Kebanyakan orang rasanya tidak harus membaca buku Arsenal: The Making of a Modern Superclub karangan Alex Fynn dan Kevin Whitcher hingga tuntas untuk menyadari bahwa transformasi yang dialami oleh Arsenal dapat terjadi karena satu sosok tertentu. Permainan kata yang digunakan dalam pemilihan judul dengan jelas menegaskan bahwa Arsenal adalah Arsene Wenger dan Arsène Wenger adalah Arsenal itu sendiri.
Wenger lah yang menjadi aktor utama memimpin dan mengawasi setiap perubahan yang terjadi di tubuh Arsenal hingga akhirnya klub London tersebut meninggalkan status klub tradisional yang membosankan dan berubah menjadi klub modern yang mampu berprestasi dengan cara yang sedap dipandang mata.
Karena Wenger-lah Arsenal sukses di luar lapangan, di dunia bisnis sepakbola modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wenger sendiri jelas harus bertanggung jawab.
Tidak bisa ia berlindung di balik semua jasanya kepada Arsenal. Jika memang ia tidak mampu memberikan apa yang dicari oleh para pendukung setia klubnya, ia harus berbesar hati; Wenger harus pergi dan melepas jabatannya sebagai manajer Arsenal.
Dalam sepakbola masa kini ketika harga kemenangan dan kegagalan bisa ditaksir dengan puluhan juta poundsterling, nyaris tak ada ruang untuk hal-hal sentimentil.
Jalan keluar tersebut pastinya disambut dengan sukacita oleh para glory hunter Arsenal. Jalan keluar yang sama, sayangnya, tidak akan direstui oleh kelompok pendukung Arsenal yang lain: mereka yang merasa bahwa Wenger telah banyak berjasa dan pantas dipertahankan.
Namun sebenarnya keduanya bisa sama-sama merasa terpuaskan.
Wenger hanya perlu meninggalkan posnya sebagai juru taktik Arsenal dan memberikannya kepada seorang tactical genius; siapapun yang memiliki kemampuan meramu taktik lebih baik ketimbang dirinya. Arsenal hanya perlu meminta Wenger menduduki posisi baru sebagai director of football.

Arsenal hanya perlu melakukan itu dan mengembalikan satu orang tertentu.
Tidak Ada Salahnya Mencontoh Lyon
Secara tradisional, masyarakat kota Lyon tidak menyukai sepakbola. Bukan sesuatu yang aneh jika Anda bertemu dengan orang Lyon yang tidak mengenal Olympique Lyonnais. Namun itu cerita lama. Semuanya berubah sejak Jean-Michel Aulas, pebisnis lokal, menduduki posisi presiden klub pada tahun 1987. Aulas menjalankan klub sebagai bisnis dan karenanya berhasil membawa klub tradisional tersebut menjadi salah satu klub paling menakutkan, paling dicintai, dan paling banyak dipelajari di Perancis.
Aroma bisnis kental terasa di tubuh OL. Mereka memiliki salon, cafΓ©, bahkan agen perjalanan wisata dengan merek dagang yang sama: OL. Mereka memandang para pendukung sebagai klien bisnis, tak hanya sebagai penggemar saja. Namun rasa cinta tetap didapatkan oleh OL, karena mereka berbeda dengan klub-klub Inggris.
Tak hanya mengincar keuntungan, OL membentuk tim yang baik agar mampu mempersembahkan banyak kemenangan. Banyak kemenangan pada akhirnya mengundang banyak orang datang ke stadion. Banyak orang datang ke stadion pada akhirnya membuat OL mendapatkan banyak pemasukan dari tiket pertandingan.
Dengan cara itulah OL mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak dari tiket pertandingan, bukan menaikkan harga tiket seperti di Inggris. Dan tak hanya berhasil menjadi kaya, OL juga berhasil mendulang banyak prestasi.
OL bukanlah klub yang memiliki tradisi juara seperi Olympique de Marseille ataupun AS Saint- Γtienne.
Namun, perubahan yang dibawa oleh Aulas membawa OL meraih gelar juara liga mereka yang pertama hingga yang ketujuh hanya dalam tujuh tahun saja. Selama tujuh tahun, sejak tahun 2002, OL selalu berhasil menggondol gelar juara Ligue 1.
Di lima liga terbesar Eropa, hanya OL yang mampu melakukan hal ini.

Β
Semua itu tidak diraih oleh OL karena mereka memiliki pemain bintang yang dibeli dengan gelontoran uang dari investor asing. Tidak pula OL meraih semua itu bersama satu orang manajer, seperti Manchester United dan Sir Alex Ferguson.
OL berprestasi bersama para pemain muda yang mereka beli dengan harga murah (para pemain yang akan dijual ketika tawaran besar datang menghampiri).
Terdengar familiar? Tentu saja. Karena Arsenal menjalankan klub cara yang sama. Bedanya, Arsenal tidak pernah menjadi juara Premier League selama tujuh musim secara beruntun. Rahasia kesuksesan OL dalam rutinitas meraih gelar adalah stabilitas yang dihadirkan oleh Bernard Lacombe.
Setelah dibawa naik ke Ligue 1 oleh Raymond Domenech (manajer pertama OL di era Aulas), OL bertahan di Ligue 1 dan bahkan mampu lolos ke Eropa. Pekerjaan Domenech diteruskan oleh Lacombe, yang secara rutin membawa OL menghuni papan atas Ligue 1 setiap musimnya namun tak pernah berhasil membawa OL menjadi juara.
Tapi lalu Aulas mengambil suatu keputusan mengejutkan yaitu membebastugaskan Lacombe dari perannya sebagai manajer. Semuanya murni demi kepentingan bisnis. Aulas merasa bahwa Lacombe terlalu berharga untuk menduduki posisi paling rentan (dipecat) di dunia, sehingga Lacombe dipindahkan ke posisi technical director.
Β
Alasannya sederhana: Lacombe tidak memiliki kemampuan yang cukup baik untuk membawa OL menjad juara, namun Lacombe memiliki kemampuan yang sangat baik di pasar pemain sehingga OL tidak bisa dijalankan tanpa peran Lacombe.
Setelah pergeseran posisi Lacombe terjadi, OL mampu meraih tujuh gelar juara liga dalam tujuh tahun, dan mereka melakukannya bersama empat manajer berbeda: Jacques Santini, Paul Le Guen, Gerard Houllier, Alain Perrin.
Menemukan Pengganti Wenger
Katakanlah pada akhirnya Arsenal mencontoh OL dan menjadikan Wenger seorang director of football. Jika pilihan tersebut diambil, maka akan terjadi kekosongan di posisi manajer. Siapa yang pantas mengisinya?
Mengingat Arsenal membutuhkan seorang tactical genius, maka jawabannya adalah Pep Guardiola atau JosΓ© Mourinho (atau bahkan Marcelo Bielsa).
Jika yang diinginkan oleh Arsenal adalah gelar juara Champions League (karena mereka nyaris meraihnya pada tahun 2006 dan karena bonus dari kejuaraan ini besar), maka Arsenal boleh menggoda Carlo Ancelotti.
Namun keempat nama di atas bukanlah kandidat yang tepat. Ego Wenger terlalu besar sehingga kerja samanya dengan nama-nama tersebut berpotensi melahirkan konflik. Jika Arsenal masih mengedepankan penghargaan terhadap jasa, maka nama Steve Bould pantas dikedepankan. Namun Bould dan Wenger pernah terlibat perang dingin.
Tidak ada salahnya Arsenal melirik Jerman. Belakangan, Jerman merupakan negara paling maju untuk urusan sepakbola. Di Jerman, Arsenal dapat menemukan banyak pilihan. Di Jerman, Arsenal dapat menemukan Roger Schmidt, pelatih kepala Bayer Leverkusen.
Schmidt pantas menggantikan posisi Wenger karena keduanya sama-sama lulusan fakultas teknik. Schimdt pantas menjadi manajer Arsenal, karena seperti Wenger, ia menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam setiap proses latihan.
Schmidt, seperti Wenger, memuja permainan atraktif yang mengalir. Schmidt, seperti Wenger, selalu memberi instruksi kepada pasukannya untuk dan menekan lawan sepanjang pertandingan (khusus untuk hal ini, Schmidt bahkan lebih baik ketimbang Wenger).
Schmidt juga terbukti sukses di luar negaranya sendiri. Kala menangani Red Bull Salzburg, Schmidt berada di bawah tekanan untuk meneruskan tradisi juara. Dan ia berhasil melakukannya. Tekanan besar dari para pendukung Arsenal nampaknya bukan masalah untuk Schmidt, sosok yang menyebut strateginya sendiri sebagai pressing machine.

Kalaupun Schmidt terlalu sulit untuk dirayu, masih ada Juergen Klopp. Masa depan Klopp sedang tidak menentu. Ditambah lagi, dalam beberapa tahun terakhir Borussia Dortmund dan Arsenal sering sekali bertemu. Sedikit banyak, hal tersebut akan membantu Klopp beradaptasi terhadap lingkungan baru.
Alasan terbaik yang membuat Klopp layak menggantikan Wenger, bagaimanapun, adalah karena Wenger sendiri menaruh hormat kepada sosok yang selalu ia rujuk dengan sapaan Mr. Klopp ini. Kecil kemungkinan adanya perang dingin antara Wenger dan Klopp.
Kehilangan David Dein
Tidak ada jaminan sukses andaikata Arsenal benar-benar mencontoh OL. Namun tidak berarti cara ini tidak pantas dicoba. Jika yang menjadi keahlian Wenger adalah menemukan talenta muda dan memolesnya menjadi bintang kelas dunia, biarkanlah ia melakukannya.
Siapa tahu jika ia ditempatkan di posisi yang tidak mewajibkannya melakukan analisa mendalam mengenai permainan lawan (dan mempersiapkan taktik yang tepat) ia akan mampu memenuhi potensinya sebagai ahli keuangan klub lewat kebijakan transfer dan pengembangan pemain?
Siapa tahu kegagalan-kegagalan yang ia alami dalam beberapa tahun ini dapat terjadi karena Wenger memiliki beban kerja yang terlalu berat dan ia memiliki gengsi yang terlalu tinggi untuk mengakuinya? Dan nampaknya memang itu penyebab dari semua kesulitan yang dialami oleh Arsenal.
Satu hal yang seringkali luput dari perhatian ketika melayangkan kritik terhadap Wenger adalah fakta bahwa ia tidak terlalu bahagia. Sahabatnya, sosok di balik kedatangannya ke Arsenal, tidak lagi disampingnya. David Dein meninggalkan klub pada tahun 2007 sehingga Wenger tidak memiliki kawan untuk berbagi duka.
Hasilnya, sejak saat itu Arsenal selalu kesulitan menjadi juara. Wenger tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi meramu taktik karena Dein, eks vice-chairman Arsenal yang terbiasa mengawani dan seringkali menjadi pengganti Wenger untuk mengurusi masalah transfer pemain tak lagi memiliki pengaruh di klub.
Karenanya, akan lebih baik jika Arsenal mendorong Wenger naik ke posisi director of football dan membiarkannya bekerja sama dengan seorang pelatih yang mampu bekerja sama dengannya. Kembali menduetkannya dengan seorang manajer yang bisa memanfaatkan kehandalan Wenger dalam menemukan pemain-pemain anyar dengan harga tak mahal.
Jika Arsenal pernah berjaya karena Wenger membawa hal baru ke dalam klub, mengapa mereka tidak mau mencoba hal-hal baru tanpa Wenger sebagai manajer?
(din/din)











































