sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 18 Apr 2014 17:34 WIB

Obituari Gabriel Garcia Marquez

Surealisme Sepakbola Amerika Latin

- detikSport
AFP/Raul Arboleda AFP/Raul Arboleda
Cali -

Segala hal ajaib dan sukar dipercaya dalam karya Gabriel Garcia Marquez bukan berasal dari khayalan dan fantasi. Semua hal sureal itu, kata pemenang Nobel Sastra yang meninggal 17 April kemarin, berasal dari kenyataan-kenyataan yang tumbuh subur di Amerika Latin.

Saya ingat Rene Higuita. 6 September 1995, Rene Higuita melahirkan salah satu momen paling sureal dalam sejarah sepakbola.

Pada laga persahabatan antara Kolombia vs tuan rumah Inggris, di Stadion Wembley, Jamie Redknapp mengirim tendangan keras dan tepat lurus menghunjam ke arah gawang Kolombia. Alih-alih menggunakan tangannya untuk menangkap, Higuita tiba-tiba melompat ke depan. Tubuhnya melayang di udara secara horizontal, bukan melayang ke atas secara vertikal. Tepat saat bola tendangan Jamie itu melayang di atas kepalanya, Higuita mengangkat kakinya ke atas, tubuhnya melengkung sedemikian rupa, dan kakinya itulah yang menghalau laju bola dengan tumitnya.

Tidak ada kiper lain yang berpikir untuk melakukan penyelamatan dengan cara sureal macam itu selain Higuita.

Aksi heroik Gordon Banks menyelamatkan gawang Inggris dari sundulan Pele di Piala Dunia 1970 sesungguhnya tak kalah menakjubkan. Ketakjuban pada aksi Banks lahir dari kemustahilan yang diubah menjadi mungkin: sundulan yang hampir semua orang berpikir itu akan jadi gol ternyata berhasil digagalkan. Banks berhasil mengatasi sebuah situasi yang sangat sulit dengan cara yang terlihat mudah. Itu aksi yang pastilah merupakan kombinasi banyak hal dalam bentuknya yang paling sempurna: refleks yang hebat, kewaspadaan yang tinggi, dan atletisisme fisikal yang prima.

Pada aksi Higuita, itu menjadi momen sureal karena dia melakukan hal yang sebaliknya dari yang dilakukan Banks.

Bola tendangan Redknapp memang keras dan sangat akurat mengarah ke gawang, tapi saking akuratnya, bola itu sebenarnya mengarah ke posisi berdiri Higuita. Dia tak perlu menerbangkan tubuhnya ke sudut atas gawang. Dia bahkan tak perlu menggeser tubuhnya untuk mengamankan bola tendangan Redknapp. Dia bisa langsung menangkapnya dengan tangan atau jika dirasa terlalu keras bisa saja meninjunya dengan kedua tangan. Selesai perkara. Aman.

Tapi, Higuita tidak memilih cara itu. Jika yang mudah bisa dibuat sulit, kenapa tak pakai cara yang sulit? Jika bisa membawa kita pada petualangan berbahaya, untuk apa menggunakan cara-cara yang aman? Jika hal luar biasa bisa dilakukan, untuk apa pakai cara-cara yang biasa?

Higuita pernah mengakui kesalahan saat menjadi penyebab gol Kamerun gara-gara nekat membawa bola jauh dari gawangnya. Simaklah cara Higuita mengungkapkan penyesalanannya: Itu sebuah kesalahan besar, kesalahan yang sebesar rumah.

Itu analogi yang rasanya absurd. Kesalahan sebesar rumah? Saya teringat neneknya Erendira, dalam cerpen Marquez berjudul "Innocent Erendira", yang digambarkan sangat gendut, sampai harus ditandu ke mana-mana. Saya bayangkan kesalahan Higuita itu tidak sebesar rumah, tapi sebesar ukuran badan neneknya Erendira yang super gendut.

Higuita, dalam cita rasa saya, rasanya cukup pantas untuk menjadi salah satu pemain bola yang layak menjadi keturunan Jose Arcadia Buendia, tokoh pertama dari trah Buendia yang menjadi pusat novel terbaik Marquez, "Seratus Tahun Kesunyian".

"Seratus Tahun Kesunyian" berkisah tentang trah Buendia yang tinggal di sebuah kota bernama Macondo. Masterpiece ini dengan brilian menggabungkan, mengacak, mengocok, memplesetkan, sekaligus mempermainkan fiksi dan fakta, mimpi dan kenyataan, mitos dan realitas, sejarah dan dongeng, khotbah dan igauan. Untuk semua kecakapannya mengacak-acak berbagai hal itu, Marquez dianggap sebagai penubuh terbesar genre kesusastraan yang disebut "realisme magis".

Dalam pidatonya di depan Komite Nobel pada 1982, Marquez mengisahkan berbagai kejadian faktual dalam sejarah Amerika Latin yang terlihat seperti fiksi. Salah satunya, kejadian di abad 19, ketika Jenderal Antonio Lopez de Santana, diktator Meksiko, menggelar pemakaman yang sangat megah dan dahsyat hanya untuk menguburkan kaki kanannya yang harus diamputasi.

Itulah kenapa, masih dalam pidato yang sama, El Gabo, demikian ia biasa dipanggil, merasa perlu untuk menjelaskan bahwa kisah-kisah atau karakter-karakter yang ditulisnya bukan hasil olahan imajinasi dan fantasi semata. Segala hal ajaib, sureal, aneh, dan sukar dipercaya yang dia tulis, katanya, semua berasal dari kenyataan-kenyataan yang dilihat, didengar, dan dirasakannya di Amerika Latin.



Sepakbola, kita tahu, adalah elemen penting dalam kebudayaan Amerika Latin. Dan seperti yang dikatakan Marquez, penulis berkebangsaan Kolombia, negeri yang gawang timnasnya pernah diselamatkan dan dihancurkan dengan aksi-aksi sureal Higuita, sepakbola Amerika Latin juga mengandung banyak elemen sureal yang sukar dipercaya.

Jika Marquez mengambil dongeng-dongeng neneknya untuk menyusun karya-karyanya, para pecinta sepakbola bisa menyimak dongeng-dongeng ajaib yang muncul dari lapangan hijau ala Amerika Latin.

Misalnya: Garrincha. Adakah pemain di dunia ini yang kemampuan dan libidonya dalam menggiring bola melebihi Garrincha? Fiksi atau fakta jika seorang pemain yang sepasang kakinya "rusak" (salah satu kakinya lebih panjang dari yang lain, kaki satunya melengkung ke luar, kaki lainnya melengkung ke dalam) bisa mengobrak-abrik Piala Dunia 1958 dan 1962? Cuma Garrincha, orang Brazil yang setelah main bola akan pergi menemui teman-temannya untuk mabuk sampai pagi, yang bisa melakukannya.

Ketika Garrincha meninggal dalam kemiskinan yang mematikan, jenazahnya diarak dan diratapi puluhan ribu orang di Rio de Jeneiro yang merasa kalau mereka telah bergabung dalam tindakan sewenang-wenang membiarkan sang pahlawan mati dengan menyedihkan. Mobil dan orang yang mengantarkan jenazah Garrincha tak ubahnya sebuah parade, atau bahkan sebuah karnaval.

Saya pernah membaca laporan dan analisis prosesi pemakaman Garrincha yang disusun oleh antropolog Jose Sergio Leite Lopes. Membaca laporan berjudul "The People's Joy Vanishes", saya seperti sedang membaca prosesi pemakaman Dr. Juvenal Urbino dalam novel Marquez yang berjudul "Love in the Time of Cholera".

Garrincha adalah orang Brasil. Negeri dan bangsa mana selain Brasil yang selalu menghadapi kejadian di mana ada rakyatnya yang bunuh diri tiap kali timnasnya tersingkir dari Piala Dunia?

Bayangkan juga seorang pemain yang tak sengaja melakukan tindakan gol bunuh diri di atas lapangan hijau, akhirnya kemudian benar-bener terbunuh di kehidupan yang sebenarnya? Cuma Andres Escobar yang pernah mengalami betapa tipisnya batas antara pertunjukkan sepakbola dengan kehidupan yang sebenarnya. Di mana kejadiannya? Di Kolombia, tanah kelahiran Marquez, di Amerika Latin.



Atau simak kisah Moacir Barbosa, kiper Brasil yang gagal menjaga gawangnya dari pemain Uruguay pada final Piala Dunia 1950. Gara-gara itu, Moacir Barbosa dihukum oleh rakyat Brasil dengan dijauhi, diasingkan, dan dimusuhi sampai masa tuanya. Sejak itu, gawang Brasil tak pernah selamat dari kehancuran tiap kali memasuki Piala Dunia dengan seorang kulit hitam yang menjaga gawangnya. Mitos pun lahir: Brasil tak akan pernah juara jika kipernya bukan kulit putih.

Maka ketika Barbosa meninggal dalam keadaan menyedihkan sebagai kambing hitam, penghukumannya seperti sebuah kesakralan yang aneh: dari seorang kiper berubah menjadi kambing/domba hitam, scapegoat, yang dikorbankan dalam Hari Raya Grafirat seperti diwedarkan Kitab Perjanjian Lama.

Atau simak kejadian yang melibatkan pemain jenius Brasil lainnya, Rivellino. Pada Agustus 1974, pemain kidal yang menjadi idola Maradona ini (Maradona bilang: dia pemain kidal terhebat) pernah mencetak gol spektakuler saat tim yang diperkuatnya, Corinthians, mengalahkan America Rio Preto di Liga Brasil. Gol dicetak pada detik ketiga.

Rivellino melakukan tendangan jarak jauh saat dia melihat kiper lawan, namanya Pirangi, masih berlutut untuk berdoa. Ketika Pirangi selesai berdoa, dia kebingungan sendiri mencari bola yang tidak ada di lapangan. Dia tak sadar bola sudah mendarat di jala gawang yang dijaganya.

Esoknya, surat kabar lokal, Folha de Sao Paolo, melaporkan kejadian itu dengan kalimat bersayap yang rasanya cukup surealis dan menggemakan teknik menulis Marquez dalam mengacak dan mempermainkan batas antara fantasi dan kenyataan: "Banyak penonton yang kebingungan....Kiper butuh waktu lebih lama dari orang lain yang ada di stadion untuk tahu bahwa ia telah kebobolan."

Simak juga dua kisah yang saya baca dari buku "The Beautiful Game: A Journey Through Latin American Football" karya Chris Taylor. Dua kisah ini rasanya cocok untuk menjadi fragmen dalam sebuah novel:

Pada 1980, sekelompok gerilyawan berhasil merebut Kedutaan Republik Dominika di Bogota, ibukota Kolombia, tanah kelahiran Marquez. Mereka menggunakan taktik yang hanya bisa dipahami dalam kerangka surealisme Amerika Latin: mereka menyuruh anak-anak main bola, lalu bola ditendang ke dalam kedutaan, lantas mereka minta petugas keamanan kedutaan untuk mengambil bola, dan saat itulah, ketika pintu kedutaan dibuka oleh petugas keamanan, para gerilyawan menyerbu masuk.

Lalu simaklah bagaimana tentara Peru menghancurkan para gerilyawan Tupac Amaru yang menyandera orang-orang di rumah Duta Besar Jepang di Lima. Tentara Peru bisa membebaskan 71 orang yang disandera selama 126 hari dengan cara yang cocok dengan kerangka surealisme Amerika Latin: para gerilyawan itu selalu berkumpul untuk bermain bola setiap sore, dan saat itulah, saat para gerilyawan dimabuk keriangan bermain bola seperti anak-anak, tentara Peru menyerbu masuk dan membunuh mereka semua.

Tentu tak lengkap tanpa mengisahkan Maradona. Cuma orang Argentina ini yang dalam waktu kurang dari 10 menit, dalam pertandingan yang sama, sanggup mencetak dua gol dengan cara yang luar biasa kontrasnya: gol pertama dicetak dengan luar biasa culas lewat tangannya, gol kedua dicetak dengan cara yang luar biasa indah dengan melewati hampir setengah jumlah pemain lawan.



Ketika Maradona mengatakan bahwa bukan tangan dia yang mencetak gol, melainkan itu tangan Tuhan, maka lagi-lagi orang dari Amerika Latin yang dalam sekali pukul (melalui tindakan dan kata-kata sekaligus) mencampuradukkan batas antara kenyataan dengan khayalan, antara fakta dan fiksi, antara yang realis dengan yang magis.

Mestikah diherankan jika para pemuja Maradona sampai membuat gereja khusus untuknya? Sebagaimana umat Kristiani membagi sejarah ke dalam dua fase yaitu Before Christ/Sebelum (kelahiran) Masehi dan After Christ/Setelah (kelahiran) Masehi, umat gereja Maradona ini juga membagi waktu ke dalam dua periode berdasar tanggal kelahiran Maradona: Before Diego dan After Diego.

Gereja Maradona atau Iglessia Maradoniana ini didirikan di Rosario, Argentina. Mereka juga punya 10 Perintah, sebagaimana Perjanjian Lama mengajarkan "The Ten Commandment". Dan sebagaimana umat Kristiani punya "Doa Bapak Kami", mereka juga punya doa yang liriknya berbunyi:

Diego kami di lapangan/ dikuduskanlah tangan kirimu/ datanglah keajaibanmu./ jadilah gol-golmu dikenang di dunia ini seperti halnya di surga/ Berikanlah kami pada hari ini, keajaiban kami yang secukupnya/ Ampunilah kesalahan orang-orang Inggris/ sebagaimana kami mengampuni para mafia Napoli/ dan janganlah membawa dirimu ke dalam perangkap offside/ tetapi bebaskan dari kami dari Havelange dan Pele//

Inilah realisme-magis yang diejawantahkan bukan oleh para sastrawan Amerika Latin melalui novel, tapi oleh orang-orang Amerika Latin melalui dan dengan sepakbola.

RIP, Gabriel Garcia Marquez. Gracias. Muchas gracias!

===

* Penulis adalah editor Pandit Football Indonesia. Akun Twitter @zenrs

Foto-foto: AFP/Getty Images

(mfi/mfi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com