Maracanazo (Bagian 5): Dewa yang Meruntuhkan Maracana

- Sepakbola
Kamis, 27 Feb 2014 16:22 WIB
ist.
Jakarta -


[Ini adalah lanjutan dari tulisan: Kisah Sedih Kiper Tersial Sepanjang Masa]


Membiarkan yang lain berada di depan saat merayakan kemenangan, tapi menjadi yang terdepan saat marabahaya datang. Maka, orang lain akan menghargai engkau sebagai seorang pemimpin. –Nelson Mandela.

Mengalahkan Brasil di depan 200 ribu pendukungnya sendiri bisa jadi kemustahilan. Maka, jika ingin mematahkan ketidakmungkinan itu, perlu ada satu sosok spesial seperti Obdulio Varela. Satu sosok yang sangat pas jika digambarkan dengan ucapan Mandela di atas.
 
Varela adalah kapten sekaligus pahlawan Uruguay. Meski nama Juan Alberto Schiaffino dan Alcides Edgardo Ghiggia yang tercatat dalam sejarah sebagai pencetak gol ke gawang Brasil, tapi kontribusi Varela sendiri tidak dapat dilupakan sampai kapan pun.

Sebagai half back, atau poros halang (defensive midfielder), Varela memang memasang badan paling depan dalam memutus serangan dan bahaya dari lawan. Tapi bukan hanya karena kemampuannya itu ia menjadi legenda.

Varela merupakan sosok kapten yang disegani rekan-rekannya di La Celeste. Bukan karena ia yang paling tua dengan usianya yang 33 tahun ketika itu. Tapi ia memang memiliki jiwa kepemimpinan yang paling tinggi di antara skuat Uruguay lainnya. Diakui oleh salah satu rekan setimnya, bahwa Varela sendiri dipanggil “sir” oleh teman-temannya dan bukan menggunakan panggilan informal.

Pelatih La Celeste kala itu, Juan López Fontana, pun lebih memilih pemain kelahiran Montevideo 20 September 1917 itu untuk mengenakan ban kapten ketimbang kiper Roque Maspoli yang lebih muda sebulan darinya.

Cerdas serta mampu jadi motivator ulung adalah nilai-nilai plus yang menjadikan Varela seorang pemimpin sejati. Di dalam atau di luar lapangan, Varela sangat dihormati rekan-rekannya. Di ruang ganti pun, suara Varela lebih didengar ketimbang instruksi dari Fontana sendiri. Lihat saja bagaimana aksi Varela sebelum laga final round Piala dunia 1950, sekaligus pertandingan penentuan juara, di Stadion Maracana. Sebelum pertandingan, gegap gempita suporter Brasil di stadion membuat nyali pemain Uruguay menciut. Namun, dengan tenang Varela mengeluarkan trik cerdik untuk mengangkat kembali mental rekan-rekannya.



Sedari pagi, Varela telah memborong harian lokal Brasil, O Mundo, yang di halaman depannya terpampang foto skuat Brasil dengan tulisan “Ini Juara Dunia”. Koran itu pun lalu dibagi-bagikan Varella pada rekan-rekannya. Varela kemudian meminta mereka untuk menghamparkan halaman utama O Mundo itu di lantai kamar mandi tim tamu di Maracana. “Kalian kencingnya di sini!” ujar Varela sambil menunjuk foto skuat Brasil.

Skuat Uruguay yang semula diliputi kekalutan pun berubah menjadi riang dan penuh tawa. Mental mereka kembali terangkat karena trik cerdik sang kapten tersebut.

Aksi cerdas Varela di ruang ganti tak terhenti di situ saja.
 
Beberapa saat sebelum kick-off, Fontana memberi instruksi terkait strategi melawan Brasil. Sang pelatih meminta anak asuhnya bertahan total dari gempuran serangan pemain tuan rumah nanti, dan sesekali membalas melalui serangan balik.

Varela yang tidak setuju dengan instruksi tersebut tetap menunjukkan sikap bijak. Ia tidak serta merta menolak saran pelatih di depan anak asuhnya. Sang kapten tetap mengiyakan saran dari sang pelatih seraya meminta ijin untuk memotivasi rekan-rekannya sebelum keluar dari kamar ganti. Tapi ia memberikan syarat; tak boleh ada sang pelatih, hanya untuk pemain.
 
Tahu apa yang dikatakan Varela pada rekan-rekannya setelah Fontana pergi?

"Juancio (Fontana) adalah pelatih yang hebat. Tetapi hari ini, ia salah. Jika kita bermain defensif melawan Brasil, nasib kita tak akan jauh beda dengan Spanyol atau di Swedia," tegas Varela pada rekan-rekannya. Satu orasi dan pemberontakan bijak terhadap instruksi pelatih.

Di luar ruang ganti, gemuruh pendukung Brasil di Maracana kian meninggi karena peluit panjang akan segera dibunyikan. Dan di sela-sela waktu menuju lapangan ini Varela sempat bercerita tentang pertemuannya dengan para petinggi federasi sepakbola Uruguay beberapa hari sebelumnya. Mereka berkata pada Varela bahwa apa yang dilakukan Varela dan teman-temannya mencapai babak final sudah cukup. Yang perlu dilakukan Uruguay di lapangan adalah bermain secukupnya dan tidak membuat onar. Bahwa Uruguay pun mesti bahagia jika hanya kalah dengan kebobolan tiga atau empat gol.

Setelah bercerita, dengan tenang Varela memimpin rekan-rekannya keluar dengan kalimat motivasi yang akan selalu dikenang Uruguay hingga kini.
"Teman-teman! Lupakan orang lain. Di atas lapangan hanya ada sebelas orang lawan sebelas. Mari kita mulai pertunjukkan ini!" tegas Varela.
 
Aksi heroik Varela di hari itu kemudian berlanjut dalam pertandingan. Ketika Brasil unggul 1-0 pada menit 47 melalui gol Friaca, sempat Varela mendatangi hakim garis untuk protes. Menurutnya, Friaca saat itu sudah berada dalam posisi offside sebelum berhadapan one on one dengan penjaga Uruguay, Roque Maspoli.

Tapi asisten wasit asal Inggris, Arthur Ellis bergeming. Begitu juga dengan wasit George Reader, yang juga datang dari Inggris, tak mau mengubah keputusannya. Varela bahkan sempat meminta seorang penerjemah untuk menyampaikan ucapannya pada sang wasit, meski akhirnya perdebatan Varela dengan jajaran pengadil di lapangan ini berakhir sia-sia.

Tapi –sebagaimana diakui dalam berbagai wawancara-- Varela bukan ingin mengubah keputusan wasit. Ketika ia menghampiri hakim garis, Varela sendiri sudah tahu bahwa argumennya sia-sia. Yang Varela inginkan adalah menunda pertandingan. Baginya, riuh sorak-sorai 200 ribu penonton yang merayakan gol Friaca mesti diredam. Apapun caranya.

"Jika saat itu kami langsung memulai pertandingan, kami pasti dihancurkan Brasil," ujar Varela.

Seusai “menghentikan” suara suporter Brasil, dengan langkah tegap, Varela membawa bola ke tengah lapangan. Ia berbalik menghadap rekan-rekannya dan berteriak, “kini waktunya untuk menang!”

Teriakan itu terbukti ajaib. Dalam kurun waktu setengah jam saja, Uruguay mampu mendapatkan kemenangan melalui dua gol yang dicetak Juan Schiaffino di menit ke-66 dan Alcides Ghiggia pada menit ke-79. Bukan hanya membawa Uruguay juara, dua gol itu menjadi tragedi dan bencana nasional terbesar Brasil di Maracana.

Namun, menang di tanah Brasil mesti dibayar Uruguay dengan juara tanpa pesta. Tak ada seremonial penyerahan medali dan penyerahan trofi, meski mereka mengangkat trofi Piala Dunia. Varela, yang saat itu terpilih sebagai man of the match, mahfum. Karena ia dan timnya menjadi juara di gereja suci sang lawan. Sang kapten tak protes atau memaksa kepada panitia dan FIFA untuk diselenggarakan seremonial tersebut.



Presiden FIFA, Julies Rimet, pun bersimpati padanya. Ia mengajak Varela masuk ke salah satu ruangan stadion dan menitipkan medali Piala Dunia untuk Uruguay pada sang kapten.

Dari total enam laga yang dimainkan Uruguay di Piala Dunia 1950 itu, Varela memang hanya mencetak satu buah gol. Tapi satu-satunya gol yang ia cetak adalah gol penting penyelamat Uruguay dari kekalahan saat meladeni Spanyol. Poin pertama di final round itu pula lah yang membuat mereka memiliki peluang menjadi juara.

Varela, Uruguay dan Piala Dunia seolah sudah tertakdirkan sepaket. Faktanya, La Celeste tak pernah kalah jika diperkuat sang kapten sejati mereka itu.

Di Piala Dunia 1954, Uruguay memang menelan kekalahan pertama mereka dan tersisih di semifinal. Namun saat ditekuk Hungaria 2-4 itu, Varela absen karena cedera yang didapatkannya di laga sebelumnya. Pertandingan perempat final ketika mengalahkan Inggris 4-2 pada 26 Juni di Basel menjadi caps terakhir Varela bersama tim nasionalnya.

Dikenal dengan panggilan El Jefe Negro (The Black Chief) karena kulit hitam dan kekuatan kepribadiannya, Varela kini seolah menjadi mitos di Uruguay. Ia dikuburkan melalui proses pemakaman dari negara dan dianggap sebagai kapten terbaik sepanjang masa.



Kapten Uruguay saat ini, Diego Lugano, ketika ia bermain di klub Sao Paolo pernah ditanya oleh pers Brasil. Mereka bertanya apakah pada masa kecilnya Lugano pernah bermain-main menirukan Varela saat bermain bola. Lugano hanya menjawab: "Saya tidak pernah bermain-main dengan dewa".



====

* Akun twitter penulis: @fjrhman dari Pandit Football Indonesia

(din/mrp)