Juara Afrika dan Cerita Akademi Pantai Gading

Juara Afrika dan Cerita Akademi Pantai Gading

- Sepakbola
Jumat, 20 Feb 2015 18:00 WIB
Juara Afrika dan Cerita Akademi Pantai Gading
Jakarta -

Pantai Gading menjadi juara Piala Afrika 2015 setelah mengalahkan Ghana melalui drama adu penalti. Sebelumnya negara ini menguasai benuanya di turnamen edisi 1992.

Memasuki abad ke-21, Pantai Gading memang menjelma menjadi salah satu kekuatan besar di Afrika, bahkan mungkin dunia. Satu per satu pemain kelas dunia lahir dari negara ini. Prestasi Pantai Gading pun meningkat tajam pada tahun-tahun ini.

Mereka pertama kali berhasil lolos ke Piala Dunia tahun 2006. Sejak itu Pantai Gading selalu lolos pada dua gelaran Piala Dunia berikutnya. Meski dalam ketiga Piala Dunia tersebut tak berhasil lolos dari fase grup, namun mereka selalu memberikan ancaman tersendiri kepada lawan-lawannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana tidak, tim nasional mereka selalu diisi oleh pemain-pemain kelas dunia. Siapa yang tidak tahu Didier Drogba, mantan penyerang Chelsea ini bisa dikatakan sebagai salah satu penyerang paling ditakuti pada zamannya. Baik di Liga Inggris maupun Liga Champions, Drogba selalu menjadi ujung tombak yang membuat lawan-lawan Chelsea kerepotan. Drogba juga merupakan pemain yang menjadi penentu saat Chelsea berhasil meraih juara Liga Champions dengan sumbangan satu golnya di partai final.

Tidak hanya Drogba, mereka masih punya nama besar lainnya, Yaya Toure. Pemain yang kini berusia 31 tahun dan menjabat sebagai kapten timnas ini sangat layak disebut sebagai gelandang dengan skill paling komplit saat ini. Kemampuan Toure dalam menyerang dan bertahan sama baiknya sehingga mampu mengontrol permainan dengan baik di lini tengah. Bahkan, klub yang dibelanya saat ini, Manchester City, sudah begitu bergantung pada keberadaan dia. Permainan City akan sangat berantakan ketika Toure harus absen karena cedera atau saat membela negaranya di Piala Afrika.

Selain kedua pemain di atas, terdapat banyak nama lain yang juga menjadi andalan di klub-klub besar Eropa seperti Gervinho, Kolo Toure, Wilfried Bony, Seydou Doumbia, Cheich Tiote, dan banyak pemain-pemain lainnya. Munculnya beberapa pemain mudah yang mulai memperlihatkan bakan seperti Serge Aurier pun menunjukan bahwa mereka masih terus menelurkan pemain-pemain berbakat.



Sejak dulu Pantai gading memang bukan sebuah kekuatan yang buruk dalam sepakbola. Jika melihat pada catatan ranking FIFA, rata-rata posisi mereka berada di posisi 39. Posisi terburuk mereka adalah posisi 70 yang terjadi tahun 2002, saat pecahnya perang saudara di Pantai Gading. Selebihnya, mereka konstan di posisi antara 20-50.

Namun, jika melihat lebih jauh, baru pada satu dekade terakhir ini mereka memiliki pemain-pemain kelas dunia yang tersebar di segala penjuru Eropa. Apa yang sebenarnya mereka lakukan sehingga berhasil memproduksi begitu banyak pemain berkualitas pada satu dekade terakhir ini?

Siapa sangka kalau Pantai Gading ternyata memiliki akademi sepakbola yang merupakan salah satu terbaik di dunia. Akademi yang dibangun pada tahun 1994 ini bernama ASEC Mimosiscom Academy. Akademi ini merupakan akademi yang berada di bawah salah satu klub profesional Pantai Gading, ASEC Mimosas.



Meski berada jauh dari Eropa, akademi ini disejajarkan dengan akademi-akademi terkenal milik klub-klub raksasa dunia seperti di Barcelona, Manchester United, dan Ajax. Akademi inilah yang kemudian melahirkan pemain-pemain yang menjadi tulang punggung tim nasionalnya.

Fasilitas yang dimiliki akademi ini pun sangat lengkap. Mereka memiliki fasilitas penunjang latihan seperti lapangan sepakbola, kolam renang, lapangan tennis, gym, ruang medis, dan ruang belajar.

Anak-anak dari usia 13 sampai 18 tahun belajar di tempat ini untuk bercita-cita menjadi pemain sepakbola profesional. Namun bukan berarti mereka hanya berlatih sepakbola tanpa henti. Pihak akademi yakin, bahwa sekalipun mereka ingin menjadi pemain sepakbola, pendidikan di bangku sekolah tetaplah penting. Maka di luar jam latihan, mereka juga belajar pelajaran pada umumnya seperti matematika, bahasa, serta ilmu alam dan sosial.

Mereka sadar, berhasil atau tidak anak-anak menjadi pemain sepakbola profesional, ilmu-ilmu dasar pasti akan mereka butuhkan suatu saat nanti. Mungkin karena inilah kita melihat satu sosok Yaya Toure seperti saat ini. Toure seolah-olah mendobrak stigma pemain Afrika yang hanya mengandalkan fisik saja. Selain kemampuan fisiknya, Toure juga memiliki kemampuan intelejensia yang luar biasa sehingga sangat pandai mengatur jalannya pertandingan.

Akademi ini benar-benar tidak pernah tanggung-tanggung dalam mendidik anak asuh mereka. Biaya yang mereka keluarkan untuk mendidik anak-anak di akademi terbaik Afrika ini mencapai 14.000 poundsterling per tahun, atau sekitar Rp 250 juta, per tahun per anak. Karena itulah mereka selalu melakukan seleksi dengan sangat ketat untuk bisa mendapatkan anak asuh di akademi ini.

Namun dalam wawancara yang dilakukan oleh BBC, Julien Chevalier mengatakan bahwa kini mereka menghadapi tantangan yang semakin berat. Pasalnya, dengan semakin banyak pemain asal Pantai Gading yang bersinar di Eropa, membuat semakin banyak pencari bakat yang datang ke sana.

Dampaknya adalah menjadi semakin banyak klub Eropa yang menyebarkan para pencari bakatnya ke Pantai Gading, untuk mencari bakat-bakat terpendam di sana. Mereka akan mencoba langsung memboyong anak berbakat tersebut untuk dimasukkan ke akademi di Eropa. Hal ini membuat ASEC Mimosifcom semakin sulit untuk mendapatkan bakat terbaik di negeri tersebut. Maka Chevalier dan staf akademi lainnya harus bekerja lebih keras agar nama baik akademi mereka tetap terjaga.

Dari sini, pikiran jahil saya mulai bertanya-tanya, bagaimana mungkin Pantai Gading yang terus dirundung konflik berkepanjangan, bisa membuat satu akademi yang begitu modern? Dan lagi akademi modern ini dibuat dengan sistem yang benar untuk menghasilkan pemain-pemain kelas dunia, bukan dengan sistem yang bertujuan meraih untung finansial sebesar-besarnya.

Jika membandingkan Pantai Gading dengan Indonesia, entah bagian mananya Pantai Gading bisa unggul. Pantai Gading hanya memiliki kakao sebagai satu-satunya barang ekspor yang bisa dibanggakan. Tak heran negara ini langsung goyah pada tahun 80an ketika harga kakao dunia turun drastis. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki segalanya seluruh penjuru negeri.



Seperempat dari total penduduk negara ini bahkan berada di bawah standar kemiskinan dunia. Tercatat bahwa seperempat penduduk negara ini berpenghasilan di bawah $1,25 per harinya, atau sekitar Rp 15.000 per hari.

Dari segi kesehatan pun negara ini sangat memprihatinkan. Pantai Gading merupakan negara dengan penderita HIV/AIDS terbanyak ke-19 di dunia. 3,29% penduduknya terjangkit virus yang mematikan ini. Maka tidak heran jika peluang hidup penduduk negeri ini hanya mencapai 41 bagi pria dan 47 tahun bagi wanita.

Penduduk Indonesia memiliki kondisi kesehatan yang jauh lebih baik dari itu. Meski juga tidak bisa dibilang bahwa penanganan kesehatan Indonesia sudah baik, namun kita masih jauh lebih baik dari Pantai Gading.

Dalam hal edukasi pun kita jauh lebih unggul. Jangankan sekolah minimal 9 tahun, mayoritas anak-anak berusia 6-10 tahun negara ini bahkan sudah putus sekolah.

Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk membuat pikiran logis saya percaya, bahwa Pantai Gading sudah memiliki akademi sepakbola yang setara dengan La Masia, sedangkan kita masih bingung bagaimana melakukan verifikasi klub dengan benar. Bagaimana cara saya untuk percaya bahwa negara yang seperempat dari total penduduknya kelaran sudah bisa melahirkan puluhan pemai kelas dunia, padahal kita masih berkutat pada masalah konyol sepakbola gajah. Bagaimana sebuah negara yang bahkan rata-rata peluang hidup penduduknya tidak sampai seperempat abad sudah bisa masuk Piala Dunia, sedangkan kita masih memperdebatkan soal sepakbola milik siapa.

Terkadang semua ini memang di luar nalar kita.

====

* Penulis adalah editor Pandit Football Indonesia, beredar di dunia maya dengan akun @aabimanyuu.

** Foto-foto: AFP


(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads