Nilai transfer yang gila-gilaan, buy-out clause dengan harga selangit, serta meroketnya besaran gaji pemain, jadi contoh yang tepat bagaimana dunia sepakbola modern berputar dengan pemain sebagai poros utama.
Maka ketika Gareth Bale, pemain yang baru dua musim kebelakang memiliki kinerja fenomenal, dikabarkan ditawar Real Madrid lebih dari 80 juta poundsterling, tak ada yang memprotes jumlah ini. Dewasa ini, nilai puluhan juta poundsterling untuk mendapatkan seorang pemain memang sudah dianggap norma yang umum berlaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aturan Bosman ini kemudian jadi penyebab berubahnya relasi klub-pemain. Klub jadi tak punya lagi kuasa untuk menahan kepergian pemainnya, kecuali dengan menawarkan perbaharuan kontrak. Tentu dengan nilai gaji yang lebih tinggi. Pada akhirnya, jadi satu kewajaran bila klub sudah mulai melakukan ancang-ancang untuk memperpanjang kontrak pemainnya, meski kontrak masih tersisa setidaknya 2 tahun lagi.
Aturan Bosman juga yang kerap menimbulkan polemik bagi klub yang pemainnya memiliki kontrak satu tahun lagi. Apakah pemain itu lebih baik dijual, atau dipertahankan?
Sebagai ilustrasi adalah transfer Robin van Persie dari Arsenal menuju Manchester United. Terlepas dari alasannya pergi adalah karena Arsenal tidak kompetitif, atau memang karena adanya kenaikan gaji yang diinginkan, semua tidak akan berjalan dengan "mulus" tanpa adanya bayang-bayang aturan Bosman.Kala menghadapi transfer Van Persie itu, Arsenal harus memilih antara mempertahankan Van Persie satu musim lagi (dengan harapan performa tim menanjak lalu berimbas pada kemungkinan adanya perpanjangan kotrak), atau merelakan sang pemain pergi dengan nilai transfer yang mungkin lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai pasar Van Persie.
(Gaji) Pemain Jadi Raja
Dampak dari aturan Bosman sendiri sudah tentu klub jadi pihak yang paling dirugikan. Dan dampak itu juga memunculkan efek domino pada faktor-faktor lainnya.
Adanya pembengkakan besaran gaji pemain juga tak lepas dari regulasi ini. Ini karena pemain memiliki posisi tawar kuat ketika telah memasuki masa akhir kontraknya. Dapat dibayangkan, seorang pemain --apalagi pemain kunci-- dapat meminta nominal gaji yang ia inginkan pada saat memperbaharui kontrak, meski nominalnya dirasa tidak masuk akal.
Pun demikian dengan pemain berstatus free agent yang diperebutkan banyak tim. Mereka bisa memilih pindah ke klub yang menjanjikan gaji lebih tinggi, atau yang memberikan signing bonus paling besar. Maka (pemain) yang gratis pun sedianya tak benar-benar bebas biaya.
Dapat ditebak bahwa efek lanjutan dari aturan Bosman ini adalah adanya peningkatan gila-gilaan dari nilai transfer. Pemain bintang yang ingin dipertahankan klub tentu akan memiliki nilai kontrak tinggi, dan untuk memutus kontrak ini klub lain harus mengeluarkan dana lebih besar lagi.
Edinson Cavani jadi satu contoh menarik dari fenomena ini. Di awal musim lalu pemain asal Uruguay itu sebenarnya telah menandatangani kontrak baru yang dilengkapi dengan release clause. Namun alih-alih menaati kontrak ini, Cavani terpikat dengan pinangan dari klub asal Prancis, Paris St Germain. Hasilnya? PSG harus merogoh dana sebesar 63 juta untuk mendapatkan Cavani.
Menggilanya nilai transfer ini juga diperparah oleh iklim kompetisi diantara klub-klub yang mengarah pada pembelian-pembelian pemain terbaik dari berbagai belahan dunia.

Efek lainnya dari aturan Bosman adalah pada beban pengeluaran klub. Beberapa riset tentang laporan keuangan klub menunjukkan bahwa beban terbesar yang harus dibayarkan oleh klub berasal dari gaji pemain. Untuk Big Four liga di Eropa sendiri (EPL, La liga, Bundesliga dan Serie A), rata-rata klub menunjukkan beban gaji karyawan mencapai lebih dari 50% total beban yang harus dikeluarkan oleh klub.
Ini tentu memberikan efek tak sehat bagi klub-klub kecil. Sementara tim yang memiliki uang bisa dengan mudah "membeli kontrak" pemain klub kecil, hal ini tak berlaku kebalikannya. Kecuali dengan alasan-alasan pribadi, yang biasanya terkait dengan ikatan emosional atau jam bermain, mana ada pemain yang ingin gajinya berkurang saat pindah klub?
Dampak lain dari adanya aturan Bosman adalah semakin maraknya pemain asing dalam suatu klub. Sebagaimana dijelaskan dalam aturan itu, tidak boleh ada batasan terhadap pemain asing untuk bermain di liga yang berada dibawah naungan Uni Eropa.
Klub-klub Spanyol, Inggris, Jerman, tak boleh melarang pemain asal Slovenia, atau Rusia, untuk bermain di liga masing-masing, dan sebaliknya. Maka karena hal itulah, arus perpindahan pemain secara besar-besaran pun tidak dapat dihindari.
Langkanya Pemain Muda Berbakat
Pembinaan pemain muda pun menjadi salah satu dampak dari adanya aturan Bosman. Seiring dengan aturan Bosman yang mendukung adanya kebebasan perpindahan tenaga kerja, pembinaan pemain muda pun mulai dikesampingkan. Klub lebih banyak melakukan investasi dalam membeli pemain ketimbang mengembangkan bakat pemain muda. Pelatihan dan pemberian kesempatan kepada pemain muda, dengan waktu bermain yang cukup, seperti yang ditunjukkan Ajax Amsterdam, juga telah jadi hal yang langka.
Investasi pada fasilitas latihan serta biaya pengembangan pemain muda tidak sebanding dengan peningkatan belanja pemain. Semua karena kebanyakan klub beranggapan bahwa dengan mendatangkan pemain yang berkualitas akan berbanding lurus dengan peningkatan prestasi klub.
Solusi yang ditawarkan berupa regulasi Home-Grown Player, ataupun kuota pendaftaran untuk pemain Under-21, dapat dikatakan jadi alternatif yang baik. Namun, hal ini tetap saja memiliki kelemahan. Karena yang dibutuhkan sebenarnya adalah jam terbang pemain dalam iklim kompetitif.

Dalam jangka panjang, kondisi tim nasional akan terkena dampak terbesar dari masalah ini. Dengan pembinaan pemain muda yang semakin minim, tentu timnas akan kehilangan banyak potensi.
Dengan berbagai contoh diatas, terlihat bagaimana aturan Bosman mampu mengubah sepakbola. Sepakbola menjadi lebih universal daripada sebelumnya. Dalam sudut pandang sempit, adanya aturan Bosman memang sangat menguntungkan bagi pemain sepakbola. Sebagai pemain, perpindahan bebas sangat menguntungkan mereka karena tidak adanya lagi klausul yang mengekang. Namun, jika terus berlanjut situasi tersebut dapat memunculkan dampak yang besar.
===
* Akun twitter penulis: @shralys dari @panditfootball
(a2s/a2s)











































