Apa yang bisa dipelajari dari (kehidupan) seorang wasit? Mari kita simak apa yang dikatakan Pierluigi Collina, wasit botak masyhur nan legendaris dari Italia:
"Salah satu masalah utama bagi banyak orang adalah momen mengambil keputusan. Ini hal yang tidak bisa diajarkan. Kesanggupan dan kemampuan untuk membuat keputusan di bawah tekanan yang hebat dan dalam waktu yang cepat adalah hal yang harus anda pelajari sendiri jika anda ingin menjadi, misalnya, seorang bos di perusahaan besar. Keputusan anda akan menjadi hal yang final dan mutlak. Tidak ada yang bisa mengubah keputusan yang anda ambil dengan cepat di bawah tekanan. Tidak ada yang lebih baik untuk mempelajari hal itu selain dengan menjadi seorang wasit."
Collina tidak berlebihan. Wasit barangkali menjadi salah satu pekerjaan yang paling sulit dan paling penuh tekanan. Keputusan yang diambil oleh seorang wasit bisa jadi akan menentukan nasib banyak orang: pemilik klub, saham sebuah klub, pelatih, pemain, jutaan penonton dan pendukung hingga para penjudi yang mempertaruhkan uang milyaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu masih mending. Bagaimana jika ancaman kekerasan, bahkan pembunuhan? Wasit dibunuh oleh, misalnya, mafia beberapa kali terjadi di negara-negara dengan tingkat korupsi dan penegahan hukum yang rendah. Di Amerika Latin, misalnya. Mafioso Pablo Escobar di Kolombia pernah membunuh wasit yang merugikan klub yang dimilikinya.
Dan wasit toh tetap harus mengambil keputusan, tidak boleh tidak. Apapun kondisinya, sebesar apa pun tekanannya, setinggi apa pun risikonya, wasit diharuskan selalu sigap, siap dan cepat mengambil keputusan. Dan itu adalah keputusan yang final, laksana Tuhan, tak bisa ditarik lagi, bahkan walau pun keputusan itu ternyata terbukti salah.
Sekali peluit ditiup, tak bisa lagi ditarik. Titik.

Memahami Wasit
Bagaimana sebuah keputusan wasit pada satu pertandingan sepakbola dapat mempengaruhi kehidupan keluarganya? Percakapan apa yang terjadi antara wasit dan asisten dalam sebuah pertandingan? Lalu apa yang dilakukan wasit saat jeda dan usai pertandingan?
Pertanyaan di atas dapat terjawab dalam film dokumenter berjudul Kill the Referee (Les Arbitres). Mengambil kejadian saat Piala Eropa 2008, film dokumenter ini menggambarkan kehidupan beberapa wasit yang bertugas dalam turnamen 4 tahunan tersebut.
Selain memberi pengetahuan mengenai sosok wasit dalam sebuah pertandingan, Kill the Referee juga dapat memberi pelajaran tersendiri mengenai sistem pengadil lapangan. Karena tak semua wasit di dunia memiliki kesempatan untuk tampil pada pertandingan besar sekelas Euro.
Bahkan bagi seorang penggemar sepakbola yang setiap pekan menonton dari layar kaca, kesempatan melihat dapur para pengadil lapangan adalah sebuah hal yang menarik meski hanya sebatas dari film dokumenter.

Karya mantan wartawan olahraga Belgia, Yves Hinant, dibuka dengan ritual normal seorang wasit, yakni berangkat ke stadion, persiapan di ruang ganti, memimpin pertandingan, kemudian kembali pulang ke tempat penginapan.
Hanya saja kegiatan di atas menjadi spesial karena kita dapat merasakan ketegangan, ketakutan, hingga ekspresi kebahagiaan wasit tatkala memimpin sebuah pertandingan. Berangkat ke stadion sambil dikawal kepolisian lalu menjalani ritual khusus di ruang ganti, hingga merasakan menjadi orang paling berpengaruh di hadapan puluhan ribu pasang mata.
Satu hal yang membuat film ini menjadi istmewa adalah kita dapat ikut mendengarkan percakapan antarperangkat pertandingan melalui radio komunikasi yang dipakai. Sineas yang menggarap film ini, Yves Hinant, memang diberi akses oleh UEFA, selaku otoritas Piala Eropa, untuk mengakses rekaman perbincangan antarperangkat pertandingan (wasit, hakim garis, hingga wasit keempat).
Ini hal sangat jarang, bahkan mustahil, bisa kita nikmati tanpa menonton film ini. Kita bisa merasakan gemetar, ketakutan, keberanian dan adu argumen antarperangkat pertandingan di laga-laga level A sekelas Piala Eropa.
Korps Baju Hitam Bukan Kambing Hitam
Sebagai sosok yang punya peran penting terhadap jalannya pertandingan, wasit kerap dijadikan kambing hitam kekalahan sebuah tim apalagi jika ia melakukan kesalahan. Tetapi tak banyak yang memuji performa pengadil jika melakukan tugasnya dengan baik.
Bahkan dalam pertandingan sepakbola wasit bisa menjadi sosok paling dibenci. Sebagai pihak yang harus netral dia mempunyai potensi tak disukai kedua kubu sekaligus.
Film ini memang lebih menonjolkan sosok wasit sebagai seorang manusia biasa yang memiliki kesalahan dan jauh dari sempurna. Pada adegan awal ketika Massimo Busacca telah meniupkan peluit panjang, para pemain Yunani melakukan protes kepadanya, skor akhir sendiri berakhir 2-0 untuk kemenangan Swedia.
Sambil menghampiri beberapa pemain dan bersalaman, wasit asal Swiss tersebut meminta maaf kepada para pemain sambil berkata: “Kami bukan Tuhan, kami juga bisa melakukan kesalahan,” ucapnya yang juga terekam di alat komunikasi yang dipakai.
Sebuah pengakuan yang menyentuh, sebentuk pengakuan betapa mereka toh manusia biasa, makhluk yang dhaif, dan rentan melakukan kesalahan.
Masihkah ada yang nekat membunuh wasit, seperti Escobar di Kolombia, jika menyimak pengakuan rendah hati dan rentan itu?
Kasus Howard Webb
Ya, tak boleh ada pembenaran dalam sebuah kesalahan yang dibuat oleh wasit, tetapi selama indra manusia yang dipakai untuk menilai maka sifat dasar manusia itu sendiri memang akan selalu melekat, yakni membuat kesalahan.
Kejadian yang menjadi puncak di film sekaligus Piala Eropa 2008 adalah kontroversi Howard Webb yang juga santer diberitakan oleh media kala itu. Webb yang kini sudah pensiun sebagai wasit sedang memimpin pertandingan antara Austria melawan Polandia.
Ada dua kejadian yang disorot dan keduanya membuahkan gol pada pertandingan yang berkesudahan 1-1 tersebut. Menyisakan satu menit waktu tambahan, Webb memberikan hadiah penalti kepada Austria karena pemain Polandia, Robert Lewandowski dianggap menarik baju Sebastian Prodl.
Sebelumnya ia juga mengesahkan gol Polandia yang dicetak oleh Guerreiro, padahal pemain yang kini berusia 32 tahun tersebut terlihat offside. Bahkan pasca gol tadi para perangkat pertandingan juga sempat berdiskusi melalui alat komunikasi dan meragukan keabsahannya.
Namun keputusan telah diambil, pertandingan sudah terlanjur berjalan kembali dan tak bisa dianulir. Evaluasi oleh komite wasit UEFA melalui rekaman video yang ditonton bersama-sama kemudian menyatakan bahwa penalti memang sah, tetapi gol yang dicetak Guerreiro sebenarnya offside.
Berdasarkan analisa yang dilakukan, kesalahan terjadi pada asisten wasit yang berdiri pada posisi salah. Dia tidak sejajar dengan pemain bertahan kedua terakhir (termasuk kiper) yang menurut Law of the Game merupakan batas garis offside lawan.
Sedangkan hukuman penalti justru mendapat pujian karena Webb dianggap mempunyai pandangan yang bagus terkait melihat pergerakan pemain. Tetapi wasit utama tetaplah seorang pemimpin jajaran pengadil lapangan hijau, semua keputusan mutlak berada di pundaknya.
Publik Polandia terlanjur marah kepada Webb, tak cukup hanya cacian tetapi sampai ancaman pembunuhan menghantui dirinya dan keluarga. Perdana menteri Polandia saat itu, Donald Tusk, bahkan turut memberikan komentar dan mengaku ingin membunuh Webb.
Jika melihat runtutan di atas terlihat betapa malang nasib wasit pensiunan polisi tersebut. Polandia bahkan masih diuntungkan berkat gol offside di atas dan keputusan penalti juga tak salah. Puncaknya Webb bersama para asistennya dikirim pulang lebih awal ke negaranya saat turnamen memasuki fase knock out.
Langkah yang diambil UEFA saat itu dianggap banyak kalangan sebagai upaya penyelamatan Piala Eropa 2008.
Memetik Pelajaran dari Eropa
Ketika menonton film ini, yang langsung terlintas di kepala adalah betapa jauhnya sistem wasit Indonesia dibandingkan Eropa. Mulai dari penggunaan teknologi, perlakuan terhadap wasit, hingga cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah.
Pada penggunaan alat komunikasi yang menjadi barang wajib sebagian besar liga di Eropa misalnya. Urusan penggunaan teknologi pada sepakbola memang masih diperdebatkan, karena dianggap merusak sepakbola.
Tetapi alat ini tak mengubah banyak mengenai “keaslian” sepakbola yang dimainkan manusia. Karena hanya bersifat faktor pendukung, keputusan masih mutlak dimiliki wasit, sesuatu yang berbeda jika dibandingkan misalnya goal line technology.
Asisten wasit dapat segera memberitahukan jika terjadi sesuatu melalui pandangannya kepada wasit utama. Jika tak memakai alat, proses ini dapat memakan waktu yang tentunya merugikan tim yang sedang ketinggalan.
Bahkan masih bisa ditemui tak dilakukan komunikasi antara wasit dan asisten karena waktu yang sudah mepet dan tidak memungkinkan jika harus berdiskusi. Adopsi teknologi ini di Liga Indonesia, minimal di kasta tertinggi ISL, bisa jadi meningkatkan kualitas pertandingan yang ada. Liga Inggris sendiri sudah memakai sistem ini sejak tahun 2006.
Harganya juga tak terlalu mahal, hanya 2-3 kali gaji wasit ISL. Hal lain selain teknologi adalah bagaimana UEFA melakukan evaluasi terhadap wasit. Setiap pertandingan komite wasit selalu menganalisa adanya kemungkinan kesalahan-kesalahan yang dilakukan sambil melakukan diskusi.Kill the Referee sebenarnya juga mengangkat hal-hal kecil lain terkait kehidupan wasit. Seperti suasana rumah ketika kepala keluarga mereka sedang menjalankan tugas hingga ritual-ritual unik para wasit menjelang pertandingan.
Satu kekurangan dari film ini adalah minimnya narasi serta subjudul pada setiap adegan, sehingga bagi yang tidak terlalu familiar dengan nama-nama tokoh dan tempat akan sedikit kebingungan.
====
* Akun twitter penulis: @mildandaru dari @panditfootball
(krs/a2s)











































