Keterpurukan Dortmund: Berguru Kepada Oasis dan Filosofi Sosis

Keterpurukan Dortmund: Berguru Kepada Oasis dan Filosofi Sosis

- Sepakbola
Jumat, 05 Des 2014 10:42 WIB
Keterpurukan Dortmund: Berguru Kepada Oasis dan Filosofi Sosis
REUTERS/Dylan Martinez
Jakarta -

Hanya Dortmund, bukan klub Jerman lain, yang bisa jadi contoh paling baik untuk menggambarkan perputaran roda kehidupan. Hal ini secara bersamaan mengejutkan dan tidak mengejutkan.

Mengejutkan karena siapapun tidak akan mendapatkan hasil maksimal jika tidak ada rasa cinta di dalamnya. Karena Dortmund memiliki Juergen Klopp, sosok yang mampu membawa Dortmund berjaya terlepas dari semua keterbatasan yang mereka miliki.

Tidak mengejutkan karena sejarah memiliki kecenderungan untuk terulang. Karena kondisi ini wajar dialami oleh tim yang sedang dilanda krisis. Karena inkonsisten adalah nama tengah Dortmund musim ini. Karena kecerdasan, kemampuan, dan kesabaran Klopp dalam mengelola klub ada batasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu semua, atau karena hanya sosis saja yang memiliki dua sisi bagian akhir. Alles hat ein Ende nur die Wurst hat zwei. Begitu peribahasa orang Jerman.

Dortmund Harus Berguru kepada Oasis

β€œKami bahagia dapat kembali bermain di Liga Champions,” ujar Pierre-Emerick Aubameyang menjelang laga kandang melawan Galatasaray, yang secara kebetulan mereka jalani tiga hari selepas menderita kekalahan dari Bayern Munich.

Kalah di pertandingan bergengsi saat rangkaian hasil pertandingan sedang buruk-buruknya memang bukan kondisi yang menyenangkan, dan itu semua dapat dimaklumi. β€œKami tidak ingin memikirkan performa kami di Bundesliga,” lanjut Aubameyang.

Rasa benci terhadap diri sendiri sangat terasa ketika Aubameyang mengatakan hal tersebut. Benci terhadap, lebih tepatnya, performa diri sendiri di Bundesliga.

Rasa benci terhadap diri sendiri dan performa di Bundesliga tak hanya dirasakan Aubameyang. Klopp juga merasakan hal yang sama. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan memandang pertandingan melawan Arsenal (di Matchday V, yang sudah tidak terlalu memiliki arti bagi Dortmund karena mereka sudah memastikan tiket ke 16 besar selepas pertandingan keempat) sebagai sebuah liburan. Sebagai sebuah pelarian dari penat dan tekanan yang dihadirkan oleh Bundesliga.

Bukan salah Anda jika setiap kali keluhan mengenai performa di Bundesliga diutarakan oleh semua orang yang secara langsung bertanggung jawab terhadap performa Dortmund, Anda sayup-sayup mendengar Liam Gallagher menyanyikan sepenggal bait lagu β€œThe Importance of being Idle” milik Oasis: I can’t get a life if my heart’s not in it....

Perubahan Taktik, Strategi, Filosofi, dan Gangguan Inkonsistensi

Rasa cinta dari para pendukung baru dan rasa hormat dari para penikmat netral tidak didapatkan oleh Dortmund karena mereka berhasil mencapai partai final Liga Champions 2012/13. Dortmund mendapatkan semua itu karena mereka memiliki gaya bermain yang atraktif, serangan yang begitu mengalir dan para pemain yang tidak pernah berhenti berlari sepenuh hati, baik ketika menguasai bola maupun tidak. Gegenpressing.

Jangan salah kaprah. Gegenpressing sejatinya memang filosofi bertahan. Hanya saja, gaya penerapan ala Dortmund membuat strategi itu terlihat seperti cara menyerang. Musim ini Dortmund berubah. Rasa pertahanan lebih kental terasa.

β€œKami sebenarnya berkonsentrasi terhadap pertahanan setiap tahunnya. Seharusnya itulah jalan hidup kami. Itulah strategi kami yang sebenarnya karena ketika menyerang, tidak ada yang perlu memberi tahu kami mengenai apa yang harus kami lakukan,” ujar Neven Subotic.

Musim ini Dortmund lebih terang-terangan mengedepankan pertahanan sebagai dasar permainan. Dan hasilnya tidak terlalu baik.

Perubahan gaya bermain bukan satu-satunya alasan. Perbedaan nasib di Bundesliga dan Liga Champions tidak tampak terlalu mengejutkan jika perhatian difokuskan kepada formasi yang digunakan oleh Dortmund di kedua ajang tersebut.

Di Bundesliga, Klopp sudah memainkan empat formasi berbeda. Di Eropa, Dortmund tetap setia pada 4-2-3-1. Lantas, apakah sebuah kebetulan jika kemudian kemenangan lebih setia menemani Dortmund di Liga Champions?

Hal lainnya, Dortmund sepertinya benar-benar kehilangan Robert Lewandowski. Musim ini Dortmund cukup sering memainkan dua orang penyerang tengah secara bersamaan untuk mengisi lubang yang ditinggalkan oleh seorang Lewandowski. Sialnya, di Bundesliga, keduanya baru berhasil mencetak masing-masing dua gol saja.

Inkonsistensi juga bisa menjadi kata kunci. Seringkali Dortmund bermain baik di babak pertama dan bermain buruk pada babak kedua. Pertandingan melawan Bayern adalah contoh yang paling nyata sudah diakui oleh Klopp.

Sejarah Pahit Sudah Terulang, Sambutlah Sisi Manisnya

Bukan tidak mungkin kebobrokan Dortmund disebabkan oleh faktor nonteknis. Sejarah, misalnya.

Bagaimanapun, sejarah memiliki kecederungan untuk terulang. Jika diperhatikan, semua kesuksesan yang diraih oleh Dortmund sejak tahun 2010 adalah ulangan dari masa keemasan yang dimulai pada tahun 1994. Puncak dari kedua era keemasan pun sama: final Eropa.

Dua musim berturut-turut sebelum final Liga Champions tahun 2013, Dortmund selalu berhasil mempecundangi musuh bebuyutan yang sama di ajang Bundesliga: Bayern. Klub pemegang rekor juara terbanyak Bundesliga sekaligus klub paling kuat di Jerman tersebut dua kali dipaksa mengakhiri musim di posisi yang tidak lebih terhormat ketimbang Dortmund, sang peraih gelar juara tahun 2011 dan 2012.

Rangkaian keberhasilan yang mampu ditorehkan oleh Dortmund selama tiga musim itu membawa kembali memori lama ke permukaan. Bersama Klopp, Dortmund mengikuti pola yang pernah ditinggalkan oleh Ottmar Hitzfeld: merengkuh gelar juara Bundesliga selama dua musim berturut-turut sebelum mencapai final Liga Champions.



Apa yang membedakan Dortmund era Klopp dan Dortmund era Hitzfeld adalah trofi Eropa. Sementara Dortmund berhasil mempecundangi Juventus dengan skor 3-1 pada tahun 1997, tahun 2013 mereka harus puas kalah di final saja.

Kesamaan pola yang dimiliki oleh Dortmund di kedua era juga membuat merosotnya prestasi Dortmund musim ini tidak terlalu mengejutkan. Selepas final Champions League, Dortmund era Hitzfeld mengalami penurunan prestasi. Musim ini, kemerosotan tersebut terjadi lagi. Hanya saja, penurunan prestasi di era Klopp terjadi lebih lambat.

Namun tetap ada kabar baik dari pengulangan sejarah. Dortmund bisa saja menjadi juara Eropa musim ini. Sembilan angka dari tiga pertandingan pertama fase grup berhasil diraup oleh Dortmund musim ini. Terakhir kali Dortmund menorehkan catatan serupa terjadi pada musim 1996/97. Saat itu mereka berhasil menjadi juara.

Bukan Salah Cedera; Limpahkan Semuanya kepada Klopp

Walau badai cedera ambil bagian besar dalam kebobrokan Dortmund musim ini, menyalahkan sesuatu yang abstrak bukanlah pilihan. Pilihan yang lebih masuk akal adalah menyalahkan Klopp atas ketidakmampuannya memaksimalkan segala keterbatasan yang dialami Dortmund musim ini.

Jelas sekali bahwa Klopp memiliki rasa ketergantungan yang tinggi terhadap para pemain bintangnya. Selepas pertandingan melawan SC Paderborn, Klopp lebih meratapi cedera Marco Reus ketimbang mengomentari keberhasilan (atau kegagalan) timnya meraih hasil imbang. β€œCedera yang menimpa Reus membuat saya merasa kesulitan membicarakan sepakbola,” ujarnya.

Sebagai sosok yang pernah menyelamatkan Dortmund dan diharapkan mampu kembali menyelamatkan Dortmund, Klopp jelas telah gagal. Rasa frustrasi pada akhirnya merasuki dan membuat Klopp lepas kendali.



Kepada Bild, Klopp mengatakan bahwa ia dapat memaklumi rasa tidak suka yang ditunjukkan oleh para pendukung Dortmund. Namun ia juga mengatakan bahwa semua pendukung Dortmund yang hanya menginginkan kesuksesan dan tidak bisa mendukung klub melalui masa sulit sebaiknya mendukung Bayern saja.

Tak cukup sampai di situ, Klopp bahkan sampai mengklaim dirinya sebagai seorang pelatih yang baik. β€œSebagai seorang pelatih, saya lebih baik ketimbang tahun 2012 lalu. Anda hanya belum melihatnya di tabel klasemen,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Di titik itu Klopp terdengar seperti Joffrey Baratheon, dan Klopp hanya karenanya membutuhkan Tywin Lannister untuk mengingatkannya bahwa seorang pria yang harus mengingatkan dunia bahwa dirinya adalah seorang raja, bukanlah raja yang sebenarnya.

Kepergian para pemain kunci, baik secara permanen atau sementara karena pergi atau cedera, memulai semuanya. Masalah itulah yang pada akhirnya memaksa Klopp untuk menerapkan perubahan strategi dan gaya bermain. Masalah itulah yang pada akhirnya membuat Dortmund tidak bersahabat dengan Bundesliga. Masalah itulah yang pada akhirnya membawa Dortmund menghuni posisi juru kunci. Masalah itu, atau memang Dortmund murni telah menemui akhir era keemasan saja.

Anda tidak perlu terkejut jika pada suatu hari Klopp mengakui hal ini. Sepertinya ia memang sudah tahu bahwa hari ini akan tiba. Jika tidak, untuk apa perumpamaan idiomatis dengan sosis muncul dalam konferensi pers prapertandingan sebelum laga melawan Arsenal?

β€œOne comes to the other,” ujar Klopp menanamkan kebingungan dalam kepala setiap jurnalis yang hadir saat itu. Manajer komunikasi Dortmund kemudian menengahi. β€œIn Germany we say that everything has an end but only the sausage has two ends.”

Semua hal, pada waktunya, akan berakhir. Alles hat ein Ende nur die Wurst hat zwei.



====

* Akun twitter penulis: @nurshiddiq dari @panditfootball

(krs/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads