Maroko mengundurkan diri menyusul wabah ebola. Mereka tak mau mengambil resiko wabah ebola bisa masuk ke negaranya.
Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF) dengan sigap menunjuak Equatorial Guinea sebagai tuan rumah pengganti. Kendati terhitung mendadak, toh akhirnya Piala Afrika bisa digelar juga. Laga-laga menarik, walau tak menarik perhatian dunia, masih akan tergelar. Tentu saja dengan melibatkan nama-nama besar yang berkiprah di liga-liga top Eropa.
Nama-nama terkenal yang bermain di klub-klub besar Eropa memang menjadi salah satu daya tarik gelaran Piala Afrika ini. Secara kuantitas, pemain-pemain yang bekerja di kesebelasan-kesebelasan Eropa menjadi pemasok terbesar pemain di setiap gelaran Piala Afrika.
Pada Piala Afrika 2015, pemain yang berlaga di kompetisi Eropa mencapai 66,57% dari total keseluruhan pemain yang dibawa 16 kesebelasan yang berlaga. Lebih dari separuhnya!
Saking banyaknya pemain-pemain yang berlaga di Eropa, CAF merasa perlu untuk membuat versi lain Piala Afrika.
Ya, Piala Afrika atau βAfrican Cup of Nationsβ hanyalah satu dari dua kompetisi tertinggi di Afrika. Kompetisi satunya lagi dinamai βAfrican Championship of Nationsβ atau disingkat Chan. Kompetisi yang digagas pada 11 September 2007 tersebut memiliki format yang sama persis dengan Piala Afrika. Bedanya, Chan merupakan kompetisi eksklusif bagi pesepakbola yang berlaga di kompetisi nasional.
Pemain yang berlaga di kompetisi selain di negaranya, apalagi di Eropa, tidak diperkenankan ikut dalam skuat [lihat tulisan: Merengkuh Eropa Lewat Kompetisi Afrika].
Berikut infografis menganai pemain-pemain yang berlaga di Eropa yang bertanding di Piala Afrika 2015.

====
*dianalisis dan dirangkum @panditfootball
(roz/a2s)











































