Ya, kegagalan timnas senior di Piala AFF 2014 memupuskan harapan Indonesia berprestasi pada tahun ini. Karena pada seluruh kompetisi yang diikuti timnas, baik senior maupun junior, tak ada satu pun yang menghasilkan trofi juara.
Lima kekalahan di Babak Penyisihan Piala Asia 2015
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada bulan Maret 2014, Indonesia menderita kekalahan yang kelima. Melawan Arab Saudi di stadion Prince Muhamed bin Fahd, Dammam, Hamka Hamzah cs takluk dengan skor tipis 1-0. Sebelum kekalahan itu pun Indonesia sudah dipastikan tak lolos ke Piala Asia Januari mendatang di Australia.
Kegagalan itu berarti pula untuk kedua kalinya berturut-turut Indonesia absen di Piala Asia. Padahal, sebelumnya kita selalu tampil di putaran final dari 1997 sampai 2007, walaupun hanya sampai fase grup.
Pada kualifikasi kali ini Indonesia tak berdaya di hadapan tim-tim yang memang dikenal kuat di kawasan Asia. Dus, itu berarti pula kualitas timnas kita tak meningkat.
Sedikit perbandingan, Indonesia lolos ke putaran Piala Asia 2000 dan 2004 karena tim-tim pesaing di babak kualifikasi terbilang "berimbang" seperti Hong Kong, Yaman, Kamboja, dan Bhutan. Adapun di Piala Asia 2007, Indonesia berpartisipasi karena berstatus tuan rumah dan tak perlu mengikuti kualifikasi.
Timnas U-14 Tidak Berprestasi Tinggi di Japan-ASEAN Football Exchange Programme
Pelatih timnas U-14 dan U-17 Fachry Husaini menyertakan timnas U-14 untuk berkompetisi pada Japan-ASEAN Football Exchange Programme yang dihelat di Jepang pada awal April. Turnamen ini diikuti Jepang, Timor Leste dan 10 negara Asia Tenggara.
Turnamen ini digelar Jepang untuk mempererat hubungan mereka dengan negara-negara Asia Tenggara. Selain menggelar turnamen, seluruh peserta pun mendapatkan orientasi pelatihan, menyaksikan pertandingan J-League, menikmati fasilitas latihan sepakbola di Tokyo, dan melakukan kunjungan kehormatan dengan pemerintah setempat.
Maka dari itu, Fachry tak menargetkan juara pada kompetisi ini. Hasilnya, dari lima pertandingan, βGaruda Mudaβ hanya berhasil menang sebanyak dua kali dan satu kali imbang. Indonesia berhasil menang 9-0 atas Kamboja dan 3-1 atas Singapura. Kekalahan diterima timnas U-14 saat menghadapi timnas Jepang (0-6) dan Timor Leste (0-3).
Di klasemen akhir Indonesia finis di urutan ke-10, di atas Kamboja dan Singapura yang menghuni posisi dua terbawah. Negara yang keluar sebagai juara adalah Timor Leste. Jepang yang diwakili Cerezo U-14 tertahan di urutan ke-7.
Timnas U-19 Mentok di Piala Asia
Timnas Indonesia kelompok umur di bawah usia 19 tahun sangat diandalkan untuk menuai prestasi pada tahun 2014 ini. Target untuk berlaga di Piala Dunia U-20 pun menjadi target yang ingin dicapai PSSI pada tahun ini. PSSI pun dengan serius mempersiapkan tim U-19 untuk mewujudkan impiannya tersebut.
Tak tanggung-tanggung, PSSI sampai mengagendakan 47 laga uji coba untuk Evan Dimas cs pada periode Februari hingga September. Di mulai dari Tur Nusantara yang berlangsung dua jilid, hingga berlaga di Spanyol untuk menjajal tim B klub-klub Spanyol seperti Barcelona, Atletico Madrid, Valencia dan tim C dari Real Madrid.
Sebelum terbang ke Spanyol, skuat asuhan Indra Sjafri ini mengikuti turnamen persahabatan bernama Hassanal Bolkiyah Trophy. Turnamen yang digelar oleh Brunei Darussalam ini diikuti oleh 11 tim Asia Tenggara yang dibagi ke dalam dua grup.
Namun timnas U-19 tampil mengecewakan pada turnamen ini. Tergabung ke dalam grup B bersama Vietnam, Malaysia, Kamboja, Singapura dan tuan rumah Brunei, βGaruda Mudaβ hanya finis di urutan ke-5 dengan torehan satu menang, satu seri dan tiga kalah. Ironisnya, Indonesia dikalahkan oleh tim lemah seperti Kamboja dan Brunei.
Kegagalan ini memunculkan polemik dalam negeri. Banyak pengamat yang menilai bahwa permainan timnas U-19 sudah terbaca oleh lawan. Faktor kejenuhan pemain pasca menjalani banyaknya laga ujicoba pun muncul menjadi hal yang diperdebatkan.
Maka dari itu, pada Piala AFF U-19, PSSI mengirimkan timnas U-19 B sebagai perwakilan Indonesia. Timnas U-19 B ini merupakan pemain-pemain yang pernah menjadi bagian skuat timnas U-19. Untuk bisa kembali berprestasi di sini (karena berstatus sebagai juara bertahan), PSSI pun mempersiapkan tim ini dengan mengikuti COTIF Cup. Berlangsung di Spanyol, mereka pun dikalahkan semua lawannya: Mauritania, Levante, Argentina dan Barcelona Juvenile.
Namun pembelajaran mereka di COTIF ini tak menghasilkan apa-apa. Karena pada Piala AFF U-19, timnas U-19 B ini langsung tersingkir sejak babak fase grup. Menjadi penghuni dasar klasemen grup A, Indonesia dikalahkan Thailand dengan skor 6-2 dan Myanmar dengan skor 3-0.
Hal itu tak menjadi masalah bagi PSSI, karena target utama PSSI adalah Piala Asia U-19. Ya, sejak awal, PSSI menargetkan timnas U-19 bisa masuk ke babak semifinal agar bisa berlaga pada Piala Dunia U-20 yang diselengarakan tahun 2015.
Namun yang terjadi tak seindah bayangan PSSI. Timnas U-19 tak meraih satu poin pun kala tergabung di Grup B. Indonesia kala itu dikalahkan Uzbekistan (3-1), Australia (1-0) dan Uni Emirat Arab (4-1). Harapan untuk lolos ke Piala Dunia U-20 pun sirna.
Pelatih Indra Sjafri pun mau tak mau memang harus bertanggung jawab atas kegagalan timnas U-19 ini. Sebulan kemudian, pelatih yang menghadirkan trofi juara Piala AFF U-19 pada 2013, yang menjadi pelipur lara bagi rakyat Indonesia yang haus akan prestasi sepakbola, didepak PSSI.

Tak Mengejutkan di Asian Games
Harapan selanjutnya ada di pundak para penggawa timnas U-23 yang berlaga di Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Di dua pertandingan pertama Indonesia berhasil menghancurkan Timor Leste dengan skor 7-0 dan Maladewa dengan skor 4-0. Dua kemenangan ini sudah cukup memastikan Indonesia lolos ke babak 16 besar..
Dua hasil tersebut seolah telah menunjukkan hasil PSSI yang sebelumnya mengirim tim ini ke Italia pada bulan Juli. Di Negeri Pizza tersebut, timnas U-23 menghadapi AS Roma, Lazio dan Cagliari yang sedang menjalani pramusim.
Namun sebuah blunder dilakukan sang pelatih, Aji Santoso. Pada laga terakhir fase grup, melawan Thailand, Aji tak menurunkan pemain terbaiknya, misalnya Ferdinand Sinaga yang kala itu telah mengoleksi enam gol. Tampaknya alasan ini dipilih karena Aji ingin timnya menghadapi Korea Utara dibanding China.
Hasilnya, Indonesia dibantai Thailand dengan skor 6-0. Dan ternyata, hasil ini berpengaruh besar pada mental para pemainnya. Bahkan ketika menghadapi Korut, lawan yang diidamkan coach Aji, Indonesia tampil mengecewakan.
Penampilan mengecewakan Indonesia ini dibarengi dengan penampilan gemilang Korea Utara. Pertandingan ini pun berakhir dengan skor 4-1 untuk Korut. Bahkan pada akhirnya, Korut berhasil meraih perak di ajang multievent tersebut. Pencapaian Korut ini pun seolah menunjukkan bahwa sepertinya Aji Santoso salah βmemilihβ lawan.
Kegagalan cabang sepakbola di Asian Games memang telah menjadi hal yang lumrah terjadi. Prestasi terbaik cabang sepakbola hanyalah meraih perunggu pada tahun 1958. Setelah itu, Indonesia cukup kesulitan bahkan untuk meraih peringkat empat, kecuali pada tahun 1986.
Piala AFF 2014 Puncak Kegagalan Timnas
Sebagaimana disebutkan pada awal artikel ini, Piala AFF 2014 yang digelar pada akhir November merupakan kesempatan terakhir timnas Indonesia mempersembahkan prestasi bagi rakyat Indonesia. Dengan Alfred Riedl yang pernah membawa Indonesia menjadi runner-up Piala AFF 2010, optimisme tinggi pun dijunjung rakyat Indonesia pada Piala AFF tahun ini.
Bukan tanpa alasan, sebelumnya pasukan Riedl menjalani 12 laga uji coba. Dan dari ke-12 laga tersebut, Indonesia hanya menelan dua kekalahan. Delapan kemenangan pada laga uji coba pun cukup menghidupkan asa timnas Indonesia untuk bisa berbuat banyak di Piala AFF.
Namun harapan tinggal hanya tinggal harapan. Menjuarai Piala AFF 2014 pun hanya tinggal angan-angan belaka. Bahkan setelah menjalani pertandingan kedua, tepatnya setelah mencatatkan kekalahan bersejarah atas Filipina (0-4), peluang untuk lolos ke babak semifinal pun sangat kecil.
Penampilan timnas Indonesia pada ajang dua tahunan ini pun sangat mengecewakan. Mengandalkan pemain-pemain senior seperti Sergio van Dijk, Zulkifli Syukur, Firman Utina, dan M. Ridwan, tak memberikan inspirasi bagi pemain muda seperti Manahati Lestusen atau pun Rizki Pora. Permainan yang monoton pun menjadi kritik yang dialamatkan pada pelatih asal Austria tersebut.
Memang, pada laga terakhir fase grup, Indonesia berhasil menang telak atas Laos dengan skor 5-1. Namun kemenangan yang dihiasi oleh penampilan gemilang pemain muda seperti Evan Dimas dan Ramdani Lestaluhu ini tak mampu menolong Indonesia untuk lolos ke babak berikutnya.
Kegagalan ini pun tak sesuai target yang sebelumnya dicanangkan PSSI pada Riedl. PSSI yang mengontrak orang Austria itu selama tiga tahun pada 2013 memang mengharuskan Riedl meraih trofi juara pada Piala AFF 2014.
Riedl beralasan kegagalan ini diakibatkan oleh mepetnya persiapan tim. Para pemain terpilih baru bisa dikumpulkan dua pekan sebelum Piala AFF digelar karena kompetisi ISL baru usai pada awal November. Namun bagi PSSI, kegagalan tetap kegagalan. Riedl pun dipersilahkan angkat kaki dari kursi kepelatihan timnas Indonesia beberapa pekan setelah kemenangan atas Laos tersebut.
Kesimpulan
2014 menjadi tahun yang menyedihkan bagi sepakbola Indonesia. Jika pada 2013 setidaknya ada Evan Dimas, dkk., yang berhasil mempersembahkan trofi Piala AFF (kendati hanya sekelas AFF U-19), tahun ini semuanya berlalu. Tanpa trofi. Tanpa kebanggaan. Seperti tahun-tahun yang sama yang pernah dilewati sepakbola Indonesia selama lebih dari dua dekade terakhir.
Kegagalan di semua kelompok umur tim nasional ini menegaskan sekali lagi bahwa problem sepakbola Indonesia memang masih jauh dari usai. PSSI sendiri, alih-alih merancang program yang meyakinkan seperti uji coba yang terencana jauh-jauh hari, lebih sibuk membela diri dari kritik yang datang dari delapan penjuru mata angin.
Sepakbola Indonesia, sebagaimana diperlihatkan dengan baik oleh PSSI, masih merupakan sepakbola penuh dalih. Terlampau banyak dalih yang diajukan untuk menjelaskan kegagalan demi kegagalan, tapi dalih-dalih itu sama sekali jauh dari meyakinkan.
Selamat tinggal 2014. Bisa ke mana sepakbola Indonesia di tahun 2015 nanti?

====
* Akun twitter penulis: @ardynshufi dari @panditfootball. Tulisan ini bersifat opini pribadi, bukan pandangan redaksi.
Baca juga:
Indonesia di Peringkat FIFA: Surut yang Tak Kunjung Pasang
(a2s/krs)











































