Sejak diakuisisi taipan Sheikh Mansour pada 2008, Manchester City berubah menjadi klub dengan kekuatan besar di Liga Primer Inggris. Melalui gelontoran dana melimpah, perlahan berbagai prestasi berdatangan. Bahkan City masih punya potensi prestasi lebih besar kendati telah meraih dua gelar liga sejak kedatangan Mansour.
Kehadiran pelatih Manuel Pellegrini pada awal musim panas lalu juga menjadi "angin segar" bagi City. Karena musim sebelumnya City inferior dari rival sekota Manchester United, Pellegrini memperkuat sekaligus menyempurnakan fondasi yang dibangun pelatih terdahulu -- Roberto Mancini. Itu sebabnya City mampu menjuarai musim 2013/2014.
Bermain dengan gaya ultra menyerang, City melesakkan total 102 gol β unggul satu gol dari Liverpool yang menduduki posisi kedua Liga Primer. Tetapi yang menonjol adalah rekor kebobolan 37 gol atau surplus 65 gol. City hanya kalah dari Chelsea di peringkat tiga klasemen akhir yang kebobolan 27 gol. Namun The Blues hanya mengemas total 71 gol di musim ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yaya Toure dan Fernandinho sebagai Mesin Utama
Salah satu kunci pada keseimbangan City dalam menyerang dan bertahan adalah duet Toure dan Fernandinho di lini tengah. Keduanya memiliki peran dan fungsi yang saling mengisi pada permainan tim.
Selain itu keduanya mampu berperan dalam sejumlah skema yang dibangun Pellegrini. Misalnya, 4-4-2 dan 4-2-3-1 yang menjadi dasar andalan City musim ini hingga skema turunan seperti 4-2-2-2 dan 4-4-1-1.
| Formasi Starter | Jumlah Pertandingan |
| 4-4-2 | 19 |
| 4-2-3-1 | 10 |
| 4-2-2-2 | 3 |
| 4-4-1-1 | 6 |
Peran khusus Fernandinho adalah melindungi pertahanan. Keberadaanya juga membuat Toure bergerak lebih bebas, terutama ketika harus maju hingga ke sepertiga akhir daerah lawan.
Musim ini, Toure bahkan menjadi pencetak gol terbanyak City di Liga Primer dengan 20 gol. Bila dibandingkan musim lalu, misalnya dengan jumlah bermain yang relatif sama, pemain asal Pantai Gading ini hanya mencetak tujuh gol. Toure juga menjadi mesin utama di sektor serangan City musim ini dengan akurasi umpan 90% dari 2.502 kali operan.
Adapun Fernandinho bukannya minim kontribusi saat menyerang kendati tanggung jawab utamanya bertahan. Justru karena ada pemain Brasil ini di lini tengah, City justru mampu menyerang dan menguasai possesion. Sebab Fernandinho selalu berada di belakang Toure sehingga City punya banyak opsi begitu ingin mengalirkan bola ke lini depan.
Lini Depan Bermain Cair
Hal lain yang membuat City mampu menjadi juara Liga Primer adalah keragaman taktik. Kedalaman skuat, terutama di sektor serang, membuat Pellegrini dapat meracik pelbagai taktik sambil tetap menjaga skema utama yang dibangun sejak awal musim.
Beruntung bagi City karena mempunyai gelandang David Silva yang bisa bermain di sayap kiri atau di belakang striker. Pemain timnas Spanyol ini selalu menjadi pengatur serangan atau bergerak mencari ruang ketika Toure sedang membawa bola.
Ketika Pellegrini menggunakan formasi dasar 4-4-2, misalnya, Silva yang berada di sisi kiri justru kerap ikut masuk ke dalam (cut in) ketika serangan memasuki sepertiga akhir. Demikian pula ketika pemain berusia 28 tahun ini bermain di belakang striker. Namun pembuka ruang di sisi kiri adalah gelandang Samir Nasri.
Walaupun begitu, peran Silva tidak bertabrakan dengan Toure. Keduanya begitu cerdik dalam mencari ruang ketika salah satunya sedang menguasai bola.
Selain itu, City punya dua sayap dengan kekuatan berbeda di musim ini. Jika posisi kiri diisi Samir Nasri dan Silva, maka di sisi kanan ada James Milner dan Jesus Navas. Perbedaannya, Milner atau Navas lebih fokus menyisir lapangan untuk mengirimkan umpan silang ke kotak penalti. Bukan melakukan tusukan ke dalam (cut in).
Tapi bukan berarti posisi di kanan akan bermain lebih monoton karena City punya banyak variasi umpan silang. Bola bukan hanya sekadar diangkat ke kotak penalti, tetapi juga bisa melalui bola datar dari berbagai variasi posisi.
Tentu saja umpan yang dilakukan juga menyesuaikan keberadaan para gelandang dan striker. Kebebasan pemain di sisi kanan juga sebenarnya berkat pergerakan Silva atau Toure sehingga lawan seringkali meninggalkan ruang terbuka di sisi kirinya untuk dimanfaatkan oleh Milner atau Navas.
Perekrutan Pemain yang Tepat
City musim ini menghabiskan lebih dari 100 juta pounds untuk mendatangkan Navas, Fernandinho, Alvaro Negredo, Martin Demichelis, dan Stevan Jovetic. Dari lima nama tersebut hanya Jovetic yang bukan pemain utama Pellegrini. Penyerang berusia 24 tahun tersebut hanya berstatus pemain pelapis lini depan.
Ini belanja pemain yang relatif tepat karena proses memilihan pemain datang langsung dari Pellegrini. Dengan koordinasi bersama direktur sepakbola Txiki Begiristain, pelatih dari Chile tersebut berhasil mendatangkan kelima pemain itu untuk mengangkat kembali performa klub sampai tangga juara Premier League.
Begitu sempurnanya komposisi tim, City pun tidak melakukan melakukan pembelian pemain sebagai penambal skuat pada jendela transfer musim dingin (Januari 2014).
Dengan demikian, pembatasan nilai transfer hingga 60 juta euro di musim panas tak akan terlampau mengganggu. Apalagi jika target yang ingin dicapai oleh City musim depan adalah mempertahankan gelar juara Liga Primer.
Tapi untuk berbicara banyak di kancah Liga Champions, tim ini perlu menambal beberapa kelemahan yang ada. Apalagi City mendapat berita kurang sedap terkait Toure.
Sang agen menyatakan, Toure kurang dihargai dalam hal sepele ucapan ulang tahun. Mungkin ini alasan yang terkesan mengada-ada bagi pemain level profesional. Tapi bila mantan pemain Barcelona ini benar-benar hengkang, City akan menghadapi masalah besar.
"Hukuman" dana 60 juta euro tentu masih dapat dipakai untuk membeli pemain sekelasnya. Tetapi City tak boleh ditambahi masalah itu. City hanya perlu menambal skuatnya agar komposisi tim semakin sempurna, terutama di sektor pertahanan. Bukan mencari pemain pengganti Toure yang bisa jadi tidak mudah mendapatkannya.
====
*ditulis oleh @mildandaru dari @panditfootball











































