergi menonton pertandingan sepakbola tapi tak berani melanggar aturan-aturan. Akbar adalah wakil dari tipikal anak-anak yang sudah mulai mengenal aturan moral dan hanya bisa bermimpi untuk melanggar aturan itu sesekali saja, namun pada akhirnya tidak pernah berani.
Namun dengan bantuan Akbar akhirnya Qassem berhasil meloncat dari satu ide ke ide lain untuk mengumpulkan uang agar bisa sampai ke Teheran dan masuk ke stadion. Mulai dari menjual pulpen hingga memakai kamera rusak milik ayahnya untuk menjadi fotografer palsu dengan menipu anak-anak disekolahnya. Dia juga mengorbankan kredibilitasnya sebagai kapten tim sepakbola dengan menjual gawang dan bola yang jadi milik bersama tim sepakbolanya kepada tim lawan.
Malam sebelum keberangkatan Akbar kembali muncul. Di sinilah muncul adegan yang sangat menyentuh: Akbar berdiri di bawah jendela rumah, mengajak Qassem bicara, dengan alasan ingin menjaga Qassem agar tidak ketiduran dan ketinggalan bis. Namun Qassem menyuruh Akbar pergi dengan alasan takut ketahuan orangtuanya. Tapi Akbar bergeming. Dia terus saja memanggil Qassem sampai akhirnya Qassem mematikan lampu di kamarnya sambil terus berusaha agar tetap terjaga, menunggu jadwal bis yang berangkat tengah malam.
Bukan kebetulan Kiarostami mengambil tokoh anak-anak dan menampilkan potret pendidikan di Iran pada masa itu. Dia memulai karier film-nya saat bekerja di Pusat Pembangunan Intelektual Anak dan Remaja (Centre for the Intellectual Development of Children and Young Adults). Di lembaga ini dia membuat beberapa film pendek untuk kepentingan kampanye pendidikan,untuk memberi kesadaran bagi orang tua agar lebih memerhatikan pendidikan anaknya. Namun cara yang ditempuh Kiarostami untuk menyampaikan pesan tersebut dilakukannya dengan menukik ke dalam masalah-masalah lingkungan tempat anak itu hidup dan berkembang.
Musafir adalah film panjang pertama Kiarostami. Film ini menyajikan sosok Qassem yang jadi 'produk' dari pendidikan yang berusaha keras mendisiplinkan bahkan dengan memberi hukuman fisik. Kiarostami menggambarkan metode disiplin yang super-keras itu melalui sebuah adegan ketika Qassem dipukul oleh gurunya justru atas laporan ibunya sendiri. Sang ibu melaporkan kalau Qassem sudah mencuri uang miliknya.
Melalui film ini juga, Kiarostami dengan caranya sendiri mencoba meyakinkan penonton bahwa seorang anak terkadang sanggup belajar dengan lebih cepat justru saat menghadapi problem-problem riil. Misalnya: saat Qassem begitu semangat mempraktekkan ilmu matematika dengan menghitung uang yang dibutuhkan untuk perjalanan ke Teheran, padahal setelah itu dia sedang membolos dari pelajaran matematika demi mencari uang yang dibutuhkan tersebut.
Anak-anak dan sepakbola sudah muncul dalam film awal Kiarostami .Dimulai dengan film pendek 'Zang-e Tafrih' (Breaktime), Kiarostami mencoba menjelaskan kondisi sosial di Iran lewat mata anak-anak yang gemar bermain bola. Permainan sepakbola anak-anak yang sederhana menjadi sangat berarti justru karena merasuk-mendalam ke dalam jiwa si anak. Dan dengan itulah sepakbola mengantarkan si anak pada berbagai hal baru yang seru, menegangkan dan kadang tak terduga.
Breaktime yang durasinya hanya 14 menit ini rasanya seperti cetakan awal untuk film-film Kiarostami selanjutnya. Dalam kata-kata Kiarostami sendiri: "Film yang kuanggap ideal adalah film keduaku, Breaktime. Film ini melebihi film yang mendapatkan banyak pujian dan penghargaan, 'Taste of Cherry' (1997), dalam hal bentuk, keberanian, menghindari alur bertutur, dan dengan akhir yang menggantung."
[Bagi yang berminat menonton Breaktime, silakan menontonnya di tautan ini]
Sedangkan sepakbola dalam film Musafir oleh Kiarostami di bawa ke dalam ruang yang lebih luas. Jika dalam 'Breaktime' sepakbola hadir semata sebagai permainan, pada Musafir sepakbola hadir dalam berbagai rupa: sebagai permainan, sebagai tontonan bahkan pertunjukan, juga sebagai peristiwa sosial.
Kiarostami sempat juga menghadirkan sepakbola dalam filmnya yang lain: Zendegi Edame Darad (Life, and Nothing More ... '). Film produksi tahun 1992 ini menghadirkan sepakbola sebagai sebuah panasea, semacam obat penawar di tengah bencana. Film ini menggambarkan bagaimana sepakbola hadir dalam kehidupan sehari-hari korban bencana gempa yang kebetulan terjadi saat berlangsungnya Piala Dunia 1990.
Kiarostami mengisahkan betapa anak-anak lebih senang membicarakan pertandingan Piala Dunia dibanding harus menceritakan keluarganya yang tertimbun reruntuhan. Pada adegan lain, ada seorang pemuda yang dengan bersemangat memasang antena untuk menonton pertandingan Argentina melawan Brasil di tenda pengungsian, alih-alih meratapi nasib.
Salah satu yang menjadi ciri khas film-film Kiarostami adalah narasinya tentang jalanan. Dalam film Musafir, jalanan digambarkan sebagai sebuah inisiasi Qassem. Jalan yang memberi jarak antar tempat, sekaligus memberi jejak pada setiap momen. Dan jalan yang memberi arsir antara hitam dan putih. Antara baik dan buruk. Antara anak-anak dan dewasa.
Bis yang membawa Qassem dari kampungnya ke Teheran menjadi alegori yang kemudian sering dipakai Kiarostami, ruang yang diam sekaligus bergerak. Sebuah tempat yang menjadi media perpindahan antara batas-batas yang kadang tak jelas. Kiarostami, misalnya, mengulangi lagi apa yang dilakukannya di film ini pada film-filmnya di era tahun 1990-an. Misalnya mobil yang dipakai di film Baad Mar Ra KhahadBord (The Wind Will Carry Us) produksiΒ tahun 1999.
Jalan yang dilalui oleh Qassem juga dijadikan Kiarostami untuk menggambarkan kondisi sosial di negaranya, bagaimana ketimpangan ekonomi antara pusat dan pinggiran. Saat ditanya mengapa film Musafir ini ditampilkan dalam format hitam putih, Kiarostami menjelaskan bahwa alasan utamanya adalah kurang biaya. Namun dia menambahkan bahwa dengan format hitam putih inilah latar film tentang kemiskinan dan keterpinggiran kelompok sosial tertentu bisa lebih jelas tergambarkan.
Seluruh aktor dalam film ini juga bukan aktor profesional. Saat pengambilan gambar di Malayer, semua aktor adalah penduduk asli kota kecil itu. Dengan segala keterbatasannya film ini malah berhasil memenangkan Jury's Grand Prize pada 9th Teheran International Festival of Films for Children and Young Adults, film ini juga ditayangkan di beberapa festival film seperti Gijon Children's Film Festival di Spanyol pada 1975.
Penayangan yang terbatas dan tidak komersial membuat film ini tak mendapat banyak perhatian pada masanya, namun saat itu beberapa kritikus menganggapnya sebagai film yang penting. Salah satu yang menganggap penting adalah Jamshid Akrami. Seusai menonton Musafir dia berkomentar: "Kamu mungkin tidak akan menyadari kalau Kiarostami yang sederhana ini adalah salah satu yang penting dalam dunia perfilman Iran."
Sutradara: Abbas Kiarostami Penulis: Abbas Kiarostami
Pemeran: Hassan Darabi (Qassem), Masud Zandbegleh
Music: Kambiz Roshanravan
Sinematografi: Firooz Malekzadeh
Rilis: 1974
Negara: Iran
Durasi: 83 menit
=========
Akun twitter penulis: @beepo dari @panditfootball
(din/mfi)











































