Penjualan dua bintang AS Monaco asal Kolombia, James Rodriguez dan Radamel Falcao, menimbulkan keresahan suporter. Lewat situs resmi, kelompok pendukung terbesar AS Monaco, Planete ASM, pun menuntut pengembalian uang tiket musiman yang telah mereka beli.
"Saat ini, fans merasa dikhianati," tulis situs resmi Planete ASM, "Kami percaya pada janji klub dengan menerima kenaikan harga tiket terusan di Stadion Stade Louis II."
Tak ada tanggapan resmi dari manajemen soal tuntutan tersebut. Pemilik AS Monaco, Dmitry Rybolovlev, tak mau ambil pusing. Triliuner asal Rusia tersebut seolah tak perduli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanda tanya besar menggelayut di kepala penggemar terkait dengan perubahan langkah yang mendadak ini. Setelah menggelontorkan 156,38 juta pounds musim lalu, manajemen AS Monaco seolah mengerem langkah tiba-tiba.
Sebenarnya, dengan jumlah penduduk tak lebih dari 37 ribu jiwa, Kerajaan Monako bukanlah tempat tepat untuk meraup penggemar. Negara yang luasnya hanya dua kilometer persegi tersebut memang dihuni oleh masyarakat yang sehat secara finansial, namun rasanya sulit untuk memaksa seluruhnya menjadi penggemar bola.
Seorang pengusaha ulung, tak mungkin Ryblovlev tak memikirkan hal ini sebelumnya saat membeli 66 persen saham kepemilikan AS Monaco pada Desember 2011 silam. Lalu, mengapa ia sampai berinvestasi di klub?
Menjadi Monegasque
Dmitry Yevgenyevich Rybolovlev adalah seorang Rusia. Lahir di Perm, 1.400 kilometer arah timur laut Moskow. Terlahir dari keluarga yang berprofesi sebagai dokter, tak heran jika ia pun mengenyam pendidikan kedokteran di Perm Medical Institute.
Kariernya menanjak bukan saat ia menjadi dokter, melainkan saat merambah bisnis investasi pada 1992. Lalu, pada 1995 Rybolovlev memulai bisnis potash, induk dari segala jenis potasium.
Pada Desember 2011, ia membeli 66,67 persen saham AS Monaco. Saat itu, kondisi klub berada dalam titik terendah. Runner-up Liga Champions 2003/2004 tersebut hampir terdegradasi ke kasta ketiga Liga Prancis.
Pemimpin Kerajaan Monako, Prince Albert II, setuju dengan pembelian tersebut. Namun, ia menginginkan 34 persen saham masih dipegang pemerintah Kerajaan Monako. Alasannya, AS Monaco adalah klub sekaligus tim nasional yang menjadi representasi Kerajaan Monako.

Ryblovlev (kiri) dan Prince Albert II ketika menyaksikan Monaco menghadapi Bayer Leverkusen pekan lalu.
Sejak itu pula, Rybolovlev resmi menjadi penduduk Monako, setelah mendapatkan carte de sejour, sebuah kartu izin tinggal selama sepuluh tahun. Bagi seorang hartawan seperti dirinya, tinggal di negara yang membebaskan pajak adalah seperti pelesir di surga. Monako disebut sebagai tax heaven karena tak menuntut pajak pendapatan dari warganya.
Forbes menuliskan kekayaan Rybolovlev mencapai 8,8 miliar dollar.
Dibandingkan dengan Prancis yang mencapai 75 persen, penetapan pajak pendapatan di Rusia sebenarnya tidak terlalu besar, yakni 13 persen.
Namun, Rybolovlev ingin segera mengubah kewarganegaraannya. Ia pernah merasakan pengalaman tak mengenakkan di negara yang dikepalai Vladimir Putin tersebut. Ia pernah dipaksa menjual semua sahamnya di bisnis potasium untuk bisa bebas dari penjara.
Anggapan bahwa ia ingin menghindari pajak dengan menjadi warga negara Monako, tidak bisa dijadikan alasan yang absolut.
Dengan menetap di Monako, ia akan lebih mudah untuk sekadar minum kopi bersama dengan pebisnis lain. Diperkirakan, terdapat 2 ribu miliuner dan sekitar 50 triliuner tinggal di negara penyelenggara balapan Formula 1 tersebut.
Rybolovlev sebenarnya sudah memiliki paspor Siprus, berkat investasinya di negara yang terletak di Laut Mediterania tersebut. Namun, ia tak puas karena Siprus memiliki perjanjian ekstradisi dengan pemerintah Rusia.
Jika suatu saat ia diburu pemerintah Rusia, ia tak punya tempat untuk berlindung dan dilindungi.
Cukup sulit sebenarnya untuk menjadi warga negara Kerajaan Monako. Minimal pemohon harus tinggal lebih dari 10 tahun selama berturut-turut sejak usia 18 tahun.
Persyaratan tersebut bisa gugur andai Prince Albert II memberi lampu hijau, dan menganugerahinya kewarganegaraan. Membeli klub yang juga representasi dari negara Monako adalah pilihan termudah agar ia dianugerahi kewarganegaraan.
Simbol Rivalitas Negara
Faktor apa yang melandasi Fly Emirates memperpanjang kontraknya di bagian dada jersey PSG? Bukankah Fly Emirates berasal dari Uni Emirat Arab (UEA), sementara PSG dimiliki pemerintah Qatar?
PSG dan Manchester City bukanlah klub biasa. Mereka dimiliki oleh grup sorveign wealth funds dari dua negara dengan pendapatan perkapita terbesar di dunia tersebut. PSG oleh Qatar Investment Authority (QIA), sementara Manchester City oleh Abu Dhabi United Group (ADUG), yang merupakan bagian dari Abu Dhaby Investment Authority (ADIA).
Sorveign wealth funds merupakan kelompok/fund yang dimiliki negara yang terdiri atas aset-aset seperti saham, obligasi, properti, dan aset keuangan lainnya. Ini biasanya dilakukan oleh negara dengan cadangan devisa yang besar, dengan tujuan untuk mengembangkan kekayaannya lewat investasi.
Sejak masuk ke PSG pada 2011, PSG telah mengeluarkan dana sebesar 389,35 juta pounds untuk belanja pemain. Manchester City lebih gila lagi. Sejak musim 2008/2009 mereka telah mengeluarkan dana hingga 727,41 juta pounds!
PSG dan Manchester City adalah klub yang merugi. Tak ada keuntungan finansial yang bisa dibanggakan. Jelas, motif utama QIA dan ADIA bukan menjadikan dua klub tersebut sebagai ATM yang bisa dikeruk keuntungannya. Ada persaingan macam apa sebenarnya?
QIA bergerak di bidang perminyakan dan gas alam. Mereka memiliki 12,7 persen saham Bank Barclays serta 17 persen kepemilikan produsen otomotif Volkswagen. Sementara ADIA mengelola cadangan minyak berlebih di UEA. Mereka pun merambah bisnis investasi di seluruh dunia.
Penguatan brand image menjadi salah satu faktor kepemilikan PSG dan Manchester City. Keduanya menjatuhkan pilihan pada maskapai penerbangan: QIA dengan Qatar Airways, sementara ADIA dengan Fly Emirates dan Etihad Airways.
Persaingan maskapai tersebut telah terlihat dari rilis "Airline of The Year" yang dikeluarkan konsultan penerbangan Skytrax. Qatar Airways ada di peringkat kedua, Fly Emirates ketiga, dan Etihad Airways kesembilan.
Begitu pula dengan sponsor kedua klub yang dihuni oleh perusahaan strategis dari Qatar dan UEA.
PSG yang dimiliki QIA memiliki tiga sponsor asal Qatar: (1) Ooredoo, perusahaan telekomunikasi pemerintah Qatar (2) QNB, bank nasional Qatar yang beroperasi di Timur Tengah dan Afrika Utara (3) beIN Sports, televisi jaringan milik QIA.
Sama halnya dengan Manchester City. Satu dinas pariwisata serta tiga perusahaan UEA mengisi sponsor City: (1) Etihad, maskapai penerbangan pemerintah UEA (2) TCA Abu Dhabi, dinas pariwisata dan turisme pemerintah UEA (3) Etisalat, perusahaan telekomunikasi pemerintah UEA (4) Aabar, konsultan bisnis UEA.

Lalu, di mana persaingannya?
Maret silam, hubungan Qatar dan UEA memanas. Bersama dengan Bahrain dan Saudi Arabia, mereka menarik duta besarnya dari Qatar. Konflik kepentingan ini bukanlah hal yang baru.
Sejarawan Jazirah Arab, Dr. Abdullah Al Taboor, mengatakan tensi UEA dan Qatar sudah meninggi sejak pemimpin Qatar, Shaikh Hamad bin Khalifa Al Khatani, memakzulkan ayahnya pada 1995, untuk menjadi emir baru Qatar.
UEA, Arab Saudi, dan Bahrain tak setuju dengan pemakzulan tersebut karena dianggap tak sesuai dengan kultur dan budaya ketimuran. Selain itu, Qatar dianggap memberi pasokan dana bagi kelompok pemberontak saat gelombang revolusi terjadi di Timur Tengah. Bahrain tentu kesal. Sebagai negara bertetangga, Qatar seolah menusuknya dari belakang.
Tidak bisa dipungkiri, Qatar adalah negara dengan pemasukan terbesar di dunia. Mereka bisa melakukan apapun untuk mengangkat citra negara.
Qatar menyelenggarakan ajang balap motor bergengsi, MotoGP, sejak 2004. Mereka pun membuat terobosan dengan menempatkan lampu di sekeliling sirkuit untuk balapan malam. Maka, sejak 2008, balapan di Sirkuit Losail pun digelar malam hari dan menjadi penyelenggaraan pertama yang digelar di bawah sorot lampu.
UEA tak mau kalah. Pada 2009 pembangunan Sirkuit Yas Marina rampung. Bukan MotoGP yang mereka sasar, tapi seri balapan tercepat di muka bumi: Formula 1. Tak ingin kalah mewah, mereka pun memasang lampu di sekeliling sirkuit, dan mengubahnya menjadi balapan malam. Tak lupa, desain sirkuit yang bertaburan lampu menambah gemerlap kondisi Yas Marina.
Ada satu hal yang hingga saat ini tak bisa dilakukan UEA untuk mengalahkan Qatar: menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Pada Piala Dunia 2022, Syeikh di Qatar pastilah tersenyum bangga. Sembari duduk di box VVIP menyaksikan partai final, pandangannya melayang jauh ke arah tenggara, tempat si tetangga berada.
Tak mengapa, Fly Emirates ada di jersey PSG. Toh, Qatar pernah dan akan mempermalukan UEA dalam waktu dekat.
Pertama, Qatar pernah menolak bergabung dengan tujuh emirat yang ada di bawah negara Uni Emirat Arab. Kedua, Qatar akan menyelenggarakan ajang akbar sepakbola yang jaraknya hanya 500 kilometer dari kediaman sang presiden, Khalifa bin Zayed Al Nahayan.
***
Prince Albert II pulang lebih cepat. Saat itu, Monaco tertinggal atas Lorient pada pekan pertama Ligue 1. Tak ada kebisingan di stadion berkapasitas 19 ribu kursi tersebut.
Sang Pangeran tak senang penjualan Rodriguez tak berarti apa-apa bagi Les Rogues et Blancs, julukan Monako.
Rybolovlev tak peduli. Apa yang ada di pikirannya, mungkin, adalah apartemen seharga 180 juta pounds yang baru dibelinya. Letaknya berhadapan langsung dengan pelabuhan dan Laut Mediterania.
Sesekali, ia akan teringat akan kekalahannya di pengadilan. Ia mesti membayar 2,7 milar pounds dan properti senilai 88,5 juta pounds di Swiss.
Β
Mestinya ia tak terlalu bersedih. Sepertiga kekayaannya tersebut telah ia berikan pada perempuan yang dinikahinya selama dua puluh tahun, yang bersamanya membesarkan dua putri yang kini beranjak dewasa.
Peluh keringatnya seharusnya segera terganti andai Pangeran Albert II menganugerahinya kewarganegaraan penuh, bukan hanya untuk tinggal selama sepuluh tahun.
Namun, Prince Albert masih ragu. Baru tiga tahun, Rybolovlev ngambek karena status kewarganegarannya belum di-upgrade dan Falcao dan Rodriguez pun kini terbang menjauh dari Monako.
Rybolovlev beralasan ingin menjadikan Monaco sebagai tim yang berproses, bukan tim instan yang dibangun oleh pundi-pundi uang dalam semalam.
Β
Sayangnya, standar sama juga diterapkan Prince Albert II. Sebelum bisa mengantar AS Monaco menjadi juara, jangan harap paspor Monako bisa terselip di saku jas Rybolovlev.
====
*ditulis oleh @aditz92 dari @panditfootball. Profil lihat di sini
(roz/a2s)











































