Musim ini Ligue 1 menawarkan mimpi bagi orang-orang yang masih memiliki rasa cinta terhadap kesebelasan yang mengandalkan segala jenis pemanfaatan kekuatan di luar kekuatan finansial; kesebelasan yang mencari kemenangan lewat penerapan taktik yang tepat, kesebelasan yang dengan sabar melatih para pemain muda menjadi para pemain kelas dunia, atau bahkan kesebelasan yang mengandalkan semangat tinggi saja memiliki peluang menjadi juara --mengangkangi kesebelasan-kesebelasan yang memiliki banyak dana.
Paris Saint-Germain Football Club dan Association Sportive de Monaco Football Club, dua kesebelasan terkaya di Ligue 1 (juga boleh disebut sebagai dua kesebelasan yang baru dapat kembali meraih gelar juara setelah mendapatkan suntikan dana besar dari Qatar dan Rusia), hingga detik ini belum sekalipun benar-benar merasakan posisi pertama. Sebagai catatan, PSG sebenarnya beberapa kali sempat berada di puncak klasemen, namun mereka merasakan posisi tertinggi hanya beberapa jam saja; karena bermain lebih dahulu ketimbang pimpinan klasemen yang sebenarnya. sehingga untuk beberapa saat memiliki keunggulan jumlah angka.
PSG memulai musim dari peringkat ke-11 karena hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan Stade de Reims di laga pembuka. Selepas pekan pertama, PSG terus menerus mengalami kenaikan dan penurunan posisi. Les Rouge-et-Bleu pernah, dalam empat pekan, berada di peringkat ketiga, lalu turun ke peringkat keenam, kemudian naik ke posisi kedua, dan setelahnya kembali mengalami penurunan posisi dan duduk di peringkat kelima. Untuk saat ini PSG sedang menduduki posisi ketiga. Entah dimana mereka akan berada esok hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Monaco memulai musim ini lebih buruk dari PSG: dengan tiga kekalahan dari lima pertandingan pertama. Kesebelasan asal Kesultanan Monako ini bahkan sempat merasakan posisi ke-19 selama dua pekan. Tak hanya itu, posisi terbaik Monaco adalah peringkat kelima; posisi yang mereka duduki saat ini. Jika saja Monaco tidak lolos ke fase gugur di ajang Champions League, Jose Leonardo Nunes Alves Sousa Jardim selaku manajer Monaco pasti sudah kehilangan pekerjaannya.

Jika PSG dan Monaco tidak pernah menguasai puncak klasemen, lalu posisi pertama milik siapa? Sejauh ini hanya ada empat kesebelasan yang pernah menguasai puncak klasemen. Jumlah tersebut bisa saja berubah di akhir 24eme journee (pekan ke-24). Dapat pula jumlah tersebut tetap sama adanya.
Stade Malherbe Caen menduduki peringkat pertama di pekan perdana setelah meraih kemenangan tiga gol tanpa balas di Parc des Sports, kandang Evian Thonon Gaillard Football Club. Setelah semua kesebelasan menjalani dua pertandingan, Football Club des Girondins de Bordeaux mengambil alih pimpinan. Pasukan Willy Sagnol bertahan selama tiga pekan.
Pada pekan kelima, Bordeaux turun peringkat ke posisi ketiga. Dengan senang hati Lille Olympique Sporting Club mengambil peluang bertukar posisi. Mengirim Football Club de Nantes pulang dengan tangan hampa dari Stade Pierre-Mauroy, Lille naik ke puncak klasemen. Namun sama seperti Caen, Lille hanya bertahan selama sepekan saja. Setelah Lille, muncul Olympique de Marseille.
Perlahan tapi pasti, para pemain Marseille mulai mengerti kemauan Marcelo Bielsa. Rutin meraih kemenangan sejak pekan ketiga, Marseille akhirnya naik ke puncak klasemen di pekan keenam. Les Phoceens bertahan di puncak klasemen hingga pekan ke-19, dan karenanya mereka mendapatkan gelar tak resmi champion d'automne; juara paruh musim (secara harfiah berarti juara musim gugur).
Rien n'est eternel. Tidak ada yang abadi. Kekalahan dari Montpellier Herault Sport Club di pertandingan pertama selepas jeda musim dingin membuat Marseille berada di posisi terancam. Dengan senang hati, Olympique Lyonnais memanfaatkan peluang yang tersedia.
Berkat tambahan tiga angka dari kemenangan tiga gol tanpa balas saat menjamu Toulouse Football Club. Lyon naik ke posisi pertama. Namun mereka nampaknya tak ditakdirkan berlama-lama duduk manis di sana.

PSG, dengan arogansi khas Paris (orang-orang Paris merasa bahwa mereka lebih baik ketimbang orang-orang yang tidak berasal dari Paris; menjadi orang Paris adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan menjadi orang Perancis dan tentunya, menurut mereka, lebih terhormat) siap merebut posisi puncak yang menurut mereka adalah hak mereka.
Dinihari nanti (waktu Indonesia bagian barat), PSG akan bertanding melawan Lyon di Stade de Gerland. Walaupun PSG belum kembali ke puncak permainan mereka, Lyon pantas waspada.
Setelah kalah dengan skor 2-4 di pertandingan melawan Sporting Club de Bastia, PSG mencatatkan enam kemenangan dalam enam pertandingan terakhir mereka di semua ajang. Benar memang lima di antaranya adalah kemenangan dengan selisih gol tunggal (satu lainnya adalah kemenangan 4-2 atas Evian yang saat itu berada di peringkat ke-18 karena hanya mampu mengumpulkan 20 angka setelah menjalani 20 pertandingan), namun bagaimanapun, enam kemenangan tersebut adalah bukti bahwa PSG sudah kembali memiliki konsistensi. Dan hal tersebut membuat PSG pantas diwaspadai.
Apalagi Lyon akan menjalani pertandingan ini tanpa dua pemain andalan mereka. Alexandre Lacazette, penyumbang 55,32% dari 47 gol Lyon di Ligue 1 musim ini, masih harus menepi hingga pekan depan. Selain Lacazette, Lyon juga tak akan diperkuat Milan Bisevac. Pemain belakang berkebangsaan Serbia tersebut harus menepi selama enam bulan setelah menderita cedera di pertandingan melawan Monaco, akhir pekan lalu.
Absennya Lacazette dan Bisevac sebenarnya bisa saja tidak dipandang sebagai masalah. Toh, saat PSG dan Lyon bertemu untuk kali pertama di musim ini (21 September 2014), Bisevac tak ambil bagian dan Lacazette tak berhasil mencetak gol. Tanpa Bisevac dan tanpa gol ataupun assist dari Lacazette, Lyon toh tetap mampu memaksa PSG berbagi angka.

Secara dramatis Samuel Umtiti mencetak gol penyeimbang di menit ke-84, merespons gol yang dicetak Edinson Cavani lebih dari satu jam sebelumnya. Seharusnya, tanpa Lacazette di pertandingan nanti, tidak apa-apa.
Namun penampilan di Stade Louis II pada akhir pekan lalu membawa kekhawatiran tersendiri. Tanpa Lacazette, Lyon tak terlihat berbahaya sebagaimana biasanya. Kerja sama Nabil Fekir dan Yassine Benzia tidak cukup mengancam bagi Monaco. Melawan PSG, keduanya kemungkinan besar kembali akan dipercaya. Tak perlu berspekulasi dan tidak ada gunanya juga memiliki optimisme yang terlalu tinggi, karena berhasil atau tidaknya duet Fekir-Benzia membuktikan diri baru akan di akhir pertandingan nanti.
Satu hal yang seharusnya dikhawatirkan oleh para pendukung Lyon adalah apa yang terjadi kepada Marseille di pekan ke-13. Bertamu ke Paris, Marseille membawa bekal sembilan kemenangan dari sepuluh pertandingan terakhir mereka di ajang Ligue 1. Sebuah modal yang lebih dari cukup untuk menantang si sombong PSG di rumah mereka sendiri.
Saat itu Marseille bahkan nampak terlalu kuat dan tidak bisa dikalahkan (satu-satunya kekalahan Marseille dalam rangkaian hasil positif ini mereka derita karena Yoann Gourcuff mencetak gol yang cukup berkelas sehingga sulit untuk digagalkan penjaga gawang manapun). PSG toh pada akhirnya tetap berhasil memaksa Marseille pulang dengan tangan hampa dari ibu kota. PSG memaksa Marseille, pimpinan klasemen yang tidak mudah dikalahkan, menyerah dua gol tanpa balas.
Mengingat status pimpinan klasemen yang tidak mudah dikalahkan kini sudah berpindah tangan dan menjadi milik Lyon, serta mengingat bahwa PSG pernah mengalahkan pimpinan klasemen yang tidak mudah dikalahkan, Lyon pantas khawatir. Sejarah, kan, memiliki kecenderungan untuk terulang.
====
*dianalisis oleh @nurshiddiq dari @panditfootball. Profil lihat di sini.
*Foto-foto: Getty Images dan AFP/Jeff Pachoud
(roz/roz)











































