Kebijakan Transfer Madrid: Superstar dan Laba Recehan dari Jualan Jersey

Kebijakan Transfer Madrid: Superstar dan Laba Recehan dari Jualan Jersey

- Sepakbola
Senin, 18 Agu 2014 14:32 WIB
Kebijakan Transfer Madrid: Superstar dan Laba Recehan dari Jualan Jersey
AFP/Pierre-Philippe Marcou
Jakarta -

"Pemain termurah yang pernah saya datangkan adalah Zinedine Zidane. Ini tidak menghabiskan uang, ini sebuah investasi," ujar Florentino Perez --presiden Real Madrid saat itu, dan saat ini juga tentunya-- sesumbar, setelah berhasil mendatangkan David Beckham dari Manchester United.

Dan dengan menjunjung tinggi asas investasi itulah, sang presiden tak henti-hentinya mencoba mendatangkan pemain bintang ke Santiago Bernabeu.
Memang, awalnya, banyak orang tak percaya akan pernyataan Perez itu. Tapi, lambat laun orang mulai meng-iya-kan hal tersebut: menganggap pembelian pemain bintang, meski mahal harganya, merupakan sebuah investasi. Karena, pada kenyataannya, setelah masuknya Becks pada tahun 2003, penjualan kaustim (jersey) Real Madrid dengan nama Beckham tertempel di punggung mengalami peningkatan sebesar 67%, dan terus meningkat tiap 6,5% tiap tahunnya.

Laba penjualan merchandise itulah yang kemudian membuat Perez kembali sesumbar, bahwasanya gaji Becks selama dua tahun dapat ditutup dengan keuntungan yang didapat Madrid dari penjualan jersey. Hal yang membuat banyak klub berlomba untuk merogoh kocek dalam-dalam agar dapat mendatangkan pemain bintang. Baik pemain yang mempunyai skill brilian, maupun pemain yang punya paras rupawan. Motifnya, jelas, mencari laba dari penjualan jersey.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi, benarkah laba penjualan jersey seorang pemain bintang mampu membantu menyeimbangkan neraca keuangan klub, atau bahkan, sampai, bisa membayar gaji sang pemain? Sebenarnya agak terlalu naif juga jika menngamini pernyataan Perez di atas. Karena, fakta di lapangan, menurut data yang dirilis Bloomberg, sebagian besar keuntungan penjualan kaustim replika tetap akan dikantongi oleh produsen apparel klub tersebut.

PSG, misalnya. Saat berhasil mengontrak Beckham pada 2013 lalu, Les Parisiens hanya mendapat share keuntungan 15 euro saja dari tiap potong baju yang terjual. Padahal, jersey replika PSG yang diproduksi Nike tersebut dipasarkan dengan banderol 70 euro.

Ini berarti, jika diasumsikan harga jual adalah dua kali lipat harga pokok produksi (HPP), maka HPP replika jersey PSG adalah 35 euro saja. Dengan demikian laba bersih tiap potong jersey adalah 35 euro (70 euro (harga jual) – 35 euro (HPP)). Dan jika klub, dalam hal ini PSG, hanya mendapat pembagian sebesar 15 euro, itu berarti sebagian besar keuntungan tetap dikantongi oleh produsen, bukan?

Lalu, jika jersey PSG bertuliskan Beckham laku 150.000 potong, apakah Les Parisiens bisa membayar gaji Beckham yang meski hanya dikontrak 5 bulan gajinya mencapai Les 3,4 juta poundsterling? Tentu, saja tidak. Hal inilah yang membuat kita kembali mempertanyakan pernyataan Perez yang sesumbar, bahwasanya gaji suami Victoria Adam ini bisa terpenuhi hanya dengan laba penjualan jersey replika.

Lantas, selain untuk mendongkrak peforma tim di atas lapangan, mengapa banyak tim yang berlomba-lomba merogoh kocek dalam-dalam dan menawarkan gaji besar agar dapat mendatangkan superstar? Jika apa yang dikeluarkan tak sebanding dengan untung yang didapat.



Semata, karena, hitung-hitungan dalam bisnis sepakbola tak sesederhana yang saya uraikan di atas. Dan, karena, seorang superstar lapangan hijau, akan memberikan efek domino yang mampu mendongkrak, minimal menyeimbangkan, neraca keuangan sebuah klub.

Saat Madrid berhasil mendatangkan Beckham di awal musim 2003, misalnya. Kedatangan Becks ke ibukota Spanyol itu tak hanya mendongkrak penjualan jersey, tapi juga menambah nilai tawar Madrid pada sponsor.

Pasalnya, pasca berhasil membangun Los Galacticos jilid I, Perez punya bargain lebih untuk melakukan renegosiasi nilai kerjasama para sponsor dengan klub. Ya, minimal, mematok harga tinggi untuk para pengiklan yang ingin menggunakan jasa Real Madrid untuk beriklan.Tak hany itu, pasca kedatangan Becks, pendapatan dari hak siar Madrid juga meningkat sebesar 44 juta poundsterling atau sebesar 24%. Begitu juga omset penjualan tiket pertandingan, meningkat 26% atau sebesar 48 juta poundsterling.

Torehan itulah yang membuat Madrid, pada tahun 2005, menjadi klub terkaya yang ada di muka bumi dengan harta 330 juta dollar Amerika. Menggeser Manchester United yang selama delapan tahun sebelumnya selalu bertengger di peringkat pertama sebagai tim terkaya.

Efek domino yang dihasilkan oleh seorang pemain bintang inilah yang kemudian menjadikan banyak klub berlomba untuk mendatangkan seorang superstar entah bagaimana caranya. Karena, seperti yang kita tahu, ada tiga sokoguru pendapatan sebuah klu, yaitu: pendapatan dari penjualan tiket pertandingan, pendapatan hak siar, dan juga pendapat komersil dari penjualan marchendaise dan juga sponsorship. Di mana tiga sektor ini saling terkait dan juga berjalan beriringan.

Memang, dalam kurun waktu, kurang lebih, satu dasawarsa ini, pendapatan dari sektor komersil mengalami peningkatan dan, sampai batas tertentu, dijadikan penyokong keuangan klub. Tapi, ada baiknya, semua klub tidak terlalu tergantung pada salah satu sumber pendapatan. Karena, jika ada klub yang terlalu bertumpu pada satu sektor pendapatan, akan membuat klub tersebut rentan terkena krisis.

Ambilah contoh dengan apa yang terjadi di Spanyol, dimana pembagian hak siar dikuasai oleh duopoli La Liga: Real Madrid dan Barcelona. Dan ketika peserta La Liga lainnya menuntut keadilan pembagian hak siar, baik Madrid ataupun Barca, seperti kebakaran jenggot.

Praktis, dengan adanya pemerataan pembagian hak siar akan membuat omset keduanya –dari sektor hak siarβ€”akan sedikit menurun. Hal yang kemudian membuat neraca keuangan mereka tak lagi seimbang. Karena pendapatan dari sektor komersil dan juga matchday begitu timpang dengan pendapatan hak siar. Jadi, jangan heran, jika selama ini, keduanya terkesan enggan membagi rata keuntungan hak siar mereka pada peserta lain.

Dan, jika hari ini, dunia kembali digemparkan dengan penjualan fantastis jersey replika James Rodriguez yang selama 48 jam berhasil terjual 345.000 potong, tidak demikian dengan jajaran direksi Los Blancos. Karena, selain sudah terbiasa dengan torehan macam itu, sampai batas tertentu mereka, menganggap laba penjualan kostum replika James itu sebagai recehan.

Ya, memang, sedikit banyak, keuntungan penjualan James itu akan membantu keuangan Los Blancos. Tapi, bukan Madrid namanya jika mengharapkan "balik modal" dari keuntungan penjualan marchendaise. Karena seperti yang kita tahu, laba penjualan jersey sebagian besar akan dikantongi oleh sang produsen, bukan klub.

Bagi Madrid, ada yang lebih penting dari rentetan angka hasil penjualan jersey, yaitu keuntungan hak siar televisi. Mereka harus meredam peserta La Liga lainnya agar tak terlalu ngotot untuk menuntut pemerataan hak siar. Pasalnya, jika hal itu terjadi atau bahkan peserta lain sampai melakuakan pemogokan seperti tahun-tahun sebelumnya, itu akan menjadi bencana bagi Madrid. Stabilitas neraca keuangan mereka akan terancam.

Lantas, mengharap neraca keuangan kembali stabil dari besarnya laba penjualan jersey yang selalu menghiasi headline media massa? Jelas tidak! Karena ada banyak sektor yang harus disemai agar klub tak terkena krisis. Karena sebagian besar laba penjualan jersey akan tetap dikantongi oleh produsen. Dan karena laba penjualan jersey, sejatinya, hanya recehan.



====

*ditulis oleh @prasetypo dari @panditfootball

*Foto-foto: AFP/Getty Images



(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads