Demichelis dan Bek-Bek Tua di Liga Inggris

Demichelis dan Bek-Bek Tua di Liga Inggris

- Sepakbola
Senin, 10 Mar 2014 15:12 WIB
Demichelis dan Bek-Bek Tua di Liga Inggris
AFP/Andrew Yates
Jakarta -

Ketika Manuel Pellegrini mengumumkan starting XI Manchester City pada saat melawan FC Barcelona di Liga Champion, kita bisa melihat ada satu titik lemah di lini belakang. Ia adalah Martin Demichelis. Pellegrini kemudian mengulangi kesalahan yang sama saat melawan Sunderland di final Piala Liga Inggris kemarin. Beruntung kali itu City berhasil menjadi juara.

Tapi dewi fortuna nampaknya enggan untuk datang kembali tadi malam. Kesalahan berbuah penalti yang dilakukan Demichelis mampu dimanfaatkan Wigan baik-baik untuk menyingkirkan City dari kompetisi Piala FA.

Lalu, apa yang membuat bek besar Argentina tersebut menjadi titik lemah? Ini bukan saja karena Demichelis kesulitan bermain sebagai bek tengah, tapi tidak ada kepercayaan dari rekannya di jantung pertahanan, yaitu Vincent Kompany sang kapten.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Pellegrini juga tidak menempatan setidaknya seorang holding midfielder di depan bek-beknya tersebut ketika melawan Barca. Padahal hal tersebut sangat dibutuhkan apalagi saat melawan pemain sekelas Lionel Messi yang merupakan ancaman utama dari El Barca.

Sialnya, Demichelis dan Kompany terpaksa harus berhadapan dengan Messi. Sialnya lagi, Messi yang selalu bergerak ke sayap kanan membuat Demichelis menjadi pemain yang paling bertanggung jawab untuk menghentikannya.

Akhirnya kita semua sama-sama tahu apa yang terjadi kemudian. Demichelis melanggar Messi dan berbuahkan kartu merah, sebuah tendangan penalti, dan membuat Barcelona memimpin dengan nyaman. Setelah itu, permainan menjadi milik Barcelona sepenuhnya.

Namun jangan terpaku pada satu sudut pandang saja. Apa benar hanya Demichelis saja yang bersalah? Mari kita lihat dari perspektif Demichelis.

Mungkin, menurut Demichelis, ia sudah bermain sangat baik sampai titik tersebut. Skill yang dibutuhkan oleh seorang bek tengah berarti ia harus senantiasa melangkah maju untuk memotong bola ke kaki Messi, bertahan melawan Messi secara proaktif dan positif. Distribusinya tentu gugup, tapi ia sudah bertahan dengan baik-baik saja.

Satu-satunya kesalahannya terjadi ketika ia dipaksa harus berputar dan berlari mengejar. Padahal, biasanya ia bergerak naik dan memotong operan. Bahkan pada puncak permainannya sekalipun, Demichelis bukanlah tipikal pemain yang cepat. Tekelnya tersebut mengawali akhir sebuah mimpi Manchester City di Eropa.

Lalu dengan tidak adilnya kita semua mengkambinghitamkan Demichelis.

Laurent Blanc di Manchester United

Bek tengah yang berulangkali berperforma buruk tentu tak hanya dialami Demichelis. Ada juga kisah tentang Laurent Blanc di Manchester United.
Kala itu, setelah dengan mengejutkan menjual Jaap Stam ke Lazio, Sir Alex merekrut Blanc sebagai penggantinya. Dalam buku otobiografi terbarunya, Sir Alex mengungkapkan bahwa ia memang sudah lama mengincar Blanc.
Β 
"Saya sudah lama mengaguminya dan seharusnya saya berusaha mendapatkannya bertahun-tahun sebelumnya. Ia adalah pemain yang tenang, berpengalaman, dan cerdas, ia juga bisa mengalirkan bola ke depan. Ia pasti bisa membantu John O'Shea dan Wes Brown untuk berkembang," kata Ferguson.

Masalahnya, saat itu usia Blanc sudah 35 tahun. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengimbangi kecepatan Premier League. Tapi kemudian ia malah membuat beberapa kesalahan dan perlahan-lahan menjelma menjadi pembelian bencana buat United.

Secara kebetulan juga, lima kekalahan United di awal-awal Liga Premier kala itu adalah melawan Bolton, Liverpool, Arsenal, Newcastle, dan Chelsea: mari kita urutkan huruf-huruf awal tim-tim tersebut, maka kita akan menemukan akar masalahnya.

Karena kekalahan-kekalahan itu, pada pertengahan Desember 2001, United berada pada posisi kesembilan di Liga, meskipun pada akhirnya bisa bangkit kembali dan mampu mencapai posisi ketiga.

Blanc bisa tertawa paling akhir, karena musim setelahnya atau 2002/2003 United berhasil menjuarai Premier League dan ia bisa mengakhiri kariernya di puncak. Tapi, itu dengan catatan bahwa waktu itu United berhasil mendatangkan Rio Ferdinand.

Permainan terakhir Blanc sebagai starter pada musim 2002/2003 terjadi pada Boxing Day. Kala itu United kalah dan itu adalah terakhir kalinya United kalah pada musim tersebut. Meski sedih, memang mesti diakui bahwa United lebih baik tanpanya.

Sebastien Squillaci di Arsenal

Arsenal juga punya masalah yang sama dengan bek tengah beberapa musim yang lalu, ketika bek asal Prancis, Sebastien Squillaci bergabung setelah Piala Dunia 2010 sebagai pelapis dari Thomas Vermaelen.

Pembelian tersebut memang seperti pembelian tipikal Arsene Wenger. Namun Squillaci menyalahkan level kebugarannya sebagai akar permasalahan saat itu.

"Ketika saya bergabung dengan Arsenal pada musim panas 2010, saya baru saja menjalani Piala Dunia di Afrika Selatan dan saya tidak mempersiapkan diri dengan pramusim", seperti yang ia katakan.

Ia menjalani dua bulan pertama yang lumayan bersama Arsenal. Namun, pada bulan Desember ia mulai mengalami kesulitan. Ia terlihat mudah kelelahan dan fisiknya mulai melemah. Ia mengalami lima kekalahan dari enam pertandingan terakhirnya. Kemudian Squillaci pindah ke Bastia dan bermain lebih baik di sana.

Jes Hogh di Chelsea

Untuk Chelsea, ada kasus Jes Hogh yang bergabung sebagai bek andalan tim nasional Denmark. Seperti Blanc, Hogh juga sebelumnya adalah seorang gelandang yang kemudian beralih menjadi seorang bek tengah. Ia juga bermain secara reguler di level internasional.

Dibeli pada awal musim 1999/2000, saat itu Hogh berusia 32 tahun. Di Chelsea, ia dibebani untuk menggantikan peran Marcel Desailly dan Frank Leboeuf yang sudah lama menghuni posisi bek tengah di Chelsea. Hogh beberapa kali gagal memberikan impresi yang baik ketika diturunkan.

Debutnya datang ketika Chelsea dikalahkan 0-1 secara memalukan dari Watford. Hogh gagal menjaga sang pencetak gol satu-satunya pada pertandingan tersebut, Allan Smart.

Hogh memang bermain saat Chelsea membantai United 5-0, tapi setelah itu ia terlihat bodoh saat menghadapi Derby County, dalam pertandingan yang membuatnya menderita cedera.

Hogh juga bermain saat Chelsea dikalahkan 1-4 oleh Sunderland, di mana ia tidak becus menjaga kecepatan Kevin Phillips dan kalah beradu dengan tinggi badan Niall Quinn. Mengalahkan Hogh, kedua pemain Sunderland itu sukses mencetak masing-masing dua gol.

Hogh kemudian pensiun dua musim berikutnya setelah lama berkutat dengan cedera.

Mauricio Pellegrino di Liverpool

Kasus serupa juga ternyata pernah terjadi di Liverpool. Pada Januari 2005, Rafael Benitez mengontrak mantan pemainnya di Valencia, Mauricio Pellegrino.

Pellegrino yang saat itu berusia 33 tahun adalah seorang bek veteran. Ia pandai mengatur pertahanan dan jago dalam duel bola udara. Namun, ia terkenal buruk dalam berputar dan berlari, juga payah dalam menghadapi kecepatan pemain lawan. Debutnya saat melawan Southampton juga sangat-sangat buruk.

Pellegrino mengalami empat kekalahan pada empat pertandingan pertamanya bersama Liverpool, dari total 12 pertandingan yang ia mainkan bersama The Reds. Ia lalu kembali ke Spanyol bersama Alaves dan kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya sekali lagi.

...dan Sisanya

Banyak kasus serupa lainnya di Liga Premier, antara lain saat legenda Jerman, Thomas Helmer, bergabung ke Sunderland pada 1999. Helmer hanya bermain dua pertandingan bersama Sunderland, namun dengan mengejutkan berhasil bermain di Liga Champions selepas itu bersama Hertha Berlin di Jerman.

Satu kutipan unik dari manajer Sunderland saat itu, Peter Reid, mengenai Helmer: "Thomas adalah seorang profesional yang luar biasa. Ketika ia bermain memang (penampilannya) tidak seberapa, namun sangat baik untuk memiliki sosok sepertinya di ruang ganti."

Selain Sunderland, Tottenham Hotspur juga pernah mengalami hal serupa ketika mereka mengontrak Noureddine Naybet yang saat itu merupakan juara La Liga bersama Deportivo La Coruna. Namun, setelah bergabung dengan Spurs pada 2004, Naybet terlihat seperti kaku dan loyo menghadapi lawan yang cepat.

Semuanya adalah Kisah yang Sama

Blanc, seperti yang Ferguson sendiri bilang, adalah sosok pemimpin dan contoh yang baik untuk bek-bek mudanya di United. Squillaci mungkin hanya menjadi pemain reserve di Arsenal, namun ia beberapa kali diklaim oleh Wenger adalah pemain yang jadi contoh baik untuk skuat mudanya.

Sementara itu, Pellegrino sekarang telah menjadi salah satu pelatih yang terpandang. Tidak diragukan lagi ia adalah aset bagi Benitez selama sesi latihan saat di Liverpool dulu.

Memiliki pemain berpengalaman dalam tim adalah penting. Kadang pemain-pemain muda harus melihat ke arah orang-orang yang telah makan asam garam dan melihat apa yang telah mereka capai, meskti itu berarti tim tak mendapatkan hasil maksimal di atas lapangan. Pemain berpengalaman mengemban tanggung jawab sekaligus jadi tantangan yang besar bagi pelatih.

Demichelis tampak seperti persilangan antara banyak pemain di atas. Ia adalah mantan gelandang, sama seperti Blanc dan Hogh, yang sering menunjukkan pengalaman dan kecerdasan dalam sepakbola. Sebelumnya, Demichelis juga telah bekerja dengan manajernya, Pellegrini, di Malaga. Mirip dengan kasus Benitez dan Pellegrino di Valencia.

Terus terang, sulit untuk menemukan banyak contoh kasus bek berusia 30-an tahun dari luar Inggris yang kemudian sukses di Liga Inggris. Seolah-olah belajar di liga baru adalah sesuatu yang sukar bagi mereka. Apalagi di liga yang terkenal dengan kecepatan dan permainan fisiknya.

Namun, satu yang pasti adalah setiap klub membutuhkan kepemimpinan. Keberadaan, Blanc, Pellegrino, Squillaci, Hogh, atau Demichelis mungkin tidak berdampak di atas lapangan. Tapi kita bisa berharap pengaruhnya ada di ruang ganti dan saat latihan.

====

*ditulis oleh @dexglenniza dari @panditfootball

(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads