Sepakbola dan Brasil sama-sama bagian dari suatu eksistensi. Saling melengkapi, saling menutupi. Hingga salah satu dari mereka tak sadar jika terus digerogoti.
Bagi Brasil, sepakbola selayaknya karnaval. Selayaknya arak-arakan warna-warni yang rutin diadakan di Rio De Janeiro pada bulan Februari. Sarat kegembiraan, sarat kejenakaan, dan sarat kebebasan. Tampaknya tak ada yang lebih indah daripada sepakbola yang dimainkan Brasil. Luapan ekspresi sekumpulan anak yang tak mau terkungkung oleh hal-hal tabu di masa lalu.
Pun ketika hendak menghilangkan sepakbola dari Brasil, itu berarti sama saja mencabut jiwa orang Brasil dari akar kedalamannya. Tapi apa mau dikata, ternyata akar tersebut adalah akar racun. Berjalan perlahan, tak tampak, namun menggerogoti. Menjadi penyakit, menjadi benalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas dasar kegembiraan dalam sebuah perayaan, setiap karnaval biasanya memperbolehkan semua tabu diperbolehkan untuk dilanggar. Pun begitu dengan sepakbola di Brasil. Sepakbola adalah suatu medium yang telah memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk melanggar banyak hal yang sebenarnya dianggap tabu.
Bahwasanya sepakbola Brasil adalah sepakbola paling indah di dunia, jelas hal tersebut benar adanya. Mereka bermain dengan gaya permainan di luar konsensus-konsesus sepakbola pada umumnya. Mereka bermain menunjukkan keapaadaan yang ada di negerinya.
Tapi sayang, semua yang indah-indah soal Brasil hanya sebuak fatamorgana. Klise. Sebabnya, di balik keindahan itu sebenarnya Brasil terus digerogoti oleh penyakit kronis: korupsi dan kapitalisme kroni. Ya, tak perlu didiagnosa ataupun diduga-duga, Brasil juga mengidap penyakit yang sering hinggap dibanyak negara dunia ketiga.
Di balik semua keceriaan dan spontanitas pemain-pemain Brasil saat berlaga di lapangan hijau, sebenarnya mereka semua sedang mencoba keluar dari sebuah himpitan. Himpitan dari para benalu. Para penjilat yang sedang mengerebungi uang mereka. Para cecungu yang tega merampok aset paling berharga Brasil. Himpitan para pemerkosa hak yang bernama cartolas.
Di Brasil, mafia-mafia sepakbola ini disebut dengan nama cartolas. Secara harfiah, cartolas berarti topi tinggi, topi yang sering dikenakan oleh kelas atas Brasil,yang kemudian kerap dipakai untuk menyebut para mafia bola. Mereka ini yang sering menggunakan topi tinggi dalam kehidupan kesehariannya.
Kaum-kaum cartolasinilah yang membuat federasi sepakbola Brasil (CBF) carut-marut, tak terkecuali liganya. Tiap tahun selalu saja ada perubahan sistem dan jadwal kompetisi domestik, kesemuanya disesuaikan agar menguntungkan tim yang kuat secara politik. Sampai-sampai pendapataan dari penjualan tiket pertandingan dan besarnya sumbangan dana untuk federasi pun dijadikan faktor penentu masuk atau tidaknya sebuah tim ikut kualikasi play-off.
Dan parahnya, hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang lumrah di Negeri Samba. Lantaran semua keanehan itu sudah berlindung dan menyamar dalam label "hak federasi."
Suap-suapan Mengenyangkan Kroni
Ketika menyaksikan timnas Brasil berlaga, kita semua sebenarnya sedang tersihir. Seolah hanya yang indah-indah yang ada di Brasil. Tapi nyatanya tak ada yang lebih menyedihkan di Brasil kecuali sepakbola mereka. Amat korup dan tidak menarik bagi investor. Segala yang carut-marut, semuanya ada di dalam persepakbolaan mereka.
Korupsi memang menjadi masalah pelik di negara berkembang, termasuk Brasil. Namun Brasil adalah sebuah kasus spesial. Yang terjadi di Brasil lebih dari sekadar korupsi, tapi juga kolusi dan nepotisme.
Bayangkan saja, Ricardo Texeira yang selama lebih dari dua dekade menjabat sebagai presiden CBF, adalah orang yang tak punya pengalaman dalam cabang olahraga sepakbola. Ia sebelumnya hanayalah seorang pengacara. Namun karena mertuanya, Joao Hevelange, adalah (saat itu) Presiden FIFA, ia diangakat mertuanya menjadi presiden CBF. Meneruskan dinasti federasi korup yang sudah dibangun mertuanya.

Bayangkan saja prestasi mertua-menantu ini: Joao Havelange menjabat sebagai Presiden FIFA selama 24 tahun (1974-1998), Ricardo Texeira jadi presiden CBF selama 23 tahun (1989-2012). Jangan heran jika 2012 silam, oleh penyidik Swiss, mertua-menantu ini dituduh menerima suap 41 juta dollar terkait hak pemasaran Piala Dunia 2014.
Texeira inilah, yang 2012 lalu mundur dari Presiden CBF, yang membuat sepakbola Brasil yang dulunya bobrok, menjadi amat bobrok. Ketika CBF dan banyak klub berutang besar-besaran, Texeira justru mendapat kenaikan pendapat sebessar 300 persen.
Dari mana lagi uang-uang itu jika bukan dari suap-suap yang dilakukan oleh klub-klub peserta liga Brasil agar di untungkan oleh federasi, baik dalam pengaturan jadwal maupun hak siar. Ya, Texeira memang terkenal sangat korup. Ia juga pernah tersangkut skandal korupsi sebesar 10 juta dolar, manakala ISL, perusahaan pemasaran olahraga asal Swiss mengakuisisi sebagian saham Flamengo.
Biasanya, kondisi federasi yang carut marut disebabkan oleh kemiskinan, namun tidak di Brasil. Sepakbola mereka tak pernah kekurangan modal. Siapa pula yang tak mau menanamkan modal pada sepakbola Brasil yang begitu eksentrik, yang menurut Pier Paolo Palosini, keindahan gaya permainannya layaknya sebuah untaian prosa.
Tapi sayang, kebanyakan investor balik kanan sebelum menanamkan modalnya di Brasil. Mereka sudah kapok menanamkan modalnya di Brasil. Pasalnya, klub-klub di Brasil pun tak ubahnya federasi sepakbola mereka. Sama-sama korup.
Nation Bank (sekarang Bank of America) misalnya. Pada tahun 1998 mereka menyuntikkan dana segar sebesar 34 juta dolar ke klub Vasco da Gama, namun dalam kurun waktu kurang dari dua tahun dana segar itu habis. Bukan untuk membeli pemain ataupun operasional klub, namun digunakan oleh Eurico Miranda, Presiden Vasco da Gama.
Investasi asing langsung itu dihambur-hamburkan Miranda untuk memperkaya dirinya sendiri, dan juga sanak keluarganya. Untuk membeli mobil mewah, untuk membeli sebuah rumah mewah di Miami, untuk membayar tagihan kartu kreditnya. Lebih dari itu, uang yang digelontorkan dari Amerika itu ia gunakan juga untuk membiayai kampanye pencalonan kembali dirinya dalam pemilihan presiden klub.
Memilukan memang. Saat klub dilanda krisis, saldo tabungan presiden klub justru menggelembung. Bahkan ironisnya lagi, saat itu klub Vasco da Gama harus berutang pada bintang mereka Romario, yang telah menutupi tunggakan gaji para pemain, sebesar 6,6 juta dolar.
Kasus macam itu bukannya tak membuat masyarakat ataupun pendukung klub jengah. Sebenarnya mereka juga jengah dengan kondisi macam itu. Tapi mau bagaimana lagi, cartolas macam Miranda ini memang licik. Ia memang mencuri untuk dirinya sendiri, juga untuk konstituennya, namun disisi lain ia juga menggelontorkan dana besar untuk pembangunan-pembangunan fasilitas umum.
Hal tersebut tak hanya dialami oleh Bank of America. Hiks dkk., pengusaha asal Dallas Amerika Serikat, pun pernah mengalami hal serupa. Pada tahun 1999, mereka sempat menanamkan modalnya di klub Corinthias dan juga Cruzeiro. Sama halnya dengan Bank of America, mereka pun angkat kaki lantaran merugi.
Pun begitu pula yang terjadi pada Parmalat, perusahaan keju asal Italia. Parmalat pernah mengakuisisi klub asal Sao Paulo, Palmeiras. Namun sayang, seperti para pendahulunya, bukan untuk yang didapat Parmalat, mereka justru berada diujung kebangkrutan. Modal yang mereka tanam amblas tak berbekas dimakan para cartolas.

Berlindung di Balik Uang dan Takhta
Seperti yang disebutkan di awal, publik Brasil bukannya betah dengan kondisi macam ini, sebenarnya mereka jengah juga. Namun mereka semua kebingungan, tak tahu bagaimana cara melawan para cartolas.
Ketika para jaksa hendak mengusut kasus-kasus korupsi macam ini, para cartolas selalu berlindung di balik kuasa dan uangnya. Mereka selalu bisa berkelit. Sebelum para penyidik menggeledah rumah, para cartolas sudah menyuap pihak-pihak terkait agar kasusnya ditutup.
Texeira contohnya. Ketika kasusnya kembali mencuat dan penyidik hendak mengaudit kekayaannya, dengan kalimat: "Saya tidak digaji, hanya dibiayai secukupnya untuk bisa terus." Ia berkilah dan kasusnya pun ditutup. Tentu saja dengan menggelontorkan uang untuk menyuap.
Hal semacam inilah yang membuat kasus korupsi menjadi hal lumrah di Brasil. Hal yang kemudian mengakibatkan banyaknya eksodus pemain Brasil yang bermain di luar negeri.
Mereka yang keluar Brasil bukannya tak cinta akan kampung halamannya. Bukan pula hendak mengejar uang semata. Mereka keluar dari Brasil lantaran mereka jengah dengan kondisi persepakbolaan mereka yang disesaki para cartolas.
Kasus terbaru, pembangunan-pembangunan stadion dan infratsukrut Piala Dunia 2014 juga banyak yang digerogori para garong. Pembangunan Stadion Mane Garrincha, misalnya, ternyata setelah diaudit juga dikorupsi uang pembangunannya. Dalam laporan setebal 140 halaman yang dipaparkan tim auditor, dijelaskan bahwa ada penggelembungan dana hingga 275 juta dolar US. Angka ini belum angka keseluruhan mengingat presentase pengerjaan proyek yang baru diaudit masih berkisar 25 %.
Brasil memang berbeda dengan negara dunia ketiga kebanyakan. Di belahan dunia lain macam Turki ataupun India, modal asing dapat menyelamatkan sepakbola mereka. Namun tidak bagi Brasil, modal asing jutru menjadikan sepakbola mereka semakin bobrok.
Daya pikat permainan timnas memang begitu memikat, sampai-sampai kita tidak tahu bahwa tubuh mereka sedang digerogoti rayap yang perlahan bisa saja membawa mereka dalam kehancuran juga. Ini hanya sepenggal kisah tentang korupsi yang telah menodai gilang gemilangnya prestasi tim nasionalnya.
Ya, sepakbola Brasil adalah sepakbola fatamorgana. Di balik keceriaan yang selalu mereka tunjukkan di lapangan, sebenarnya mereka sedang memendam kepiluan mereka dalam-dalam.

===
* Akun twitter penulis: @prasetypo dari Pandit Football Indonesia.
* Dapatkan buku "Brazillian Football and Their Enemies" oleh Pandit Football Indonesia di toko-toko Gramedia.

(a2s/fem)











































