Yang jadi perhatian dia justru salah satu stadion yang ditunjuk sebagai penyelenggara Piala Dunia, Manaus. Pelatih berusia 66 tahun ini berkata, "Manaus adalah tempat yang akan menyulitkan siapapun yang bermain di sana, iklim tropis di kota itu benar-benar tidak menguntungkan."
Keluhan Hodgson ini bukan tanpa alasan, melihat rata-rata suhu yang dicatat oleh National Meteorology institute, kota Manaus di bulan Juni-Juli memiliki suhu antara 27-28 derajat Celcius dengan kelembaban udara 87-90%. Ditambah lagi Hodgson sudah mendengar cerita tim nasional Italia saat Piala Konfederasi 2013.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak heran, yang jadi kekhawatiran terbesar Hodgson saat pengundian bukanlah lawan yang akan dihadapi Inggris. Kondisi kota yang akan jadi tempat penyelenggaraan pertandingan mereka dianggap sebagai hal yang lebih serius bagi Hodgson.
Tapi apa daya. Mantan manager Liverpool harus menerima kenyataan bahwa The Three Lions harus bertanding pada Manaus pada pertandingan pertama. Lawannya pun sembarangan. Steven Gerrard dkk harus berhadapan dengan sang juara dunia 2006, Italia.
Nasi telah menjadi bubur, karena pengundian sudah selesai dilaksanakan. Mau tidak mau Hodgson harus berhadapan dengan kondisi tidak menguntungkan di kota yang terletak di Amazon itu.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, seperti apa kondisi Manaus sehingga kekhawatiran Hodgson sangat besar? Apa bedanya dengan kota-kota lain? Tantangan geografis seperti apa yang disodorkan oleh salah satu negara terluas di dunia ini?
Kondisi Geografis Brasil
Sebelum menjelajah Manaus, mari kita menengok Brasil. Negara yang dipimpin oleh Dilma Roussef ini merupakan negara terluas kelima di dunia dengan luas daratan mencapai 8,5 juta km persegi.
Luas daratan ini membuat Brasil jadi negara dengan predikat terpanjang di dunia. Daratan Brasil paling utara berjarak 4.395 km dengan yang paling selatan. Sementara itu, daratan paling timur berjarak 4.319 km dengan daratan paling barat. Sebagai perbandingan, jarak antara Sabang dan Merauke adalah kuran lebih 5.200 km.
Dataran Brasil sendiri terbagi dalam 3 daerah besar. Ketiga area itu diberi nama Amazon Basin, Tropical Savana, dan Brazilian Highlands.

Amazon Basin merupakan daerah hutan tropis Amazon yang terletak di daerah barat laut Brasil. Sementara Tropical Savana adalah daerah pusat pertanian dan perkebunan. Daerah ini terdiri dari pegunungan dan terletak di bagian tengah.
Daerah terakhir adalah Brazilian Highlands. Area ini merupakan daerah pesisir pantai Brasil dan jadi rumah dari mayoritas kota-kota besar Brasil. Dan di daerah ini pula sebanyak lebih dari 90% penduduk negara Brasil tinggal. Tak heran jika perputaran ekonomi di Brazilian Highlands berada jauh di atas kedua daerah lainnya.
Dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2014 hanya ada satu stadion yang terletak di daerah Amazon Basin, yaitu di kota Manaus, sementara Tropical Savana pun hanya menyumbang satu kota, Cuaiba. Sepuluh stadion lain terletak di kota-kota pesisir pantai.
Memperpendek Jarak atau Menyamankan Diri?
Salah satu dampak dari kondisi geografis negara Brasil ini adalah pemilihan letak markas tim-tim peserta Piala Dunia. Seluruh peserta yang berkompetisi pada Juni-Juli ini memilih wilayah Brazilian Highlands untuk bermukim. Sebagian besar dari mereka pun memilih kota-kota yang berada di wilayah selatan.
Dasar dari keputusan ini adalah karena faktor kondisi lingkungan yang lebih nyaman, sehingga para pemain dapat beristirahat dengan maksimal pada masa jeda antar pertandingan.
Sao Paulo dan Rio De Janeiro jadi kota yang paling banyak dipilih oleh negara-negara peserta Piala Dunia sebagai basecamp. Selain karena kedua kota ini adalah kota yang paling maju, faktor lingkungan pun jadi salah satu pertimbangan.
Lalu, hanya ada 3 tim yang memilih membangun markasnya di wilayah utara Brasil yaitu Kroasia, Ghana, dan Yunani. Ghana membangun markasnya di kota Maceio, Yunani di kota Aracaju, sedangkan Kroasia memilih kota Salvador.
Pertimbangan ketiga negara adalah untuk memperpendek jarak tempuh yang harus dilalui di fase grup. Pasalnya Yunani dan Ghana sama-sama akan bertandingan di Natal dan Recife pada 2 dari 3 pertandingan mereka di fase grup. Sementara itu, pada satu pertandingan lainnya, Yunani akan terbang ke Belo Horizonte dan Ghana akan terbang ke Brasilia (lihat peta di bawah).

Pemilihan markas di daerah utara membuat Yunani dan Ghana hanya perlu menempuh perjalanan sejauh 5.300 km dan 5.342 km selama fase grup. Jarak ini terhitung cukup dekat ketimbang jarak tempuh yang harus dilalui sebagian besar peserta lain.
Namun, berbeda dengan Yunani dan Ghana yang memilih untuk memperpendek jarak tempuh, negara-negara seperti Amerika Serikat, Italia, dan Meksiko kurang memprioritaskan masalah jarak tempuh yang harus mereka lalui demi mendapatkan markas yang nyaman.
Hal ini membuat ketiga negara ini menjadi negara yang akan menjalani perjalanan terjauh selama fase grup dijalankan.
Baik Amerika Serikat, Italia, dan Meksiko tetap bersikukuh untuk membangun markas di wilayah selatan meski hasil undian menunjukan bahwa 3 pertandingan fase grup mereka akan dilangsungkan di kota-kota utara. Ketiga negara ini rela menempuh perjalanan lebih dari 14.000 km selama fase grup demi memiliki kandang di wilayah selatan Brasil.
Padahal, jarak tempuh ini menjadi penting mengingat padatnya jadwal pertandingan di fase grup bagi setiap negara. Mereka hanya memiliki jeda waktu antara 3-6 hari antar pertandingan. Maka, akan lebih menguntungkan jika waktu istirahat yang sedikit itu tidak dihabiskan hanya untuk berpindah dari markas tim ke stadion tempat bertanding.
Tapi memprioritaskan markas yang nyaman di kota-kota selatan bukannya tanpa alasan. Bukan sekadar ingin menikmati keindahan pantai-pantai pasir putih dan suasana festival serta tarian samba. Ini karena kota-kota utara Brasil memang menawarkan satu ancaman berat yang tak bisa ditolak: cuaca!
(Bersambung)
====
* Akun twitter penulis: @aabimanyuu dari @panditfootball
(a2s/din)











































