sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Senin, 27 Okt 2014 14:11 WIB

Merawat Sisa-sisa Keindahan Sepakbola di Rimba Raya Sepakbola Indonesia

- detikSport
Jakarta -

Tuan Hinca, jika menyalakan flare di stadion pernah anda sebut sebagai "kejahatan internasional", kejahatan jenis apa yang akan anda katakan untuk sepakbola gajah, sepakbola yang skornya diatur sekehendak hati?

Bisa anda bayangkan ada tim yang unggul 2-0 berkat gol bunuh diri, lalu memutuskan membuat tiga gol bunuh diri balasan di empat menit terakhir sebelum pertandingan berakhir? Skor lalu menjadi 3-2. Dan bisa anda bayangkan lagi, di detik-detik terakhir itu, tim yang sedang unggul 1 gol masih mencoba mencetak gol bunuh diri demi menyamakan kedudukan supaya jadi 3-3?

Bisakah juga anda bayangkan, ada tim yang mau mencetak gol bunuh diri, tapi justru dicegah oleh tim lawannya? Bayangkan, apa rasanya jika anda melihat pelaku gol bunuh diri itu malah melakukan perayaan, seakan-akan sudah mencetak gol indah ke gawang lawan?

Tuan Hinca, sekali lagi, jenis kejahatan macam apa untuk kejadian-kejadian menggelikan macam itu sementara sekadar menyalakan flare di stadion saja sudah telanjur dilabeli "kejahatan internasional"?

Jika menyalakan flare saja sudah diancam pengurangan poin, niscaya ada nalar yang di-pantat-i jika kejadian-kejadian macam itu tak dihukum lebih berat dari ancaman untuk "kejahatan internasional" berupa menyalakan flare.

Inilah yang sayangnya justru terjadi tepat di hari di mana Presiden mengumumkan siapa saja menteri di kabinetnya, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga.

Mari sama-sama kita ucapkan: Selamat datang di rimba raya sepakbola Indonesia, Pak Menpora yang baru. Anda sudah tak bisa mundur lagi!

****

sepakbola Indonesia benar-benar menyedihkan di hari-hari terakhir ini. Bukan semata karena "sumbangan" lima gol bunuh diri ini saja, tapi lebih karena sepakbola Indonesia sudah benar-benar dalam keadaan sakit keras ketika lima gol bunuh diri itu ternyata dibenarkan begitu saja oleh banyak orang bahkan oleh para pendukungnya sendiri.

Di mana letak akal sehat dalam pengelolaan sepakbola Indonesia memang sudah dipertanyakan sejak lama. Tapi, setidaknya, masih ada sedikit harapan: jika pun yang bobrok itu memang federasi, setidaknya suporter tak ikut-ikutan kehilangan akal sehat. Tapi, kini?

Tewasnya dua suporter dalam dua pekan terakhir (satu di Sleman, satu di Stadion Manahan), sampai batas tertentu, masih bisa (walau dengan begitu susah payah) dipahami dalam kerangka alam berpikir para suporter. Tapi suporter membenarkan kesebelasan kesayangannya mencetak gol-gol bunuh diri secara menjijikkan, dan malah bangga bisa memuncaki klasemen karena laga menyedihkan macam itu, inilah yang sudah mustahil untuk bisa dipahami. Akal sehat saya menyerang dan memilih mlipir.

Bayangkan saja: fans yang dengan gagah berani menyerang fans lain yang baru saja mendukung kesebelasan kesayangannya supaya menang hingga tewas, di saat yang lain malah bangga kesebelasan kesayangannya mencetak dua gol bunuh diri dengan cara yang menjijikkan.

Prinsip dasar mendukung kesebelasan tercinta sungguh-sungguh berada dalam tanda tanya ketika saya menyerang fans lain yang sedang mempertaruhkan nyawa demi mendukung kesebelasannya, tapi saya sendiri di lain hari mendukung kesebelasan sendiri mencetak gol bunuh diri. Ada fans lain yang sedang bertungkus lumus mendukung kesebelasannya malah saya serang, tapi kesebelasan sendiri bikin gol bunuh diri dan sengaja ingin kalah malah didukung.

Bagaimana akal sehat mencerna hal ini? Nalarnya bagaimana? Bisakah menangkap ironinya? Bisakah menjala unsur komedi hitam (black comedy) dari situasi ini?

Jika ketidakjujuran ini sudah dirayakan, maaf saja, Anda sudah kehilangan sejumlah hak untuk menuntut yang lain (misalnya: PSSI) melakukan kejujuran juga. Hak untuk menuntut (misalnya) PSSI, sih, ya tetap ada, tapi apa situ ndak ngganjel atine saat meminta keadilan tapi mendiamkan malah merayakan ketidakwarasan di waktu yang lain?

Sekali lagi, sepakbola gajah antara PSS vs PSIS itu sudah sangat menyedihkan. Sayangnya, kesedihan tak berhenti hanya di situ saja. Ada hal lain yang lebih menyedihkan: ada banyak orang yang membenarkan dan merayakan sepakbola gajah ini.

PSSI bobrok? Ya sudahlah, ya, jika memang anda berpikir demikian. Tapi kalau kita ikut-ikutan bernalar bobrok, berarti memang nyaris sudah tak punya harapan. Mosok dari hulu hingga hilir sama-sama menyedihkannya? Duh...

****

Kompetisi Divisi Utama memang berjalan dengan tingkat keliaran yang mengerikan. Sudah tak terbilang protes soal wasit, kesebelasan yang walk-out, insiden tawuran suporter dan bahkan sudah ada juga kesebelasan yang mundur dari kompetisi.

Masih mau menyangkal penilaian Divisi Utama berjalan dengan keliaran yang mengerikan? Bagaimana mau menyangkalnya jika dalam dua pekan, di tempat yang berdekatan, sudah ada dua suporter yang tewas? Adakah keliaran yang lebih mengerikan dari jatuhnya korban jiwa?

Bahkan sepakbola gajah sekali pun, bagi saya, tidak lebih mengerikan dari dua nyawa yang melayang. Bagaimana menukar nyawa? Bagaimana mengembalikan jiwa yang hilang?

Untuk diketahui, di hari ketika lima gol bunuh diri ini lahir, ada dua insiden lain terjadi. Pertama, PSGC CIamis tidak berangkat ke Wamena sehingga Persiwa menang WO. Alasannya mudah ditebak: ongkos yang kelewat mahal dan berat untuk ditanggung. Ini cerita lama yang dialami tim-tim kecil saat harus pergi ke Papua. Kedua, Persis Solo tidak datang ke lapangan sehingga Putera Borneo FC juga menang walk-out. Alasannya: pihak Persis merasa tidak aman karena sehari sebelumnya bus mereka diserang. Ini juga bukan cerita baru, bukan?

Dalam tiga insiden itu, secara serentak dan serempak dan sekaligus, tergambar problem-problem akut sepakbola Indonesia: (1) soal finansial, (2) soal keamanan dan (3) soal pengaturan skor.

Ditambah dengan fakta adanya dua suporter yang tewas dalam dua pekan terakhir, kombinasi tiga persoalan laten dan akut di atas inilah yang menghasilkan apa yang saya sebut sebagai "keliaran yang mengerikan".

Memahami bahwa ada keliaran yang mengerikan dalam gelaran Divisi Utama kali ini hal penting. Hal ini, meletakkan dan memahami insiden sepakbola gajah ke dalam konteks keliaran yang mengerikan dari gelaran Divisi Utama, penting untuk dilakukan agar PSSI juga tidak lepas tangan dan merasa tugasnya telah selesai hanya dengan melakukan investigasi dan menjatuhkan hukuman.

Untuk kendala finansial yang menyebabkan ada kesebelasan mundur di tengah jalan atau walk-out karena tak ada ongkos untuk pergi tandang, misalnya, Komdis PSSI harus berani memberikan "jeweran" pada operator liga. Verivikasinya bagaimana? Pasti ada yang tidak pas dan pasti ada standar yang dikendurkan. Mau didiamkan saja? Mau diabaikan dengan alasan kompetisi harus tetap berjalan?

Untuk diketahui, problem finansial ini dampaknya bak bola salju. Misalnya: dampak ada pemain yang tak digaji. Dan unsur pemain yang tak digaji ini, mau tidak mau, harus dilibatkan dalam setiap upaya menganalisis dugaan pengaturan skor. Pemain yang tak digaji, di liga mana pun, rentan masuk angin oleh puting beliung yang ditiupkan uang haram. Ini akhirnya bisa berimbas pada mutu kompetisi.

Juga untuk isu keamanan. Hampir semua insiden kerusuhan dan kekerasan sepakbola lebih sering dipicu oleh perasaan ditindas dan dirugikan oleh offisial pertandingan alias wasit. Inilah yang terjadi, misalnya, dalam laga antara Persis Solo vs Martapura FC yang berakhir dengan tewasnya seorang suporter di Stadion Manahan.

Kita, juga PSSI, tak bisa sekadar menuntut kedewasaan suporter dalam menerima hasil akhir. Semut pun, jika diinjak terus, ya pasti menggigit. Melulu menyalahkan suporter tiap ada kerusuhan itu sangat tidak adil jika faktor kepemimpinan wasit dari tahun ke tahun ternyata tak juga ada perbaikan. Penting untuk bisa memilih mana persoalan di hulu dan mana problem di hilir. Mengacaukan mana hulu dan mana hilir ini membuat sepakbola Indonesia akan seperti perahu yang tak tahu ke mana hendak menuju.

Saya setuju jika PSS dan PSIS diberi hukuman yang berat, misalnya didiskualifikasi. Tapi PSSI bisa dibilang kurang tahu diri jika hanya itu saja (menghukum dan menghukum) yang dilakukan. Ada keliaran yang mengerikan di gelaran Divisi Utama musim ini yang tak mungkin dan tak boleh dibiarkan -- suatu keliaran yang terstruktur, sistematis, dan massif.

Jika PSS dan PSIS sampai rela mempertaruhkan martabat dan kehormatannya demi menghindari Putera Borneo FC di semifinal, maka muncul pertanyaan yang sungguh penting untuk dijawab: memangnya ada hantu blau dan jin ifrit macam apa di tubuh Putera Borneo FC sampai-sampai PSS dan PSIS demikian ketakutan hinga terkencing-kencing membuat gol bunuh diri secara tergesa-gesa, kasar dan telanjang (5 gol terjadi di 10 menit terakhir)?

Izinkah saya membuat sebuah hipotesis: hanya sebuah kepastian yang diyakini nyaris presisi sajalah yang bisa membuat ada kesebelasan yang dengan rela hati mencetak lima gol bunuh diri di zaman serba terbuka dan serba terberitakan lewat macam-macam media seperti sekarang.

Kepastian macam apa itu? Ya, silakan investigasi, dengan benar dan serius. Jangan soal flare dan nyanyian rasis saja yang dibesar-besarkan terus-menerus!

****

Apakah dengan memahami konteks keliaran yang mengerikan itu maka lima gol bunuh diri di laga PSS vs PSIS menjadi bisa dimaklumi? Sama sekali tidak.

Katakanlah bahwa aksi menyedihkan ini sebagai respons atas skenario busuk tertentu. Pertanyaannya: benarkah skenario busuk mesti direspons dengan sama busuknya?

Dalam sejarah sepakbola Indonesia, pernah ada Persibo Bojonegoro dan Sartono Anwar di Divisi Utama 2010 yang memilih jalan terhormat: bertarung sampai akhir, dengan semua keringat yang bisa diperas dan otot yang bisa diregangkan, bahkan walau pun lawan berkali-kali mendapatkan penalti yang menyebalkan sekali pun. Mereka akhirnya juara Divisi Utama dengan cara yang sangat terhormat, mungkin salah satu juara paling terhormat dalam sejarah sepakbola Indonesia.

Apa yang ditunjukkan Persibo dan Sartono Anwar saat itu memperlihatkan dengan baik apa yang oleh kolega saya, Eri Irawan, dalam esainya yang begitu menggugah dan emosional sebagai "Kisah Perlawanan Terhadap Kemustahilan". Melalui kisah mereka itulah, sebagaimana dituliskan Eri yang memang suporter Persibo, sejarah sepakbola Indonesia mencatat satu hal: pernah ada kejadian di mana uang bisa dipaksa tidak bermain bola.

Sayang sekali, "jalan pedang" macam itu tidak diambil oleh PSS dan PSIS. Keduanya memilih jalan yang -- ya, berat untuk dikatakan, tapi sulit untuk dibantah -- "tidak terhormat". Keduanya memilih untuk mengorbankan nama baik yang akan dicatat sampai jauh, jauh di kemudian hari, demi kalkulasi jangka pendek yang sebenarnya belum juga pasti.

Ya, belum pasti. Siapa yang bisa menjamin PSS atau PSIS bisa lolos ke ISL jika tak bertemu dengan Putera Borneo FC? En toch, timnas Indonesia tetap gagal juara Piala Tiger walau pun Mursyid Effendi membuat gol bunuh diri memalukan demi menghindari Vietnam pada 1998. Dengan dosis tekanan yang pas yang diberikan oleh media massa (apalagi jika media luar negeri dan AFC atau FIFA ikut-ikutan memberi perhatian), siapa juga yang bisa menjamin PSSI tak mengambil jalan horor mendiskualifikasi keduanya?

Alih-alih lolos ke ISL (memangnya kalau lolos ke ISL lalu akan juara, gitu?), arang sudah telanjur dilintangkan di muka sejarah dua kesebelasan itu. Dan ini jenis arang yang sukar dihapuskan -- sebagaimana arang yang melintang di wajah Persebaya pada 1988 saat mengalah 0-12 dari Persipura demi menyingkirkan PSIS, juga arang di wajah Mursyid Effendi.

Dan dengan itulah perangkap sudah bekerja. Bagaimana membuktikan bahwa ada hantu blau di tubuh Putra Borneo FC? Sulit, bukan? Sedihnya, sekaligus sayangnya, di tengah kesulitan membuktikan ada sesuatu yang tak enak dalam soal semifinal Divisi Utama, PSS dan PSIS malah meresponsnya dengan cara yang kelewat polos, kasar sekaligus naif. Kesumiran direspons dengan cara yang telanjang. Masuk sudah itu barang.

Kemenangan, percayalah, tidak menjadi lebih membanggakan jika diraih dengan cara seperti ini. Dan lolos ke ISL, percayalah juga, tidak lebih indah ketimbang jatuh bangun secara terhormat -- baik di lapangan maupun di tribun. Jika bisa dengan gagah menyerang dan menyerbu rombongan suporter lawan, kenapa tidak bisa dengan gagah berdiri tegak di tribun sambil bernyanyi sekencang-kencannya untuk menghadapi pahitnya kegagalan?Jika kebanggaan dalam sepakbola hanya berhenti di urusan menang atau kalah dan lolos atau tidak lolos ke ISL, kita barangkali bukan lagi penikmat dan penggemar sepakbola, melainkan tak lebih dari para petaruh sepakbola.

Sebab sepakbola, sebagaimana cinta, memang tak selalu membahagiakan. Itulah kenapa kita semua mencintai permainan yang indah ini.

Jika PSSI dirasa tak maksimal merawat keindahan permainan sepakbola ini, biarlah kita semua, para pecinta sepakbola, para suporter, yang merawat dan menjaga keindahan itu dengan semampu-mampunya, dengan sesanggup-sanggupnya. Merawat sisa-sisa keindahan itu dengan melibatkan sedikit akal sehat, juga dengan kesediaan untuk bersedih dan kecewa karena kesebelasan kita kalah atau bahkan dikalahkan.

====

*penulis adalah Chief Editor @panditfootball. Beredar di dunia maya dengan akun @zenrs. Tulisan ini bersifat opini pribadi, bukan pandangan redaksi.

(roz/mfi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com