Maracazano (Bagian 2): Ketika Selecao Berduka Seumur Hidup

- Sepakbola
Selasa, 25 Feb 2014 08:22 WIB
Getty Images
Jakarta -

[Ini adalah lanjutan dari tulisan ini: Sebuah Tragedi di Tanah Brasil]


Seusai kekalahan dari Uruguay, stadion yang digadang-gadang menjadi gereja sepakbola dunia itu sunyi. Teriakan kegembiraan Uruguay tak terdengar meski seisi stadion senyap karena tangis duka. "Kesunyian yang menyesakkan," ujar Julies Rimet menggambarkan suasana Maracana usai laga itu.

Sang presiden FIFA kala itu sigap dan bijak. Ia enggan menyakiti Brasil yang sudah terluka. Rimet memang menyerahkan trofi Piala Dunia ke Uruguay, tapi tanpa podium dan seremoni pengalungan medali. Bahkan tak ada panitia dalam prosesi itu sehingga Rimet sendiri yang harus memanggil Varela. Tropi pun diberikan Rimet kepada Varela dengan kesan sembunyi-sembunyi.

Julius Rimet juga membatalkan sesi pidato sebelum pemberian trofi. Pidato berbahasa Portugal, yang sudah ia siapkan untuk kemenangan Brasil, itu sama nasibnya dengan ke-22 medali yang terukir nama pemain Selecao. Tak pernah disampaikan hingga kini.

Tangis di Maracana kian tragis usai Uruguay menerima trofi. Dua orang ditemukan tewas bunuh diri dengan meloncat dari atas tribun yang penuh sesak. Tiga orang yang meninggal karena serangan jantung. Petugas medis stadion mencatat ada 165 orang yang mereka rawat. Sebagian besar dari mereka pingsan karena histeris dengan kekalahan menyakitkan. Yang jatuh karena berdesakan di stadion tercatat hanya enam dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Duka itu ternyata berkepanjangan bagi rakyat Brasil. Laga itu pun menjadi tragedi yang teramat sulit diterima secara kolektif. Maka, untuk meredakan kemarahan dan kesedihan tersebut, perlu ada kambing hitam yang bisa dikorbankan. Kiranya mesti amarah di dada jutaan penduduk Brasil itu diarahkan pada satu hal: para pemain.

Tak heran setelah Piala Dunia itu pemain-pemain Selecao dikucilkan, sementara para pemain utama akhirnya pensiun diam-diam dari sepakbola.

Sepanjang sejarah sepakbolanya, Brasil sebenarnya sering kali mengalami kekalahan yang berbekas. Salah satu kuat terbaiknya sepanjang masa dikalahkan oleh Italia pada Piala Dunia 1982. Sementara pada final 1998 Il Phenomeno jatuh dan terkena penyakit yang aneh. Demikian pula dengan kekalahan menyesakkan dari Belanda pada 1974 atau pada 1990 dari rival terberatnya, Argentina.

Namun memang tak ada yang mampu menyamai skala kepedihan yang ditimbulkan oleh Maracazano. Saking pilunya duka yang ditanggung oleh rakyat Brasil, bahkan sang pencetak gol kemenangan Uruguay, Ghiggia, pun bersedih untuk rakyat Brasil. "Saya memang senang mencetak gol. Tapi, ketika melihat ke tribun-tribun stadion, saya melihat orang-orang menangis tidak terkontrol. Saya tidak bisa tidak merasa sedih," ujar Ghiggia.

Federasi sepakbola Brasil, CBF, yang masih marah membuat beberapa aturan baru. Peraturan yang sebenarnya bertujuan untuk melupakan aib itu. Warna putih-putih dihilangkan dari jersey mereka dan digantikan oleh kuning-biru.

Kiper berkulit hitam dilarang menjadi penjaga gawang tim nasional. Pemain-pemain yang pernah turun, meski hanya sebagai pemain pengganti beberapa menit, dilarang membela tim nasional di Piala Dunia. Mereka yang masih dianggap bertaji seperti Ademir dan Zizinho, hanya boleh membela Timnas di level Copa America.

Dari seluruh skuat Brasil 1950, hanya terpilih dua pemain muda ke Piala Dunia berikutnya, yakni pemain muda Nilton Santos and Carlos Jose Castilho. Itu pun karena mereka tak pernah bermain sekalipun di turnamen tragis itu. Tapi keduanya tetap dianggap punya dosa lama. Santos dan Castilho tak diberi medali Piala Dunia 1958 dan 1962. Meski keduanya jelas-jelas ikut turun di dua edisi tersebut.



Butuh berpuluh-puluh tahun bagi rakyat Brasil dan CBF untuk berinstropeksi. Mereka mulai sadar dan memaklumi luka tersebut setelah di tahun 2006 resmi ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Mereka mengakui aib itu tak semata karena pemain tapi pengurus dan petinggi CBF untuk Piala Dunia 1950 juga sedikit banyak bisa disalahkan. Terutama karena permintaan mereka akan format kompetisi.

Kala itu penunjukkan tuan rumah Piala Dunia usai Perang Dunia Kedua membuat bargaining position Brasil tinggi di mata FIFA, sehingga CBF mengajukan format anyar. Mereka tak mau format turnamen di Piala Dunia 1934 dan 1938 digunakan kembali. Sebab dua Piala Dunia sebelumnya, yang menganut fase knock out, hanya menghasilkan total 16 pertandingan. Itu pun sudah menghitung partai final.

Format yang diajukan Brasil adalah 16 tim dibagi ke dalam empat grup di babak penyisihan. Selanjutnya, juara grup diadu lagi dan saling bertemu di putaran final. Tak ada fase knock out. Pemimpin klasemen dari putaran final-lah yang akan menjadi juara.

Julies Rimet awalnya menolak karena permintaan tersebut didasari strategi bisnis dan pengeruk keuntungan semata. Jumlah pertandingan yang lebih banyak memang akan berbanding lurus dengan tiket yang terjual. Namun ia dan FIFA terpaksa mengabulkan permintaan itu karena CBF mengancam akan mundur sebagai tuan rumah Piala Dunia.

Permintaan itu disadari oleh pengurus CBF dan Brasil sekarang sebagai kesalahan. Kekalahan Brasil dari Uruguay tak lepas dari terkurasnya stamina mereka yang merupakan imbas dari sistem round robin usai penyisihan. Memang, faktanya sebelum di laga pamungkas, Brasil bertanding dua kali lebih banyak ketimbang sang lawan.

Kini, beberapa usaha untuk mengobati luka dan memulihkan nama baik pemain yang pernah dicaci terus dilancarkan CBF dan Brasil. Yang paling menarik adalah 2007 lalu, atau tepat setahun usai mereka ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. CBF memberikan medali anumerta kepada Nilton Santos dan Carlos Castilho sebagai pengganti medali Piala Dunia 1958 dan 1962.

Tapi, sejauh apapun usaha Brasil itu, Maracazano memang sulit untuk dilupakan. Yang bisa dilakukan Brasil saat ini adalah menahan ekspektasi tinggi seperti sebelum final 1950. Itu jika memang mereka tak ingin mendapatkan luka yang sama.




====

* Akun twitter penulis: @fjrhman dari Pandit Football Indonesia

(a2s/cas)