Maracanazo (Bagian 4): Kisah Sedih Kiper Tersial Sepanjang Masa

- Sepakbola
Rabu, 26 Feb 2014 15:50 WIB
ist.
Jakarta -



[Ini adalah lanjutan dari tulisan: Hukuman Brasil untuk Ademir Sang Legenda]



Hanya butuh beberapa detik untuk membuat dua orang bunuh diri dengan meloncat dari atas tribun. Hanya butuh beberapa detik untuk membuat jutaan orang warga Brazil menangis. Hanya butuh beberapa detik bencana yang semirip nuklir 'Hiroshima' meledak di Rio De Janeiro. Dan hanya butuh seorang Moacir Barbosa untuk melakukan semua itu.

Tanggal 16 Juli 1950, sore cerah di langit Rio De Janeriro, tetapi suasana malah sunyi dan senyap. Hiruk pikuk manusia rehat untuk sejenak. Sebanyak 200.000 ribu orang silih berdesakan terfokus melihat 22 pemain bertarung di rumput hijau Maracana. Jutaan sisanya asyik menyimak pertandingan lewat radio, ya walaupun hanya lewat audio mereka tetap khusyuk menyibak khotbah dari gereja Maracana.

Angka jam di stadion menunjukan 16:33. Pada menit itulah bencana tercipta. Petaka yang berulang, karena 15 menit sebelumnya petaka pertama terjadi. Petaka yang dilakukan oleh dua orang berbeda - Juan Alberto Schiaffino dan Alcides Ghiggia. Petaka pertama dilakukan Schiaffino di menit 66. Petaka kedua dilanjut Ghiggia di menit 79.
 
Roberto Muylaert, penulis biografi Moacir Barbosa dalam buku berjudul 'Um Gol Faz Cinquenta Anos', membandingkan rekaman video di laga penentuan itu dengan rekaman saat Presiden John F Kennedy ditembak Lewis Old Haswey. "Pola dramatis yang sama, gerakan yang sama, presisi yang sama dengan lintasan yang tak terbendung," tulisnya dengan nada yang plastis.
 
Dan yang pasti jika tembakan Lee Harvey Oswald membuat rakyat Amerika bersedih hati, maka tembakan yang dilakukan Ghiggia kepada Barbosa bagi masyarakat Brazil pun sama rasanya.

Sekilas jika kita memperhatikan tayangan di Youtube, apa yang dikatakan Muylaert ini benar adanya. Dua kali gol yang bersarang di gawang Barbosa terjadi lewat pola yang sama. Lawan menggiring bola ke sisi kanan.

Di posisi yang sama pula, mereka melepaskan tembakan ke arah sudut yang sama. Gol pertama sulit ditepis karena bola yang ditendang lewat tendangan voli mengarah sudut pojok atas. Dan gol kedua, Barbosa sebenarnya bisa berhasil mengantisipasinya. Tapi ia gagal. Keteguhannya untuk tak memakai sarung tangan malah membuat hidupnya terbayang-bayang mimpi buruk hingga matinya.



Brazil tumbang oleh Uruguay, pada partai final Piala Dunia 1950, di kandang sendiri, di Stadion Maracana yang agung dan beraura itu.

Kiper Berkulit Hitam Sebagai Kambing Hitam.

Pascagol Ghiggia, Barbosa hanya tengkurap tak berdaya di depan gawang. Teman-temannya tak ada yang berusaha menghibur atau memberikan semangat kepadanya. Dari sanalah awal mula dari penderitaan Barbosa. Maracana membara oleh amukan dendam dan rasa kekecewaan. Dan perlu kambing hitam untuk melampiaskan semua itu. Lantas jika bukan kiper siapa lagi?

Kejayaan Brazil bertumpu pada kebencian orang kepadanya. Karena itu juga Mario Zagallo mengusirnya saat ia berkunjung ke kamp pelatihan timnas di tahun 1994. Barbosa bak seperti jadi memedi bagi para kiper-kiper di Brazil. "Berlatih yang keras hingga engkau kelak jadi seperti Gilmar Dos Santos, jika tidak maka nasibmu akan seperti Moacir Barbosa," nasihat yang kerap diberikan kepada kiper-kiper muda.

David Pastorin dalam buku 'L’ultima Parata di Moyacy Barbosa' berujar bahwa Brazil amat dekat dengan hal berbau klenik. Untuk membuang sial di Piala Dunia mereka butuh kambing berbulu hitam yang mesti dikorbankan di altar persembahan. Malangnya, Barbosa yang memang berkulit hitam memenuhi kriteria masyarakat Brazil akan hal klenik itu. Kambing hitam yang berkulit hitam.

Barbosa yang membuat nada rasial tumbuh dan dilestarikan secara berpuluh-puluh tahun di dalam timnas Brazil. Semua kiper utama timnas Brazil yang membawa trofi Piala Dunia tak ada yang berkulit hitam: Taffarel (Piala Dunia 1994), Marcos (Piala Dunia 2002), Felix (Piala Dunia 1970) dan Gilmar (Piala Dunia 1958 dan 1962).

Hal ini disinggung Richard Giulianotti dalam buku berjudul 'Football: A Sociology of the Global Game'. Ia mengatakan Barbosa sebenarnya hanya alasan kaum elit kulit putih untuk menghambat dominasi pemain berkulit hitam dalam sepakbola Brazil. Bagi kaum elit kulit putih, seorang kiper biasanya memiliki karakteristik 'kecerdasan' dan 'rasionalitas' dibandingkan para pemain di posisi lainnya.
 
Jika para striker, gelandang atau bahkan bek di Brazil punya skill menggiurkan untuk bermain secara individual, dengan emosi yang penuh, dengan kegembiraan yang alami, maka seorang kiper tak boleh begitu. Dia harus dingin, kalem, bermain dengan tenang, dan sepenuhnya dikendalikan oleh rasio. Dan semua kriteria itu ingin disinonimkan dengan kualitas kulit putih. Karena itu, pada tim nasional, posisi kiper mutlak mesti di pegang oleh kulit putih.

Permintaan Dida yang Tak Pernah Terkabulkan

Butuh waktu hampir setengah abad untuk mendobrak ketabuan ini. Adalah Nelson Dida yang memulainya saat Brazil melawan Equador tahun 1995. Harian Olahraga terbesar di Brazil Globo Esporte bahkan sampai menulis judul headline "Dida, O Homem Que o Quebrou Tabu" [Dida, orang yang melanggar tabu].

Dalam berita tersebut Dida meminta warga negara Brazil memaafkan apa yang dilakukan Barbosa. "Ini adalah saat untuk memecahkan tabu yang telah ada selama 50 tahun, Barbosa melakukan banyak hal untuk tim Brazil tapi kemudian ia ditumbalkan setelah pertandingan Maracanzo itu. Ini mengerikan. Kita harus memaafkannya," pintanya.
 
Permintaan Dida ini dianggap bak angin lalu. Tak pernah ada ucapan meminta maaf atau pemaafan kepada Barbosa dari siapapun. Pihak CBF (Asosiasi Sepakbola Brasil) tetap bisu. Mereka bahkan enggan hadir di pemakaman Barbosa saat dia dikebumikan.



Beberapa bulan sebelum ajal menjemput, Barbosa mengaku sedih karena orang tak pernah lupa dengan kejadian memalukan itu. "Orang lupa bahwa pada Piala Dunia 1974 dan 1978 kita dihina amat buruk. Dan bagaimana rasa malu itu bertambah saat dikalahkan Prancis di Piala Dunia 1998. Tetapi kenapa orang-orang tak pernah lupa dan lebih suka berbicara tentang 1950?" keluhnya.

Ya, sampai kematiannya, Barbosa harus terus menelan kepahitan. Dan kepahitan serta penghinaan itu harus juga dibawanya sampai liang lahat. Dalam kehinaannya itu ia berusaha mengabaikan cercaan orang. Barbosa memposisikan dirinya sebagai korban ketidakadilan, tapi ia juga tetap mencoba untuk melanjutkan hidupnya. Usai tragedi itu, karir sepakbolanya nyaris tak pernah kembali menorehkan tinta keemasaan. Ia hidup luntang-lantung sebagai kaum papa.

Kehidupan parianya terkenal paling menyedihkan dibandingkan pemain angkatan Maracanazo lainnya. Terlepas dari semua cobaan dan kesengsaraan, Barbosa sangat dihormati oleh orang-orang yang mengenalnya. Dia adalah pria yang sopan murah senyum, memiliki kepribadian yang ceria dan rasa humor yang baik.

Dia juga orang yang penuh kasih. Di masa tuanya itu, dia tak lelah mengumpulkan kaleng bir kosong untuk dijual dan hasil uang itu dia sumbangkan kepada sebuah organisasi amal yang memberikan kursi roda bagi orang cacat.

Kematian Tak Menghentikan Dendam

7 April 2000, Barbosa menghembuskan nafas terakhirnya karena serangan jantung. Ada yang bilang patah hatilah yang membuat ia mati terkapar. Barbosa yang malang.

"Dia tidak memiliki kedamaian selama hidupnya, tidak juga dimiliki setelah kematiannya," ucap seorang reporter televisi membuka acara. Sebuah berita heboh muncul di Majalah sepakbola Placar, Dewan Kota São Vicente mengancam akan membongkar makam Barbosa jika pihak keluarga tak membayar biaya perawatan makam senilai 160 US Dollar.
 
Mereka lupa bahwa Barbosa hidup sebatang kara, dia hanya memiliki satu anak adopsi yang kehidupan ekonominya tak beda jauh dengan sang ayah angkat. "[Dewan kota] menelepon saya mengatakan bahwa mereka membutuhkan 160 US Dollar, tapi saya tidak mampu untuk membayarnya. Saya adalah pengangguran. Kenapa mereka tidak begitu menghargai Idola? Di sisi lain warga Jepang jauh-jauh datang menziarahi makamnya," ucap Teresa Barbosa kepada Placar.

Sejatinya CBF bisa saja ikut turun tangan akan masalah ini. Apalah arti uang 160 Dollar bagi CBF jika mereka mampu meraup puluhan juta dollar dari sepakbola. Tapi mereka enggan. Keengganan itu bukti kebencian kepada Barbosa tetap dipupuk walaupun dia telah tiada.

"30 tahun adalah hukuman penjara paling lama di Brasil. Tapi saya seperti dipenjara selama 50 tahun," itulah kutipan kepedihan terkenal dari seorang Moacir Barbosa.

====

* Akun twitter penulis: @aqfiazfan dari Pandit Football Indonesia

(din/mrp)