Kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2014 baru berjalan kurang dari sebulan, sudah terjadi beberapa insiden kekerasan yang terabaikan oleh perangkat pertandingan.
pada pertandingan Persipura Jayapura vs Persiba Balikpapan, misalnya. Wasit Ahmad Suparman kala itu tidak memberi hukuman tegas. Domingus Fakdower yang memukul Fernando Soler hanya diberi kartu kuning, sementara tendangan Andri Ibo pada Aris Alfiansyah tidak dihadiahi hukuman sama sekali.
Peristiwa lainnya terjadi pasca laga antara Persib dan Semen Padang. Stiker Persib, Ferdinand Sinaga, didenda Rp 25 juta dan dilarang bertanding dua kali oleh Komisi Disiplin PSSI. Menurut pernyataan resmi Komdis di laman resmi ligaindonesia.co.id, Ferdinand dihukum karena memaki wasit, Jumadi Effendi dengan kata-kata kotor: "Wasit Anjing, Wasit Binatang."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kejadian-kejadian seperti ini bukan barang baru di dunia sepakbola Indonesia. Persipura juga bukan satu-satunya tim yang memiliki catatan buruk macam ini. Hampir semua tim pernah terlibat dalam kasus serupa. Dan, bukan pertama kali ini pula ketegasan wasit dipertanyakan.
Padahal jika merujuk Laws of the Game yang dikeluarkan FIFA, semuanya seharusnya sudah jelas. Saya yang sama sekali tidak pernah mengikuti kursus masalah perwasitan saja dapat mengerti tindakan apa yang harus diambil.
Di dalam Laws of the Game FIFA, aturan nomor 12 menjelaskan soal segala sesuatu yang dianggap pelanggaran dalam permainan sepakbola. Pada salah satu bagian di aturan nomor 12 ini terdapat penjelasan soal alasan seorang pemain harus dikeluarkan dari lapangan, atau diberikan kartu merah.
Disebutkan, ada 7 hal yang bisa membuat seorang pemain dikeluarkan dari lapangan. Ketujuh hal tersebut adalah pelanggaran serius, melakukan kekerasan, meludah kepada lawan atau orang lain, mengagalkan peluang mencetak gol lawan dengan menggunakan tangan (bukan kiper), mengagalkan peluang emas lawan untuk mencetak gol dengan melakukan pelanggaran, menghina/menyinggung dengan kasar dengan kata-kata maupun gerakan tubuh, dan yang terakhir adalah mendapatkan dua kali peringatan (kartu kuning) dalam satu pertandingan.
Dalam bagian selanjutnya, FIFA kemudian menjelaskan secara rinci soal apa saja yang termasuk dalam ketujuh hal ini.
Pelanggaran serius adalah pelanggaran yang membahayakan keselamatan lawan. Ini termasuk melakukan terjangan dari depan, samping, maupun belakang dengan tenaga berlebih, menggunakan satu maupun 2 kaki.
Jika anda sering menyaksikan pertandingan di tanah air, coba ingat seberapa sering pemain melakukan tekel 2 kaki dari belakang dan tidak diganjar kartu?
Sementara itu, soal tindakan kekerasan yang dimaksud dalam aturan tersebut adalah melakukan tindakan yang berlebihan, seperti memukul atau menendang secara brutal kepada lawan. Sebagai contohnya, dua kejadian pada laga Persipura melawan Persiba adalah contoh nyatanya. Dan tentu saja masih banyak contoh lain dalam sejarah persepakbolaan kita.
Poin keempat dan kelima soal tindakan yang berbuah kartu merah adalah tentang menggagalkan peluang mencetak gol lawan dengan menggunakan tangan (bukan kiper) dan menggagalkan peluang emas lawan untuk mencetak gol dengan melakukan pelanggaran. Mungkin kita sering menyebutnya sebagai pelanggaran orang terakhir atau professional foul.
Lagi-lagi, kita sering melihat kasus ini pada pertandingan di dalam negeri dan tidak berujung pada pengusiran pemain.
Permisif pada Pelanggaran
Bertahun-tahun liga profesional ini berjalan, bertahun-tahun pula kekeliruan ini terus berulang. Seolah-olah tidak ada yang peduli, dan ini bukanlah masalah besar yang harus diselesaikan.
Padahal, aturan ini ada bukan sekedar untuk menegakkan keadilan di atas lapangan. Perhatian utama FIFA sesungguhnya adalah kepada para atlet, bagaimana semua pemain dapat terlindungi dari bahaya. Bagaimana setiap atlet sepakbola tidak terancam jiwa dan raganya karena bermain sepakbola.
Maka dari itulah muncul aturan-aturan ini. Aturan yang mengeluarkan pemain dari lapangan jika melakukan suatu tindakan yang tidak pantas dilakukan saat bermain sepakbola.
Premisnya sederhana. Mengapa seorang pemain yang melakukan tindakan yang tidak pantas masih pantas berada di lapangan? Sang pemain harus beristirahat beberapa pertandingan dulu sebelum diperbolehkan lagi bermain. Harapannya, sang pemain dapat berintrospeksi agar tidak mengulanginya pada pertandingan berikutnya.
Sekali lagi, ini bukan sekedar soal menang atau kalah pada satu pertandingan. Dampak buruk akibat kejadian-kejadian ini sebenarnya bukan soal hasil pertandingan. Bukan sekedar soal tim A kalah dan tim B menang. Namun ada dampak mengkhawatirkan akibat tindakan-tindakan tidak terpuji yang terus dipertontonkan oleh pemain-pemain sepakbola kita.
Pertama, kebiasaan bermain kasar tanpa mendapat hukuman setimpal dari wasit ini akan berimbas pada saat si pemain menjalani pertandingan level internasional, baik di timnas maupun klub. Di level internasional, dengan wasit yang jauh lebih baik dan lebih tegas, kebiasaan buruk bermain kasar ini akan berakibat fatal untuk tim dan pemain itu sendiri.
Kedua, kebiasaan mempertontonkan permainan kasar ini juga berimbas pada mereka yang menonton. Terdapat jutaan penonton yang menyaksikan pertandingan tersebut. Dari jutaan penonton, mungkin ratusan ribu diantaranya adalah anak-anak, pemain masa depan kita. Dan, di antara ratusan ribu anak-anak itu, mungkin ada anak-anak yang mengidolakan sang pemain yang melakukan tindakan tidak pantas ini. Apa yang terjadi adalah anak-anak itu akan meniru dan melakukan hal serupa pada kemudian hari.

Ketika tidak ada hukuman yang tegas, bukan tidak mungkin jika ada anak-anak yang menganggap kekerasan itu sebagai tindakan keren. Terlihat pemberani menentang aturan. Dan anak-anak itu akan tumbuh dengan mempraktekannya ketika sudah menjadi pemain sepakbola. Akhirnya, permasalahan ini tidak akan pernah hilang dari sepakbola kita.
Sikap permisif inilah yang semestinya berbahaya. Seberbahaya seorang ayah yang tanpa rasa bersalah menunjukan tindakan melanggar aturan lalu lintas di depan anaknya. Atau seorang ibu yang tega membuang sampah sembarangan di depan anaknya.
Masalah terbesar dari hal-hal ini bukanlah kemacetan dan kekotoran yang terjadi hari ini. Dengan kemampuan daya tangkap yang luar biasa, seorang anak akan merekam dan siap menirunya pada kemudian hari. Dengan begitu sampai kapanpun masalah lalulintas dan kebersihan ini tidak akan hilang.
Mungkin terdengar sepele, namun lagi-lagi, masalah utamanya adalah ancaman bahwa si anak akan meniru tindakan merusak tersebut. Ditambah dengan kemampuan improvisasi sang anak, maka ancaman pada masa depan akan lebih besar lagi.
Seperti apa yang dikatakan oleh Franz Beckenbauer, "sepakbola adalah cerminan sebuah bangsa". Memang sangat tepat kalimat dari legenda Jerman ini. Apa yang terjadi di sepakbola Indonesia, bisa jadi mencerminkan apa yang terjadi dinegara Indonesia. Jadi refleksi tentang seringnya aturan diabaikan dan dilanggar.
Beberapa waktu yang lalu saya baru saja menyaksikan sebuah film yang berjudul 'The Blind Side'. Sebuah film yang menceritakan tentang perjalanan hidup seorang pemain american football, Michael Oher.
Singkat cerita, Michael Oher adalah seorang anak yang tadinya berasal dari keluarga miskin yang dikelilingi oleh kejahatan dan tindakan kriminal. Termasuk orangtuanya yang juga salah satu pelaku kejahatan. Lalu, pada suatu ketika, orang tuanya ditangkap polisi dan Michael diadopsi oleh keluarga kaya yang mendidiknya hingga sukses menjadi pemain american football.
Dalam suatu percakapan, saat Michael menceritakan kehidupan bersama keluarga kandungnya, ia mengatakan, "Setiap kali ayah dan ibuku sedang melakukan tindak kriminal seperti menggunakan narkoba, mencuri, atau apapun. Ibu selalu memerintahkanku untuk memejamkan mata dan tidak melihat apapun yang terjadi. Aku menurutinya dan baru membuka mata kembali setelah semua itu selesai. Mereka memang pelaku kejahatan, tapi mereka tidak pernah mau mewariskan hal tersebut kepadaku."
Tindakan melanggar aturan, apapun bentuknya, tentu bukan satu hal yang baik dilakukan. Pelakunya adalah seorang kriminal yang harus diberi hukuman. Namun terkadang ekses dari pelanggaran itulah yang tidak terlihat. Dan tidak hanya berefek pada sang pelaku, namun pada generasi penerus yang menyaksikan dan siap meniru.
Saya bukan pendukung Persiba dan saya tidak tidak terlampau peduli dengan hasil pertandingan ketika itu. Saya pun sedikit cuek dengan nasib pemain Persipura ketika itu. Namun terasa sangat memuakkan jika membayangkan bahwa ada banyak pemain masa depan Indonesia yang menyaksikan pertandingan itu dan siap menirunya pada kemudian hari.
Jika Anda pemain sepakbola, wasit, atau pelaku sepakbola yang lain, tolong pastikan semua anak Indonesia telah menutup matanya ketika Anda melakukan satu tindakan melanggar aturan. Pastikan mereka tidak melihatnya dan jangan ajari mereka cara melanggar aturan.
Izinkan mereka untuk memainkan sepakbola yang indah pada masa depan.

=====
* Penulis adalah mahasiswa Program Studi Magister Keolahragaan Institut Teknologi Bandung. Akun twitter: @aabimanyuu dari @panditfootball.
(a2s/krs)











































