sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Sabtu, 15 Feb 2014 08:55 WIB

Di Bawah Lindungan Stadion

- detikSport
Ilustrasi: Getty Images Ilustrasi: Getty Images
Jakarta -

Di negeri rawan bencana seperti Indonesia, stadion selalu menjadi tempat para pengungsi mencari perlindungan.

Di jam-jam pertama letusan Gunung Kelud dua malam lalu, saya melihat bupati Blitar, Heri Nugroho, berbicara langsung di televisi kalau dirinya sedang berada di Stadion Nglegok bersama sekitar 2 ribu pengungsi. Alasannya jelas: di tengah hujan abu dan kerikil, berlindung di bawah atap rumah amat berisiko.

Stadion Nglegok sebenarnya belum selesai dibangun. Pembangunannya sempat tersendat karena persoalan dana. Namun, sebagian infrastukturnya sudah jadi dan beberapa tribun sudah dibangun. Bahkan sebelum para suporter menikmati tribun stadion, para pengungsi korban letusan Gunung Kelud sudah lebih dulu merasakan perlindungan atap-atapnya

Sampai tulisan ini dibuat, beberapa stadion di sekitar Gunung Kelud juga sudah disiapkan sebagai shelter perlindungan bagi para pengungsi. Di antaranya Stadion Rejoagung di Tulungagung dan Stadion Supriyadi di Kotamadya Blitar.

Dalam sebulan terakhir, stadion-stadion di Indonesia memainkan peranannya sebagai rumah kedua bagi para pengungsi korban bencana: Stadion Maka Mehuli di Kabanjahe untuk para pengungsi letusan Gunung Sinabung, Stadion Tugu di Jakarta Utara untuk para pengungsi banjir di Jakarta, sampai Stadion Kota Batik di Pekalongan untuk para pengungsi banjir di Pantura.

Ingatan saya terus memanjang ke tahun-tahun lebih belakangan. Stadion Maguwoharjo di Sleman menjadi shelter raksasa tempat berlindung warga Sleman selama letusan Gunung Merapi pada 2010 lalu. Stadion Sultan Agung di Bantul menjadi rumah kedua bagi warga Bantul yang rumahnya lantak oleh gempa tektonik pada 2006 silam.

Saya ada di Jogja di hari-hari sekitar dua bencana itu.

Tiga hari setelah gempa Jogja itu, usai melakukan pemetaan kebutuhan warga di sekitar Imogiri, saya singgah di Stadion Sultan Agung. Sambil mengaso, saya duduk-duduk di pelataran Stadion Sultan Agung. Matahari sudah hampir surut. Saya melihat beberapa anak kecil bermain bola. Salah seorang dari mereka mengenakan jersey timnas Brasil bertuliskan nama Ronaldinho.

"Puji Tuhan! Sebentar lagi Piala Dunia. Malam tidak akan terlalu menyedihkan bagi para pengungsi," ujar seorang teman.

Gempa hebat yang meratakan ribuan rumah di seputaran Yogyakarta itu terjadi pada 27 Mei 2006, kurang 2 pekan dari pembukaan Piala Dunia 2006 di Jerman. Dan benar saja: begitu Piala Dunia dimulai, hampir semua shelter pengungsian akan ramai saat malam hari dengan acara nobar Piala Dunia. Sehari sebelum Piala Dunia dimulai, PLN berusaha keras menghidupkan aliran listrik di wilayah gempa.

Alam mengirimkan bencana. Tuhan "mengirimkan" sepakbola sebagai pelipur lara.

Saat Liberia memasuki perang sipil yang kedua kalinya, pasukan pemberontak berhasil memasuki ibukota Monrovia pada pertengahan 2003. Angkatan Bersenjata Liberia terpaksa menyingkir. Begitu penguasaan Monrovia jatuh ke pasukan pemberontak, ribuan penduduk Monrovia berbondong-bondong meninggalkan rumahnya dan berkumpul di Samuel K. Doe Stadium.

Markas timnas Liberia berkapasitas sekitar 40 ribu kursi itu mendadak dipenuhi oleh 50 ribu pengungsi. Di hari-hari pertama, saat bantuan kemanusiaan masih sangat terbatas, puluhan ribu orang harus berbagi sebuah jamban. Mereka tidur, memasak, dan saling mengobati di ruang kecil di bawah tribun penonton.

Marcus Sawyer, salah seorang pengungsi, memberi kesaksian: "Bahkan dalam mimpi yang paling liar sekali pun, saya tak pernah membayangkan akan berakhir seperti ini: berbagi sebuah jamban dengan ribuan orang."

Saya pernah mendengar kisah serupa, tapi bukan dari Afrika yang jauh.

Saat melakukan riset di Ambon tahun lalu, saya beberapa kali mendengar kisah bagaimana ribuan warga Ambon mengungsi ke Stadion Mandala Remaja di Karang Panjang saat konflik meledak di ibukota Maluku pada awal dekade 2000-an. Ribuan orang mengungsi dan berlindung di lapangan yang dibangun pada awal dekade 1970-an di era kepemimpinan Gubernur Soemitro.

Mereka tinggal berbulan-bulan lamanya. Mereka mandi dan tidur di sana. Ibu-ibu memasak di sudut-sudutnya. Tribun-tribun dipenuhi rumput liar. Saya mendengar cerita bagaimana para pengungsi sampai bercocok tanam dan beternak di atas rumput yang pernah diinjak legenda-legenda sepakbola Indonesia, dari Simson Rumahpasal, Yoppie Lepel atau Jacob Sihasale, sampai generasi 1980-90an seperti RochyPutiray, Yongky Kastanya, Chairil Anwar Ohorella, sampai Imran Nahumarury.

Ribuan korban konflik lainnya mengungsi ke luar pulau. Ribuan pengungsi yang pergi ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, ada yang ditempatkan di Stadion Bau-bau. Ada juga yang mengungsi ke Kupang dan sebagian di antaranya ditampung di kompleks Stadion Merdeka, Kupang.

Simaklah saat terjadi konflik di Poso. Pada tahun 2000 itu, penduduk Poso yang mengungsi ke Palu sebagian terbesar ditampung di Stadion Gawalise. Kandang Persipal Palu itu menjadi tempat berlindung para pengungsi Poso, beberapa bulan sebelum Stadion Mandala Remaja di Ambon dibanjiri para pengungsi.

Stadion, dengan meminjam sebaris kalimat Rendra dari sajak berjudul Gerilya, seakan menjadi "bendungan keluh dan bencana".

***

Heysel di Belgia, Hilsborough di Inggris atau Al-Masry di Mesir adalah tragedi yang tak mungkin dilupakan. Bagi keluarga mendiang, stadion-stadion itu mungkin saja menerbitkan semacam topo-phobia, rasa cemas yang terkait sebuah tempat yang menerbitkan kenangan sedih yang tak terpermanai.

Tak bisa disangkal, stadion kadang kala menjadi "tempat pembantaian". Kisah terbunuhnya suporter dalam kekerasan di tribun bukanlah cerita langka. Setiap tahun, ada saja cerita sedih nan berdarah yang lahir dari tribun-tribun stadion. Tak usah jauh-jauh merujuk stadion-stadion di negeri yang jauh, tengok saja stadion di tanah air sendiri.

Stadion Sultan Agung, yang menjadi tempat bernaung para pengungsi korban gempa pada 2006, akan dikenang dengan rasa pedih oleh keluarga almarhum Jupita, yang harus menghembuskan nafas terakhirnya usai bentrokan antarsesama suporter Persiba Bantul beberapa hari lalu.

Stadion Sultan Agung di Bantul, dengan cara yang getir, menjelaskan bagaimana fungsi "merawat kehidupan" dan "menamatkan kehidupan" bisa berlangsung di tempat yang sama: stadion sepakbola.

Saat agresivitas sedang menghumbalang di tribun, stadion menjadi ladang persemaian naluri nekrophilia -- hasrat yang menggelorakan intimitas pada kematian. Saat atap-atap tribun menjadi tempat berlindung para pengungsi, stadion seakan menguarkan aroma biophilia – hasrat yang ingin merawat kehidupan.

Barangkali, posisi stadion seperti itu dengan caranya sendiri mengungkapkan watak sepakbola yang memang paradoks: menyatukan sekaligus memisahkan, agresivitas yang coba dikendalikan oleh sportivitas, mempertemukan sistem dan taktik permainan yang terancang dengan pemujaan atas skill individu yang tak terduga, mempertautkan semangat komunitarian di tribun dengan ideologi kapitalisme di kantor-kantor klub….

Saya teringat pada karakter Gonzales dalam novel Albert Camus berjudul The Plague. Gonzales adalah imigran di kota Oran yang berprofesi sebagai pemain bola. Akan tetapi, begitu wabah sampar pelan tapi pasti mencabut nyawa warga Oran satu per satu, Gonzales bersalin rupa: dari pemain bola menjadi tukang catut yang malah sibuk mengumpulkan uang dengan menjadi penyelundup. Saat orang-orang menderita, dia malah sibuk jadi pengepul harta.

Saat wabah sampar semakin tak bisa dibendung, otoritas kota memutuskan mengisolasi para pengidap agar tidak menularkan penyakitnya. Mereka, para pengidap sampar yang sedang menghitung hari-hari terakhirnya, dikarantina di stadion sepakbola terbesar di kota Oran.

Salah satu scene paling sublim dari The Plague adalah ketika Gonzales bersedia menjadi sukarelawan. Dan dia memilih menjadi sukarelawan justru di tempat yang paling beresiko sekaligus tempat yang paling sentimentil baginya: stadion sepakbola.

Gonzales tiba di stadion untuk memulai tugasnya sebagai sukarelawan pada satu senja di akhir pekan, pada jam-jam di mana dirinya (dalam kata-kata Gonzales) "biasanya sedang berganti pakaian untuk memulai pertandingan". Dengan penuh penyesalan, Gonzales mengangkat hidungnya ke atas sambil membayangkan bau ramuan pijatan di kamar ganti, tribun yang sesak oleh penonton, riuh rendah dengungan suporter yang tak henti-hentinya bernyanyi, seragam yang berwarna menyala di lapangan yang rumputnya agak kecoklatan, jeruk yang dibagikan saat jeda pertandingan….

Bagi Gonzales agaknya sudah jelas: stadion menjadi penemuan kembali kemanusiaannya yang akhirnya memilih untuk mencoba merawat kehidupan sebisa-bisanya. Melalui pilihan akhir Gonzales itu, Camus dengan lembut mengungkapkan apa yang kelak menjadi salah satu kutipannya yang paling masyhur sekaligus telah menjadi klise: "Untuk segala yang saya ketahui tentang moralitas dan tanggungjawab, saya berhutang pada sepakbola."

Tapi pada saat yang sama, sejak hari itu, ingatan Gonzales tentang stadion di kota Oran juga diselimut aura getir yang tak akan bisa dilupakan: sampai kapan pun dia akan ingat orang-orang sekarat yang satu per satu menghembuskan nafas penghabisan di lorong-lorong stadion, di bangku-bangku tribun dan di atas hamparan rumput.

Saya ingin mengingat stadion sebagai tempat yang indah. Saya tak sudi terkenang hal-hal muram saat memasuki sebuah stadion. Itu saya. Entah dengan Anda. Lagipula, terkadang, hal buruk atau hal baik datang sekonyong-konyong tanpa sempat memberi kita pilihan.



====

* Penulis adalah chief editor @panditfootball . Akun twitter: @zenrs



(a2s/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com