Tak ada yang salah dengan pengandaian tersebut. Toh, kita juga menyaksikan sendiri bahwa jeda water break bisa dimanfaatkan oleh Van Gaal untuk melakukan perubahan taktik dan memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Ia memasukkan Klaas Jan Huntelaar, menarik Robin van Persie, juga mendorong Memphis Depay untuk berdiri sejajar dengan Arjen Robben. Pun dengan Dirk Kuyt. Pemain milik Fenerbache itu diberi arahan untuk lebih sering memperkuat lini tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jeda water break itu dianggap oleh sebagian orang sebagai time-out ala sepakbola. Pasalnya, pada jeda 3 menit itu van Gaal secara leluasa berkomunikasi dengan semua pemain di tengah-tengah pertandingan. Mendiskusikan hal-hal yang mungkin dilakukan di sisa waktu laga. Sesuatu yang jarang didapatkan oleh para pelatih sepakbola.
Berkaca dari apa yang didapat Van Gaal saat mendapat 'time-out', terutama menyoal perubahan taktik di tengah pertandingan, orang mulai beramai-ramai meng-iya-kan apa yang sudah diwacanakan Jose Mourinho, Antonio Conte, ataupun Fabio Capello beberapa waktu lalu: menyisipkan time-out dalam rule of the game sepakbola.
Tapi, seberapa pentingkah memasukkan jeda 'turun minum' ke dalam sepakbola?
Asal Usul (Wacana) Time-out
Sepengamatan kami, pelatih pertama yang mengusulkan adanya time-out dalam sepakbola adalah Jose Mourinho. Pada Oktober 2012, saat masih menangani Real Madrid, Mou pernah mewacanakan hal tersebut.
"Saya pikir, time-out akan meningkatkan kualitas sepakbola, karena di jeda waktu tersebut, pelatih dapat berkomunikasi dengan pemain di tengah permainan," ujarnya.
Β
Mourinho memang memiliki konsep menarik. Namun, lantaran terlalu sering mengeluarkan pernyataan kontroversial, orang enggan menimbang usulan itu.
Tapi hal itu tak berlangsung lama. Pasalnya, di Dubai Globe Soccer Forum, Antonio Conte dan Fabio Capello juga mengutarakan hal sama saat ditanyai wartawan terkait saran untuk sepakbola ke depan.
Β
Conte tahu betul jika time-out akan sangat berguna bagi seorang pelatih. Ini karena seorang pelatih sangat sulit berkomunikasi dengan pemain dan menyampaikan pesan dari pinggir lapangan. Jadi, dua menit (satu menit tiap babak) masa time-out akan sangat berguna. Demikian menurut pelatih yang baru saja mengundurkan diri dari kursi kepelatihan Juventus.
Sementara itu, Capello berkata, "Time-out akan menjaga pemain tetap bugar. Dan bisa menambah penghasilan bagi klub."
Β
Tak ada yang salah dari penyatan Mou ataupun Conte. Memberi instruksi dari pinggir lapangan memang cukup sulit, terlebih lagi mengubah taktik di tengah pertandingan. Tentu lebih sukar.
Pun juga dengan apa yang diutarakan Capello. Jeda waktu rehat, walau hanya sesaat, bisa menjaga kebugaran pemain karena saat jeda pemain dapat minum dan mengurangi dehidrasi. Tentu sambil mendengarkan instruksi sang pelatih.
Begitu juga dengan adanya peningkatan pendapatan klub. Sebagaimana terjadi di Amerika, waktu time-out memang kerap diisi dengan iklan-iklan dari sponsor. Ini tentu akan mendongkrak pendapatan klub, sehingga pemasukan tambahan tersebut bisa membuat harga tiket pertandingan sedikit ditekan dan lebih terjangkau.
Di Indonesia, time-out bisa jadi membantu pertumbuhan ekonomi riil. Jeda rehat itu bisa dimanfaatkan pedangang-pedangan asongan untuk menjajakan dagangannya.
Lalu, dengan sekian banyak keuntungan yang ditawarkan, baik secara taktikal maupun secara finansial, layakkah time-out dimasukkan dalam peraturan baku sepakbola?
Saya rasa tidak.
Rasa yang Hilang
Sepakbola tak sekadar olahraga ataupun hiburan, tetapi juga sebuah karya seni. Selain pada gol, keindahan sepakbola terletak pada transformasi pola serta perubahan detil taktik.
Tidak seperti basket, perubahan taktik di tengah pertandingan bola, sampai batas tertentu, bisa dibilang tanpa campur tangan langsung dari sang pelatih. Ini karena sang pelatih hanya memberi arahan dari pinggir lapangan. Dan inilah yang lalu menjadi ciri khas permainan ini, yaitu manajer tak terlalu banyak berkomunikasi dengan pemain, kecuali di ruang ganti.
Cukup sulit, memang. Tapi, itulah 'seni' seorang pelatih. Sebagaimana sepakbola dimainkan dengan keterbatasan kaki (jika dibandingkan dengan tangan), melatih sepakbola pun dilakukan dengan penuh keterbatasan, ketimbang melatih basket atau voli. Lagipula, di tengah lapangan juga ada seorang kapten, atau pemain yang ditugaskan menerjemahkan kemauan sang pelatih saat pertandingan berlangsung.
Perlu diingat bahwa sepakbola modern adalah olahraga yang lahir di Inggris dengan aroma Eropa sangat kental. Dari penampilan pemain sampai gerak para penonton, hampir semuanya memimikri benua biru. Karena itu, meski pun Amerika Latin atau pun Afrika punya tradisi sepakbola, Eropa tetap saja dianggap sebagai kiblat sepakbola. Sedangkan time-out, bisa dibilang, sebagai sebuah produk kebudayaan Amerika. Lantaran olahraga-olahraga yang mengenal time-out adalah permainan-permainan yang populer di Amerika.
Karenanya, jika time-out dimasukkan ke dalam peraturan sepakbola, bisa saja olahraga ini akan kehilangan ciri khas. Dan mungkin Inggris-lah yang akan menolak hal ini, karena dengan memasukkan time-out ke dalam sepakbola sama saja menistakan Britannia yang selama ini mengaku melahirkan sepakbola modern.
Β
Maklum, seperti yang kita tahu, Inggris adalah bangsa yang selalu mengagung-agungkan kebudayaan, dan tak mau kalah dengan bangsa lain. Apalagi dari Amerika. Masalah penyebutan βsoccerβ dan βfootballβ saja bisa sampai memantik pertengkaran.
Tapi bukankah futsal juga mengenal time-out? Dan justru lebih menghibur karena banyak tercipta gol?
Benar, memang. Namun, futsal yang sering disebut sepakbola mini itu tak lahir dan berkembang di Eropa. Futsal lahir dan berkembang di Uruguay dan Brasil pada akhir 1940-an. Jadi tak heran jika futsal mengenal time-out dan melahirkan banyak gol, seperti olahraga-olahraga produk Amerika kebanyakan.
Klimaks yang Tertunda
Bagi saya, sepakbola tak ubahnya meminum dua gelas jamu gendong, yang setiap gelas jamunya harus dihabiskan sekali teguk. Saya hanya mendapat jatah mengambil nafas setelah setelah gelas pertama kosong. Jeda, setelah menghabiskan gelas pertama dan akan meminum gelas kedua itulah yang saya gunakan untuk mengambil nafas dan mengatur strategi untuk menenggak gelas kedua, agar tak terasa pahit-pahit amat.
Dengan memasukkan time-out, sepakbola tak lagi jadi sebuah permainan yang bisa dinikmati dengan satu nafas, dan habis. Mengingat ada jeda di tengah-tengah laga. Hal inilah yang kemudian akan menunda klimaks sepakbola itu sendiri. Kita semua dibuat menunggu selama beberapa menit untuk mencapai klimaks. Ah, sudah barang tentu tak enak!
Maka dari itu, dengan sekian kelebihan dan kekurangan dari time-out dalam sepakbola, mana yang hendak Anda pilih?
====
* Akun twitter penulis: @aabimanyuu dari @panditfootball
(a2s/mfi)











































