Tentang Logo Klub Sepakbola (Bagian 2)

Melawan di Lapangan Hijau Lewat Nama dan Logo

- Sepakbola
Senin, 02 Des 2013 13:43 WIB
Getty Images/Jeff J. Mitchell
Jakarta - Pameo bahwa Inggris adalah tanah air sepakbola boleh saja digugat. Namun, bahwa aturan sepakbola modern lahir di tanah Britania Raya, di era Victorian, memang benar adanya.

Sebagaimana disebutkan Jonathan Wilson dalam buku "Inverting The Pyramid", sepakbola yang tertata, lengkap dengan perangkat-perangkatnya, memang tercipta dan populer di asrama-asrama sekolah Inggris.

Menumpang ekspansi kolonialisme Inggris, sepakbola pun mengumbara ke seantero penjuru dunia. Ia menyebar mulai dari kumuhnya jalanan koloni-koloni tanah jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika, hingga megahnya jalan andesit kota-kota metropolitan di Eropa.

Para pengembara Inggris yang memperkenalkan sepakbola kemudian membentuk klub-klub di tempat baru. Karenanya, banyak kosa kata berbahasa Inggris yang dipakai dalam aturan. Ini membuat kaitan antara Inggris dan sepakbola makin kental.

Tak hanya aturan, terkadang penamaan klub-klub pun mengambil serapan dari Bahasa Inggris. "Sporting Club", "Football Club", "Racing Club" jadi nama-nama yang lazim disandangkan pada identitas klub olahraga. Terkadang, serapan Inggris juga dicampuradukan dengan nama lokal setempat. "Old Boys", "Young Boys", "Juniors", "Young Fellows" terdengar tak asing di nama-nama klub Amerika Latin, bukan?

Meminimalisir Pengaruh Inggris lewat Sepakbola

Dulu, memakai eblem-emblem Inggris terasa wah. Bahkan tak jarang klub-klub pun menterjemahkan identitas mereka kedalam bahasa Inggris. Misalnya saja River Plate. Kendati Argentina mengobarkan bendera perang dengan Inggris, mereka lebih bangga dengan nama itu ketimbang gunakan Rio De Plata.

Di Italia, jika dirunut sejarah penamaan klub, Internazionale tentu lebih nasionalis ketimbang AC Milan. Kata "Milan" sendiri adalah kosakata Inggris yang diubah dari bahasa Italia "Milano".

Masalah muncul ketika bahasa Inggris tak hanya mampir di logo klub, tapi juga di lapangan. Misalnya saja satu klub Prancis yaitu The White Rovers. Pada 1891, klub ini mendeklarasikan bahwa bahasa Inggris wajib digunakan dalam percakapan pemain di lapangan. Pemaksaan ini tak salah tentunya, karena toh Inggris-lah yang mengenalkan sepakbola. Tapi pada kalangan orang-orang yang dengki dan iri pada Inggris, hal ini dirasa berlebihan.

Di Italia sendiri sepakbola memang tak terlalu diterima di masa-masa awal kedatangannya. "Play, dress and swear the English way," ejek orang Italia yang tak suka dengan pengaruh Inggris di sepakbola tersebut.

Dominasi Inggris dalam soal tata bahasa ini lalu pudar setelah virus "nasionalisme" sepakbola merebak di Eropa. Tahun 1908, Italia melawan dengan mengganti Federazione Italiana Di Football menjadi Federazione Italian Giucco Calcio (FIGC), sebuah upaya untuk membabat hal-hal berbau Inggris.

Langkah ini kemudian diikuti negara-negara lain dengan mengubah kata "football" menjadi kata yang lebih lokal. Ada "Nogomet" di Serbia, "Fucik" di Slovakia, "Kopana" di Ceko, "Podosfero" di Yunani, "Schutte" di Swiss dan "Labdarugas" Hungaria.
 


Menarik diceritakan adalah upaya Spanyol dan Portugal membuang serapan Inggris. Awal mulanya, kata yang dipakai adalah "Balompie" dan "Ludopedio". Namun sayang kata itu tak popular di masyarakat. Alhasil diadopsilah kata "Futbol" dan "Futebol". Serapan tersebut tak jauh beda dengan "Voetbal" di Belanda, "Fußball" di Jerman, serta "Fudbal" di Serbia. Hanya Prancis dan Rusia yang tetap setia kepada "Football".

Tak berhenti di level federasi dan penyebutan "Football", klub-klub pun diimbau selektif dalam memilih nama organisasi. Identitas lokal lebih diutamakan ketimbang kata-kata yang ke-Inggris-Inggris-an.

Contohnya di Jerman. Dalam buku tahunan DFB (Federasi Sepakbola Jerman) tahun 1920, mereka mengintsrusikan klub untuk mengganti kosakata "Union" dan "Sports Association" dengan "Eintracht" (dalam bahasa Inggris berarti "United") serta "SV" (Sport Verieningung).

Mengumbar Kebencian Pada Penjajah Lewat Visual

Sepakbola sarat dengan panggung nasionalisme dan patriotisme. Ini juga yang tercermin dari penamaan klub dan logo-logo. Prancis, misalnya, gemar memakai simbol-simbol Joan of Arc, seorang pejuang wanita yang berhasil mengusir Inggris dari tanah Prancis di abad 14. Namanya melegeda dan kerap dijadikan simbol politis dari zaman Napoleon sampai sekarang.

Di Prancis, simbol yang melekat pada Joan of Arc, seperti Fleur De Lis (bunga lili) atau menara tempat dia di penjara, lazim digunakan klub-klub sepakbola. Paris Saint Germain dan Stade De Reims adalah dua contohnya. Lewat Joan Of Arc, Prancis sendiri seolah menyerukan bahwa sepakbola bukan hanya milik Inggris.

Namun perlawanan lewat simbol ini tak melulu untuk menentang Inggris. Di Ceko, klub memakai nama "Sparta" sebagai lambang perjuangan lawan kerajaan Austria-Hongaria. Ini meminjam istilah perjuangan bangsa Sparta melawan Persia.

Dari sisi simbol, klub Sparta Praha menjiplak mentah-mentah identitas visual dari bangsa Sparta. Jika bangsa Sparta identik dengan tameng berbentuk lingkaran dengan simbol huruf "L" kapital didalamnya, Sparta Praha tinggal menggantinya dengan huruf "S".

Di negara-negara Balkan yang terjajah, tak segan klub-klub memakai kata "Hajduk" sebagai sebutan. Hajduk adalah sosok protagonis atau figur pahlawan seperti halnya Robin Hood di Inggris yang jadi musuh orang kaya dan sahabat orang miskin. Di Balkan, sosok antagonis ini diperankan oleh Kesultanan Ottoman Turki.

Beda lagi dengan Yunani. Di sana, perlawanan terhadap Turki dimunculkan lewat simbol-simbol heroik dewa-dewa mitologi Yunani seperti Zeus, Ares, Apollo, Achilles, Odysseus, atau Ajax. Tak hanya sekedar melawan, lewat logo juga mereka ingin mengingat kembali kejayaan dan kegagahan bangsa Yunani sebagai poros utama dunia.

Nun jauh di sana, di Amerika Latin, Colo-Colo jadi klub sepakbola tersukses di Chile. Tapi, tahukah Anda? Colo-Colo bukan hanya sekadar klub, tapi juga figur nyata. Namanya diambil dari Colocolo, dia adalah simbol perlawanan terhadap penjajah Spanyol.

Memimpin suku Mapuche melawan Spanyol di abad 15, keheroikkan Colocolo bahkan diakui bangsa Spanyol sendiri lewat puisi epic berjudul La Araucana karya sastrawan Alonso De Ercilla. Sebagai sebuah klub, Colo-Colo hadir di tengah sikap Spanyol yang ikut campur mengurusi dalam negeri Chile di akhir abad 18.

Daun Semanggi Sebagai Simbol Perlawanan

Britania Raya sebagai simbol imperialisme berlaku tak hanya bagi negara-negara lain, namun juga bagi saudara kandungnya sendiri. Bahkan, di zaman modern ini, saat penjajahan diharamkan, perlawanan terhadap Inggris terus berjalan.

Kisah tentang pemberontakan Celtic, jadi bagian darinya. Celtic adalah bagian dari Skotlandia. Dan negara ini adalah kerangka utama yang menyusun Britania Raya, selain Inggris, Wales dan Irlandia Utara.

Sudah menjadi rahasia umum jika Celtic adalah bagian dari pendukung pemberontak IRA –sebuah kelompok Republikan yang menuntut pemisahan Irlandia Utara dari Inggris Raya. Ditilik dari sejarahnya, Celtic memang identik dengan Irlandia. Selain didirikan oleh imigran Irlandia yang mengungsi ke Skotlandia, ditilik dari sisi afiliasi religius, Celtic pun selalu dilekatkan sebagai klub katolik. Agama ini jadi pegangan mayoritas orang Irlandia, berbeda dengan mayoritas Skotlandia yang menganut protestan.

Perbedaan keyakinan ini yang jadi pemantik perang sektarian di Glasgow sana. Bermula dari Katolik versus Protestan merembet jadi pro-Inggris versus anti-Inggris. Buktinya, saat Old Firm berlangsung, sangat lazim jika fans Rangers selalu mengagung-agungkan bendera Union Jack dan foto Ratu Elizabeth II. Aksi ini lalu dibalas dengan fans Celtic yang bangga dengan foto Paus beserta bendera tri colour khas Irlandia. "Mampus Sri Paus" dan "Ratu Bangsat" pun sering kali terdengar di sana.

Daun semanggi Shamrock adalah identitas trinitas Katolik Irlandia yang diadopsi Celtic menjadi sebuah logo klub. Senasib seperti "Estelada" milik Barcelona, dan "The Ikurrina" kebanggan Bilbao, Shamrock begitu erat kaitannya dengan gerakan nasionalis Irlandia di abad ke-19.

Shamrock ialah simbol keberuntungan bagi orang Irlandia yang berharap tuah St. Patrick, sang penyebar agama katolik. Oleh milisi, daun semanggi juga dijadikan sebagai visualisasi perlawanan. Karenanya shamrock amat dibenci Inggris. Hukuman gantung siap menyambut siapapun yang ketahuan memakai simbol itu.

Di tahun 1950, pengeboman dan pembunuhan sporadis terhadap warga negara Inggris di Irlandia Utara berimbas pada Celtic itu sendiri. Banyak tekanan kepada Celtic untuk menghapus warna bendera Irlandia dan Shamrock dari logo mereka. Tekanan mengalir deras mengingat pembiaran identitas pemberontak berkibar di tanah Inggris jadi satu anomali.

Tak seperti Barca dan Bilbao yang takluk, Celtic malah melawan. Celtic menolak segala bentuk kompromi, meski diancam dengan pengusiran dan dilarang ikut serta kompetisi sepakbola Skotlandia.

Keberanian mereka terbukti benar. Gertakan itu hanya omong kosong belaka.
 


St. Pauli dan Tengkorak Bajak Laut

Mengingat St. Pauli, yang terbayang pertama kali pastinya identitas tengkorak serta tulang bersilang dengan berlatar belakang warna hitam. Mirip dengan logo kelompok bajingan atau kriminal. Meski identik dengan St. Pauli, simbol itu sebenarnya bukanlah logo klub, namun diciptakan dan dimiliki fans.

Logo tengkorak itu mewakili semangat St. Pauli. "Simbol tengkorak jadi sebagai simbol orang miskin kelas pekerja yang menentang tim sepakbola seperti Bayern (kaya), dan kita memposisikan sebagai bajak laut yang berjuang untuk rakyat miskin melawan yang kaya," ucap Sven Bruz, pemimpin kelompok supporter St. Pauli (baca juga tulisan tentang St. Pauli).
 


Tahun 1989 ketika St Pauli menjamu Bayern, harian lokal di sana memasang headline "Klassenkampf". Judul berbau marxisme ini menggambarkan keinginan St. Pauli menjungkirkan Bayern.

Klub yang dikenal miskin ini sering digambarkan sebagai tim paling kiri di dunia. Pendukungnya kaum buruh dan orang pinggiran. Terhadap Bayern, sang diktator, mereka memposisikan sebagai lawan. Lewat simbol tengkorak mereka ingin menyampaikan pesan: "Kami akan terus melawan!"

Namun, tak hanya untuk St. Pauli, sepakbola membuka ruang bagi siapapun untuk jadi pembangkang. Cerita-cerita di atas hanya bagian kecil dari simbol perlawanan klub, atau fans, terhadap yang mereka yakini sebagai pengancam eksistensi.

====

*akun Twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball

Baca artikel sebelumnya:
Tentang Logo Klub Sepakbola (Bagian 1): Bau Kapitalisme pada Logo Klub Sepakbola



(roz/a2s)