Alasan Klub-klub Menimbun Penjaga Gawang

- Sepakbola
Rabu, 17 Sep 2014 11:38 WIB
AFP/Christof Stache
Jakarta -

Ada satu hal berbeda pada musim ini, yaitu banyaknya tim yang menyajikan kompetisi internal pada posisi penjaga gawang. Mungkin ini satu efek Piala Dunia, yaitu banyak penjaga gawang yang datang ke klub besar. Beberapa dari mereka berharap untuk menjadi pilihan utama, sementara sisanya yang tidak beruntung mungkin hanya menjadi penghangat bangku cadangan.

Kasus terbaik untuk menggambarkan hal ini tentu adalah Pepe Reina yang baru saja pindah ke Bayern Munich.

Tanpa merendahkan Reina, meskipun sudah tidak lagi menjadi pilihan utama di Spanyol, ia adalah seorang penjaga gawang yang baik. Reina sudah menjadi kiper utama di Liverpool sejak 2005.

Musim lalu, bisa dibilang adalah musim aneh untuk Reina. Setelah Liverpool mendatangkan Simon Mignolet, ia mulai tidak mendapatkan tempat utama. Ia kemudian hengkang selama satu musim untuk dipinjamkan ke Napoli, bergabung bersama pelatih yang membawanya ke Liverpool, Rafael Benitez. Musim ini ia menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun bersama Munich.

Suatu alasan paling klise adalah ketika Reina berkata, "Saya bergabung untuk memenangkan sebanyak mungkin trofi."

Jika menilik pernyataan tersebut, kiper Spanyol ini bisa dibilang berada di tim tepat. Tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ia berada di posisi tepat?

Tanpa perlu berpikir lama, mari bersepakat bahwa Manuel Neuer adalah kiper terbaik di dunia. Tanpa cedera dan performa yang drastis menurun, tentu ia tetap akan menjadi pilihan utama di Bayern untuk waktu sangat panjang.

Reina, yang sudah menginjak usia 32 tahun pada akhir bulan lalu, hanya satu dari sekian banyak kiper top yang pindah klub tanpa garansi bahwa ia akan menjadi pilihan utama.

Tapi Reina tak sendiri. Musim ini kita bisa menemukan Keylor Navas yang pindah ke Real Madrid. Ia berada di bawah bayang-bayang iker Casillas dan masih belum bermain satu menit pun di kompetisi resmi bersama El Real.

Lalu ada Marc-Ander ter Stegen dan Claudio Bravo yang menjadi kiper baru FC Barcelona. David Ospina yang bermain cemerlang bersama Kolombia juga bergabung bersama Wojciech Szczesny di Arsenal. Michel Vorm harus bersaing dengan Hugo Lloris dan Brad Friedel di Tottenham Hotspur. Willy Caballero juga bergabung untuk bersaing bersama Joe Hart di bawah mistar gawang Manchester City.

Mungkin akan ada banyak contoh lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Anda semua pasti bertanya, mengapa?

Ketamakan Klub-Klub Top

Tidak banyak kiper top yang mau pindah hanya untuk duduk di bangku cadangan. Tetapi, kita harus memahami bahwa ada banyak pengecualian seperti yang Reina bilang di atas. Atau, ada berbagai klub yang mampu menawarkan gaji tinggi.

Pada kasus Arsenal, Arsene Wenger membeli Ospina dari tim Ligue 1, Nice. Kiper berusia 25 tahun ini memang dibayar cukup tinggi di Arsenal. Tetapi, timbul kecurigaan bahwa Wenger tidak benar-benar percaya kepada kiper utamanya, Szczesny. Ini mungkin menjadi salah satu alasan Wenger menumpuk kiper.

Tim London lainnya, Spurs, mungkin berpikiran sama ketika Vorm ditasbih menjadi pembelian pertama. Tak ada urgensi dari pembelian ini. Spurs sudah memiliki sosok kiper hebat pada diri Lloris, sang kapten timnas Prancis. Mereka juga memiliki sosok kiper lainnya pada diri Friedel. Berusia 43 tahun, meski tak memiliki performa seapik Lloris, Friedel tentu mampu menawarkan pengalaman.

Kalaupun mereka mencari kiper cadangan untuk kedua pemain di atas, rasanya sosok kiper muda seperti Jordan Archer lebih tepat. Atau, alih-alih mereka membeli Vorm, mereka juga bisa mempertahankan Heurelho Gomes yang akhirnya dijual ke Watford.

Namun, Vorm, kiper Belanda yang sudah berusia 30 tahun ini tampaknya sadar diri. Setelah ia menjadi kiper utama di Swansea, ia bisa menerima kenyataan bahwa ia akan menjadi pilihan ke dua di belakang Lloris.

"Setiap klub biasanya memiliki dua kiper top," kata Vorm. "Ini akan cocok dengan filosofi klub untuk memiliki pilihan yang kaya (untuk setiap posisi). Terutama jika sadar bahwa Tottenham akan berlaga di banyak kompetisi."

Maka jawaban mengapa Vorm dibeli mungkin ada di Piala Liga, Liga Europa, ataupun Piala FA di awal tahun depan. Ia bisa bermain jika Lloris cedera. Sepertinya ia juga akan mengungguli Friedel mengingat Mauricio Pochettino menggemari kiper bertipikal sweeper.

Meskipun kita bisa mencari banyak alasan seperti di atas, intinya adalah, jika klub top mau untuk menumpuk kiper-kiper hebat, mengapa tidak? Chelsea adalah contoh terbaik dari pernyataan ini.



Kiper "cadangan" mereka, atau bahasa lebih sopannya adalah kiper backup yang disediakan untuk masa depan ketika Petr Cech beranjak tua, dipinjamkan bahkan sampai menjadi kiper utama di Atletico Madrid.

Thibaut Courtois mungkin sekarang sudah mendapatkan kesempatan emas di Chelsea. Tetapi kita harus ingat akan jasa-jasa Cech. Bisakah kita melupakannya begitu saja?

Selain kiper, posisi lain juga alami hal sama. Contoh terbaik adalah Chelsea. Bersama Manchester City, mereka sudah bertahun-tahun menumpuk banyak pemain bagus di berbagai posisi, kemudian meminjamkan para pemain itu.

Ini bisa dianalogikan seperti kita membeli banyak tanah, berharap nilai jual tanah-tanah tersebut akan naik, sambil berharap tidak ada orang lain yang memiliki tanah kita. Kita mungkin berpikir akan menjual tanah kita suatu hari nanti, ketika harga sudah sangat tinggi. Tetapi, "suatu hari nanti" itu tidak jelas kapan pastinya.

Kita menjadi tamak. Seperti mungkin klub-klub tamak untuk menumpuk kiper, sambil berharap tim lain tidak memiliki kiper sebaik tim mereka.
Satu anomali dari pembahasan di atas adalah Brad Jones, kiper dengan nomor punggung satu di Liverpool.

"Ada banyak pemain yang ingin bermain setiap pekan, tetapi saya lebih memilih untuk mendorong diri saya ke tingkat tertinggi bersama pemain-pemain top dan melihat sejauh mana saya bisa berada. Bagi saya itu lebih baik daripada pergi."

Tidak heran ia menjadi pilihan nomor dua di Liverpool, tidak seperti nomor punggungnya. Namun, itu adalah sebuah pernyataan yang jujur yang tentunya bisa kita terima.

Alasan Paling Klise: Menjaga Persaingan

Kiper legendaris Manchester City, Joe Corrigan, berkata bahwa dengan mendatangkan kiper berkualitas sama baiknya dengan kiper utama, manajer ingin menekan kipernya untuk bisa bersaing dan menunjukkan performa lebih baik.

Ia mengeluarkan pernyataan tersebut sambil meng-iya-kan bahwa Manuel Pellegrini mendatangkan Caballero untuk meningkatkan level persaingan di posisi kiper untuk Joe Hart.

Caballero sendiri adalah salah satu kiper yang performanya konsisten selama tiga musim di La Liga bersama Malaga. Di atas kertas, Hart memang lebih baik daripada Caballero. Tetapi Corrigan berkata, "Hart sudah lama berada pada zona nyaman. Di Inggris, ia adalah kiper nomor satu, bahkan bisa dibilang ia kiper top satu-satunya. Di City juga demikian."

Musim lalu dan sebelumnya ia sempat terus ditekan oleh Costel Pantilimon. Namun, jauh di lubuk hati terdalamnya ia pasti berpikir bahwa sesering apapunia dicadangkan, dirinya pasti akan kembali menjadi kiper nomor 1 City.

"Kamu butuh seseorang yang bisa terus menekanmu," lanjut Corrigan. Pellegrini menemukan sosok seperti itu pada diri Caballero.

Selain Chelsea, Barcelona juga memiliki dua kiper top. Bravo dan ter Stegen adalah dua kiper yang sama-sama baru didatangkan musim ini setelah Victor Valdes dipastikan pergi.

Kita mungkin bisa menemukan banyak contoh jika kita membicarakan level tim nasional. Tetapi di level klub, menumpuk kiper top adalah sesuatu yang bisa dibilang tidak sehat. Butuh banyak alasan untuk melakukannya, entah gaji, rotasi pemain, atau trofi.



Pada tahun 2010-an ini, kita bisa menemukan contoh di Real Madrid. Diego Lopez awalnya didatangkan Jose Mourinho untuk menjadi pelapis Casillas yang cedera di pertengahan musim 2012-2013.

Ia menjadi pilihan utama menyingkirkan kiper cadangan Madrid saat itu, Antonio Adan. Kemudian, dengan mengejutkannya Lopez tetap menjadi pilihan utama meskipun Saint Iker sudah pulih dari cedera.

Bahkan di musim lalu, Lopez tetap menjadi pilihan utama di bawah pelatih Carlo Ancelotti, meskipun "hanya" dimainkan di La Liga saja. Sementara itu, Casillas bermain di kompetisi format piala (cup).

Berhasilkah? Kita bisa melihat Real Madrid menjuarai Liga Champions dan Copa del Rey dengan Casillas di bawah mistar.

Tetapi, untuk jangka panjang, ternyata ini bukan hal baik. Setidaknya itu yang disampaikan oleh Justin Bryant, seorang kiper asal Amerika Serikat dan juga pengarang buku "Small Time: A Life in the Football Wilderness".

"Hal itu tidak akan menyenangkan kiper manapun. Tim membutuhkan kiper yang tetap. Lebih buruk lagi jika muncul opini umum bahwa pelatih sama-sama tidak mempercayai kedua kiper."

Sebuah pernyataan yang adil sepertinya. Tetapi apakah Wenger, Mourinho, dan Luis Enrique juga setuju?

Penjaga Gawang yang Kesepian

Menjadi seorang penjaga gawang adalah keputusan sulit. Ia adalah pemain yang berlatih terpisah dari pemain lainnya, hingga melakukan pemanasan pun terpisah.

Bahkan, dalam penulisan formasi, kiper acap dianggap tidak ada. Formasi 4-4-2 yang sebenarnya adalah 1-4-4-2. Begitupun dengan formasi lainnya. Kiper adalah pemain yang kesepian yang bahkan sejak dalam penulisan pun sudah dipisahkan dari dari para outfield player.

Jika menjadi seorang kiper sudah menjadi sesulit itu, maka lebih sulit lagi tentunya bagi kiper pilihan ke dua.

"Jika saya bisa berbicara kepada diri saya sendiri di 10 atau 20 tahun ke belakang, saya akan berbicara hal berbeda," ujar Steve Harper, kiper Newcastle United yang bertahun-tahun rela duduk di bangku cadangan menyaksikan Shay Given beraksi.

Ia telah mengabdi kepada Newcastle selama 20 musim dan hanya bermain dalam jumlah yang sedikit. "Sering kali terasa berat. Saya depresi dan harus sering berbicara kepada keluarga, psikolog, dan dokter."

Dan bukan tak mungkin bahwa pada musim ini, Vorm, Reina, Cech, dan kiper-kiper lainnya akan bernasib serupa dengan Harper, yaitu mengalami depresi berkepanjangan. Duh!



====

*ditulis oleh @DexGlenniza dari @panditfootball

(roz/a2s)