ADVERTISEMENT

Milan Lab: Mengubah Teori Dasar jadi Teknologi Canggih

- Sepakbola
Jumat, 04 Apr 2014 10:40 WIB
Jakarta -

Ada banyak cara untuk mengakali biaya transfer yang semakin menggila. Borussia Dortmund melakukannya dengan membibit pemain muda, sementara (dulu) AC Milan dengan memperpanjang usia bermain para pemainnya.

Siapa yang tidak kenal nama-nama besar seperti Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, Clarence Seedorf, Alessandro Nesta, Massimo Ambrosini, Filipho Inzaghi, dan sederetan nama bintang Milan pada masa awal tahun 2000?

Ada satu hal yang membedakan para pesepakbola ini dengan pemain-pemain dunia lainnya. Mereka dapat menunjukkan permainan terbaik hingga usia yang terbilang uzur di dunia sepakbola. Rata-rata dari para pemain tersebut baru menggantung sepatu mereka setelah melewati umur 38 tahun. Bahkan Maldini dan Costacurta masih menjadi pilihan utama di timnya pada usia 40 tahun.

Umur 40 mungkin masih terdengar wajar jika Maldini adalah seorang kiper. Namun Maldini tidak bermain di posisi itu. Ia adalah seorang pemain bertahan yang selalu memimpin rekan-rekannya.

Pada dekade pertama di tahun 2000, kita memang mengenal Milan sebagai tim dengan skuat "berumur". Tak heran sering muncul guyonan bahwa AC Milan bukanlah tim sepakbola melainkan "panti jompo". Bagaimana tidak. Selain tetap mempertahankan pemain-pemainnya yang "uzur", target transfer Rossoneri pun tidak jarang merupakan pemain yang sudah dianggap terlalu tua di klub sebelumnya.

Megabintang tim nasional Inggris, David Beckham, didatangkan AC Milan setelah ia melewati usia 30 tahun. Sementara Ronaldinho pun memakai seragam merah hitam setelah dianggap telah mulai menua dan sudah menghabiskan masa terbaik kariernya.

Biang keladi di balik semua kebijakan ini adalah Milan Lab, satu fasilitas penelitian yang dibangun oleh klub untuk menganalisis kondisi setiap pemainnya. Ini dilakukan untuk membawa sang pemain menuju kondisi maksimalnya.

Hal inilah yang kemudian dilakukan Milan untuk merawat pesepakbola tuanya. Pemain-pemain berumur lebih dari 30 tahun, yang notabene telah kehilangan kondisi puncak, dibuat kembali layaknya pemain berumur 25 tahun.

Dan hal tersebut bukanlah sekadar omong kosong belaka. Gelar Liga Champions pada tahun 2007 adalah bukti dari semua itu. Milan menjadi tim yang berhasil menjuarai Liga Champions dengan rata-rata umur skuat tertua. Rata-rata umur pemain mereka kala itu adalah 31 tahun 34 hari. Bahkan pemain tertua saat itu, Maldini, juga menjadi pemain tertua yang bermain di final Liga Champions dalam usia 38 tahun 331 hari.



Bukan Hanya untuk Pemain Tua

Milan Lab mulai beroperasi pada tahun 2002. Fernando Redondo disebut-sebut sebagai salah satu penyebab dibangunnya Milan lab.

Ketika itu Milan menggelontorkan uang 30 juta euro untuk mendatangkan Redondo dari Real Madrid. Namun bintang asal Spanyol ini hanya mampu menjalani 16 pertandingan selama 4 tahun berada di sana. Mudah ditebak. Redondo menderita cedera yang berkepanjangan.

Dari situ Silvio Berlusconi mengontrak seorang ahli asal Belgia, Jean-Pierre Meersseman, untuk mendirikan pusat penelitian yang kemudian dinamakan Milan Lab. Tujuannya adalah untuk membuat pemain Milan terhindar dari cedera, dan memaksimalkan setiap potensi yang dimiliki pemain tersebut, termasuk kemampuan sang pemain untuk berada pada performa puncak lebih lama dari pemain kebanyakan. Inilah yang kemudian menjadikan Milan Lab seolah menjadi pusat rehabilitasi para pemain tua.

Namun, sebenarnya poin utama dari Milan Lab bukanlah soal pemain tua atau pemain muda. Tapi untuk mencapai performa maksimal dari setiap pemain, pada setiap tingkatan umur.

Seedorf menganalogikan hal ini layaknya kita memiliki mobil formula 1. Mobil ini adalah mobil luar biasa yang dapat melaju dengan kecepatan tinggi. Tanpa perlakuan yang istimewa pun mobil ini bisa dapat melaju sangat cepat. Namun, tanpa seorang insinyur yang mengerti setiap seluk beluknya, mobil ini tidak akan mencapai kemampuan maksimalnya.

Karena itulah apa yang dilakukan di Milan Lab akan terlihat lebih nyata pada pemain tua ketimbang pemain muda. Pemain muda layaknya mobil formula 1 yang masih baru, tanpa perlakuan istimewa mereka akan tetap bisa melaju sangat cepat. Berbeda dengan pemain berumur yang sudah menggunakan onderdil yang mulai haus, dan mesin yang mulai karatan. Tanpa perlakuan yang istimewa, mesin ini tidak akan bisa melaju sesuai harapan.

Berawal dari kasus Redondo, Milan tidak lagi mau menerima kenyataan pahit serupa. Fokus perhatian mereka tidak lagi pada cara menyembuhkan pemain yang cedera, namun bagaimana membuat para pemainnya terhindar dari cedera. Dan bukankah pepatah juga menyebutkan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati?

Milan Lab mengklaim dapat memprediksi kemungkinan cedera seorang pemain dengan tingkat akurasi 70%. Dengan begitu, pemain rentan cedera akan dibuat terhindar dari cedera. Baik dengan mengurangi beban yang diberikan kepada pemain tersebut, maupun dengan melatih bagian tubuh yang menjadi sumber ancaman cedera.

Hasil dari Milan Lab pun terbukti sangat luar biasa. Jumlah pemain yang datang ke ruang perawatan berkurang hingga 90%.



Selain itu, salah satu ukuran keberhasilan Milan Lab tentu adalah kemampuan untuk membangkitkan kembali pemain-pemain yang dianggap telah melewati performa maksimal. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Milan berhasil menguasai Eropa dengan menggunakan pemain yang rata-rata sudah lebih dari 30 tahun.

Beckham hanya bisa tertawa ketika seorang dokter Milan Lab mengatakan bahwa dirinya dapat bermain hingga umur 40 tahun. Dia sendiri tidak berekspektasi dapat bermain maksimal hingga setua itu.

Namun, perlakuan istimewa dari para ahli di Milan lab kemudian membuktikan ucapan sang dokter. Di Milan kala itu, Beckham masih memiliki kemampuan fisik yang berada di atas pemain-pemain muda meski sudah berumur lebih dari 33 tahun. Dan dia baru gantung sepatu (di Paris St Germain) pada akhir musim 2012/2013 dalam usia 38 tahun.

Back to Basic

Milan Lab memang memanfaatkan teknologi modern untuk menganalisis setiap pemainnya. Beberapa sumber mengatakan, bahwa jika orang awam datang ke Milan Lab, tidak aneh jika orang tersebut mengira bahwa mereka telah datang ke markas NASA.

Saking canggihnya alat-alat yang digunakan di Milan lab, tempat itu terkesan sebaga tempat berkumpulnya teknologi-teknologi luar angkasa.

Namun di balik semua kecanggihan tersebut, apa yang dijalankan Milan lab sebenarnya adalah menerapkan teori-teori dasar yang diketahui oleh banyak orang. Mereka bukanlah menggunakan teori-teori terbaru yang belum diketahui banyak pihak.

Para ahli di Milan Lab hanya mengembalikan semuanya kepada hal-hal dasar dalam ilmu keolahragaan. Mereka menggunakan teori seperti Gait analysis (teori yang menganalisis cara orang berjalan), kemampuan lompatan seseorang, chiropractic, dan beberapa teori-teori lainnya yang sudah sangat umum di dunia olahraga.

Dari sini kemudian timbul pertanyaan, jika memang hasilnya begitu luar biasa, mengapa hanya Milan yang melakukan hal ini? Meersseman menjawab pertanyaan hal ini dengan menggunakan analogi yang serupa dengan Seedorf.

"Anda bisa mengendarai sebuah mobil tanpa harus membaca buku manualnya terlebih dahulu. Dengan begitu, Anda juga dapat mengendarai dengan aman dan selamat sampai tujuan. Ini juga yang terjadi di sepakbola. Terdapat pengemudi yang hebat dan mobil yang luar biasa, jika Anda mengetahui petunjuk penggunaannya, semua akan menjadi lebih mudah," ujarnya.

Namun ini adalah kisah lama. Kini banyak klub telah mendirikan fasilitas serupa Milan Lab. Mersseman sendiri telah membantu pendirian fasilitas yang mirip di London, tepatnya di klub Chelsea. Ketika Ancelotti menangani The Blues, ia juga membawa salah satu staf ahli dari Milan Lab bersamanya.

Ironisnya, justru Milan lab yang tidak lagi menjalankan aktivitasnya. Secara resmi, aktivitas Milan lab berakhir pada tahun 2010. Kini apa yang dilakukan di Milan Lab tidak lagi seperti dulu. Mersseman juga sudah tidak lagi menangani Milan Lab.

Dan ternyata AC Milan saat ini juga menjadi sangat berbeda dengan AC Milan sebelum tahun 2010. Pemain mereka kini bolak-balik masuk ke ruang perawatan akibat cedera. Milan yang merajai Eropa pada dekade awal 2000-an dengan pemain-pemain seniornya pun kini kesulitan untuk naik ke papan atas Liga Italia.

Argumen bahwa Milan Lab menjadi penyebab utama terjadinya penurunan prestasi Milan memang akan menimbulkan pro kontra. Namun bahwa Milan lab telah berhasil memberikan warna baru dalam perkembangan keilmuan dalam sepakbola, tentu kita harus sepakat akan hal ini.


====

* Akun twitter penulis: @aabimanyuu dari @panditfootball

(a2s/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT