Atletico Madrid dan Kejayaan-Kejayaan Kuda Hitam di Masa Lalu

Atletico Madrid dan Kejayaan-Kejayaan Kuda Hitam di Masa Lalu

- Sepakbola
Jumat, 23 Mei 2014 17:14 WIB
Atletico Madrid dan Kejayaan-Kejayaan Kuda Hitam di Masa Lalu
AFP/Jose Manuel Ribeiro
Jakarta - Jika di awal musim Anda mengatakan bahwa Atletico Madrid berpeluang meraih juara La Liga dan Liga Champions, Anda pasti akan dicap delusional, mengigau, mabuk, atau bahkan gila.

Melawan segala rintangan dan halangan, Rojiblancos akhirnya menjadi juara Divisi Primera pada hari Sabtu kemarin setelah bermain imbang 1-1 di Camp Nou melawan FC Barcelona. Kini, di depan mata, trofi Si Kuping Besar menunggu untuk direngkuh. Tinggal satu langkah lagi bagi Atletico untuk mencatatkan sejarah terhebat mereka di Eropa: menjadi yang terhebat di Benua Biru.

Klub yang bermarkas di Vicente Calderon ini bukanlah klub terbaru dalam sejarah panjang pemenang gelar yang mengejutkan, atau yang sering kita sebut dengan underdog atau kuda hitam. Dalam setiap zaman, selalu ada underdog yang muncul untuk menghancurkan keyakinan mereka yang merasa besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai cara ditempuh sampai akhirnya underdog muncul sebagai kampiun. Dari kemenangan liga yang menakjubkan, nasib beruntung dan kesialan tim lain, sampai permainan membosankan yang dibenci banyak orang. Mereka yang merasa besar seringkali gampang menyalahkan kejelekan dan keburukan para underdog. Tapi sang juara tak perlu berlelah-lelah menanggapinya. Juara, ya, juara. Selesai perkara.

Di bawah ini, ada tujuh contoh kemenangan paling mengejutkan dalam sejarah sepakbola.

Nottingham Forest (Liga Champions 1979)

Seperti dongeng sepakbola yang langka, pendakian Nottingham Forest untuk mencapai kejayaan pada akhir dekade 1970-an jauh melampaui apa pun yang pernah mereka impikan sebelumnya, dan bahkan sampai sekarang.

Perjalanan mereka di Piala Champions bisa dibilang dimulai dengan penunjukan Brian Clough pada 1975. Dua tahun kemudian mereka promosi ke divisi teratas Liga Inggris dan kemudian memenangkan liga pada 1977-78 dalam upaya pertama mereka. Ini sudah menjadi hal yang menakjubkan.

Tapi Forest tidak cukup senang hanya sekadar menjadi raja di Inggris. Mereka ternyata juga ingin catatan yang lebih: mengejutkan benua Eropa. Setelah merobohkan sang juara bertahan dan favorit, Liverpool, mereka memulai kampanyenya di Eropa dengan menang atas AEK Athens, Grasshoppers, dan Koln.

Malmo, yang Clough gambarkan sebagai "tim yang membosankan" dari "bangsa yang membosankan", adalah lawan juara Inggris itu di final di Munich, dan mereka menyelesaikan dongeng itu dengan kemenangan yang sederhana, 1-0.

Kemudian secara luar biasa lagi, mereka berhasil mempertahankan gelar Eropa mereka pada musim berikutnya. Tapi saat itu mereka sudah lagi bukan berstatus sebagai underdog.

Sampai sekarang mereka juga bermimpi lagi dan lagi. Bukan, ini bukan mimpi menjadi juara Eropa, bukan juga menjadi juara Inggris, tapi hanya sekedar berlaga di Premier League.

Aberdeen (Piala Winners 1983)

Sekarang Sir Alex Ferguson mungkin sudah dianggap sebagai pelatih paling sukses dalam sejarah sepakbola, tapi pada 1982 ia hanyalah manajer muda yang masih ingusan.

Saat itu, di musim 1982-83, saat bertugas di Aberdeen, ia mulai menunjukkan kepada dunia seperti apa masa depan yang menantinya. Dia sudah menjadi properti panas di Skotlandia, setelah menumbangkan dominasi Celtic dan Rangers, dua tim asal kota kelahirannya, di Liga Skotlandia. Kemudian Aberdeen berhasil masuk ke Piala Winners, sebuah turnamen UEFA yang sekarang sudah almarhum, memberinya kesempatan untuk menyetrum seisi benua.

Aberdeen tidak menyelinap begitu saja untuk meraih sukses. Mereka melata tahap demi tahap dengan menghadapi kesebelasan-kesebelasan besar Eropa. Di perempat final, mereka menendang raksasa Jerman, Bayern Munich, sebelum kemudian menghantam prajurit perkasa Real Madrid di final melalui perpanjangan waktu.

Pertandingan Eropa terakhir Ferguson dilalui di Manchester United adalah pertandingan kandang dengan Real Madrid, yang berarti bahwa ia telah menyelesaikan apa-apa yang telah ia mulai bersama Aberdeen.

Denmark (Euro 1992)

Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, yaitu bagaimana tim yang sebenarnya tidak lolos ke turnamen justru berhasil memenangkan turnamen. Denmark benar-benar gagal lolos ke putaran final Euro 1992, tapi nasib buruk negeri lain, Yugoslavia, yang menyulut perang di wilayah Balkan, membuat Yugoslavia didepak dari turnamen dan digantikan Denmark.

Mengingat hanya selama dua minggu melakukan persiapan, Richard Moller Nielsen mendapati kesialan awal ketika bintang utama mereka, Michael Laudrup, lebih memilih untuk tinggal liburan dan menolak untuk bergabung dengan skuat di turnamen dadakan tersebut, sebuah keputusan yang mungkin masih dia sesali sampai sekarang.

Sebuah kebuntuan yang menguntungkan dengan Inggris, kemudian diikuti oleh kekalahan tuan rumah Swedia, tetapi mereka mengangkat jutaan alis dunia ketika mereka mengalahkan Michel Platini bersama timnas Prancis-nya yang terkenal itu dengan skor 2-1 dan membawa mereka melaju ke babak empat besar. Laga terakhir Basten di turnamen besar antar negara diwarnai catatan tragis gagal mencetak gol di sesi adu penalti pada babak semifinal. Siapa lagi jika bukan Peter Schmeichel yang menggagalkannya. Belanda saat itu berstatus sebagai juara bertahan.

Jerman adalah favorit yang bisa ongkang-ongkang kaki, tetapi John Jensen berteriak mencetak gol pembuka dan menempatkan mereka di jalur kemenangan. Skor akhir 2-0 dan Denmark meledakkan Eropa dengan sekonyong-konyong. Sejak itulah julukan Tim Dinamit muncul. Meledak, dan mendadak.

Kaiserslautern (Bundesliga 1998)

Otto Rehhagel meninggalkan Werder Bremen setelah 14 tahun untuk bergabung dengan Bayern Munich, tetapi sialnya ia tidak bertahan sampai semusim. Ia dipecat hanya empat hari sebelum leg kedua final Piala UEFA 1996.

Pengalaman itu akan berdampak pada keputusannya mengambil alih klub yang baru terdegradasi, Kaiserslautern, dimana harapan yang rendah dan sangat kecil akan ia hadapi dibandingkan dengan tekanan yang ia hadapi di Munich.

Klub tersebut, setelah degradasi, langsung memenangkan divisi kedua, untuk kemudian menghadapi fakta bahwa tidak ada tim yang baru promosi langsung memenangkan Bundesliga, tapi perlahan-lahan mereka mulai mematahkan mitos tersebut.

Rehhagel memercik sedikit di bursa transfer, membawa wajah segar (termasuk Michael Ballack muda) masuk ke tim utama. Kaiserslautern akhirnya menjuarai Bundesliga pada upaya pertama. Sesuatu yang kini mungkin hanya akan kita lihat di video game saja.

Deportivo La Coruna (La Liga 2000)

Atletico Madrid memang bukan kuda hitam pertama yang berhasil menjuarai La Liga. Atletico mungkin bisa dibilang sebagai dejavu dari Deportivo La Coruna. Mereka tidak dianggap pesaing sejati menjelang kampanye 1999-2000.

Mampu menempati urutan keenam pada musim sebelumnya adalah peningkatan yang nyata atas tempat ke-12 mereka pada musim 1998. Tetapi mereka tetap saja ada di luar ekspektasi semua orang untuk diunggulkan menjadi juara.

Javier Irureta menarik orang-orang seperti Roy Maakaay, Pauleta, dan Mauro Silva yang kemudian menyalakan obor La Coruna. Superdepor mengakhiri liga lima poin dari urutan kedua, Barcelona, memicu malam-malam penuh glamor Liga Champions di Riazor yang mencapai klimaks ketika mereka berhasil mencapai semi-final pada tahun 2004.

La Coruna tetaplah kota terkecil kedua (hanya lebih besar dari kota Real Sociedad di San Sebastian) untuk menjadi juara Spanyol, dan Deportivo akan berharap mereka dapat membuat gelombang tersebut beriak sekali lagi dengan promosi dari Segunda pada 2013-14.

Porto (Liga Champions 2004)

Sangat aneh untuk berpikir bahwa sekarang sudah satu dekade sejak Jose Mourinho merebut hati dan pikiran para penggemar sepakbola dunia saat ia memandu Porto untuk memenangkan Liga Champions yang tak terduga di musim 2003-04.

Pria Portugal ini pada musim sebelumnya berhasil membimbing Dragoes untuk mencapai kemuliaan Piala UEFA sambil mencetak treble pertama Porto sepanjang sejarah mereka. Lalu sekali Mourinho menggigit, ia tidak bisa lagi menahan pesta.

Porto menempati posisi kedua di belakang Real Madrid di grup, tapi di babak sistem gugur yang membuat mereka benar-benar menggigit. Mourinho berlari ke bawah touchline untuk merayakan serangan menit akhir saat mereka menyingkirkan Manchester United di babak 16 besar, kemenangan yang tetap menjadi salah satu yang paling ikonik di Liga Champions.

Kemenangan dengan perjuangan keras atas Olympique Lyonnais dan Deportivo La Coruna, sebelum akhirnya mereka mengalahkan Monaco 3-0 di final. Itu adalah saat-saat terakhir Mourinho sebagai bos Porto karena ia akan memanajeri Chelsea tak lama setelah itu, sebuah cara yang luar biasa untuk meninggalkan sebuah klub.

Yunani (Euro 2004)

Terhuyung-huyung ke Euro 2004 dengan rekor tanpa kemenangan dalam turnamen internasional, tidak ada yang memberi Yunani harapan, bahkan hanya untuk sekedar lolos dari penyisihan grup, apalagi memenangkan semuanya.

Otto Rehhagel (Ya, dia lagi! Damn!) mendapatkan fakta jelas bahwa ia tidak memiliki pemain terbaik untuk menghadapi turnamen ini. Ia tidak punya cara lain selain bermain sabar dan menyerap tekanan sambil melihat celah untuk meraih gol saat serangan balik atau dari situasi bola mati.

Mereka membuka turnamen dalam pertandingan pembuka dengan mengalahkan tuan rumah Portugal. Hasil imbang dengan Spanyol dan kekalahan melawan Rusia hampir membuat mereka tergelincir, tetapi dengan beruntungnya mereka lolos dari babak penyisihan grup karena dua gol yang lebih banyak daripada peringkat ke tiga, Spanyol.

Di perempatfinal mereka merobohkan juara bertahan Prancis dengan skor tipis saja, 1-0, kemudian menyingkirkan Republik Ceko melalui gol perak (alternatif dari gol emas yang berumur pendek). Yunani bertemu tuan rumah Portugal sekali lagi di final dan menobatkan diri mereka menjadi juara Eropa dengan kemenangan ketiga berturut-turut, 1-0.

Sejak saat itu Yunani tidak pernah bersinar lagi dan mereka membuat seluruh negeri dibenci oleh seisi benua dan beberapa batang hidung di dunia dengan permainan membosankan mereka. Sebuah turnamen yang terkubur dalam-dalam di benak hati kita semua. Tapi apa peduli Otto Rehhagel, baginya kesuksesan memang layak didapatkan dengan cara apapun.

=====

*ditulis oleh @DexGlenniza dari @panditfootball

(roz/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads