Jika diminta menyebutkan nama-nama kota di Jerman, kebanyakan dari kita pasti akan dengan cepat menyebut Munich atau Dortmund. Tidak mengherankan dan tidak pula mengejutkan, karena sepakbola memang telah membuat popularitas kedua kota tersebut mendunia.
Mengira Munich sebagai ibu kota negara pun menjadi kesalahan umum yang dapat dimaklumi. Pada banyak kasus, ibu kota sepakbola sebuah negara β kota tempat kesebelasan terbaik (atau paling terkenal) sebuah negara berada, atau kota yang menjadi lokasi dari sebuah badan sepakbola β memang seringkali lebih populer ketimbang ibukota negara; Istanbul dan Ankara, Zurich dan Bern, serta Sao Paulo atau Rio de Janeiro dan Brasilia adalah beberapa contoh paling populer.
Mengenai kota sepakbola di Jerman, mungkin nyaris tidak ada yang menyebut Freiburg im Breisgau. Mengingat nama Hamburg, karena kota tersebut memiliki St. Pauli (bukan karena Hamburger SV), masih mungkin terjadi. Namun mengingat Freiburg? Saya sangsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama kota di negara bagian Baden-Wuerttemberg yang terletak di sebelah barat daya Jerman ini sewajarnya tidak melekat di dalam ingatan kebanyakan penggemar sepakbola karena kesebelasan mereka, SC Freiburg, bukanlah raksasa seperti Bayern Munich dari kota Munich β atau Muenchen, kata orang Jerman. Tidak pula SC Freiburg berhasil menempatkan nama Freiburg dalam peta persepakbolaan dunia seperti yang berhasil dilakukan Borussia Dortmund terhadap kota Dortmund. Semua fakta tersebut pada prakteknya tidak menghalangi SC Freiburg untuk mendapatkan pengakuan sebagai pemilik akademi sepakbola terbaik di Jerman. Yang membuat status tersebut terasa lebih hebat lagi, SC Freiburg mendapatkan pengakuan dengan cara menempatkan sepakbola di urutan kedua dalam skala prioritas. SC Freiburg bahkan tidak menyebut akademi mereka sebagai akademi, melainkan sekolah. Fussballschule, bukan Talentschmiede.
Fussballschule dalam bahasa Indonesia berarti sekolah sepakbola. Normalnya, kesebelasan manapun akan menempatkan nama mereka di belakang kata Fussballschule untuk membedakan diri dengan sekolah-sekolah lain. Namun SC Freiburg tidak melakukannya. Mereka menjalankan sekolah sepakbola sementara klub lain memiliki akademi. Karenanya, SC Freiburg cukup menggunakan nama Fussballschule. Kata Fussballschule telah secara otomatis bersinonim dengan sekolah sepakbola SC Freiburg.
Sekolah dalam Arti Sebenarnya
Ketika Ken Carter ditunjuk menjadi pelatih kepala tim bola basket Richmond High School, Richmond Oilers, para pemainnya tidak memiliki masa depan yang cerah. Secara akademis mereka tidak banyak terbantu karena Richmond bukanlah sekolah dengan akreditasi yang cukup baik (bahkan Ken Carter sendiri tidak ingin putranya, Damien Carter, bersekolah di Richmond). Mengandalkan prestasi di bidang olah raga pun bukan pilihan; Oilers adalah tim yang payah. Saat Carter mengambil alih posisi pelatih kepala, Oilers adalah tim yang memiliki catatan empat kemenangan dan 22 kekalahan di musim sebelumnya.
Carter membawa perubahan yang tidak hanya membuat para pemain Oilers bekerja keras untuk menjadi individu tangguh di dalam lapangan; Carter juga mengharuskan para pemainnya duduk di barisan depan di setiap kelas yang mereka ambil. Carter mengharuskan para pemainnya memiliki indeks prestasi kumulatif minimal 2,3.
Sebagai catatan, peraturan negara bagian California (tempat kota Richmond berada) menyebutkan bahwa para pemain yang didaftarkan dalam tim bola basket sekolah harus memiliki indeks prestasi kumulatif minimal 2,0. Aturan Carter membuat geram para orang tua yang ingin agar anak-anak mereka berkonsentrasi di bola basket demi menutupi kekurangan di bidang akademik.
Kepada para orang tua yang geram karena anak-anaknya tidak diperbolehkan bermain bola basket hingga nilai mereka diperbaiki, Carter memberi penjelasan seperti ini: βJika mereka memiliki IPK 2,0, mereka harus mengumpulkan nilai 1.050 dalam ujian SAT untuk meraih beasiswa olahraga. Jika mereka memiliki IPK 2,3, mereka hanya membutuhkan nilai SAT 950. Untuk mencapai IPK 2,3 [dari 2,0], mereka hanya membutuhkan sebuah C+. Mendapatkan C+ 'kan tidak sesulit itu.β
Lebih jauh, Carter mengingatkan para orang tua bahwa anak-anak mereka, para pemain Carter, adalah student-athlete (pelajar-olahragawan). βAnak-anak ini adalah pelajar-olahragawan. Kata βpelajarβ disebut terlebih dahulu.β Sebuah logika sederhana yang sulit dibantah.
Hal serupa diterapkan oleh Fussballschule. Para pelatih di Fussballschule diharuskan memiliki kompetensi yang diakui sebagai guru; mereka harus memiliki latar belakang kependidikan di luar sepakbola. Tujuannya adalah agar ketika para pemain memiliki kesulitan belajar, para pelatih dapat bertindak sebagai guru yang dapat membantu. Sebesar itu perhatian SC Freiburg terhadap pendidikan para pemainnya.

Christian Streich, pelatih kepala SC Freiburg sejak tahun 2011 juga seorang yang memiliki kualifikasi sebagai guru. Kepada The Guardian, ia bercerita mengenai pengalamannya saat berkunjung ke Aston Villa.
βKetika saya pergi ke Aston Villa delapan tahun lalu saya memberi tahu mereka bahwa para pemain kami, dalam kelompok usia di bawah 17, 18, dan 19 tahun, belajar di sekolah selama 34 jam sepekan. Mereka berkata, βtidak, Anda pembohong, itu tidak mungkin dilakukan, para pemain kami belajar selama sembilan jam saja.ββ
βTidak, saya tidak berbohong,β kata Streich.
βItu tidak mungkin, tidak ada yang bisa berlatih sambil belajar selama 34 jam,β balas salah seorang staf dari Aston Villa yang tidak Streich sebutkan namanya.
βTentu bisa. Dan apa yang Anda lakukan terhadap para pemain yang, selama tiga tahun sejak usia 16 hingga 19 tahun, hanya menjalani sembilan jam sekolah sepekan?β
βMereka harus berusaha menjadi pemain profesional atau sama sekali tidak menjadi apa-apa. Mereka harus mengambil keputusan.β
βTidak, kami tidak dapat melakukan itu di Freiburg. Itu salah. Kebanyakan pemain di akademi kami tidak bisa menjadi pemain profesional, mereka harus mencari pekerjaan. Sekolah adalah hal paling penting, setelahnya baru sepakbola.β
Perdebatan Streich dengan Aston Villa sedikit banyak menggambarkan bagaimana Freiburg dan Birmingham β lebih jauh lagi Jerman dan Inggris β memiliki pandangan yang berbeda mengenai sepakbola, dan karenanya memiliki peruntungan yang berbeda juga.
Di usia yang masih sangat muda, para pemain Inggris dihadapkan kepada pilihan untuk menjadi pemain sepakbola atau sama sekali tidak menjadi apa-apa. Kebanyakan pemain yang memilih untuk menjadi pemain sepakbola dan gagal memenuhi impiannya kini mengalami kesulitan karena mereka hanya mengenal satu dunia saja; dunia sepakbola. Hal itulah yang dihindari SC Freiburg.
βKami memberi para pemain peluang terbaik untuk menjadi pemain sepakbola. Namun di sini kami memberi mereka dua pendidikan. Jika 80% dari mereka tidak dapat bermain di kesebelasan profesional, kami harus memperhatikan mereka. Para pemain yang bermain di sini, kebanyakan dari mereka melanjutkan pendidikan ke tingkat tinggi. Dan kalaupun mereka tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi [karena lebih memilih untuk menjadi pemain sepakbola], kami tetap membutuhkan pemain yang cerdas di lapangan,β ujar Streich.

SC Freiburg memiliki tujuan yang lebih besar ketimbang memproduksi pemain berkualitas; mereka menciptakan manusia berkualitas. Walau akademi dijalankan dengan cara seperti itu, SC Freiburg tetap berhasil empat kali menjadi juara kompetisi usia muda dalam rentang waktu sepuluh tahun sejak tahun 2003. Bayangkan jika SC Freiburg memilih untuk benar-benar memfokuskan diri terhadap produksi pemain.
Di bawah asuhan Ken Carter, Oilers menjadi tim yang disegani. Para pemainnya diminati oleh banyak perguruan tinggi. Satu hal yang membuat hal tersebut lebih termasyhur ketimbang Fussballschule adalah fakta bahwa tidak ada film yang secara khusus mendedikasikan pencapaian Fussballschule. Kisah Richmond Oilers, sementara itu, ada dalam film Coach Carter yang dirilis pada tahun 2005.
Mendahului DFB
Tak hanya memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyakan akademi lainnya mengenai hasil akhir pembinaan, Fussballschule pantas disebut selangkah lebih maju ketimbang akademi-akademi sepakbola lainnya di Jerman.
Malah, Fussballschule adalah bukti bahwa SC Freiburg sudah menerapkan pembinaan pemain lebih awal ketimbang Deutscher Fussball-Bund (DFB) dan program andalan mereka, Das Talentfoerderprogramm β program pembinaan pemain muda yang termasyhur, dicontoh banyak negara di dunia, dan sudah menghasilkan satu gelar juara Piala Dunia.
Pada tahun 200, SC Freiburg menggunakan dana sebesar 10 juta euro untuk membangun sebuah stadion kecil dan tiga lapangan tambahan untuk Fussballschule (sebagai perbandingan, DFB mulai menjalankan program mereka pada tahun 2003). Sebelum DFB menanamkan ke seluruh penjuru negara arti penting infrastruktur kelas satu dalam pembinaan pemain muda, Freiburg sudah menyadari dan membangunnya.
SC Freiburg bahkan memiliki, seperti La Masia milik FC Barcelona, sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal untuk 16 murid Fussballschule. Ruang yang disediakan di bangunan tersebut tidak banyak bukan karena murid mereka tidak banyak atau karena mereka tidak mampu menyediakan banyak ruang.
Bangunan yang ada hanya mampu menampung 16 murid karena para murid Fussballschule memang hanya berasal dari dalam kota dan sekitarnya, dari kawasan Breisgau. Para murid lain, yang tidak tinggal di bangunan akademi, melakukan perjalanan pulang pergi dari rumah atau dari rumah orang tua asuh mereka masing-masing.

Sebagaimana Carter yang tidak merasa kehilangan ketika tiga orang pemainnya β dua di antaranya bahkan menyandang status sebagai pencetak poin terbanyak β memilih untuk meninggalkan Oilers karena merasa bahwa aturan mengenai prestasi akademik terlalu memberatkan, SC Freiburg tidak pernah mengeluhkan ketidakmampuan mereka untuk berkompetisi mendatangkan pemain muda bertalenta. Para pemain muda dengan bakat besar biasanya memilih untuk bergabung dengan kesebelasan-kesebelasan besar yang memiliki dana besar.
Para murid Fussballschule, sebagaimana disebutkan sebelumnya, berasal dari kawasan Breisgau. Sebelum diterima di Fussballschule, mereka bermain untuk lima akademi lokal. Para pemain yang menonjol sajalah yang kemudian dikirim untuk berlatih dan belajar bersama SC Freiburg. Sebagai gantinya, pelatih-pelatih (atau para guru) Fussballschule melatih di lima akademi tersebut dua kali seminggu, untuk kelompok usia 8-11 tahun.
===
* Penulis adalah angota redaksi Pandit Football Indonesia dengan akun twitter: @nurshiddiq
(krs/a2s)











































