Faktanya, gangguan tersebut tak berpengaruh banyak. Piala AFF-lah yang kemudian menjadi tonggak berkembang serta meratanya kualitas sepakbola di Asia Tenggara.
Saat pertama kali muncul, Thailand dan Singapura terlihat dominan. Mereka bergantian merebut posisi puncak. Di awal penyelenggaraannya, terdapat jurang kualitas yang teramat lebar antar negara. Kekuatan sepakbola saat itu masih berada di tangan Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Sementara itu, negara seperti Filipina dan Brunei Darussalam masih sering menjadi bulan-bulanan lawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Piala AFF digelar dua tahun sekali. Ini yang membuat pembinaan di negara-negara Asia Tenggara seolah tak pernah berhenti. Tahun ini berlatih, tahun depan bertanding agar mimpi bisa segera diraih.
Sepakbola bagaikan magnet yang memiliki dampak terhadap faktor di luar sepakbola. Maka, menjadi juara di ajang tertinggi se-Asia Tenggara secara otomatis akan mengangkat citra negara.
Dengan status sebagai kompetisi tertinggi, Federasi Sepakbola Asia Tenggara, AFF, pun membuat regulasi baru. Khusus pada cabang olahraga sepakbola di SEA Games, tiap negara hanya boleh menyertakan pemain dengan usia di bawah 23 tahun. Aturan ini sejalan dengan apa yang diterapkan di Olimpiade dan Asian Games.
Aturan ini memiliki dampak signifikan bagi negara yang serius melakukan pembinaan usia dini. Para pemain muda diuji di SEA Games. Peran Sea Games menjadi penting sebagai ujian pertama sekaligus ajang meningkatkan pengalaman bertanding pemain muda di level internasional. Tujuan akhirnya tentu saja bermuara di Piala AFF. Prestasi tinggi pada level ini membuat mimpi tak lagi sekadar ilusi, tapi merealisasikannya hingga benar-benar terjadi.
Soal capaian prestasi dan format kompetisi, Piala AFF dapat terbagi ke dalam dua era. Uniknya, era tersebut ada sangkut pautnya dengan sponsor yang memiliki hak penerapan nama resmi kompetisi.
Piala Tiger
Piala AFF lahir pada 1996 dengan nama "Piala Tiger" atau "Tiger Cup". Hal ini tak lain karena sponsor kompetisi tersebut adalah produsen bir bermerek "Tiger" asal Singapura. Saat itu, kiblat sepakbola di Asia Tenggara masih berkutat pada Thailand dan Singapura. Thailand dikenal memiliki potensi pemain berbakat, sementara Singapura begitu sungguh-sungguh menata iklim sepakbola.
Β
Negara lain seperti Indonesia, begitu berhasrat untuk meraih gelar internasionalnya. Di level senior, timnas Indonesia terakhir kali juara pada SEA Games 1991 yang dihelat di Jakarta. Karena SEA Games tak lagi menjadi kompetisi tertinggi, maka semua kegiatan sepakboa terfokus di Piala AFF dan Piala Asia.
Ada sebuah optimisme kala itu ketika PSSI melebur kompetisi Perserikatan dan Galatama pada 1994. Peleburan ini menggabungkan tim βtim yang secara tradisional kuat secara prestasi dan sejarah, dengan tim profesional yang tidak dibiayai APBD. Iklim profesional pun mulai terasa di Liga Indonesia kala itu.
Selain itu, PSSI memiliki program jangka panjang dengan mengirim bibit muda ke luar negeri untuk menimba ilmu. Memang, tak semua berhasil, tapi sebagian di antara mereka menjadi kunci timnas Indonesia di Piala AFF tahun 2000 dan 2002.

(AFP/Pornchai Kittiwongsakul)
Ketika pertama kali digelar, anggota AFF hanya berisi enam negara: Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Lalu, diundanglah empat negara Indochina untuk turut serta. Penyelenggaraan pertama berlangsung di Singapura dengan 10 tim yang dibagi menjadi dua grup. Dua tim peringkat teratas, langsung lolos ke babak semifinal.
Thailand menjuarai turnamen pertama ini setelah menjungkalkan Malaysia, lewat sepucuk gol Kiatisuk Senamuang. Langkah Indonesia terhenti di babak semifinal setelah dikalahkan Malaysia 1-3. Dalam perebutan peringkat ketiga, perjuangan Indonesia dikandaskan Vietnam 2-3.
Setelah penyelenggaraan tersebut, lambat laun tiga negara Indochina, Kamboja, Laos, Myanmar, bergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN.
Dua tahun berselang, giliran Vietnam yang mendapat kehormatan menjadi tuan rumah. Paling mencolok dari kompetisi ini adalah "opera sabun" yang dipertontonkan Indonesia dan Thailand. Di Grup A, mereka "mati-matian" agar tidak menjadi juara grup. Pasalnya, juara grup A mesti menghadapi sang tuan rumah yang bertengger di peringkat dua Grup B.
Indonesia pun "berhasil" menghindari Vietnam dengan satu "kado spesial" dari FIFA: Mursyid Effendi dihukum seumur hidup karena sengaja mencetak gol bunuh diri. Nahas, Indonesia salah memilih lawan. Singapura nyatanya lebih kuat dan menyingkirkan Indonesia dengan skor 2-1. Di akhir kompetisi, Singapura menjaid juara setelah mengalahkan Vietnam 1-0.
Piala AFF tahun 2000 dihelat di Thailand. Namun, Brunei Darussalam menyatakan mundur. Santer terdengar Brunei menolak ikut turnamen karena sponsor Piala AFF adalah bir, yang bertentangan dengan prinsip yang ada di negara tersebut. Di perhelatan kali ini, Thailand kembali menjadi juara setelah mengalahkan Indonesia di partai puncak.
Piala AFF tahun 2002 bisa dibilang menjadi puncak harapan prestasi kala itu. Stadion Utama Gelora Bung Karno, ditunjuk menjadi penyelenggara partai semifinal dan final. Puluhan bahkan ratusan ribu warga berbondong-bondong datang ke stadion. Indonesia diharapkan mampu membalaskan kekalahan atas Thailand dalam penyelenggaraan dua tahun sebelumnya.
Final Piala AFF 2002 mestinya menjadi klimaks dari harapan-harapan itu. Tahun 1996, Indonesia di peringkat empat. Tahun 1998, Indonesia di peringkat tiga. Tahun 2000, Indonesia masuk final meski kalah 1-4 dari Thailand. Pada akhirnya, Indonesia kembali kalah dari seteru utamanya itu. Kali ini pertandingan berjalan begitu ketat dan dramatis sehingga mesti diakhiri dengan adu tendangan penalti.
Selalu ada hikmah di balik kekalahan. Hikmah tersebut bernama Bambang Pamungkas, yang kemudian menjadi kapten timnas untuk satu dasawarsa ke depan. Bambang yang kala itu masih berusia 22 tahun, menjadi pencetak gol terbanyak. Bersama dengan Zaenal Arief, lini depan Indonesia memiliki duet yang kuat dalam sundulan maupun tendangan kaki kiri.

(detikSport/Rengga Sancaya)
Pada 2004, Vietnam dan Malaysia menjadi tuan rumah babak grup. Sejak tahun ini, partai semifinal dan final dilangsungkan dengan sistem kandang-tandang, tanpa aturan gol tandang. Indonesia kala itu dilatih Peter Withe yang sukses membawa Thailand juara pada 2002. Withe juga memboyong sejumlah pemain baru yang salah dua di antaranya adalah Ilham Jaya Kesuma dan Boaz Solossa. Kombinasi Boaz-Ilham begitu menakutkan.
Di pertandingan pembuka, Boaz dan Ilham masing-masing menyumbang dua gol untuk kemenangan 6-0 atas Laos. Di pertandingan ketiga menghadapi Vietnam, keduanya menyumbang masing-masing satu gol untuk kemenangan 3-0 atas Vietnam. Total, Ilham mencetak tujuh gol dan Boaz empat gol. Sayangnya, perjuangan Indonesia seolah antiklimaks. Di final, Indonesia kembali kalah lewat sepasukan tim naturalisasi dari Singapura dengan agregat 2-5.
Di masa ini hanya dua negara yang bisa menjadi juara: Thailand dan Singapura.
Suzuki AFF Cup
Setelah gelaran Piala AFF 2004, Tiger Beer menyudahi kerjasama dengan AFF. Untuk pertama kalinya, AFF mesti menyelenggarakan kompetisi tanpa sponsor utama. Selain itu, AFC memutuskan untuk memajukan jadwal Piala Asia ke tahun 2007. Ini dilakukan karena Piala Asia selalu berbenturan dengan Olimpiade dan Piala Eropa.
Sejak tahun 2007, Piala AFF tidak lagi menggelar perebutan peringkat ketiga. Dalam perhelatan kali ini pula diperkenalkan babak kualifikasi bagi tim di bawah peringkat keenam, untuk memperebutkan dua tempat di babak utama. Ini sekaligus untuk menyaring agar tidak ada lagi tim yang dibantai dengan skor besar oleh lawan. Meski akhirnya Laos mesti menerima gawangnya kebobolan sebelas kali oleh Singapura.
Hingga Piala AFF 2012, Indonesia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan Malaysia, sempat mengalami rasanya tidak lolos dari babak grup. Piala AFF 2007, untuk pertama kalinya Indonesia tidak lolos dari fase grup. Malaysia merasakannya pada Piala AFF 2008, Thailand pada Piala AFF 2010, dan Vietnam pada Piala AFF 2012, bersama dengan Indonesia.
Piala AFF 2010 dan 2012 menghadirkan kejutan dengan lolosnya Filipina ke babak semifinal. Hal ini tak lepas dari cara mereka meniru apa yang dilakukan Singapura: naturalisasi. Indonesia tak mau ketinggalan. Meski sejumlah pemain bisa dibilang gagal --Jhonny van Baukering, Ruben Wuarbanaran, Tonnie Cusell, Joey Suk-- tapi ada pula yang bersinar: Cristian Gonzales.

(detikSport/Rachman Haryanto)
Pada Piala AFF 2010, Indonesia kembali masuk final, meski takdir berkata lain. Indonesia dengan permainan sayap yang tajam kala itu, dikalahkan tetangga, Malaysia dengan agregat 2-4. Kala itu Indonesia memiliki Mohamad Nasuha, Muhamad Ridwan, dan Oktovianus Maniani yang bergerak lincah di kedua sisi. Indonesia mendapat hadiah hiburan setelah terpilihnya Firman Utina sebagai pemain terbaik.
Di masa "Suzuki" Vietnam dan Malaysia menyusul sebagai tim yang mempu meraih gelar juara. Sementara Thailand seperti mengalami penurunan prestasi. Tiga kali masuk final, tiga kali pula gagal. Layaknya Indonesia di era pertama.
Menoreh Tinta Emas
Sepanjang sembilan kali penyelenggaraan, Singapura merupakan peraih juara terbanyak dengan empat kali. Capaian tersebut disusul Thailand dengan tiga kali menjadi juara. Sementara itu Vietnam dan Malaysia satu kali. Indonesia menjadi tim yang paling sering gagal di final. Empat kali ke final, empat kali pula gagal. Untuk tim yang masuk ke final, Thailand yang paling sering dengan enam kali.
Bekas pemain Persib Bandung dan Arema Cronus, Noh Alam Sah, menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang gelaran Piala AFF dengan 17 gol. Tujuh gol di antaranya dicetak dalam satu pertandingan kala Singapura mencukur laos 11-0 pada Piala AFF 2007.
Dalam kompetisi dua tahunan tersebut, Indonesia tercatat sebagai pengumpul gol terbanyak dengan 126 gol dari total 47 pertandingan. Jumlah tersebut termasuk catatan kemenangan terbesar di Piala AFF kala Indonesia menjungkalkan Filipina 13-1 pada Piala AFF 2002.
Persaingan antar negara di Piala AFF 2014 akan berlangsung sengit. Bukan cuma kekuatan tradisional saja yang diperhitungkan menjadi juara, negara-negara seperti Myanmar dan Filipina merupakan ancaman besar bagi siapapun yang menghadapinya.
Piala AFF 2014 akan menjadi ujian bagi semua tim, untuk menyambut kualitas Australia yang dua tahun lagi akan turut serta.
====
*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball dan About The Game. Beredar di dunia maya dengan akun @aditz92.
(roz/mfi)











































