Perang tak membuat rasa senang, bahagia, dan kedamaian sirna dari kota tersebut. "Di mana hujan yang turun dari langit adalah segala rahmat, tanah cinta yang menyala-nyala dengan kemuliaan, kota apa yang paling berharga dibanding tempat lain," puji Tassoni dalam puisi yang ditulis pada 1614.
Perasaan Tassoni yang berbunga-bunga terhadap Sassuolo itulah yang dirasa penduduk Sassuolo pekan lalu. Kesuksesan mengangkangi dua tim kuat Juventus dan AC Milan di turnamen pramusim sekelas Trofeo TIM 2013 adalah salah satu prestasi terbaik mereka selama sejarah klub berdiri --sebuah pencapaian yang tak dirasakan para penduduk kota dan para pendukung Sassuolo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Squinzi memang sosok nyentrik di klub. Ia tak segan-segan pernah mengaku sebagai seorang Milanisti. Padahal ia presiden klub. Toh itu tak membuatnya kehilangan kegembiraan luar biasa ketika berhasil mengalahkan Milan. Ia juga pernah menyatakan janji kontroversial akan mempermalukan Inter Milan di Giuseppe Meazza kelak.
Sassuolo adalah sebuah kota kecil yang merupakan bagian dari provinsi Modena di Italia bagian tengah. Letaknya hanya 19 km dari pusat ibukota provinsi Modena. Passion orang terhadap sepakbola amatlah minim dikarenakan klub ini dulunya hidup semenjana. Gaung mereka kalah dari tetangga sebelah yang lebih terkenal macam AC Parma ataupun FC Bologna.
Sepakbola bukanlah hal utama di salah satu kota di region Emilia-Romagna yang terkenal dengan kerajinan keramiknya itu. Sassuolo adalah tim tunawisma yang nasibnya boleh dikata mirip Persita Tangerang yang terusir karena aturan regulasi federasi. Sejak promosi ke Seri B tahun 2008, mereka tidak menggelar pertandingan di Stadion Enzo Ricci akibat kapasitas stadion teresebut tak memenuhi standar FIGC [federasi sepakbola Italia].
Tim berjuluk Il Neroverdi ini pun mengungsi ke Modena. Stadion Alberto Braglia jadi saksi bahwa rata-rata kehadiran fans Sassuolo lebih buruk ketimbang laga-laga laga Divisi Utama Liga Indonesia. 2.000 penonton/laga bagi sang juara Seri B tentu pertanda kemunduran sepakbola Italia. Angka yang jauh berbeda dengan Inggris atau Jerman yang tingkat kehadiran klub-klub di kasta kedua yang minimal mencapai belasan ribu orang. Maklumlah, dari populasi penduduk kota yang hanya 40.000 jiwa, mungkin hanya 20% yang tahu dan mau mendukung Sassuolo.
Tetapi kondisi itu berubah drastis, rasa berbunga-bunga seperti apa yang dikata Penyair Tassoni terasa setelah gol tunggal Simone Missiroli menghempaskan gawang Livorno pada 18 Mei lalu. Gol itu jadi sumbu peledak perayaan kemenangan promosi ke Seri A. Sejak berdiri tahun 1922 akhirnya untuk pertama kali mereka berhak tampil di Seri A.
Boleh dikata perjuangan Sassuolo untuk mencapai prestasi tersebut adalah sesuatu hal yang absurd. Bagaimana tidak, sepanjang kiprah sejak didirikan 91 tahun lalu, sampai tahun 2006 Sassuolo lebih banyak berkutat di liga papan bawah kompetisi Italia. Jangankan Seri B, Seri C yang kastanya satu level di bawah Seri B pun Sassuolo tak pernah mencicipinya.
Namun seorang penyelamat telah diutus Tuhan untuk bangkitkan tonggak kebangkitan Sassuolo di kancah persepakbolaan italia. Santo tersebut adalah Massimiliano Allegri. Keberhasilan Allegri meloloskan Il Neroverdi ke Seri B menjadi pemicu untuk kesuksesan-kesuksesan lainnya bagi klub. Spekulasi muncul, kekalahan Milan atas Sassuolo adalah pemberian Allegri kepada klub kecil yang membesarkan namanya itu.
Sassuolo, AC Milan, dan Allegri memang seolah memiliki ikatan batin yang tak bisa terpisahkan. Orang masih ingat saat Silvio Berlusconi mengecam Allegri karena kerap mendepak Stephan El Shaarawy dari starting XI. Presiden Sassuolo, Giorgio Squinzi, datang membela. "Dalam pandanganku, Allegri melakukan dengan sangat baik dengan skuat yang dimilikinya," tegasnya membantah Berlusconi.
Selain Allegri, sosok lain yang amat dicinta adalah Eusebio Di Francesco, aktor di balik kesuksesan Sassuolo melenggang ke pentas Seri A. "Keajaiban" dan "Kisah Dongeng" adalah dua frasa yang kerap di ucap lelaki ini kepada para anak didiknya dan awak media. Ia kerap menggambarkan sebagai guratan takdir dari Tuhan yang amat menarik diceritakan karena penuh perjuangan dan keajaiban -- mirip kisah dongeng.
"Saya pikir jika anda menulis ini sebagai naskah film, maka akan menghasilkan sebuah thriller yang sangat menarik," ujarnya.
Namun lelaki yang pernah jadi penggawa AS Roma ini enggan terlalu hidup dalam bayang-bayang mimpi yang belum pasti berujung keberuntungan dan kepastian. Ia masih cukup logis untuk mempersiapkan tim jelang kompetisi yang akan dimulai Agustus nanti.
"Apakah kita bagian dari dongeng? Ya, tapi sekarang kita akan mencoba untuk membangun diri lebih lagi karena kita sekarang berada di kasta tertinggi," ucapnya dengan nada yang lebih rasional.
Perjuangan itu "dihalangi" Presiden klub Squinzi yang tak akan melonggarkan dompet menyambut pelayaran Seri A perdananya. Sebagai penggemar Milan, ia belajar dari sana. "Sepakbola mengajari saya bahwa tidak semua tergantung pada uang. Kami akan melanjutkan kebijakan kami dengan fokus pada pemuda tanpa melakukan sesuatu yang gila," tegasnya.
Apa yang dilakukannya memang cukup naif. Masih segar dalam ingatan bagaimana Novara dan Pescara yang hanya bisa bertahan satu musim di Seri A. Penghematan yang mereka lakukan berbuah blunder yang mengirim mereka kembali ke kasta bawah. Mungkinkah Sassuolo mengikuti jejaknya?
Kehadiran nama-nama baru Simone Zaza, Jasmin Kurtic, Francesco Acerbi, dan Jonathan Rossini yang dibeli dengan harga murah dan usia yang relatif muda serta pernah mencicipi Seri A menjadikan mereka penanggung beban menjaga ambisi klub untuk bermimpi meneruskan dongeng indah. Bersama para pemain mentereng seperti DomenicoΒ Berardi yang sempat diincar Juventus, Sassuolo menegaskan bahwa mereka adalah bagian dari kisah Daud, pemuda heroik yang kisahnya jadi bagian dari ajaran agama samawi untuk tak perlu takut menantang lawan yang superior.
Dalam sepakbola banyak hal di luar logika. Kisah dongeng yang jadi nyata dengan kerja keras yang super ekstra ataupun bantuan Dewi Fortuna adalah hal lazim dalam sepakbola. Dan Sassuolo kini adalah bagian dari kejadian itu. Mereka melihat dirinya sendiri sebagai si lemah Daud dari provinsi Modena yang akan melawan Si Kuat Golliat raksasa.
====
*akun Twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball
*Foto: Tim dan staf pelatih Sassuolo berfoto di halaman Palazzina della Casiglia, pada perkenalan tim mereka awal Juli silam (Getty Images)
(roz/roz)











































