Maracanazo (Bagian 3): Hukuman Brasil untuk Ademir Sang Legenda

- Sepakbola
Rabu, 26 Feb 2014 13:40 WIB
ist.
Jakarta -

[Ini adalah lanjutan dari tulisan ini: Ketika Selecao Berduka Seumur Hidup]


Brasil, katanya, adalah negara tempat sepakbola indah dipuja. Tanah yang melahirkan seniman-seniman lapangan hijau yang mengajarkan jogo bonito. Tapi, di balik kemeriahan tarian dalam sepakbola itu, jarang ada yang mengingat bagaimana Brasil bisa sedemikian dinginnya menghukum salah satu legendanya sendiri, Ademir de Menezes Marques.

Jika Anda mengerenyitkan dahi ketika mendengar nama Ademir, itu karena amat jarang yang tahu ataupun membahas sosoknya. Nama Ademir tenggelam di antara Pele, Garrincha, Zico, Socrates, duo Romario-Bebeto, atau sang il phenomeno Ronaldo yang acap kali disebut dalam pembicaraan tentang sepakbola Brasil.

Sedikitnya pembahasan mengenai Ademir memang dapat dimaklumi. Bukan karena ia terlalu lampau untuk dingat-ingat, tapi lebih karena nama Ademir ada di antara batas terlupakan dan dilupakan.

Memang, Ademir, dan segenap skuat Selecao 1950 yang gagal merebut piala dunia di hadapan rakyat Brasil, sejarah dan kiprahnya dikebiri oleh negaranya sendiri. Sebab, gagal menjadi juara di tanah sendiri kala itu adalah aib besar. Bak national disaster yang kemudian menjadi trauma negara. Mengendap di alam bawah sadar dan marah hebat kala diungkit kembali, terutama kala Uruguay memplesetkannnya menjadi Maracanazo.

Rakyat Brasil memang kecewa besar dengan tim nasionalnya saat itu. Maracana yang dibangun dengan misi menjadi gereja sepakbola di muka bumi malah menjadi kuburan kesedihan masal gegara ulah tim nasional.

Bunyi meriah genderang karnaval yang terdengar selama sebulan di sudut-sudut stadion, menjadi sunyi di 16 Juli 1950. Maracana yang digadang-gadang terbesar di planet bumi, seolah menciut. Sesak di dada rakyat Brasil kala itu bahkan melebihi sesaknya over capacity 50% lebih dari kapasitas stadion.

Mereka kecewa, Brasil gagal menjadi juara karena kalah 1-2 dari Uruguay.

Headline koran pun berbalik drastis dalam sehari. Sebelumnya kata-kata heroik seperti "Kita akan kalahkan Uruguay!", yang ditulis Gazeta Esportiva Sao Paul, atau "Inilah Juara Piala Dunia", yang dipasang oleh Rio’s O Mundo, menjadi standar pemberitaan media. Tapi ini berubah 180 derajat keesokan harinya.

"Ini Hiroshima Kami!", "Tragedi Terbesar Dalam Sejarah Brasil" dan sejenisnya lah yang terpampang di tajuk utama.

Kekalahan dan kekecewaan itu kemudian berbuntut pengebirian skuat Brasil 1950. Tak ada satu pun yang dipanggil lagi membela tim nasional untuk Piala Dunia selanjutnya. Sejauh apapun kiprah para pemain pada level klub, mereka tak akan bisa menjadi headline koran setempat. Nama Ademir dan teman-temannya hanya akan mengingatkan luka lama, sehingga perlu dilupakan.

Masyarakat Brasil pun merasa perlu untuk mengingatkan kesedihan itu secara langsung pada segenap skuat Selecao. Dalam satu kesempatan, Ademir dan beberapa rekan-rekannya berjalan di pusat pertokoan. Seorang ibu berjalan bersama anaknya berpapasan dengan mereka. "Lihat, mereka itu yang membuat seluruh Brasil menangis," ketus wanita itu sambil menunjuk Ademir.

Ademir yang harusnya menjadi legenda juga dianggap tak pernah ada. Sepak terjang mentereng Ademir di Piala Dunia 1950 tak pernah dibahas. Brace yang dicetaknya pada laga perdana ke gawang Meksiko tak pernah menjadi cerita. Quattrick-nya ke gawang Swedia di final round juga berlalu begitu saja.



Julukan 'Queixada' (Si Hiu) bagi Ademir –muncul karena teriakan gol Ademir membuat tulang rahangnya terlihat seperti Hiu yang akan menerkam-- tak pernah disebut lagi. Kesuksesan menjadi top skor dengan delapan gol, yang jelas-jelas satu gol lebih banyak dari top skor Brasil di Piala Dunia 1938, Leonidas, tak dianggap.

Kekalahan 1-2 itupun disikapi rakyat Brasil dengan naif. Mereka tak memerdulikan faktor-faktor lain dari kekalahan tersebut. Bagi mereka, kalah ya kalah. Apapun alasannya, bagaimanapun caranya. Padahal, jumlah pertandingan Brasil sebelum final lebih banyak dan cukup menguras stamina. Sementara itu Uruguay hanya melakoni tiga partai. La Celeste diuntungkan dengan mundurnya Prancis sehingga mereka hanya bertanding sekali saja pada babak penyisihan. Sementara Brasil harus berjibaku pada lima partai sebelum ke final.

Kekecewaan mendalam Brasil akan para seniman bolanya ini mungkin karena mereka terlalu berharap tinggi. Brasil kala itu ingin sekali mencicipi Piala Dunia yang pertama kalinya. Apalagi sebelum piala dunia Ademir dan Seleccao 1950 tampil begitu perkasa. Mereka bermain di kandang sendiri dengan modal gelar juara Copa America setahun sebelumnya. Kedigdayaan Samba pada babak penyisihan dilanjutkan di final round dengan menang besar atas Swedia (7-1) dan Spanyol (6-1).

Rakyat Brasil pun kian terbuai harapan dengan fakta kalau timnya hanya butuh hasil imbang dari Uruguay untuk menjadi juara Piala Dunia pertama kalinya. Tapi, rakyat Brasil tak pernah sadar bahwa ekspektasi pada Seleccao-nya terlalu ‘sundul langit’. Dan, itu menyakitkan kala akhirnya “Si Biru Langit” lah yang menjatuhkan mereka dari ketinggian. Jatuh jauh dari prediksi yang diharapkan.

Sampai Akhir Hayat

Seiring waktu berjalan, nama Ademir pun bergeser dari yang sengaja dilupakan menjadi sedikit manusiawi; terlupakan. Adalah Pele dan Garrincha yang membuat nama Ademir menjadi terlupakan. Luka rakyat Brasil selama delapan tahun terobati berkat keduanya. Gocekan Pele dan Garrincha mengantarkan gelar Piala Dunia 1958 dan 1962, dan nama Ademir dkk tenggelam dalam kesuksesan itu.

Keperkasaan Brasil di sepakbola pun lambat laun berbanding lurus dengan terlupakannya Ademir. Pele lah yang kemudian disebut selalu, legenda nomor satu dan role model dari para calon bintang sepakbola Brasil. Tengok saja Zico yang kemudian melegenda dan digelari Pele Putih.
 
Ya, Zico kemudian menjadi legenda, sementara Ademir tidak. Padahal kalau ukurannya adalah torehan prestasi, Zico tak lebih baik dari Ademir. Kalau Ademir hanya sekali gagal, si Pele Putih malah nirgelar bersama Seleccao di tiga edisi Piala Dunia.

Namun, legenda tetaplah legenda. Sejarah tentangnya akan tetap ada, seberapun Brasil ingin menghapus namanya. Begitu juga dengan Si Hiu satu ini.

Semenjak 2006 lalu, atau tepatnya usai Brasil ditunjuk menjadi tuan rumah kembali, nama Ademir dan rekan-rekannya mulai muncul kembali ke permukaan. Beberapa dokumentarian mencoba menggali lebih dalam tentang skuat gagal ini. Salah satunya film dokumenter khusus tentang Ademir, Um Artilheiro No Meu Coracao (Sang Top Skor di Hatiku). Film ini sempat diputar di Brazilian Film Festival of London, Oktober 2013 lalu.



Maksud dokumentarian Brasil untuk menggali kembali sejarah sepakbolanya kali ini cukup bijak. Mereka hanya ingin rakyat Brasil belajar dari kekalahan dan kegagalan, dan tidak lagi membebankan ekspektasi berlebihan yang dipasang pada Seleccao di 2014 ini. Mereka tak ingin Neymar cs harus dilupakan atau terlupakan seperti Ademir.


====

* Akun twitter penulis: @fjrhman dari Pandit Football Indonesia

(din/mrp)