Maradona dan Tarif Sebuah Pemberontakan

Maradona dan Tarif Sebuah Pemberontakan

- Sepakbola
Minggu, 16 Jun 2013 08:34 WIB
Maradona dan Tarif Sebuah Pemberontakan
Getty Images
Jakarta - Selamanya Diego Maradona akan jadi contoh bagaimana sepakbola semestinya dimainkan.

Caranya bermain mengejawantahkan aspirasi dan ingatan masa kecil saya tentang sepakbola: penuh kegembiraan, sarat eksperimen, dan begitu alami seakan-akan dimainkan tanpa peduli taktik, strategi, apalagi statistik. Kecurangan yang kadang dilakukannya di lapangan, bagi saya, lebih merupakan sikap jahil seorang kanak yang iseng ngerjain orang lain.

Tapi saya enggan menghadiri satu dari sekian acara yang akan dijalani Maradona di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mungkin masih akan menarik melihat bagaimana Maradona menggelar coaching clinic. Momen itu sudah pasti akan mempertemukan kembali Maradona dengan bola -- sebuah pertemuan yang ibaratnya antara keris dengan warangka. "Pamor" dia sepertinya akan memancar kembali dalam momen-momen pertemuannya dengan Sang-Kekasih yaitu si kulit bundar.

Tapi menghadiri acara makan malam bersama Maradona, terlebih jika untuk itu saya harus merogoh kocek 5-10 juta rupiah, sepertinya bukan hal yang kelewat menarik.

Kekaguman saya pada satu hal memang jarang berbuah dorongan untuk, misalnya, berfoto dengan yang bersangkutan. Sampai batas tertentu, saya memang cenderung menjaga jarak dengan para pemain bola. Pesona mereka merosot drastis saat berada di luar lapangan. Sebagaimana para penari dan aktor dalam sebuah pertunjukkan, "pamor" yang mereka pancarkan seringnya hanya bisa saya tangkap ketika mereka sedang berada di atas panggung.

Terlebih Maradona datang ke Indonesia dengan biaya yang sangat mahal: 12 miliar. Dengan perhitungan bisnis yang tidak begitu jelas, sukar untuk tidak mengendus bau politik di balik kedatangan Maradona ini. Orang yang mendatangkan Maradona adalah dia yang pernah berusaha "membeli" kursi manajer tim nasional beberapa waktu lalu.

Sebenarnya sangat mengasyikkan berbicara tentang politik dengan Maradona. Di luar lapangan, terutama dalam panggung politik, Maradona dikenal sebagai simpatisan gerakan kiri atau bahkan sebagai orang kiri itu sendiri – setidaknya dalam pengakuannya. "Saya orang kiri, benar-benar kiri -- dari kaki, iman sampai kepala," kata Maradona pada 1996.

Pandangan politik itu terlihat dari persahabatannya dengan pemimpin-pemimpin dunia berhaluan kiri, dari mulai Fidel Castro, mendiang Hugo Chavez sampai Evo Morales. Rajah bergambar wajah Che Guevara terpasang di lengan kanannya, sementara rajah wajah Castro terpasang di betis kirinya.

Pertemuan para pemimpin Amerika Utara dan Selatan, Summit of Americas ke-4, yang diselenggarakan di tenggara Buenos Aires pada 2005, gelombang unjuk rasa mendatangi lokasi pertemuan. Kehadiran George W. Bush menjadi salah satu sasaran utama protes. Maradona ambil bagian dalam aksi tersebut dan menyatakan perlawanan terhadap imperialisme Amerika. Tak lupa ia mengenakan t-shirt bertuliskan "Stop Bush" [dengan huruf 'S' dalam kata "Bush" di situ diganti dengan lambang swastika]. Dengan kalimat-kalimat yang meyakinkan, Maradona berkata: "Aku benci segala hal yang datang dari Amerika Serikat, aku benci dengan segala kekuatanku!"

Karena itulah agak sedih rasanya mendengar berapa uang yang mesti digelontorkan untuk mendatangkan Maradona ke Indonesia. 12 miliar rupiah atau sekitar 1,2 juta dolar AS untuk orang yang selalu dengan bangga memamerkan rajah Che Guevara dan Fidel Castro yang terpacak di tubuhnya. Tidakkah Maradona telah menjadi bagian aktif sekaligus menikmati benar apa yang disebut "perdagangan sepakbola"?

Tapi Maradona mungkin memang bukan seorang ideolog yang kepadanya kita bisa mengharapkan konsistensi dan koherensi sepenuhnya antara pernyataan dan tindakan.

Simpati dan persahabatannya dengan Castro, Evo Morales atau Hugo Chavez [dia pernah menyebut dirinya sebagai Chavista], toh tak menghalanginya untuk mendukung sepenuh hati Dominggo Cavallo, Menteri Perekonomian Argentina, seorang ekonom lulusan Harvard yang sangat pro pasar bebas. Tentu memusingkan untuk memahami bagaimana seseorang yang merajah tubuhnya dengan wajah Che dan Castro tapi juga mendukung seorang pejabat yang neolib.

Sergio Levinsky, penulis salah satu biografi Maradona, Rebelde con Causa [Berontak dengan Alasan], pernah mencoba membongkar pandangan politik Maradona. Dia mendapatkan banyak inkonsistensi dalam pandangan dan sikap politik Maradona. Baginya, Maradona memang seorang pemberontak, tapi ia adalah pemberontak yang tak punya posisi politik yang konsisten.

Simpati dan pandangan politik Maradona sepertinya memang bukan lahir dari sebuah proses penalaran yang tekun. Pernyataan-pernyataan dan aksi-aksi politiknya tampaknya dibimbing oleh sesuatu yang naluriah saja. Dia merasakan sesuatu, dan lalu dia mengartikulasikan apa yang dia rasa dengan caranya sendiri.

Levinsky mencoba berargumen mengenai hal itu. Tulisnya: "Dia bolak-balik ke Kuba dan secara naluriah mengatakan banyak hal positif mengenai negeri itu". Mengenai dukungan Maradona pada Cavallo yang pro pasar bebas, Levinsky mengatakan yang agak mirip dengan menyebut dukungan itu tak lebih karena cara berpikir yang umum [commonsense] dan bukan karena alasan-alasan ideologis.

Manusia yang ditahbiskan sebagai "pemain terbaik dunia abad-20" oleh FIFA itu mungkin tak sepatutnya dimintai pikiran-pikiran yang koheren. Menuntutnya koheren dalam pikiran, ucapan dan tindakan boleh jadi tidak adil. Dia bukan filsuf, bukan pula seorang ideolog. Dengan nada menyindir, Levinsky bahkan menyebut tuntutan semacam itu sebagai "bourgeois expectations" [harapan-harapan borjuis].

Lagi pula, Maradona memang seorang "manusia alami". Sebagai pemain, dia bermain sekehendak hati, praktis lebih sering dibimbing oleh hasrat bermain-main ketimbang diatur oleh tuntutan taktikal. Dia menggiring bola karena menikmatinya, semata karena ia memang menginginkannya.

Jika pun dia sering menampilkan kepribadian sebagai pemberontak, tampaknya itu sebentuk "pemberontakan tanpa sebab". Rebel without a cause.

Tapi bisakah kita memahami tarif 12 miliar sebagai harga tanpa sebab?


===

* Akun twitter penulis: @zenrs dari @panditfootball


(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads