Sebenarnya, jika melihat faktor suhu saja, mungkin bisa saja dikatakan Manaus tidak terlalu menantang. Rata-rata suhu kota berpopulasi 1,9 juta jiwa ini di bulan Juni-Juli dalam 5 tahun terakhir berkisar antara 28-30 derajat celcius. Masih banyak kota di berbagai negara partisipan yang memiliki suhu setara dengan Manaus atau bahkan lebih panas lagi.
Ancaman sebenarnya dari Manaus adalah udara lembab yang datang bersama suhu panas tersebut. Kelembaban udara di Manaus dapat mencapai 90% yang artinya sangat tinggi. Dengan tingkat kelembaban tersebut, suhu udara yang hanya 30 derajat dapat menjadi mimpi yang lebih buruk ketimbang udara dengan suhu 4 derajat dengan kelembaban udara rendah. [Baca artikel pertama: Jarak yang Melelahkan di Bumi Samba]
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, kota-kota di wilayah selatan seperti Rio De Janeiro, Curitiba, Sao Paulo, dan Porto Alegre memang kota-kota yang sangat diinginkan oleh negara-negara Eropa. Kondisi lingkungan di sana menyerupai kondisi di kebanyakan negara Eropa.

Lalu mengapa udara yang lembab ini menjadi ancaman bagi pemain?
Saat bermain sepakbola, pembakaran energi yang sangat banyak akan membuat suhu tubuh pemain meningkat. Peningkatan suhu tubuh ini tentu bukan merupakan hal baik. Jika terus berlangsung tubuh akan overheat dan bisa mengganggu aliran darah di seluruh tubuh serta aktivitas organ-organ tubuh.
Namun tubuh manusia juga memiliki sistem untuk menanggulangi masalah ini. Salah satu cara tubuh untuk merespons peningkatan suhu tubuh adalah dengan mengeluarkan cairan tubuh. Misalnya saja keringat yang keluar dari permukaan kulit kita. Dengan keluarnya keringat, suhu di dalam tubuh pun akan sedikit menurun sehingga tubuh dapat terhindar dari overheat.
Hal inilah yang terhambat ketika kita berada di daerah dengan kelembaban udara tinggi. Udara lembab dapat membuat proses evaporasi --atau proses air keluar melalui pori-pori kulit-- menjadi terhambat. Maka dari itu, terhambatnya pengeluaran keringat akan menyebabkan usaha tubuh untuk mengendalikan suhu akan terganggu.
Dan dampak dari semua ini akan berujung pada performa pemain yang kurang maksimal, sebagaimana pernah dikeluhkan oleh Cesare Prandelli saat tim nasional Italia bermain di Piala Konfederasi 2013. Prandelli bukan sekedar mencari-cari alasan saat Italia harus kesulitan melawan Jepang, namun hal ini merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap pemain.
Bantuan Teknologi
Buruknya kondisi lingkungan ini tentu bukan sesuatu hal yang tidak bisa diantisipasi. Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan agar tubuh pemain tetap bisa berkompromi, meski bermain pada kondisi udara yang kurang menguntungkan.
Kembali pada Roy Hodgson, pelatih timnas Inggris ini sudah melakukan langkah-langkah yang tepat untuk mempersiapkan tim menuju pertandingan pertama di Manaus. The Three Lions berlatih di kota Miami yang memiliki kelembaban udara hampir sama dengan Manaus. Hodgson juga memerintahkan pasukannya untuk berlatih dengan baju berlapis. Hal ini untuk membuat tubuh Steven Gerrard dkk semakin terbiasa dengan kondisi panas yang akan dihadapi.

Selain persiapan latihan untuk membuat tubuh menjadi lebih terbiasa, beberapa teknologi terkini juga bisa digunakan.
Baju sepakbola saat ini sudah mengenal teknologi dri-fit. Teknologi terbaru dari salah satu apparel terkemuka di dunia ini dapat menarik kelembaban dari kulit ke bagian terluar pakaian, sehingga keringat akan menguap dengan cepat. Panel dan lubang-lubang ventilasi juga dapat meningkatkan pernapasan dan aliran udara di kulit. Dengan demikian, produksi keringat dari dalam tubuh akan berjalan lebih lancar.
Tapi, penting diingat bahwa keringat bukan sekadar harus dikeluarkan saja. Keringat yang menumpuk di permukaan kulit justru akan menjadi penghambat lain bagi pemain saat berolahraga. Setelah dikeluarkan, keringat harus langsung diuapkan ke udara sehingga tidak menjadi faktor penghambat. Tak heran, pemilihan pakaian dalam juga menjadi faktor berpengaruh.
Sebenarnya, ada baiknya bagi pemain untuk tidak mengenakan pakaian dalam demi menjaga keringat untuk langsung diuapkan melalui permukaan terluar pakaian. Namun perkembangan teknologi pakaian dalam olahraga juga sudah menyediakan jenis bahan yang justru akan menguntungkan pemain jika digunakan.
Pakaian dalam dengan teknologi terbaru, dibuat dari bahan yang dapat menguapkan air lebih cepat dari kemampuan kulit menguapkan air.
Selain untuk menyiasati keringat, pakaian dalam olahraga sekarang ini juga sudah dapat membantu recovery otot. Otot-otot yang pegal butuh waktu istirahat, tapi teknologi pakaian dalam sekarang sudah mampu membantu proses pemulihan tersebut, terutama selama pertandingan sedang berlangsung.
Jumlah kompresi yang disediakan oleh pola pada pakaian dalam, baik baju maupun celana,dapat menciptakan transisi yang mulus untuk otot, yang akan mengalami pegal dan pembengkakan selama bergerak.
Perhatikan Rambut di Sekujur Tubuh
Satu hal lain yang juga perlu diperhatikan oleh para pemain adalah rambut atau bulu-bulu yang berada di sekujur tubuh mereka. Ya, rambut-rambut ini sedikit banyak juga mempengaruhi kondisi mereka saat bertanding.
Ini karena keberadaan rambut akan menghambat proses penguapan keringat, dan pada akhirnya jadi penyebab menumpuknya keringat di permukaan kulit. Untuk mengurangi risiko tersebut, para pesepakbola memang diharapkan untuk mencukur rambut, kumis, dan jenggot mereka.Khusus untuk alis mata, sebaiknya pemain sepakbola jangan pernah mencukur rambut di bagian satu ini. Masalahnya, produksi keringat yang paling besar adalah pada kepala bagian dahi. Alis mata justru dapat menghalangi aliran keringat untuk masuk ke dalam mata. Tapi ini tentu dengan catatan, bahwa pemain harus rajin menyeka keringat di dahi, setidaknya jika tidak bisa dengan handuk, bisa juga dengan tangan.
**
Perkembangan teknologi olahraga sedang adu cepat dengan perhelatan berbagai turnamen besar untuk dapat mencari solusi terbaik dari kondisi lingkungan buruk di masing-masing negara penyelenggara. Memang, tidak ada yang tidak mungkin untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Piala Dunia kali ini akan menjadi ujian pertama terhadap kondisi ekstrem di Piala Dunia selanjutnya. Kondisi Rusia dan Qatar, yang akan jadi tuan rumah dua turnamen selanjutnya, menawarkan kondisi yang tidak kalah menantang dari Brasil, meski dengan permasalahan yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, sepakbola memang bukan sekadar 11 vs 11, atau hanya soal menebak taktik lawan dengan sempurna. Kesiapan untuk menghadapi tantangan-tantangan di luar lapangan pun sangat menentukan prestasi suatu tim. Dan malam nanti Inggris dan Italia akan menghadapi ancaman terbesar yang akan ditawarkan Brasil, yaitu ancaman dari utara.
Good luck!
====
* Akun twitter penulis: @aabimanyuu dari @panditfootball
(a2s/din)











































