“No Man’s Land” sebenarnya tak pernah benar-benar sepi. Banyak mayat serdadu yang tewas dan tergeletak begitu saja. Kesan angker semakin menegaskan area tersebut dengan terpasangnya kawat penghalang dan kayu-kayu usang yang tertancap di tanah.
Sore itu, 24 Desember tepat 100 tahun silam, hujan membuat parit di kedua sisi basah dan digenangi lumpur.Di musim dingin, jaket tebal yang dikenakan serdadu Inggris dan Jerman tak mampu menahan dinginnya Desember yang mulai bersalju itu.Saat matahari tenggelam, keheningan hampir mencapai puncaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun dalam kondisi tenang, serdadu Inggris tak pernah sedikitpun melepaskan perhatiannya, termasuk saat serdadu Jerman melakukan pergerakan. Dari kejauhan terlihat serdadu Jerman mendirikan sesuatu yang seperti... Pohon Natal!
Senyuman yang Terkembang dari Balik Parit
Entah mimpi buruk apa yang menggentayangi setiap malam di Eropa. Musim panas bertambah panas dengan meletusnya Perang Dunia Pertama (PD I) pada 28 Juli 1914. Dalam perang, tidak akan ada yang pernah tahu kapan ia akan berakhir. Mungkin esok, minggu depan, tahun depan, atau malah tak pernah berhenti.
Sulit membayangkan bagaimana perasaan tentara yang diutus demi tugas bela negara. Mereka lebih mirip kurir yang mengantar nyawa sendiri ke garis depan medan pertempuran. Karena perang, mereka hidup dalam bayang-bayang kenangan yang menyedihkan.

Dengan perkembangan senjata api yang semakin berkembang, taktik perang pun berubah. Perang terbuka bukanlah pilihan. Penguatan dalam pertahanan menjadi hal yang lebih diutamakan ketimbang menyerang langsung ke wilayah musuh. Parit pun digunakan sebagai alat utama penahan serangan lawan.
Dua parit yang memagari “No Man’s Land” memanjang sekitar 43 kilometer dari utara ke selatan.Area di antara parit bagian barat yang dihuni serdadu Inggris dengan parit bagian timur yang dikuasai serdadu Jerman,memiliki jarak yang bervariasi. Lebarnya mulai dari 64 meter hingga 27 meter. Jarak tersebut cukup dekat untuk sekadar menyapaatau mengejek musuh di seberang sana.
Siang hari pada 24 Desember 1914, serdadu Jerman mendatangi parit Inggris di sisi lainnya. Bukan granat atau bom molotov yang mereka bawa, melainkan kue coklat. Apa yang dilakukan serdadu Jerman ini tentu memiliki alasan. Mereka ingin malam nanti diadakan gencatan senjata agar dapat merayakan ulang tahun sang kapten. Serdadu Inggris pun menyetujuinya.
Saat malam tiba, serdadu Jerman mulai bernyanyi. Tiap nyanyian diakhiri dengan tepukan tangan dari kedua sisi. Saat itu, Jerman meminta serdadu
Inggris untuk bernyanyi bersama.
Seorang serdadu Inggris dengan penuh semangat berkata, “Aku lebih baik mati daripada bernyanyi (dengan orang) Jerman!” Ucapan tersebut menyulut komentar dari seberang, “Kalau kalian bernyanyi, itu bisa membunuh kami,” kata serdadu Jerman yang disambut tawa dari kedua belah pihak.
Keesokan harinya cerita tentang gencatan senjata nyatanya tidak hanya di satu area saja.Tentu saja hal ini tidak direncanakan dan tidak atas persetujuan jenderal tertinggi kedua negara.
Pagi itu, gencatan senjata masih berlangsung. Banyak dari mereka yang bercengkrama di “No Man’s Land” tanpa khawatir diberondong peluru musuh. Tukar-tukaran barang dan kado menjadi hal yang tak bisa terelakan.Momen tersebut pada akhirnya dikenang sebagai “Christmas Truce” atau “Gencatan Senjata saat Natal”.
Sisi Manusiawi Perang Dunia I

Di sejumlah area, tidak sedikit dari kedua belah pihak yang “mempertunjukkan” kemampuannya. Seorang serdadu Inggris yang dulunya bekerja sebagai tukang cukur rambut misalnya, memberikan promo cukur gratis bagi siapapun di hari itu. Ada pula serdadu Jerman yang jago bermain sulap membuat pertunjukkan di mana kedua belah pihak saling berbaur.
Salah satu yang paling terkenal tentu saja saat ada serdadu Inggris yang membawa bola sepak.Ia menendangnya dari dalam parit menuju kerumunan orang di “Non Man’s Land”. Seketika itu pula pertandingan berlangsung. Bukan sebelas lawan sebelas tentunya. Bukan pula lima lawan lima, tapi 50 lawan 50.
Pertandingan sepakbola ini terbilang terkenal karena sempat dimuat di koran Inggris, The Times, pada 1 Januari 1915. The Times memublikasikan surat dari seorang mayor di Korps Medis. Ia bercerita bahwa di di areanya pertandingan sepakbola berlangsung di depan parit.
Mike Dash merangkum sejumlah pertandingan di Smithsonian.com. Dalam laporan yang dituliskan Brigade Bersenjata, di area tersebut nyatanya sepakbola hanya dimainkan oleh satu negara saja.Brigade Bersenjata enggan mengajak serdadu Jerman karena takut mereka mengetahui betapa rapuhnya parit yang dibangun serdadu Inggris. Namun, menurut keterangan sejumlah saksi dan bukti, setidaknya ada tiga hingga empat tentara Jerman yang ikut bermain dalam satu tim.
Cerita yang paling detail sebenarnya berasal dari Resimen 133rd Royal Saxon, Jerman. Kapten Johannes Niemann, masih mengingat peristiwa di pagi yang berkabut itu. Awalnya, ia melihat tentara Skotlandia dan Jerman keluar dari parit. Karena kabut yang masih pekat, ia mengambil teropong untuk melihat lebih jelas. Ia terkaget-kaget karena kedua tentara bertukar rokok dan coklat. Lalu, serdadu Skotlandia muncul sambil membawa bola sepak.
Kejadian berlangsung dengan spontan. Meski bermain tanpa wasit, mereka tetap taat aturan. “Pertandingan itu hanya berlangsung satu jam dan tanpa wasit. Banyak umpan yang melebar, tapi itu semua karena kami adalah pesepakbola amatir. Meskipun mereka semua kelelahan, tapi kami bermain dengan penuh antusias,” tulis Niemann.
**

“Christmast Truce” membawa romansa kemanusiaan yang hidup dalam perang. Mereka, para serdadu, secara nyata menentang perintah atasan mereka untuk berperang melawan musuh. Mereka malah menjadikan musuh sebagai teman (walau hanya satu hari, lebih, atau kurang).
Christmas Truce hanyalah kulminasi dari rasa kemanusiaan para tentara. Jauh sebelum Natal, gencatan senjata sudah sering dilakukan. Hanya saja tidak banyak catatan yang mendokumentasikan gencatan tersebut. Salah satu alasannya adalah untuk menguburkan rekan sejawat yang wafat agar dimakamkan secara layak.
Salah satu contonya dilakukan infantri Inggris, The 6th Gordon Highlanders. Bersama dengan serdadu Jerman, mereka sepakat “mengumpulkan” rekan-rekan mereka yang telah wafat untuk dimakamkan. Setelah penguburan itu, kedekatan atas nama persaudaraan pun dimulai.
Komandan British Expeditionary Force, Sir John French, yang tinggal sekitar 40 kilometer di belakang garis depan, mendengar tentang gencatan tersebut. Ia murka karena bawahannya malah berteman dengan musuh. Ia pun membuat pernyataan tegas untuk menindak serdadu yang secara ilegal melakukan komunikasi dengan serdadu Jerman.
Kapten The Scots Guards, Divisi Angkatan Darat Inggris, Sir Edward Hulse menuliskan kesaksiannya tentang Christmas Truce. Pukul 8.30, empat orang serdadu Jerman mendatangi markas Inggris. Hulse pun keluar bersama seorang letnan. Juru bicara Jerman lantas bicara, “Anda lebih baik datang (sendirian) dan mengucapkan ‘Selamat Natal’ , dan percayalah kalau kami menghormati gencatan senjata.”
Setelah perbincangan tersebut, Hulse melapor ke kantor pusat. Pukul 10 pagi, ia sudah kembali dan mendapati pemandangan yang sulit ia percayai. Serdadu Inggris dan Jerman berkerumun di “No Man’s Land” sembari mengobrol dan bersendagurau. Hal tersebut jelas mengabaikan perintahnya untuk mematuhi perintah pusat. Meskipun begitu, ia masih kagum dan takjub atas apa yang ia lihat.
Dampak dari “Christmas Truce” tidak sama di tiap area. Ada yang berakhir pada malam itu, ada pula yang digelar hingga keesokan harinya saat “Boxing Day”, dan ada pula yang dilanjutkan hingga tahun baru. Malah, dari sejumlah laporan, kedua kubu di Western Front tidak bertindak agresif hingga 1915.
Pada akhirnya, Christmast Truce bukan lagi sekadar cerita. Ia adalah pengingat akan upaya spontan “prajurit rendahan” untuk menciptakan perdamaian demi menghindari pembantaian. Ini tidak seperti apa yang dipikirkan para perwira tinggi dan politisi yang, saat itu, memandang mayat sebagai angka belaka.
====
*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball dan About The Game, beredar di dunia maya dengan akun @aditz92
(roz/din)











































