Jurang Antara Barat dan Timur Sepakbola Jerman

- Sepakbola
Rabu, 21 Agu 2013 14:00 WIB
Ilustrasi: Pertandingan Energie Cottbus vs Hansa Rostock, 26 April 2008 (Getty Images)
Jakarta - Tak ada klub eks Jerman Timur di Bundesliga 1 dalam empat musim terakhir. Tembok Berlin memang sudah rubuh hampir 24 tahun lalu, tapi jurang kesenjangan antara timur dan barat masih terlalu kentara.

Salah satu foto yang dikirimkan oleh Chris Hadfield, seorang astronot asal Kanada yang sering menyampaikan foto udara melalui akun twitter-nya, secara pas menggambarkan hal itu. Melalui gambar yang di-tweet pada April 2013 itu tampak bagaimana uniknya kondisi kota Berlin jika dilihat dari angkasa.



Areal sebelah kanan, yang merupakan kawasan bekas Jerman Timur, seolah diselimuti sinar kuning, sementara kawasan eks-Jerman Barat memancarkan sinar biru-keputihan yang lebih terang. Kekontrasan ini disebabkan oleh adanya perbedaan jenis lampu jalan yang digunakan. Ini jadi salah satu bukti bagaimana perbedaan investasi pada infrastruktur tak dapat dengan mudah disamakan meski telah melewati waktu nyaris 24 tahun.

Seperti lampu jalan yang jadi pertanda "timur" dan "barat", sepakbola pun seakan jadi cermin refleksi masa lalu Jerman. Di balik kisah dominasi klub asal Jerman Barat di Liga Champions, ada cerita tentang klub-klub Jerman Timur yang hingga saat ini masih hidup di bawah bayang-bayang saudara tuanya.

Dilihat dari segi kualitas, atau prestasi, memang ada beda yang sangat kentara antara klub Jerman timur dan barat. Tercatat, hingga saat ini, belum ada satu pun klub asal Jerman Timur yang pernah memenangi Bundesliga. Bahkan di saat Bundesliga kini diagung-agungkan sebagai salah satu model liga tersehat di Eropa, jarang sekali ada klub eks-Jerman Timur yang ikut menikmatinya.

Maklum saja, mayoritas klub yang dulu memiliki nama besar di DDR Oberliga --liga untuk Jerman Timur-- kini terdampar di divisi keduanya. Nama-nama seperti FC Madgeburg, Dynamo Dresden, atau Berliner FC Dynamo tentu kalah dengan ketenaran Bayern Muenchen atau Borussia Dortmund. Bahkan, mereka juga hanya sempat mencicipi Bundesliga selama beberapa musim saja.

Tapi, menyalahkan kondisi ini pada ekspansi "barat" ke "timur" sebenarnya tak cocok juga. Jurang prestasi antara "timur" dan "barat" memang sudah terlihat semenjak tembok Berlin masih tegak berdiri. Satu-satunya raihan timnas GDR (Germany Democratic of Republic) yang masih dibicarakan hingga saat ini hanyalah saat mereka mengalahkan Jerman Barat pada 1974.

Demikian pula di level klub. Tak banyak klub Jerman Timur yang bisa berbicara banyak di kompetisi Eropa. Sejarah mencatat, klub Jerman Timur yang pernah mencicipi kejayaan di benua Eropa hanyalah FC Magdeburg yang memenangi Piala UEFA 1974, kala mengalahkan AC Milan 2-0 di Rotterdam. Mayoritas klub lainnya hanya berjaya di liga lokal. Itu pun dengan beberapa catatan tentang kedekatan mereka dengan golongan kiri atau penguasa.

Berliner FC Dynamo, misalnya. Kedekatannya dengan Stasi, atau polisi rahasia Jerman Timur, membuat mereka mampu memenangi liga selama 10 tahun berturut-turut, dari 1979 hingga 1989. Mayoritas gelarnya sendiri didapatkan dengan adanya indikasi korupsi, pengaturan pertandingan, intimidasi, dan berbagai tindakan tidak etis lainnya. Sementara itu, klub lainnya, The Vorwarts, malah "dijaga" oleh kementrian pertahanan.

Tim-tim yang tidak berafiliasi dengan satu kepentingan politik tertentu pun biasanya dimiliki oleh perusahaan negara. Rotation Babelsberg, Turbine Potsdam, dan Traktor Gross-Lindau jadi beberapa contoh.

Peleburan Barat dan Timur

Meski sudah ada gap prestasi dari semula, merosotnya kondisi klub-klub Jerman Timur setelah unifikasi pun tak bisa disangkal. Runtuhnya tembok Berlin menandai adanya ide-ide barat yang mengekspansi cara hidup penduduk Jerman Timur. Termasuk di antaranya perombakan drastis gaya hidup, sistem ekonomi, serta cara industri sepakbola bekerja. Dan tak banyak klub GDR yang mampu tetap kompetitif dalam menghadapi perubahan tersebut.

Pasalnya, sebagaimana diceritakan di atas, banyak klub Jerman Timur yang dulunya mendapatkan bantuan dana dari perusahaan-perusahaan negara. Bahkan, mereka acap dikenal sebagai factory teams.

Runtuhnya tembok Berlin bukan hanya mempertemukan penduduk Jerman yang dipisahkan tembok, namun juga ada peleburan ide yang berlangsung. Tiba-tiba saja tim yang biasanya mendapat sokongan negara itu harus bertemu dengan pasar bebas. Tiba-tiba saja mereka harus mencari bantuan sponsor dan investor untuk bisa bersaing.



Dari sekian banyak klub Jerman Timur, hanya dua yang mampu bertahan di awal-awal penyatuan kedua liga, yaitu Hansa Rostock dan Energi Cottbus. Sementara klub raksasa seperti Dynamo Dresden langsung terpuruk di divisi bawah di awal-awal 90-an.

Kunci kesuksesan Hansa Rostock sendiri terletak pada ketidakbergantungan mereka pada dana perusahaan negara. Maka ketika dihadapkan ekonomi yang bergantung pada pasar, mereka lebih mudah untuk beradaptasi. Selain itu, Rostock juga memiliki struktur profesional pada pembinaan mudanya sehingga mereka sukses menghasilkan banyak pemain-pemain berbakat. Ya, dibandingkan dengan banyak klub Jerman Timur lainnya, Rostock memang memiliki syarat-syarat yang pas untuk bertahan dalam situasi baru.

Lalu bagaimana dengan Energie Cottbus? Secara struktur, Cottbus memang tak tampil sestabil Rostock. Kesuksesan mereka bertahan di Bundesliga lebih dikarenakan sosok seorang Eduard Geyer. Seperti Juergen Klopp di Dortmund, Geyer juga bisa menciptakan tim yang mampu bersaing hanya dengan budget minimal.

Akan tetapi kesuksesan keduanya tak bertahan lama. Cottbus hanya bertahan selama 6 musim di Bundesliga di antara tahun 2000 hingga 2009, dan kini berada di divisi 2 Bundesliga. Demikian pula dengan Rostock. Klub yang sempat diperkuat oleh Jari Litmanen ini terdegradasi dari Bundesliga di musim 2004/2005. Meski sempat kembali pada 2007/2008, klub ini sempat terpuruk dan kini berada di divisi 2.

Di level pemain, adanya unifikasi kedua liga membuat satu perubahan tersendiri, yaitu pemain yang diberikan kesempatan untuk menentukan nasibnya masing-masing. Sebelumnya para pemain Jerman Timur memang tak diberi kebebasan untuk memilih klubnya sendiri. Bahkan mereka sering kali dikirim ke klub lain hanya karena adanya perintah dari pihak tertentu.

Karena itu tak heran banyak bakat Jerman Timur yang lalu lebih memilih untuk menyeberang. Bagaimanapun juga, istilah rumput tetangga lebih hijau memang benar adanya dalam kasus ini. Klub barat memang memiliki otot-otot finansial lebih kuat dibanding klub-klub timur. Tak heran, Rostock juga sempat menjual tiga pemain bintangnya demi mendapatkan suntikan dana segar ketika terdegradasi.

Salah satu pemain yang paling terkenal "menyebrang" tentu saja Matthias Sammer. Sementara di masa-masa ini, Michael Ballack, (alm) Robert Enke, serta Rene Adler jadi bakat yang berpindah ke barat.

Perlahan Bangkit

Jika menilik lebih jauh foto yang dikirimkan oleh Chris Hadfield di atas, sebenarnya di beberapa titik kawasan eks-Jerman timur mulai terlihat lampu-lampu berwarna putih kebiruan. Ini karena pemerintah Jerman dalam beberapa tahun terakhir sedang melaksanakan program penggantian lampu jalan. Lampu-lampu gas yang tidak ramah lingkungan itu secara bertahap diganti dengan yang lebih efisien.

Artinya, (memang) tak ada kondisi yang konstan. Meski sempat hancur lebur, perekonomian Jerman Timur sejak satu dekade lalu makin membaik. Kota-kota seperti Leipzig, Jena, atau Dresden, yang semula memiliki tingkat pengangguran tertinggi di Jerman, kini telah berubah.

Leipzig, misalnya. Kota ini kini telah jadi rumah untuk nama-nama besar seperti Amazon, DHL, BMW, atau Porsche. Sementara Jena dan Dresden tempat industri optik dan microelectronic berlabuh.

Meski musim ini belum ada satu pun tim eks Jerman Timur yang berlaga di Bundesliga lagi, secara kasat mata perubahan di lapangan hijau juga mulai terjadi. Contohnya adalah pada musim 2011/2012. Ada 5 klub eks-Jerman Timur yang bisa berlaga di Bundesliga 2. Angka ini adalah partisipasi tertinggi klub eks Jerman Timur sepanjang unifikasi kedua liga. Ya, alih-alih semakin terpuruk, klub-klub ini perlahan merangkak naik.

Dynamo Dresden, Hansa Rostock, atau Union Berlin juga tak tinggal diam. Berlaga di Bundesliga 2, kini ketiganya telah menanamkan investasi pada infrastruktur atau renovasi stadion. Jika demikian, bukankah kembalinya klub Jerman Timur di peta Bundesliga 1 tinggal menunggu waktu saja? Menarik untuk ditunggu.


===

* Akun twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball




(krs/a2s)