Ada sebuah pepatah Eropa yang mengatakan bahwa hidup dimulai pada usia 40 Tahun. Boleh dibilang, ini juga yang terjadi di hidup Mourinho. Di usia 40, ia memulai kariernya dengan sebuah pencapaian mentereng dalam dunia kepelatihan.
Di usia ke-40 ia mempersembahkan gelar juara Eropa untuk Porto, sebuah gelar yang ditunggu publik stadion Do Dragao selama 17 tahun. Di usia 40 pula sosok pelatih kharismatik ini mulai dikenal dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Porto Sebagai Kawah Candra Dimuka
Pada 2002, di kedua kalinya datang ke Porto, Jose Mourinho tampil sangat berbeda. Bukan hanya soal raihan gelar, namun juga gaya dalam berbicara dan juga berbusana.
Sembilan tahun sebelumnya, pada saat menjadi asisten pelatih, Mou lebih sering berbalutkan pakaian training. Baik saat matchday maupun latihan, hanya tracktop dan celana training dari sponsor apparel Porto yang dikenakannya. Kala itu, rambutnya pun masih terlihat hitam dan sedikit gondrong, hingga menutupi daun telinganya. Ia jarang tampil dengan tatanan rambut yang tersisir rapi.

Namun, pada tahun 2002, Mou tampil lebih dewasa. Stelan jas dan sepatu pantofel sangat akrab dengannya. Bahkan ia selalu menemani timnya berlaga dengan stelan yang perlente, dengan kemeja yang sesekali ia hiasai dengan dasi.
Rambutnya, yang mulai ditumbuhi helai-helai uban, juga selalu tertata rapi. Didominasi tatanan rambut wetlook. Jika memang rambutnya sudah dirasa agak panjang, ia menyisirnya ke belakang. Mou juga tak segan memangkas cepak rambutnya untuk menyesuaikan dengan gaya stelan jasnya.
Pada musim itulah kita mulai dekat dengan Mourinho. Semua media massa mulai mengulik seluk beluk sang pelatih. Pernyataan-pernyataan kontroversialnya mulai menghiasi headline, baik media cetak maupun elektronik Eropa maupun seluruh dunia.
Kadang gaya kepelatihan dan juga gaya berbusananya yang sangat kekinian, tenggelam oleh pernyataan-pernyataan pedasnya. Memang begitulah. βDarah mudaβ selalu menggebu dan tak mau mengalah, meski seolah menabuh genderang perang melawan Alex Ferguson, seorang pelatih yang juga tak suka kalah, Mou pernah melontarkan kata-kata pedas.
"I understand why he (Alex Ferguson) is a bit emotional. He has some top players in the world and they should be doing a lot better than that. You would be sad if your team gets as clearly dominated by opponents who have been built on 10% of the budget," ujarnya.
Kala itu Manchester United tak mampu memenangi pertandingan melawan Porto di babak 16 Besar Liga Champions 2003-2004. Baik di kandang maupun tandang.
Mulai Mengembara ke Britania
Selamanya bangsa Portugis adalah bangsa pengembara. Begitu juga dengan Mou. Tapi, jika para pendahulunya melakukan pelayaran ke Afrika dan juga Asia, Mou justru melakukannya ke tanahnya para penjajah, Britania Raya.
Di negeri yang dingin itu, Mou tampil mendobrak tradisi dan kekakuan. Rambutnya selalu tertata rapi. Sepatu pantofel, kemeja, dan juga celananya masih sangat matching dipadu dengan jas yang ia kenakan. Dasi juga masih sering melingkar di lehernya. Penampilannya tak jauh beda dengan si pemilik klub, taipan minyak dari Rusia, Roman Abramovic.Di saat pelatih-pelatih lain tampil dengan tracksuit, Mou mengenakan jaket panjang Armani-nya. Ia muda dan ia mau menunjukkan kemudaannya di hadapan pendukung-pendukung liga terpopuler di muka bumi ini Mou meminta publik tidak mengganggapnya arogan, karena ia adalah seorang jawara Eropa.
Mou adalah The Special One. Begitulah cara perkenalannya dengan publik Inggris. Dan ia mendapat panggilan sesuai dengan yang ia minta.
Singkat kata. Chelsea asuhan Mou berjaya di tanah Britania dengan dua gelar Premier League di dua tahun pertama. Di musim ketiga, Chelsea diterpa badai cedera. Tentunya hal ini menyulitkan Mou untuk mecetak hattrick liga Inggris.
Tapi, dengan tatanan rambut army look yang sangat trendy saat itu Mou mengisyaratkan bahwa hattrick juara liga Premiere adalah harga mati. "Lihatlah tatanan rambutku, aku siap untuk berperang," ujarnya ketika ditanya wartawan tentang peluang Chelsea merengkuh hattrick juara Liga Inggris.
Walaupun tak memberikan hattrick, namun pelatih stylist ini mampu memberikan gelar Piala FA dan juga Piala Carling.
Hijrah Ke Kota Mode
Lama tak terlihat setelah putus dari Abramovich, penampilan Mou masih sama. Rambutnya memang sedikit lebih panjang dari sebelumnya, dengan warna putih yang semakin terlihat jelas menghiasi kepala. Tapi mahkotanya itu ia tata rapi dengan sangat modis (pada zamannya).
Saat diperkenalkan pertama kalinya oleh manajemen Inter, Mou tetap dengan style kebanggaannya: kemeja, celana, dan sepatu pantofel. Jam tangan yang ia kenakan pun sudah pastilah branded, meski bukan buah karya brand olahraga ternama. Jauh dari kesan sporty, memang.
Pernyataannya tetap pedas. Ia menyapa Negri Pizza dengan "zero titoli" (nol gelar untuk rival-rivalnya), mengisyaratkan bahwa ia datang ke Milan untuk mengumpulkan pundi-pundi gelar untuk tim biru-hitam.

Di kota Milan yang notabene kiblat mode dunia, Mou tampil lebih fresh. Rambut pun telah ia rapikan. Bahkan di akhir tahun 2008, ia memangkas rambutnya lebih cepak. Selebihnya, tatanannya masih sama, disisir ke kanan.
Pakaiannya mulai didominasi oleh pakaian berbahan dasar cashmere. Stelan jasnya terlihat sangat berkualitas, tentunya dengan sentuhan citarasa khas kota mode. Namun yang kian mencolok adalah jasnya. Ia lebih sangat sering menggunakan jas dengan emblem Inter Milan di dada. Jika cuaca dingin, ia sering menggunakan jaket winter yang tebal, namun tetap bernuansa Inter Milan.
Semasa menangani Inter Milan, pakaian yang dikenakan Mou memang selalu terlihat. Tapi dasi yang ia kenakan didominasi oleh corak warna kaos tim La Beneamata, biru-hitam.
Di kota mode pula Mourinho mulai sering keluar dari pakem gaya berbusananya. Setelan jas yang berwarna gelap tetap melekat, kemeja juga masih sering ia gunakan. Namun ia tak lagi sering menggunakan sepatu pantofel resmi. Ia lebih sering menggunakan sepatu santai nan formal.
Padu-padan yang pas memang menjadi khas Mou masa itu. Mungkin kehidupan dan gaya berbusana masyarakat kota mode sedikit banyak sudah mempengaruhinya. Jam tangan formal yang biasa ia kenakan pun lambat laun ditinggalkan. Mou lebih sering menggunakan jam tangan sporty yang tetap matching dengan stelan jasnya.
Menjajal La Liga
Madrid ingin sekali merengkuh gelar juara Liga Champions yang ke 10. Tugas berat itu dibebankan kepada pelatih kelahiran Setubal, Portugal tersebut. Gelar La Decima bukan tugas sembarangan. Menyematkan patch BoH di lengan bukan perkara mudah, karena pasca musim 2001-2002 Madrid belum pernah menggantinya.
Mungkin beban tersebut sangat menyita perhatian dan pikiran Mourinho, sampai-sampai ia tak terlalu fokus dengan penampilannya. Mungkin juga karena keluarganya. Karena sebelum kepindahannya ke Madrid, biduk rumah tangga Mou diisukan diambang perceraian.
Walaupun masih sering mengenakan stelan jas, namun saat melatih Madrid Mourinho lebih sering menggunakan apparel sponsor Real Madrid. Tak jarang di berbagai kesempatan pun Mou lebih sering menggunakan kaos latihan, poloshirt, jaket allweather, ataupun sweater bermerk Adidas, sponsor apparel Real Madrid. Dasi yang sebelumnya sering menghiasi lehernya perlahan ia ganti dengan scraf berbahan wool.Rambutnya mulai didominasi warna putih, dan terlihat agak panjang. Rambutnya sangat sering menutupi daun telinganya. Jarang sekali rambutnya tersisir rapi, malah terkesan hanya ia sisir dengan jari-jari tangannya.
Mou mulai sedikit brewokan. Tak begitu panjang memang, namun sangat jauh dari kesan Mourinho sebelumnya yang selalu tampil dandy. Pernyataan-pernyataan kontroversial memang masih sering keluar dari mulutnya, namun dengan intensitas rendah. Quote-nya yang dulu selalu menggebu-gebu dan terkesan arogan, berubah menjadi pernyataan-pernyataan dingin, tapi tetap memancing emosi lawan.
Beban La Decima memang selalu mengganggu tidur. Alhasil, walaupun intensitas pernyataan pedasnya mulai berkurang, tingkah laku kontroversialnya lah yang justru sangat diingat publik. Melayangkan tangan ke wajah Tito Villanova kala melakoni El Classico, dan juga melakukan selebrasi gol di depan bench Villareal tentunya masih melekat di ingatan. Satu lagi perubahan dari Mourinho yang kita kenal.
Back To London
Tak kunjung mempersembahkan gelar La Decima untuk Madrid, Mou akhirya hengkang dari Santiago Benabeu. Kini ia menangani Chelsea lagi. Kembali ke London lagi.
Usianya sudah menginjak 50 tahun. Namun, gaya berpenampilannya kian biasa, lusuh dan kurang tertata. Rambutnya yang sebelumnya selalu rapi, kini terkesan acak-acakan. Padahal, kini rambutnya tak sepanjang saat menangani Los Galacticos. Penampilannya saat menemani anak asuhannya latihan memang masih sporty, tapi saat hari pertandingan, Mou jauh kesan matching.
Raut mukanya yang dulu selalu terlihat segar, juga kini sering terlihat kurang bergairah. Mou di usia 50 kian dingin dalam bersikap dan berpenampilan. Entah mengapa, Mourinho kini jauh dari kesan sumringah. Ia jarang berbicara panjang lebar kepada media selayaknya dulu.
Di hadapan reporter, seusai berbagai hasil laga yang tak mengenakkan, pun Mou seakan menggigit lidahnya. Di enam bulan ini ia tak mau menyenangkan media Inggris lagi dengan kicauan-kicauan nyaringnya. Padahal kedatangan keduanya dinanti oleh publik yang mendambakan drama, drama, dan drama sepakbola, dengan Mou sebagai aktor utama.
Jadi, ada apa dengan Mou? Rindukah ia pada cita rasa masakan Portugal? Bukankah kau selalu suka bebas berjalan-jalan tanpa diganggu orang-orang di London, Mou?
Mourinho memang sudah sepuluh tahun merantau, mencari sesuap nasi di negeri orang, layaknya bangsa Portugis yang giat melakukan pelayaran.
Nah, ketika sudah sepuluh tahun merantau, apakah sudah saatnya Mou pulang ke kampung halamannya? Ada pepatah mengatakan merantaulah agar kau tahu kenapa kau harus pulang. Jika dalam beberapa tahun ke depan tak kunjung memberikan gelar untuk Chelsea, apakah pulang ke kampung halaman jadi jawaban atas pertanyaan "apa selanjutnya?" untuk Mou?
Β

====
*akun Twitter penulis: @SigtPrasetyo dari @panditfootball
(roz/a2s)











































