Ya, sepanjang penyelanggaraan Piala AFF, Thailand secara konsisten mampu membuktikan kualitasnya sebagai kandidat juara. Bersama Singapura, yang telah menjuarai kompetisi ini sebanyak empat kali, Thailand jelas perlu mendapat perhatian lebih oleh tim manapun peserta Piala AFF, termasuk Indonesia.
Memang, prestasi Thailand beberapa tahun terakhir tak secemerlang di era 90-an hingga awal 2000-an. Bahkan pasca peleburan dua divisi top Thailand, Thai Premier League (TPL) dan Provincial League pada 2009, tim berjuluk "Gajah Putih" ini pun masih belum berhasil mengangkat satu pun trofi juara yang cukup bergengsi seperti Piala AFF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kiatisuk Senamuang (AFP/Manjunath Kiran)
Upaya Mengembalikan Kejayaan Thailand
Menjelang awal tahun 2000an, timnas Thailand menorehkan tinta emas pada beberapa kejuaraan Asia. Pada 1996 dan 1997, Thailand berhasil menjuarai Piala Tiger (yang sekarang menjadi Piala AFF) dan meraih medali emas pada SEA Games.
Gagal menjuarai Piala Tiger 1998, Thailand menunjuk mantan penyerang timnas Inggris dan Aston Villa, Peter Withe, agar timnas Thailand bisa kembali menorehkan prestasi di kancah Asia, minimal pada kompetisi di Asia Tenggara. Bagi Asosiasi Sepakbola Thailand (FAT), meraih dua medali emas SEA Games dan satu trofi Piala Tiger pada era 90an merupakan hasil yang kurang memuaskan.
Dan Withe berhasil menjawab kepercayaan FAT tersebut. Dengan catatan 45 menang, 25 seri dan 30 kalah selama empat tahun menangani Thailand, berbagai trofi telah dipersembahkan pemilik 182 caps bersama timnas Inggris ini.
Thailand dibawanya menjuarai SEA Games 1998. Kemudian ia sukses mengantarkan Thailand menjuarai Kingβs Cup, kompetisi tahunan Thailand yang diikuti oleh beberapa negara atau klub Eropa dan Amerika, pada 2000. Puncaknya ia mempersembahkan trofi Piala Tiger 2000 dan 2002.
Dua kali berada di peringkat empat Asian Games 1998 dan 2002, serta mencapai babak grup Piala Asia 2000 pun menjadi torehan prestasi Peter Withe lainnya.
Dengan pencapaian-pencapaian di atas, Withe menjadi pelatih tersukses timnas Thailand. Namun kemudian ia didepak pihak federasi Thailand hanya karena Withe tak mengindahkan saran federasi agar berpakaian lebih rapi ketika menemani timnya pada pertandingan resmi. Karena biasanya, ia hanya mengenakan celana pendek ketika memimpin timnya di pinggir lapangan.
Keputusan ini jelas menjadi blunder terbesar federasi Thailand. Karena semenjak tak lagi dilatih Withe, Thailand mengalami penurunan prestasi. Sempat berada di peringkat 43 FIFA pada 1998, Thailand kembali terjun bebas ke peringkat 100.
Withe jelas merupakan sosok penting dibalik kekuatan Thailand pada akhir 90-an dan awal 2000-an. Karena dengan tangan dinginnya, Withe berhasil mengembalikan nama baik timnas Thailand yang sempat tercoreng oleh 'Sepakbola Gajah' yang dilakukannya bersama Indonesia pada Piala Tiger 1998.
Bukti lain betapa Thailand kehilangan sosok Withe adalah dengan seringnya FAT memecat pelatih sepeninggal Withe pada 2002.
Delapan pelatih tercatat telah dipecat FAT pada periode 2002 hingga 2013. Bahkan dua pelatih Inggris sekelas Peter Reid dan Bryan Robson pun tak mampu menyamai raihan Peter Withe bersama timnas Thailand.
Peter Reid, legenda Inggris yang pernah membela Bolton, Everton, Manchester City dan Southampton saat aktif menjadi pemain, hanya bertahan selama satu tahun menangani Gajah Putih. Prestasi terbaiknya hanya mampu menjadi runner-up Piala AFF 2008.
Harapan membumbung tinggi kala suksesor Reid adalah legenda Inggris sekelas Bryan Robson. Namun kenyataannya, prestasi Thailand di bawah arsitek pemilik 345 caps bersama Manchester United ini tak lebih baik dari Reid. Justru sebaliknya, pada Piala AFF 2010, Thailand tak mampu mencapai babak semi-final karena hanya dua kali bermain imbang dan sekali kalah pada babak grup. Robson pun didepak pada 2011.
Pun demikian dengan pelatih asal Jerman yang pernah mengantarkan timnas Kamerun juara Piala Afrika 2002 dan runner-up Piala Konfederasi 2013, Winfried Schafer. Pelatih yang juga sukses kala menangani klub Kuwait, Al-Ain, ini pun tak berkutik kala menangani timnas Thailand. Dua tahun menukangi Theerasil Dangda cs, hanya runner-up Piala AFF 2012 yang mampu ia persembahkan untuk Thailand.
Kompetisi Domestik yang Terus Berkembang
Meski timnas Thailand tak begitu berprestasi pada satu dekade terakhir, tampaknya kesuksesan bagi mereka hanya tinggal menunggu waktu. Apalagi jika kita mengacu pada sebuah anggapan tentang sukses sebuah timnas yang bergantung pada bagaimana liga domestik mereka berjalan.
Ya, Thai Premier League (TPL), kompetisi teratas Thailand, terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Bahkan saat ini, tak akan ada yang memungkiri jika TPL merupakan liga terbaik jika dibandingkan dengan liga-liga lain di Asia Tenggara.
TPL yang merupakan penyempurnaan dari Kor Royal Cup, kompetisi teratas Thailand sebelum TPL langsung memberikan dampak signifikan bagi klub-klub Thailand. Dibentuk pada 1996, TPL baru memetik hasilnya tujuh tahun kemudian. Di mana saat itu, pada 2003, BEC Tero Sasana sukses mencapai babak final Liga Champions Asia.
Pencapaian ini membuat popularitas TPL meningkat. Karena lewat BEC, Thailand menjadi negara Asia Tenggara pertama yang timnya bermain di laga final Liga Champions.
Salah satu kunci keberhasilan TPL menjadi liga top Asia Tenggara adalah bagaimana cara mereka mengembangkan industri sepakbola Thailand. Salah satu caranya adalah dengan menghapuskan dualisme liga dengan Provincial League, kompetisi berbasis masyarakat daerah, pada 2007.
Bergabungnya dua liga yang sempat bersaing mencuri perhatian masyarakat Thailand ini membuat liga Thailand lebih terfokus dan mulai menuai
banyak keuntungan. Stadion-stadion mulai dipenuhi penonton sehingga menambah jumlah pendapatan klub, pemain-pemain bertalenta banyak bermunculan (Teeratep Winothai dan Teerasil Dangda sebagai contoh), dan klub-klub daerah pun bisa bersaing dengan klub TPL yang sebelumnya diikuti klub-klub militer dan klub amatir yang didukung oleh perusahaan besar.
Muang Thong United misalnya. Klub Provincial League yang berasal dari Muang Thong Thani, Provinsi Nothanburi ini memulai perjalanan mereka dari Divisi 2 Liga Regional pada 2007. Namun dengan pengelolaan dan manajemen yang baik, mereka sukses menjadi tim papan atas TPL dalam kurun waktu dua tahun. Bahkan saat ini, mereka menjadi tim yang memiliki budget terbesar di TPL setelah tiga kali menjuarai TPL (2009, 2010, dan 2012).

Chonburi FC, klub asal Provincial League lainnya seperti Muang Thong United, pun mendapatkan keuntungan besar setelah dualisme dihapuskan. Setelah menjadi juara pada edisi pertama TPL, Chonburi bisa membangun stadion baru yang berkapasitas 25 ribu penonton.
Klub-klub Provincial League memang memberikan dampak signifikan bagi perkembangan sepakbola Thailand. Ini tentunya didasarkan klub-klub Provincial League yang sejak awal memang berbasis masyarakat. Sehingga ketika dualisme dihapuskan, masyarakat mendukung penuh atas perkembangan sepakbola Thailand secara menyeluruh.
Dengan meleburnya dualisme di Thailand tentunya menjadi kabar baik bagi tim nasional Thailand. Tak seperti ketika masih terbelah dua, di mana para pemain dari Provincial League tak dilirik oleh pelatih timnas. Saat itu, pengelolaan Provincial League memang tak sebaik TPL yang lebih profesional. Sehingga ada anggapan bahwa kualitas para pemain Provincial League di bawah rata-rata pemain klub TPL.
Dualisme pun membuat talenta-talenta muda asal daerah dapat berunjuk gigi menampilkan kemampuannya pada kompetisi teratas Thailand. Jam terbang mereka yang terasah menghasilkan medali emas di SEA Games dan mampu bersaing di Asian Games lewat timnas U-23.
Bahkan pada Piala AFF 2014 kali ini, Thailand akan mengandalkan talenta muda mereka. Dari 23 nama yang didaftarkan pelatih Kiatisuk Senamuang, tak ada nama-nama senior seperti Sinthaweechai Hathairattanakool, Cholratit Jantakam, Datsakorn Thonglao, dan Teeratep Winothai. Bahkan Teerasil Dangda yang kini membela klub asal Spanyol, Almeria, tak diikutsertakan Kiatisuk karena tenaganya dibutuhkan tim La Liga tersebut.
Kiatisuk cukup berani dengan mengandalkan para pemain timnas U-23 pada skuatnya. Oleh Kiatisuk, sebanyak 12 pemain timnas U-23 dipromosikan ke timnas senior untuk berlaga di Piala AFF 2014. Para pemain tersebut merupakan pemain yang berhasil mengantarkan timnas U-23 Thailand yang meraih perunggu pada Asian Games beberapa waktu lalu.
Maka dari itu, patut kita nantikan bagaimana kiprah Thailand pada Piala AFF kali ini. Dengan catatan sejarah yang mengesankan dan juga perkembangan sepakbola Thailand yang semakin membaik dari tahun ke tahun, bukan tak mungkin Thailand mampu menghakhiri paceklik gelarnya pada Piala AFF ke-10 yang akan mulai digelar akhir pekan nanti.
====
*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball dan About The Game. Beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.
(roz/din)











































