Berbicara tentang klub para superstar tak mungkin lepas dari Real Madrid. Musim ini, mereka bahkan mengeluarkan dana hingga 105,6 juta pounds hanya untuk mendatangkan tiga pemain bintang.
Tapi mendatangkan pesepakbola tenar bukan berarti rentetan prestasi akan mengikuti. Jika salah mengantisipasi kebutuhan pelatih, bukan tak mungkin era Galacticos pertama yang minim prestasi kembali terulang.
Tanda-tandanya pun mulai muncul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran James Rodriguez dan Toni Kroos dianggap tidak akan mengubah permainan Los Blancos secara drastis. Malah, keduanya berpotensi tidak bermain maksimal karena tidak ditempatkan pada posisi natural.
Pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti, mau tidak mau harus membangkucadangkan pemain seperti Sami Kheidira, Isco Alarcon, Xabi Alonso, dan Angel Di Maria. Ini dilakukan untuk mengakomodasi Kroos dan Rodriguez agar dapat bermain bersamaan.
Bercermin pada Musim 2013/2014
Di awal musim lalu, Don Carlo masih meraba-raba fondasi seperti apa yang akan ia gunakan untuk mengarungi liga.
Pada tiga pertandingan awal, pria kelahiran Italia tersebut menggunakan formasi 4-2-3-1. Namun, pada lima pertandingan selanjutnya, ia mulai bereksperimen dengan menempatkan Ronaldo untuk berduet bersama Karim Benzema dalam formasi 4-4-2.
Kekalahan 0-1 dari Atletico Madrid pada pekan ke tujuh membuat Ancelotti sadar. Penggunaan empat gelandang tidak memberinya keleluasaan, baik saat menyerang ataupun bertahan. Unggul penguasaan bola hingga 63 persen tidak serta merta membuat pertahanan Los Galacticos kokoh. Atletico nyatanya mampu melakukan 13 attemps dengan empat yang mengarah ke gawang.
Setelah pertandingan tersebut, Ancelotti pun mulai menggunakan formasi 4-3-3 dengan memaksimalkan serangan lewat sayap. Absennya Gareth Bale karena cedera, membuatnya memasang Di Maria di sisi kanan, dan Ronaldo di kiri.
Ancelotti kembali menggunakan 4-4-2 di partai Final Copa Del Rey. Ronaldo tidak diturunkan karena cedera. Sebagai gantinya, Ancelotti menduetkan Bale bersama Benzema untuk menggempur lini pertahanan Barcelona. Formasi ini pula yang digunakan pelatih kelahiran 1955 tersebut saat mengalahkan Atletico Madrid pada partai Final Liga Champions 2014.
Untuk mengarungi musim depan, Ancelotti tampakya masih akan menggunakan tiga formasi tersebut.
Dengan tambahan tiga pemain, bagaimana kiprah Real Madird di La Liga? Mungkinkah mereka berpeluang meraih gelar juara ke-33?
Memaksa Rodriguez, Ronaldo, Bale, dan Toni Kroos Main Bersamaan
Kehadiran Toni Kroos dan James Rodriguez menghadirkan dilema bagi Don Carlo. Sulit baginya untuk memaksakan kedua pemain ini ke dalam formasi 4-3-3. Apalagi memainkan tiga gelandang bertipe menyerang, lini pertahanan El Real menjadi terancam.
Don Carlo akhirnya menurunkan Rodriguez dan Kroos bersamaan pada ajang Piala Super Eropa 2014. Uniknya, Rodriguez ditempatkan sebagai gelandang kiri dalam formasi 4-3-3. Beruntung, Sevilla tidak diperkuat sejumlah pemain inti sehingga mereka tidak bermain dalam performa terbaiknya.
Di laga itu Ancelotti menempatkan Luka Modric dengan area bermain yang lebih melebar ke sisi kanan. Sementara itu, Kroos bermain lebih dalam. Dengan penempatan seperti ini, Don Carlo mencoba untuk memaksimalkan kemampuan Kroos sebagai penyuplai bola serta penyeimbang lini tengah Los Blancos.
Meskipun menang 2-0 atas Sevilla, bukan berarti formasi 4-3-3 tersebut berjalan dengan sempurna. Masih ada celah di lini tengah tim peraih juara Liga Champions 10 kali tersebut. Tidak adanya pemain bertipikal bertahan, seperti Sami Kheidira, membuat lini tengah Madrid kewalahan.
Pasalnya, di timnas Kroasia maupun di Tottenham Hotspurβklub lamanya, Modric diandalkan sebagai gelandang serang ataupun pemain sayap. Begitu pula dengan Kroos saat bermain di Bayern Munich. Ia memiliki posisi natural sebagai gelandang tengah atau gelandang serang.
Memaksimalkan Peran Rodriguez
Hal serupa dialami oleh Rodriguez. Baik di timnas maupun di AS Monaco, pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2014 tersebut bukanlah tipe pemain yang diharapkan mampu berduel dengan pemain lawan.
Ia adalah tipe gelandang yang aktif memberikan suplai bola dan mampu menyelesaikan peluang.
Saat dipasang di sisi kiri dalam formasi 4-3-3, mau tidak mau Rodriguez harus ikut membantu pertahanan dengan menjaga kerapatan bersama Modric dan Kroos.
Terlebih lagi-βsebagaimana terlihat dalam pertandingan menghadapi SevillaβFabio Coentrao rajin membantu serangan. Ini membuat Rodriguez tidak begitu leluasa kala menyerang. Ia harus bersiaga agar lawan tidak melakukan serangan balik lewat sisi yang ditinggalkan Coentrao.
Saat menyerang, James pun diplot untuk bermain lebih melebar. Ia diplot sebagai pemberi umpan silang di sisi kiri penyerangan Madrid. Perubahan peran ini sebenarnya mampu diemban Rodriguez. Buktinya, dalam pertandingan tersebut ia melepaskan 11 umpan silang, meski hanya dua yang akurat.
Satu hal yang terlihat dari pertandingan tersebut adalah peran Rodriguez di 4-3-3 terasa belum maksimal. Tidak terlihat kemampuan Rodriguez seperti yang ia tunjukkan di Piala Dunia. Padahal, Ancelotti mestinya mampu memanfaatkan pemain seharga 70,4 juta pounds tersebut sebagai mesin kreasi gol.
Menakar Perubahan Pola Menjadi 4-2-3-1
Musim lalu, Don Carlo lebih banyak menggunakan formasi 4-3-3 sebagai dasar permainan Real Madrid. Namun, sesekali Don Carlo mengubah formasi menjadi 4-2-3-1. Ia menggunakan pola tersebut pada total tujuh pertandingan.
Jika Ancelotti memilih gunakan 4-2-3-1, maka akan ada satu pemain yang berposisi di belakang penyerang. Dengan formasi ini, Rodriguez bisa ditempatkan di posisi favoritnya, tanpa mengorbankan Bale atau pun Ronaldo.
Di timnas Kolombia, Rodriguez biasanya diapit oleh Victor Ibarbo dan Juan Guillermo Cuadrado. Saat menyerang, Rodriguez lebih banyak menunggu di luar kotak penalti. Ia membiarkan Cuadrado ataupun Ibarbo yang menusuk ke dalam. Ia pun dapat mengakomodasi pergerakan dua fullback Kolombia yang aktif membantu serangan.
Pola seperti ini mirip dengan kekuatan skuat Madrid saat ini. Dua fullback El Real yang dihuni Marcelo/Coentrao dan Carvajal sering membantu serangan, sementara Ronaldo dan Bale seringkali menusuk langsung ke dalam kotak penalti.
Dengan alternatif formasi 4-2-3-1, Rodriguez diharapkan mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tanpa "mengganggu" peran pemain lain di klub.
Rentan Diserang
Ketika formasi 4-2-3-1 digunakan dalam tujuh pertandingan, lima di antaranya adalah ketika melawan enam tim peringkat terbawah. Almeria, Granada, serta tiga tim yang terdegradasi: Osasuna, Real Valladolid dan Real Betis, sempat merasakan tajamnya gempuran lini serang El Real lewat formasi ini.
Namun, lini pertahanan El Real menjadi begitu rentan. Poros ganda yang biasa dihuni Xabi Alonso, Luka Modric, Assier Illarramendi, Isco, atau pun Sami Kheidira, belum terbiasa berperan sebagai penyalur bola sekaligus penahan serangan lawan.

[Variasi formasi Real Madrid]
Jika Ronaldo Absen
Ronaldo memegang peranan penting di Real Madrid. Bukan hanya sebagai mesin gol, tapi peraih Balon d'Or 2013 tersebut dianggap sebagai motivator utama dalam skuat. Kehadirannya di lapangan dianggap mampu mengangkat moral rekan-rekannya untuk memenangi pertandingan.
Lambat laun, cedera pun mulai menghinggapi Ronaldo. Piala Dunia 2014 menjadi pertaruhan karier winger Portugal tersebut. Ia memaksakan bermain meski cedera panjang telah menantinya.
Selepas pertandingan menghadapi Atletico, Ancelotti mengatakan bahwa cedera yang diderita Ronaldo tersebut "bukanlah masalah besar". Padahal, Ronaldo kerap ditarik keluar, bahkan saat ia tidak bertabrakan dengan pemain lain.
Musim lalu saja, ia melewatkan pertandingan final Copa Del Rey. Padahal pertandingan tersebut penting bagi Madrid untuk mengamankan satu gelar di musim 2013/2014. Saat pertandingan menghadapi Celta Vigo pada pekan ke-37, nama Ronaldo pun ditarik dari susunan pemain karena mengalami cedera saat pemanasan.
Di sinilah peran Rodriguez menjadi vital, yaitu untuk memperkuat lini serang Los Blancos kala Ronaldo absen. Dalam sosok Rodriguez, Madrid memiliki pemain yang dapat menyisir sisi lapangan dengan kualitas yang sama dengan Ronaldo.
Kehadiran Rodriguez diharapkan bisa menambah kekuatan serangan sayap El Real. Jika Ronaldo tidak bisa main, Bale bisa kembali diduetkan bersama Benzema dalam formasi 4-4-2. Sementara itu, sayap kanan, bisa diisi oleh Di Maria atau Luka Modric.

[formasi Real Madrid tanpa Ronaldo]
Prediksi
Peluang Los Blancos untuk menjuarai La Liga terbuka lebar. Keylor Navas bisa menjadi pelapis serta pemberi motivasi bagi Iker Casillas untuk bekerja lebih keras. Kiper terbaik La Liga musim lalu itu pun bisa memberikan tekanan serius bagi Casillas. Bukan hanya lebih muda, tapi kelenturan serta kemampuan akrobatiknya dianggap lebih baik ketimbang Casillas.
Sementara itu, kehadiran Toni Kroos membuat Real Madrid akan menambah stok pemain tengah yang bertugas sebagai pengatur aliran bola. Meski tidak sekokoh Xabi Alonso, tapi kehadiran Kroos mampu memberi warna di lini tengah El Real.
Mendatangkan James Rodriguez bukan sekadar memperkuat lini serang El Real. Rodriguez menjadi bagian dari rencana jangka panjang tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu tersebut. Ia akan mengganti peran Cristiano Ronaldo seandainya pemain binaan Sporting Lisbon tersebut mengalami penurunan performa, atau bahkanβkemungkinan terburuknyaβpensiun karena cedera.
Di sisi lain, dua rival terberat El Real, Atletico Madrid dan Barcelona, belum memperlihatkan performa terbaiknya. Musim ini, Atletico ditinggalkan Diego Costa, Filipe Luis, Adrian, Sergio Asenjo, Daniel Aranzubia, David Villa, dan Thirbaut Courtois. Bahkan, tiga kiper yang bermain musim lalu, sudah tak lagi bermain di klub yang bermarkas di Vicente Calderon tersebut.
Sementara itu, rekrutan baru Barcelona, Luis Suarez, belum bisa bermain hingga Oktober mendatang. Dari urusan taktik pun publik masih menerka-nerka formasi apa yang akan digunakan Luis Enrique. Santer terdengar ia akan menggunakan 3-2-3-2 untuk musim ini, meski tidak menutup kemungkinan formasi 4-3-1-2 akan menjadi alternatif.
Dengan skuat seperti ini, Real Madrid tampaknya akan mampu menumbangkan dua tim rival tersebut, demi meraih gelar La Liga untuk yang ke-33 kalinya.
(krs/roz)











































