Obituari Tito Vilanova

Kenangan untuk Seorang Sahabat

- Sepakbola
Minggu, 27 Apr 2014 12:43 WIB
AFP/Quique Garcia
Jakarta -

Mengikuti jejak langkah raksasa memang tak pernah mudah. Brian Clough hanya bertahan 44 hari ketika menggantikan Don Revie di Leeds United, sementara David Moyes cuma mampu duduk 11 bulan di singgasana Manchester United.

Memang, Bob Paisley di Liverpool mampu memberikan prestasi yang lebih tinggi ketimbang Bill Shankly. Tapi itu pun tak lepas dari satu catatan. Bahwa pada bulan-bulan pertama Paisley melatih, Shankly terpaksa diasingkan dari Liverpool, agar sang suksesor tak terus hidup di bawah bayang-bayang pendahulunya.

Ya, dalam sejarah sepakbola, hanya ada beberapa nama yang mampu menggantikan "sang raksasa". Salah satunya adalah Tito Vilanova.
Dalam lembaran perjalanan Barcelona, Tito sendiri tak hanya mampu meneruskan perjuangan Pep. Di mata suporter, ia bahkan dicintai sama besarnya dengan salah satu pelatih terbaik Barca sepanjang masa itu.

Mungkin ini semua karena Tito bukan hanya sekadar pengganti sang raksasa, tapi juga sahabatnya.

Berdua Meniti Karier

Dalam perjalan karir sebagai pemain, Tito Vilanova sebenarnya tak secemerlang mantan pendahulunya, Pep. Setelah menuntut ilmu di La Masia dan bermain di Barcelona B selama dua tahun, Tito hanya bermain untuk tim semenjana. Ia tak pernah masuk skuat inti Blaugrana.

Tapi, meski kurang bersinar sebagai pemain, Tito punya pemahaman taktik yang baik layaknya lulusan La Masia kebanyakan.

Di akademi Barcelona, Tito sendiri menjalin persahabatan dengan Guardiola dan beberapa temannya. Meski Tito pindah ke klub yang lebih sederhana, keduanya tak pernah lupa untuk bertemu minimal sebulan sekali. Mereka memanggil grupnya "the fat ones" atau "mereka yang suka makan".

Tak heran, ketika Pep Guardiola ditunjuk sebagai pelatih Barca B pada tahun 2007, hal pertama yang dilakukan Pep adalah menelpon sahabatnya, Tito Vilanova.

Guardiola yakin, bahwa sahabatnya itu punya keyakinan dan kegigihan yang lebih kuat dalam mengolah tim dibanding dirinya. Pep pun paham betul, bahwa sahabatnya itu dapat membantunya membentuk sebuah tim muda yang kuat. Menempa sekumpulan anak muda yang selalu tampil menyerang dan haus akan gol, sebagaimana telah digariskan pada tradisi sepakbola Barcelona.

Tak butuh waktu lama bagi pasangan pelatih muda ini untuk merengkuh prestasi. Hanya dalam waktu satu tahun, duet Pep-Tito telah bisa menjuarai Liga Adelente, liga kasta kedua Spanyol yang diikuti Barcelona.

Pada tahun berikutnya, mereka pun ikut naik kasta.

Bukan. Bukan Barca B yang kemudian naik ke La Liga. Namun keduanya diberi tanggung jawab lebih yaitu melatih tim utama Blaugrana. Pep memang tak salah pilih. Di balik keberhasilannya mengantarkan Barcelona merengkuh 13 gelar dalam kurun waktu 4 tahun, selalu ada Tito Vilanova di belakangnya.

Mereka berdua telah menjadikan Barca sebagi tim paling sukses sepanjang sejarah, dengan meraih 3 gelar juara La Liga, 1 tropi Copa Del Rey, 3 tropi Super Spanyol, 2 kali juara Liga Champions, 2 kali pula juara Super Eropa, serta memenangkan piala dunia antar klub sebanyak dua kali.
Benar-benar pencapaian yang luar biasa.

Tak hanya piawai menemani sang pelatih, Tito juga punya cara yang khas dalam melakukan pendekatan dengan anak didiknya. Ia mampu menerjemahkan kemauan sang pelatih dengan baik. Saat Pep butuh bersikap tegas dan menjaga jarak dengan anak didiknya, maka Tito lah yang akan mengayomi Xavi dan rekan-rekannya. Ketika Pep memiliki ide-ide liar, maka Tito yang akan mengingatkannya untuk tetap bersifat realistis.

Hal yang kemudian mendasari Pep menunjuk dirinya sebagai suksesor. Tak dapat menolak, akhirnya Tito menyanggupi permintaan sahabatnya itu. Ia menyanggupi tawaran untuk menggantikannya saat Pep Guardiola memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia kepelatihan.

Sebenarnya, Tito sadar bahwa dirinya tidak terlalu kompeten untuk memangku jabatan tersebut. Bukan semata karena kurang pengalaman. Namun karena tubuhnya sudah tak lagi fit. Semenjak November 2011, penyakit sudah menggerogoti tubuh Tito dan memaksanya untuk sering naik ke meja operasi.

Tapi kecintaannya pada Barca dan amanat sang sahabat memang tak dapat ia nodai hanya karena penyakit. "Pekerjaanku adalah seluruh hidupku," ucap Tito saat ditawari Pep untuk menggantikan posisinya.

Pada Agustus 2012, dengan menahan rasa sakit di tubuhnya, Tito memulai jabatan barunya sebagai pelatih.

Tapi ia tak pernah mau menunjukkan rasa takut atau lemahnya pada publik. Malah, pada seremonial rutin Bracelona dalam menyambut pelatih baru, Vilanova justru memberi sokongan pada Eric Abidal yang saat itu juga sedang diserang penyakit sakit tumor hati. Seolah-olah ia baik-baik saja, layaknya orang normal tanpa penyakit.

Layaknya motivator ia berseru: "Jika Anda (Abidal) kuat, dan memiliki keinginan, kami akan menunggu Anda sampai kapanpun."

La Liga de Tito

Penyakit memang tak mengenal jabatan. Pasca naik tingkat sebagai pelatih, sakit tetap menggerogoti tubuh Tito.

Kala Abidal, anak didik yang selalu disemangati untuk sembuh dari penyakitnya, perlahan pulih, Tito justru kembali digerogoti tumor ganas.
Pada Desember 2012, ia harus sering menjalani kemoterapi pasca operasi pengangkatan tumor yang menempel di kelenjar parotisnya. Lebih dari itu, Tito juga harus bolak-balik Barcelona-New York untuk menajalani perawatan lanjutan.

Kondisinya memang tak berangsur membaik. Tapi, ia tak mau mengundurkan diri dari jabatannya di tengah jalan. Tanggung jawab harus dituntaskan, setuntas-tuntasnya. Tito pun tetap memilih untuk melatih sampai akhir musim.

"Saya tidak pernah memikirkan untuk mengundurkan diri. Saya akan menyelesaikan semuanya," ujar Vilanova sepulangnya dari perawatan di New York. Komitmen Tito tersebut sebenarnya sempat menuai kritik. Ia dianggap banyak pihak tak lagi kompeten untuk menjadi pelatih Barca, lantaran sangat sering tak berada di samping anak didiknya.

Namun, lantaran kedekatan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, para pemain Barca tetap percaya pada komitmen Tito. Mereka mengerti bahwa Tito telah mencurahkan segala daya upaya untuk menjadikan Barca lebih baik lagi, meski terus menerus harus menjalani perawatan ke luar negeri.

"Pelatih kami bukan sedang liburan di New York, dan Anda tahu itu," ujar Mascherano tegas, kala dimintai tanggapan oleh wartawan menyoal kritik yang terus dilayangkan kepada Tito.

Dan Tito pun menepati janjinya itu. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, ia menuntaskan pekerjaannya. Lalu mengundurkan diri pada akhir musim 2012-2013.

Ya, Tito memang hanya semusim melatih Barca. Namun dalam waktu yang singkat itu, ia berhasil membawa Barcelona sebagai kampiun La Liga dengan torehan seratus angka. Sebuah pencapaian yang fantastis. Bahkan, pria kelahiran 17 September 1968 ini dianggap banyak orang telah merubah Barca menjadi lebih menyerang ketimbang saat ditangani Guardiola.

Suporter pun mengerti betapa hebatnya Tito berjuang, demi melawan kanker dan demi Barcelona. Tak heran, ketika mengangkat piala La Liga, seantero stadion meneriakkan kata "Tito..Tito..Tito"

Trofi La liga pada musim itu pun dikenang sebagai 'La Liga de Tito' – 'Liganya Tito'.

Selamat Jalan, Sahabat

Tito memang telah melawan penyakitnya. Sebaik-baiknya melawan, malah. Dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan, ia berperang dengan kanker di tubuhnya.

Namun sayang, Jumat (26/4) lalu, Vilanova harus mengakhiri perjuangannya. Tuhan memanggil dirinya. Dan lagi-lagi kita harus kembali kehilangan salah satu putra terbaik sepakbola. Tak sekadar pemain, tak sekadar pelatih, tapi seorang anak manusia yang tak pernah lelah melawan sakit.

Seperti yang dikatakan Pram, di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan bukan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.

Ah, Tuhan... bukankah ini terlalu cepat? Nampaknya hanya keikhlasan yang bisa mengantarkan Tito dalam ketenangan istirahat panjangnya.

Selamat jalan, Tito! Selamat jalan, sahabat!



=====

*ditulis oleh @prasetypo dari @panditfootball

*foto-foto Getty Images


(roz/nds)